Selasa, 03 Februari 2026

"Rangkayo Datoe Toemenggoeng" Perempuan Minangkabau, Batik, dan Diplomasi Budaya Pasca-Kolonial"


ket.foto: Potret model mengenakan batik Gandasuli (bunga yang harum). itulah nama yang diberikan untuk gaun lurus sederhana ini, yang terbuat dari batik cokelat dengan motif kipas bergaris tepi biru.


Pengantar penulis


Tulisan ini merupakan laporan wawancara dan reportase budaya yang terbit pada awal dekade 1950-an, ketika hubungan antara Indonesia dan Eropa Barat mulai dibangun kembali melalui jalur kebudayaan pasca berakhirnya kolonialisme. Melalui sosok Rangkayo Datoe Toemenggoeng, seorang bangsawan perempuan Minangkabau yang aktif memperkenalkan batik dan kerajinan rumah tangga Indonesia ke dunia Barat, teks ini merekam bagaimana diplomasi budaya dijalankan di luar ranah politik formal. 


Kisah yang disajikan berikut mempertahankan sudut pandang penulis Eropa pada masanya, sekaligus membuka ruang untuk membaca peran perempuan Indonesia sebagai agen kebudayaan dalam konteks pasca kolonial.


DUTA BESAR BATIK


Di suatu tempat di lantai tiga di Amsterdam-Zuid, kami berbicara dengan seorang perempuan bangsawan Minangkabau, yang setiap tahun meninggalkan rumahnya yang berkamar empat belas di Sumatra untuk menumbuhkan niat baik (goodwill) bagi industri rumah tangga di tanah airnya, sembari berkelana dan menjelajahi dunia.


Perempuan kecil berkulit gelap itu merapikan stola tule-nya dengan cermat dan menatap kami dengan penuh perenungan. "Sejak kecil saya sudah ingin menjelajahi dunia," katanya dengan tenang. 


"Anda bertanya kepada saya mengapa saya menghabiskan sebagian besar waktu dalam setahun untuk berkelana melalui Eropa Barat dan Amerika Selatan, alih-alih berdiam diri di rumah Minangkabau saya. O, apakah setiap pertanyaan harus memiliki jawaban ? Saya berada di sini dan saya senang bisa berada di sini. Timur dan Barat harus bisa bertemu di suatu tempat....


"Tatapannya menerawang ke sekeliling ruangan yang tertata apik itu dan terpaku pada model tembaga berukuran kecil dari kediamannya di Sumatra. Tiga lantai di bawahnya, lalu lintas Amsterdam bergemuruh dan trem-trem menderu lewat. Rangkayo Datoe Toemenggoeng tampaknya nyaris tidak mendengarnya. Ketika beliau melanjutkan percakapan dan bercerita kepada kami dalam kalimat-kalimat yang tertata dan penuh pertimbangan mengenai tanah airnya, pikiran beliau membangkitkan citra lain di balik atap-atap ibu kota yang bersalju: citra tentang kawasan tropis dengan warna-warna yang tajam dan kontras, tentang perempuan-perempuan berkulit gelap dengan gaya jalan yang melenggang, mengenakan sarung dan kebaya mereka dengan keanggunan alami yang sempurna, tentang musik gamelan yang sayup terdengar, dan tentang suara-suara magis dari hutan rimba.... Terasa aneh seketika di ruang tamu Amsterdam yang nyaman ini, di mana perapian gas menyebarkan kehangatan yang menyenangkan, merasakan tumbuhnya suasana dari dunia yang sama sekali berbeda, meskipun perempuan ini berbicara dalam bahasa Belanda yang luar biasa dan menyajikan kopi alih-alih nasi.


Kami mengunjungi beliau untuk berbicara mengenai pekerjaannya: mengimpor dan memperdagangkan pakaian batik serta aksesori pelengkapnya, namun pembicaraan ini tidak menjadi wawancara bisnis yang kaku. Hal itu dikarenakan bagi Ny. Toemenggoeng, urusan bisnis dan pribadi terjalin kuat satu sama lain. 


Beliau pada dasarnya juga terlalu sedikit memiliki jiwa pebisnis, bangsawan serba bisa ini, yang merelakan waktu istirahat malamnya demi tugasnya sebagai penulis, karena beliau ingin memberikan bacaan kepada kaum perempuan di negerinya dan, jangan lupakan, anak-anak; bacaan yang baik dan mendidik. 


Dalam waktu dua bulan di tahun 1951, beliau mempelajari bahasa Esperanto, dan berbekal pengetahuan tersebut, beliau berangkat ke Eropa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, menitipkan rumahnya yang berkamar empat belas di bawah asuhan anak-anak dan cucu-cucunya. Beliau masih memiliki martabat yang baik sebagai kepala keluarga, karena orang Minangkabau menjunjung tinggi matriarkat, di mana laki-laki tinggal bersama ibu dan saudara perempuan mereka, dan perempuan diakui sebagai yang utama di dalam rumah. 


Dalam masyarakat laki-laki seperti masyarakat kita (Eropa), beliau pada awalnya harus sedikit membiasakan diri dengan situasi baru tersebut, namun sekarang, saat beliau mengunjungi Eropa Barat untuk kelima kalinya secara berturut-turut, hal itu tidak lagi menarik perhatiannya.


"ALAM SEBAGAI PERANCANG DESAIN"


"Di mana pun saya berada dalam perjalanan saya di Amerika Selatan, di Swiss, di Jerman, dan juga di sini, terdapat minat yang besar terhadap kain batik. Pertunjukan saya di Zurich, Bonn, dan Dusseldorf meraih kesuksesan yang luar biasa dan surat kabar mendedikasikan artikel panjang untuk hal tersebut. Tujuan kami tentu saja menghadirkan model-model yang disesuaikan dengan selera perempuan Barat, namun warna dan motifnya tidak diubah. Semua itu tetap seperti berabad-abad yang lalu; warna-warnanya terinspirasi oleh rona tajam dari lanskap negeri, kaya dan penuh dengan pijar yang sangat mengesankan bagi setiap pengunjung Barat yang datang ke Timur. Tahukah Anda bahwa warna-warna tersebut masing-masing memiliki makna ! Seorang pria, misalnya, dapat melihat dari warna sarung istrinya mengenai apa yang kurang dalam pernikahan mereka: kecemburuan, ketidakpercayaan, ketakutan, semuanya memiliki warna masing-masing. Hal itu tentu saja berlaku juga untuk suasana hati yang lebih menyenangkan !"


Teknik batik sudah sangat tua. Di dalam namanya terdapat kata "tik", yang berarti titik. Dengan pipa tembaga (canting) yang halus seujung rambut, tetes demi tetes lilin panas ditorehkan pada sehelai kain. Bagian-bagian tertentu dibiarkan bebas dan bagian ini, saat kain dicelupkan ke dalam pewarna, akan menyerap warna tersebut, sementara bagian yang tertutup lilin tetap kosong dan membentuk berbagai macam figur. Nantinya, lapisan lilin tersebut dihilangkan dengan cara diluruhkan (dilorod).


Banyak dari motif artistik tersebut memiliki makna simbolis. Yang sering muncul adalah Garuda, burung legendaris dari hikayat klasik, yang dianggap sebagai simbol kebebasan. Motif bunga juga sangat diminati dan, terutama bagi gadis-gadis muda, pola-pola tersebut memiliki pesona yang memikat hati. Beberapa jenis batik hanya boleh dikenakan pada kesempatan khusus oleh anggota keluarga pengantin pada malam menjelang pesta pernikahan. Ibu-ibu muda memiliki batiknya sendiri, begitu pula para penguasa (para raja). Semua motif hias ini tidak pernah diterapkan menurut skema standar atau cetakan (stencil); pembatik menggambar figur-figur purba yang ditentukan oleh tradisi sedemikian rupa sehingga selera pribadi dan pandangan individualnya turut berperan di dalamnya.

ket.foto: Rangkajo Datoe Toemenggoeng, duta batik, di kantornya di Amsterdam. Ibu Toemenggoeng juga mengembangkan karier yang cemerlang sebagai penerbit dan penulis. Cita-citanya adalah emansipasi perempuan Indonesia.


DARI ENSCHEDE....


Ny. Toemenggoeng, yang telah melakukan studi mendalam mengenai kehidupan perempuan Indonesia dan menulis buku yang menarik tentang hal tersebut, memperoleh kain-kainnya dari pabrik tekstil Twente. Kain katun halus yang belum dicetak dikirim ke Indonesia dan dikerjakan di sana dengan tangan untuk kemudian kembali lagi ke Eropa sebagai kain batik. Maka, sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai produksi cepat yang terburu-buru di ban berjalan. Pengerjaan satu sarung membutuhkan waktu tiga bulan dalam industri rumah tangga.


"Di Timur, orang-orang tidak terburu-buru," kata Rangkayo Toemenggoeng dengan perlahan. "Teknik membatik sudah sama selama ribuan tahun dan meskipun telah dilengkapi serta ditingkatkan, tidak ada yang merasa perlu untuk mulai mempraktikkannya dengan tempo industri konveksi. Ini adalah tentang kerajinan tangan yang mulia. Namun hasilnya terkadang sangat indah, sebagaimana yang dapat Anda saksikan sendiri. Apa pendapat Anda tentang kain-kain ini ?"


Dengan penuh kekaguman, kami membiarkan sarung-sarung yang dikerjakan dengan indah dan selendang sutra dengan motif tenunan benang emas mengalir melalui jari-jari kami. Kami diperlihatkan kebaya renda, tetapi juga gaun-gaun Barat, yang ternyata sangat bagus jika dibuat dari kain batik asli. Gaun-gaun itu menyandang nama-nama puitis yang merdu seperti Morgenrood (Fajar) dan Bloesemtros (Rangkaian Bunga). Namun yang paling mengesankan adalah keindahan mewah dari perhiasan yang Ny. Toemenggoeng pajang untuk kami: intan mentah dan mutiara alam, yang diikat dalam emas murni. Sebuah kipas dari kulit kerbau yang dihiasi emas menggambarkan permainan wayang. Sebagian besar adalah milik keluarga yang sudah berusia berabad-abad.


Karena kata-kata saja tidak mampu mendekati penggambaran keindahan eksotis ini, Anda akan menemukan sejumlah foto di halaman-halaman ini, yang bahasanya sendiri lebih mendekati kenyataan. Foto-foto tersebut dibuat atas izin baik dari direktur, Prof. Dr. R. A. M. Bergman, yang untuk kerja sama ini kami ucapkan terima kasih, bertempat di Koninklijk Instituut voor de Tropen (Institut Kerajaan untuk Daerah Tropis), di mana fotografer kami menemukan suasana dan latar belakang yang ideal. Saat foto-foto ini sampai ke tangan Anda, Rangkayo Toemenggoeng sudah berada dalam perjalanan kembali ke rumah beratap lancip (Rumah Gadang) miliknya di tanah Minangkabau untuk mengumpulkan kekuatan bagi perjalanan niat baik (goodwill) berikutnya sebagai duta besar batik.


sumber: De libelle; geillustreerd weekblad voor de vrouw, jrg 22, 1955, no. 16, 16-04-1955

Penulis: Marjafri, Jurnalist, Pendiri dan ketua Komunitas Anak Nagari kota Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar