Catatan sejarah dari wilayah tugas pelayanan Gereja Indische di Timor, khususnya di Resort Camplong sekitar tahun 1936, memberikan gambaran mendalam mengenai bagaimana masyarakat setempat mengintegrasikan keyakinan tradisional dengan siklus pertanian. Penelusuran ini berfokus pada upaya memahami esensi perayaan lokal sebagai dasar pertimbangan dalam menyusun bentuk perayaan keagamaan yang relevan bagi masyarakat setempat, dengan tetap bersandar pada norma-norma kitab suci.
Dinamika Sosio-Religius dan Tradisi Agraris di Camplong, Timor (1936)
Analisis terhadap fakta-fakta lapangan yang dikumpulkan selama enam tahun masa pelayanan di Gereja Indische memberikan gambaran mendalam mengenai kehidupan masyarakat di Pulau Timor, khususnya di ressort Camplong. Fokus utama kajian ini adalah mencari jawaban atas bagaimana perayaan Pentakosta seharusnya diselenggarakan di wilayah tersebut. Untuk menjawabnya, perlu dipahami terlebih dahulu festival pertanian lokal guna melakukan perbandingan dan kombinasi. Perbandingan ini didasarkan pada keyakinan akan adanya wahyu Tuhan yang bersifat umum serta panggilan misi yang melahirkan kewajiban untuk melakukan komparasi tersebut. Terkait upaya kombinasi, setiap usaha untuk memperkenalkan perayaan Pentakosta di medan misi dalam bentuk yang bermakna bagi penduduk setempat harus melalui seleksi ketat; tidak boleh ada unsur yang diadopsi jika tidak memenuhi norma Wahyu Tuhan sebagaimana tercantum dalam Alkitab.
Dalam mendeskripsikan hal-hal tersebut, tujuan utamanya bukanlah sekadar menyampaikan data etnologis mengenai kebiasaan pertanian, melainkan untuk memperoleh wawasan yang jelas demi mencapai tujuan misi. Oleh karena itu, upacara-upacara tertentu yang tidak bersinggungan langsung dengan tujuan perbandingan tersebut sengaja tidak dipaparkan lebih lanjut.
"Kosmologi Sonba’e dan Asal-usul Tanaman Pangan"
Pemahaman yang tepat terhadap sebagian besar upacara pertanian di Timor bergantung pada pengetahuan tentang kisah Sonbai. "Saoen Neno Sonbai bersama kakak laki-lakinya, "Lilàė Sonba’è", dipercaya sebagai penguasa pertama di bumi. Mereka merupakan keturunan dari Tuhan Langit yang diutus ke bumi dengan kekuasaan raja. Meskipun Tuhan Langit telah membentuk bumi serta menciptakan tanaman dan pohon, serta menurunkan manusia melalui tangga langit, namun saat itu belum tersedia makanan yang layak maupun api. Kedua bersaudara tersebut menyaksikan kondisi bumi yang liar dan menyadari bahwa tidaklah baik bagi manusia untuk terus mengonsumsi polong-polongan hutan yang liar serta umbi-umbian hitam.
Oleh karena itu, mereka mengadakan musyawarah dan sepakat untuk membunuh saudara perempuan mereka, "Bi Laoef Neno". Tubuhnya dibagi menjadi delapan bagian yang kemudian ditanam. Setelah empat hari dan empat malam, dari tempat tersebut tumbuh delapan jenis tanaman pangan, yaitu: jagung, padi, labu, kacang hijau, singkong, buncis (turi), gandum turki, dan gillet (jawawut).
Sehubungan dengan peristiwa tersebut, Roh Bumi dipuja dengan doa sebagai berikut:
"Putri Langit kami, Bi Laoef Neno, ubahlah daging dan darahmu, tulang dan kulitmu, agar mereka menjadi jagung dan padi. Kami memandang kepadamu saat sedang melubangi tanah dan menanam.
Berilah kami makan dan minum. Sampaikanlah kepada ibu kami, yang juga ibumu, sang api yang membakar dan menyala agar memberi kami perkataan yang baik, hal yang baik, yaitu hujan siang dan malam, supaya ia menjaga kami dengan baik dan mengawasi kami dengan penuh perhatian.
Meskipun engkau telah tiada, kami mempersembahkan sebuah keranjang yang berisi persembahan padi untukmu. Kami menyembahmu dengan lilin yang menyala ini, dengan keranjang ini, agar engkau menganugerahkan delapan nama dan delapan jenis tanaman kepada kami, dan dengan demikian engkau mendekap kami dalam pangkuanmu serta menopang kami di lenganmu.
Harapan kami ada padamu, wahai sang Ratu; engkaulah Penguasa Bumi, istri dari Tuhan Langit."
"Keajaiban Saoen Neno Sonba’e dan Garis Keturunan"
Kisah-kisah ajaib terutama berfokus pada Saoen Neno Sonbai. Hal ini dikarenakan kakak laki-lakinya menetapkan wilayah kekuasaan di bagian timur Timor, sehingga tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai sang kakak. Neno Sonbai menerima tongkat kekuasaan dari Tuhan Langit yang memiliki kekuatan ajaib. Ia sendiri memiliki kemampuan untuk bermetamorfosis menjadi ular maupun buaya. Terkadang ia tampak menyerupai seorang gelandangan yang kotor, namun di saat lain wajahnya akan bersinar terang seperti matahari.
Keturunan dari kaisar yang perkasa ini sangat banyak. Namun, mereka yang berasal dari garis keturunan perempuan yang sah (karena garis laki-laki telah punah) menetap di Kaoeniki, sebuah wilayah kecil yang dipimpin oleh seorang Fetor.
"Pertanda Alam dan Perlindungan Tanaman"
Upacara persembahan untuk memohon hujan dan perlindungan tanaman dilakukan sebelum masa tanam dimulai. Berbagai pertanda alam menjadi indikator apakah hujan akan terlambat turun atau apakah akan terjadi wabah tikus.
Salah satu pertanda tersebut ditemukan pada rasi bintang "Salib Selatan". Ketika rasi bintang ini terlihat tepat di atas cakrawala saat senja mulai turun, itulah saatnya untuk menyiapkan ladang. Jika setelah beberapa waktu rasi tersebut tidak lagi terlihat, maka hujan dapat diharapkan segera datang. Namun, jika hujan tetap tidak turun hingga dua bintang yang berada di perpanjangan lengan "salib" tersebut menghilang, maka tidak banyak hal baik yang bisa diharapkan dari musim hujan tersebut, dan dipastikan hasil panen akan buruk.
Pertanda lainnya diberikan oleh tanaman bambu. Jika bambu mulai berbunga, maka harapan untuk mengisi lumbung penyimpanan sangatlah kecil. Berbunganya bambu meramalkan datangnya wabah tikus. Walaupun curah hujan sangat baik, di mana tikus berkumpul dalam kawanan besar, maka hasil panen akan hancur hingga tongkol terakhir.
Terdapat pula kepercayaan mengenai madu hutan yang tidak ditemukan di semua tempat. Ada madu awal dan madu akhir. Jika pada panen pertama hanya sedikit madu yang terkumpul, masyarakat masih berharap pada panen kedua. Selain keuntungan dari hasil lilin lebah, diketahui bahwa panen madu yang melimpah merupakan pertanda akan datangnya banyak hujan.
Bantuan terutama diharapkan dari Saoen Neno Sonbai, leluhur dari keluarga kaisar Sonbai. Ini adalah masa di mana seorang keponakan dari Fetor Sonbai, Neno Sonbai, bersama pamannya, Ai Sonbai, melakukan perjalanan melintasi wilayah untuk mengatur pesta-pesta persembahan. Mereka tampil dengan martabat kepanditaan. Upacara persembahan ini dilakukan baik di dalam desa itu sendiri maupun di kaki puncak gunung atau di jajaran pegunungan. Wilayah ketinggian lebih disukai, terutama untuk persembahan yang bersifat menangkal bala.
"Tradisi Panen dan Permainan Kata"
Setelah ladang disiapkan, proses penanaman dimulai. Selama musim hujan, penduduk tinggal di gubuk-gubuk ladang untuk menjaga tanaman dari gangguan burung dan kera. Ketika masa panen tiba, yang bagi penduduk pesisir terjadi lebih awal daripada penduduk pegununga, seluruh kampung berkumpul di ladang yang telah ditentukan untuk memanen bulir padi atau mematahkan tongkol jagung dengan penuh sukacita.
Selama memanen, mereka bernyanyi. Nyanyian ini disebut "Lilais", merujuk pada kakak laki-laki Neno Sonbai. Mereka melantunkan pantun yang memuliakan Lilaè dan Neno Sonbai sebagai "Penguasa Pangan Baru". Aktivitas melantunkan pantun ini disebut "manisa nel" (mematikan pantun secara bersama-sama), yang merupakan analogi dari memanen (mematikan) tanaman. Di sini terdapat permainan kata antara “nèl” (pantun) dan “anèl” (padi).
Makna dari sebuah teka-teki tersirat dalam ungkapan berikut:
"Ketika aku ada, engkau tidak mengenalku. Jika engkau mengenalku, maka aku tidak ada lagi."
Jawabannya adalah "teka-teki" itu sendiri, yang mana setelah terpecahkan, tidak lagi eksis sebagai sebuah teka-teki.
"Upacara Pesta Panen"
Setelah hasil panen dibawa ke kampung dan ditumpuk di loteng rumah, masyarakat mulai membicarakan hari di mana pangan tersebut boleh mulai dikonsumsi untuk pertama kalinya. Sebelum hari yang ditentukan tersebut, tidak ada yang diperbolehkan memakannya.
Berikut adalah uraian mengenai pesta panen Timor tersebut berdasarkan catatan yang ditulis oleh salah seorang guru dalam bahasa Timor:
"Ketika jagung dan padi telah matang dan masyarakat ingin memakan pangan baru tersebut, hal itu terlebih dahulu diberitahukan kepada para dewa yang menjaga raga, kepada roh-roh gunung dan pohon, serta kepada kerbau dan kuda.
Pertama-tama, sebatang jagung dipotong dan dibawa ke tiang di dalam rumah tempat benda-benda pemujaan (fetish) digantung; batang tersebut kemudian disandarkan pada tiang tersebut. Setelah itu, beberapa batang jagung dipotong kembali untuk diperlihatkan kepada kerbau dan kuda; satu batang untuk setiap ekor kerbau. Jika terdapat seratus kerbau, maka disediakan seratus batang jagung.
'Ritual di Sumber Air dan Kandang Ternak"
Empat orang pria kemudian pergi mengambil air dengan mengenakan pakaian baru yang indah dan berdandan layaknya ksatria. Mereka membawa wadah dari labu untuk menimba air. Selain itu, mereka membawa seekor babi, seolah-olah mereka hendak membeli air tersebut. Di lokasi air, mereka menyembelih babi tersebut sebagai kurban. Mereka menaburkan sedikit beras ke air dan berucap:
"Hari ini kami datang menjemputmu dengan menimba, untuk membawamu kepada anjing dan babi kami; kami mengangkatmu untuk anjing dan babi kami, untuk yang betina dan yang jantan, agar mereka berkembang biak dengan cepat."
Setelah penyembelihan kurban selesai, dagingnya dipanggang dan air ditimba untuk kemudian dikonsumsi bersama di lokasi tersebut. Prosesi dilanjutkan dengan pengambilan air kembali untuk dibawa ke kandang kerbau bersama dengan batang-batang jagung yang telah dipotong. Setibanya di sana, pangan dan air baru tersebut diperlihatkan kepada hewan ternak.
Sebuah prosesi lanjutan dilakukan dengan membawa babi lain, lengkap dengan bumbu-bumbu yang diletakkan di atas piring labu, serta sirih-pinang. Jumlah kerbau di dalam kandang dihitung berdasarkan jumlah tongkol jagung yang dibawa. Jagung tersebut diletakkan di atas empat piring labu, lalu dicampur dengan air dan bumbu-bumbu. Sebagian dari bumbu tersebut dihaluskan, dikunyah, lalu disemburkan ke tubuh kerbau-kerbau tersebut. Seruan pun dipanjatkan:
"Merah dan hitam, datanglah, mari kita makan pangan baru ini dan minum air baru ini. Makan dan minumlah kalian terlebih dahulu."
Ritual ini bertujuan untuk memohon kesuburan bagi ternak, khususnya untuk memengaruhi kelahiran kerbau betina. Sirih, pinang, dan tembakau diletakkan di atas nampan anyaman dan ditaburkan di atas punggung kerbau seolah-olah sedang disuguhkan kepada mereka. Setelah para peserta ritual mengunyah sirih sendiri, mereka masuk ke dalam kandang untuk memungut kembali sirih, pinang, dan tembakau yang baru saja ditaburkan di kaki-kaki ternak. Tindakan ini dilakukan dengan keyakinan agar mereka menerima kekuatan dan kesehatan dari kerbau-kerbau tersebut. Sebagai penutup ritual di kandang, babi yang dibawa tadi disembelih sebagai persembahan bagi ternak.
"Sakralisasi Alat Kerja dan Kehidupan Rumah Tangga"
Setelah rangkaian ritual di luar rumah selesai, masyarakat kembali ke rumah untuk memasak jagung sebagai hidangan pertama. Sering kali, seekor hewan kembali disembelih untuk memberitahukan kepada para roh bahwa pangan baru akan segera dinikmati. Hal ini dilakukan agar para roh senantiasa memberikan perlindungan sehingga pada musim panen berikutnya, kebutuhan pangan tetap tercukupi.
Selanjutnya, seluruh harta benda dan peralatan dikumpulkan menjadi satu: parang, kapak, linggis, pisau, senapan, gong, gelang, hingga peralatan menenun milik kaum perempuan seperti sekoci dan periuk pewarna. Singkatnya, segala sesuatu yang menjadi milik laki-laki dan perempuan disatukan. Daging kurban dan makanan dipersembahkan kepada benda-benda tersebut sembari berucap:
"Mari kita makan sayuran baru dan minum air baru. Kami akan bekerja dengan giat untuk mendapatkan banyak kerbau, kuda, uang, dan manik-manik."
Ritual ini dimaksudkan untuk memperoleh kesehatan dan kekuatan fisik. Setiap orang kemudian meletakkan makanannya bersama dengan air baru di kaki tiang pemujaan (fetish) di dalam rumah. Setelah seluruh rangkaian penghormatan selesai, barulah semua anggota keluarga berkumpul untuk menikmati pangan dan air baru tersebut secara bersama-sama.
"Institusi *Pah Soefa*: Upeti dan Kedaulatan Raja"
Bagian penting lain dari tradisi ini adalah penyerahan hasil panen tahunan kepada raja. Meskipun di beberapa wilayah kewajiban upeti ini mulai memudar akibat campur tangan pemerintah kolonial atau pergantian pimpinan daerah, terdapat bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa dahulu seluruh rakyat wajib menyerahkan upeti ini kepada kaisar. Tercatat adanya penguasa yang menyalahgunakan wewenang dengan memberatkan rakyat; tidak hanya menuntut hasil bumi, tetapi juga uang atau manik-manik (muti Timor). Hal inilah yang memicu pemerintah untuk melakukan intervensi guna melarang beban berlebih tersebut.
Upeti ini pada dasarnya bukanlah sekadar bentuk penghormatan atau pajak biasa, meskipun dalam banyak kasus fungsinya bergeser demikian. Makna sebenarnya dari tradisi ini terungkap melalui investigasi yang dipicu oleh konflik antara raja Amanuban yang belum memeluk Kristen dengan penduduk setempat yang telah menjadi Kristiani. Sejumlah warga Kristen mengajukan keberatan terhadap upeti manik-manik yang ditetapkan oleh raja dengan mengutip perintah agama untuk tidak menduakan Tuhan.
Melalui pendalaman informasi, diketahui bahwa upeti tersebut merupakan sebuah persembahan kepada Bumi - "Oeis Pah" (Tuhan Penguasa Bumi). Persembahan ini diberikan kepada penguasa tanah tersebut, yakni sang Raja, yang juga menyandang gelar terhormat "Oeis Pah". Dari sinilah asal-usul nama upeti tersebut terungkap: "Pah Soefa", yang secara harfiah berarti "bunga dari tanah". Dalam konteks ini, maknanya adalah hasil bumi yang dipersembahkan kepada "Tuan Tanah".
---
Sumber: Tijdschrift voor zendingswetenschap ; mededeelingen, jrg 80, 1936, 01-01-1936.
Penulis: Marjafri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar