Pendahuluan
Pengungkapan inskripsi pada tanduk kerbau dan kambing dari Kerinci menandai sebuah peristiwa penting dalam kajian sejarah dan filologi Sumatra. Benda-benda bertulis yang selama ini dianggap keramat dan dijaga secara ketat oleh para pelindungnya akhirnya berhasil disalin dan dibaca. Keberhasilan tersebut terkait erat dengan dua figur: naturalis Edward Jacobson, yang memperoleh akses dan menyalin teks, serta L.C. Westenenk, pejabat administratif Bengkulu, yang kemudian melakukan proses penguraian dan pembacaan.
Peristiwa ini dipandang sebagai pembukaan kembali sumber pengetahuan mengenai Sumatra Kuno, setelah berbagai upaya sebelumnya yang terdokumentasi dalam literatur ilmiah tidak membuahkan hasil.
"Upaya-Upaya Terdahulu dan Kegagalannya"
Keberadaan tanduk-tanduk bertulis tersebut telah lama diketahui. Dunia ilmu pengetahuan berulang kali berupaya untuk melihat dan menelitinya, sebagaimana tercatat dalam:
Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië (Lembaga Kerajaan di Den Haag, seri ke-6, jilid 5, hlm. 183–184);
Tijdschrift voor de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië (Perhimpunan Batavia di Weltevreden, Jilid XXXIX, hlm. 114);
Mededeelingen van het Encyclopaedisch Bureau (edisi VIII, hlm. 12 dan 18).
Meskipun demikian, seluruh upaya tersebut selalu menemui kegagalan. Tanduk-tanduk itu disimpan dengan sangat aman di bawah penjagaan ketat para pendeta perempuan selaku pelindung benda keramat. Akses terhadapnya praktis tertutup.
"Akses dan Penyalinan oleh Edward Jacobson"
Situasi tersebut berubah ketika Edward Jacobson berhasil memperoleh kepercayaan para penjaga. Tidak hanya diizinkan melihat benda-benda suci itu, ia juga diperbolehkan menyalin inskripsinya.
Keberhasilan ini dikaitkan dengan kemampuan Jacobson membangun ketenangan dan kepercayaan. Dalam ekspedisi zoologinya di wilayah tersebut, ia menunjukkan kebolehannya bermain sulap di hadapan masyarakat. Melalui pendekatan ini, rasa tidak percaya dan ketakutan penduduk Kerinci berangsur runtuh.
Dengan ketekunan, Jacobson menyalin huruf-huruf pada tanduk secara harfiah. Ia menghadapi berbagai kesulitan: teks sering kali rusak karena dimakan tikus atau aus dimakan usia; banyak kesalahan dan ketidakteraturan dalam naskah asli; bahkan pada beberapa bagian kerusakan mencapai tingkat yang tidak dapat diklarifikasi. Meskipun demikian, ia berhasil memberikan kejelasan pada teks yang tersedia dan kemudian menyerahkan seluruh salinan tersebut kepada Westenenk.
Penyalinan dilakukan pada tahun 1915. Pada pertengahan 1916, Jacobson menyerahkan hasilnya kepada Westenenk karena merasa tidak dapat melanjutkan penguraiannya.
"Proses Filologis oleh L.C. Westenenk"
Beban tanggung jawab berikutnya berada pada Westenenk. Di sela-sela tugas resminya, terutama selama perjalanan dinas dan pada malam hari di pesanggrahan, ia memulai studi panjang terhadap aksara yang digunakan.
Langkah awalnya adalah merujuk pada aksara Kerinci dalam Malay Grammar karya John Crawfurd (London, 1852). Pada tahap ini ia dapat mengenali beberapa karakter, tetapi belum mampu membentuk satu kata utuh. Timbul keraguan mengenai bahasa yang digunakan dalam inskripsi tersebut.
Kegagalan awal ini kemudian diketahui bersumber dari ketidaklengkapan dan kesalahan mendasar dalam alfabet yang disajikan Crawfurd (atau lebih tepatnya Marsden). Kesadaran atas adanya kesalahan ganda ini menjadi titik balik penting.
Westenenk kemudian mempelajari lima variasi aksara yang dikenal oleh orang Eropa sebagai aksara “Rentjong” yang masih ditemukan di wilayah Bengkulu. Setelah menguasai lima bentuk aksara “Redjang” tersebut, ia menyadari bahwa Marsden telah melakukan beberapa kesalahan dalam penyajian karakter aksara Kerinci.
Penemuan ini bersifat korektif, namun menentukan. Dari satu jenis aksara ia mempelajari karakter tertentu, dari jenis lain karakter yang berbeda, lalu menerapkannya pada guratan tanduk. Pada tahap awal hasilnya belum konsisten, tetapi keberhasilan pertama akhirnya tercapai.
Ia juga belajar mengenali pola kesalahan penulisan, karena kesalahan serupa masih terjadi dalam salah satu dari lima rangkaian karakter “Redjang”. Dengan membandingkan seluruh data yang tersedia, ia memperoleh keunggulan metodologis dibandingkan praktisi lokal yang mempelajari bahasa dan aksara tanpa melakukan perbandingan lintas-varian sehingga tidak mendeteksi kesalahan tulis.
"Titik Terang: Bahasa Minangkabau"
Titik terang muncul pada inskripsi ke-17. Setelah mengamati enam baris teks tanpa hasil, Westenenk menemukan sebuah kata yang ditulis secara keliru namun bermakna: “…datang-patih-sa…”.
Sejak saat itu ia menggunakan pola pikir bahasa Minangkabau dalam pembacaan teks. Disimpulkan bahwa penulis inskripsi kemungkinan bermaksud menulis dalam bahasa Minangkabau—mungkin berdasarkan dikte—namun tidak melakukannya secara sempurna, juga karena keterbatasan karakter aksara yang digunakan.
Dengan pendekatan tersebut, Westenenk secara bertahap dapat mengidentifikasi kesalahan-kesalahan dan merekonstruksi maksud penulis asli, yang mungkin telah tiada sejak sekitar 150 tahun atau lebih.
Titik terang mulai muncul pada awal November 1917.
"Signifikansi Historis: Kjahi Katoemanggoengan dan Patih Sabatang"
Penemuan ini menyediakan data berharga mengenai dua tokoh besar yang memerintah di Sumatra Tengah beberapa abad lalu: Kjahi Katoemanggoengan (Kiai Ketumanggungan) dan Patih (atau Parpatih nan) Sabatang. Keduanya disebut sebagai “anak dewa” dari keturunan Hindu.
Dalam risalah sebelumnya—De Minangkabausche Nagari (1915) dan Opstellen over Minangkabau—Westenenk telah membahas kedua figur ini, yang dipandang masing-masing sebagai representasi otokrat dan demokrat, atau personifikasi konsep otokrasi dan demokrasi.
Inskripsi tersebut diharapkan melengkapi uraian itu, termasuk mengenai aspek “perang saudara” yang dipicu oleh tindakan Patih Sabatang yang menikahi saudara perempuannya dalam peristiwa inses yang tidak disengaja, sebagaimana diuraikan oleh Westenenk pada salah satu tanduk.
Dengan demikian, inskripsi tanduk Kerinci dipandang membuka kembali sumber bagi sejarah Sumatra Kuno dan mengangkat selubung yang menutupi masa lampau wilayah tersebut.
"Data Tambahan dan Kondisi Pelestarian"
Beberapa rincian tambahan dicatat:
Tanduk termuda yang dilihat Jacobson ditulis dalam karakter Arab, mencantumkan tanggal, dan telah berusia 128 tahun pada 1915.
Empat puluh tahun sebelumnya, wafat orang Kerinci terakhir yang menurut tradisi lisan dianggap mampu memahami rahasia pada tanduk tersebut.
Sebuah tanduk bertulis juga ditemukan di Keresidenan Bengkulu dengan penanggalan lebih muda, ditulis dalam aksara masyarakat Lembak, yang penguraiannya relatif tidak sulit setelah pengalaman mengerjakan inskripsi Kerinci.
Westenenk juga melaporkan komunikasi dengan Gubernur Jenderal mengenai pusaka-pusaka lama milik penduduk Sumatra yang menarik perhatian pemerintah. Diusulkan agar dicari sarana untuk mencegah kehancuran lebih lanjut atas khazanah ilmu agama, bahasa, dan etnologi tersebut, mengingat hampir setiap tahun beberapa tanduk hilang akibat kebakaran atau sebab lain.
"Penutup"
Pengungkapan rahasia inskripsi tanduk suci Kerinci merupakan hasil kombinasi antara akses lapangan yang diperoleh Jacobson dan kerja filologis komparatif yang dilakukan Westenenk. Keberhasilan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan pembacaan aksara, tetapi juga membuka kembali sumber historis mengenai figur-figur sentral dalam tradisi Minangkabau dan sejarah Sumatra Tengah.
Peristiwa ini, sebagaimana dicatat dalam De onthulling van het geheim der heilige hoorninschriften van Krintji (Ganesa, 1918), menandai momen penting dalam dokumentasi dan pelestarian warisan tertulis Sumatra Kuno, sekaligus menunjukkan kerentanan material pusaka tersebut terhadap kerusakan dan kehilangan.
penulis: marjafri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar