Selasa, 10 Februari 2026

MAKNA NAMA SUMATRA, MINANGKABAU DAN BEBERAPA NAMA LAINNYA DI HINDIA BELANDA. OLEH Dr. F. M. SCHNITGER


 Pengantar


Sejarah, terutama ketika menyentuh asal-usul nama dan jejak-jejak awal peradaban, sering kali berdiri di antara fakta yang terbatas dan tafsir yang berkembang dari generasi ke generasi. Tidak ada saksi hidup yang dapat mengonfirmasi bagaimana sebuah pulau memperoleh namanya, bagaimana suatu kerajaan menamai dirinya, atau bagaimana suatu istilah berpindah makna dari desa kecil menjadi identitas geografis yang luas. Yang tersisa bagi kita adalah prasasti, catatan pelaut, tradisi lisan, perbandingan bahasa, serta rekonstruksi para sarjana yang berusaha menyusun kepingan-kepingan itu menjadi sebuah gambaran yang utuh.


Dalam konteks itulah tulisan Dr. F. M. Schnitger ini perlu dibaca. Ia tidak sekadar menawarkan jawaban, melainkan membuka kemungkinan. Ia bergerak di antara arkeologi, filologi, legenda, simbolisme, dan sejarah politik kuno untuk menjelaskan makna nama Sumatra, Minangkabau, serta sejumlah toponimi lain di wilayah Hindia Belanda. Pendekatannya memperlihatkan bagaimana pada masanya, para sarjana berusaha memahami Nusantara melalui pertemuan antara prasasti, mitologi, dan tradisi lokal.


Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai putusan akhir, melainkan sebagai bagian dari percakapan panjang tentang identitas dan memori sejarah. Setiap hipotesis yang diajukan mencerminkan upaya memahami masa lampau dengan alat dan pengetahuan yang tersedia pada zamannya. Dalam membaca uraian berikut, pembaca diajak untuk melihatnya sebagai sebuah ikhtiar intelektual—sebuah pencarian makna terhadap nama-nama yang hingga kini tetap hidup dalam kesadaran sejarah.


Dengan kesadaran bahwa sejarah sering kali lebih berupa jejak daripada kepastian, berikut ini disajikan pemikiran Dr. F. M. Schnitger mengenai arti nama Sumatra, Minangkabau, dan beberapa nama lainnya di Hindia Belanda.


MAKNA NAMA SUMATRA, MINANGKABAU DAN BEBERAPA NAMA LAINNYA DI HINDIA BELANDA


Mengenai topik ini, Prof. Krom telah menerbitkan sebuah artikel panjang dalam Bijdr. Kon. Inst. tahun 1941. Artikel ini memuat kesimpulan bahwa nama tersebut tidak berasal dari Samudra (sebagaimana yang telah diyakini selama bertahun-tahun), melainkan mungkin merupakan sebuah ungkapan yang setara untuk Suwarnadwipa, Pulau Emas. Pada akhir risalahnya, secara aneh nama tersebut tetap dihubungkan dengan Samudra, sebuah bukti betapa ketidakpastian masih menguasai topik ini.


Sebagai upaya membawa diskusi ke arah yang lain, terdapat petunjuk bahwa Sumatra kemungkinan besar dinamakan berdasarkan desa Poeloe Mentara di Kompeh, yang terletak di delta Batang Hari. Di sinilah untuk waktu yang lama terletak ibu kota dari seorang penguasa yang menurut tradisi berkerabat dengan raja-raja dari kerajaan Jawa, Mataram. Dari prasasti Kalasan (Kalaçapura) tahun 778, diketahui bahwa pada masa itu terdapat dua raja Çailendra: satu di Jawa dan satu di Sumatra. Çailendra Sumatra tersebut sangat mungkin merupakan penguasa Poeloe Mentara di Serambi (Lambri), yaitu Jambi. Putranya, Orangkaja Item, berperang melawan Mataram dan merangsek jauh ke dalam Jawa dengan pasukan yang besar. Ada kemungkinan bahwa prasasti-prasasti Melayu dari Gandasoeli berasal dari sosok tersebut atau keturunannya. Negeri Orang Kaja Item bernama Doea Batin; wilayahnya membentang hingga Minangkabau. Oleh karena itu, Maharaja Çailendra ini—sang Raja Gunung—juga menamakan dirinya Se-ri-ma-la-pi, yaitu Çri Merapi, berdasarkan gunung api di pedalamannya.


Jadi, pernah ada suatu masa ketika Jambi dikenal oleh para pelaut sebagai Mentara, sebuah nama yang kemudian karena kemasyhurannya diperluas ke seluruh pulau. 


Su-men-ta-la adalah bentuk penulisan yang digunakan orang-orang Tionghoa dengan benar sejak abad ke-14. Sumatra juga merupakan sebutan yang umum digunakan. Awalan "Su" ini sering kali muncul. Demikian pula Palembang, menurut beberapa pihak, dahulu bernama Medang atau Mendang atau Menang (menang, yang menjadi asal-usul nama Çri Widjaja, sang Pemenang) dan kemudian menjadi Sumedang.


Apakah nama Mentara dan Mataram memiliki keterkaitan satu sama lain? Kemungkinan besar demikian. Bentuk perantara Matara hingga saat ini masih menjadi nama sebuah desa terkenal di pesisir selatan Ceylon (1). Sebagaimana Madjapait di Sumatra disebut Mangdjapait, demikian pula Mataram dapat berubah bentuk menjadi Mentara. 


Mataram adalah nama bunga, dan Sumatera dapat diartikan sebagai Bunga Mataram yang Baik. Ini merupakan solusi yang paling sederhana, mengingat beberapa nama kerajaan di Sumatra dinamakan berdasarkan tanaman (2). Misalnya Lampong (Shorea ringan), Djambi (Areca catechu), Si Djangkang (Sterculia foetida), Siak (Dianella. Ibu kota Sri Indrapoera — Çri Çailendrapura), Si Toengirtoengir (Panei), Aroe, dan lain-lain.


Oleh karena itu, dahulu pernah ada dua kerajaan bernama Mataram: wilayah yang sebenarnya di Jawa dan sebuah provinsi taklukan di Jambi. Yang terakhir ini disebut Mataram Besar, Su-Mataram atau lebih tepatnya: Maha-Mataram. Nama terakhir ini masih bertahan dalam Mahatara, nama dewa Dayak yang terkenal, yang mungkin merupakan sisa-sisa dari masa ketika Mataram juga menguasai bagian-bagian di Borneo. Sebagaimana yang akan ditunjukkan di kemudian hari, anggota keluarga Çailendra juga pernah memerintah sebagai kepala suku di Borneo Selatan dan Barat. Lambang mereka adalah burung enggang dan ular.


Prasasti Kalasan (di Jawa Tengah) menyebutkan tentang pembangunan kuil Tara. Dipilihnya dewi Tara tersebut dapat berkaitan dengan asosiasi bunyi antara Tara dan Mataram. Asosiasi semacam itu bahkan hingga hari ini masih menawarkan titik temu yang umum untuk perhitungan magis dan perenungan mistis. Dari sejarah Hindu-Jawa di masa kemudian, terdapat juga beberapa contoh di mana putri-putri dinamakan berdasarkan nama kerajaan (Bhre Daha, Lasem, dsb.). Tara sebagai nama putri juga ditemukan di kalangan Wangsa Çailendra.


Secara sepintas, perlu juga dikemukakan bahwa di Sumatra, terdapat anggapan yang menghubungkan Mantir dari Aceh dan Mantra dari Malaka dengan Poeloe Mentara.


Setelah nama Sumatra dijelaskan secara memadai, kesempatan ini dapat digunakan untuk memperjelas satu nama lainnya. Dalam majalah ini (1940, hal. 401), telah disebutkan mengenai "Orang Domo" dari Moeara Takoes (Takkola kuno). 


Dari manakah nama Domo yang luar biasa ini berasal? Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam daerah kantong (enklave) penguasa Soeroaso, yang disebut Indomo atau "Perpatih ing Domo. Dalam bahasa Sanskerta, Doma dipahami sebagai orang-orang yang hidup dari nyanyian dan musik. Mengenai Indomo, terdapat narasi bahwa dahulu ia mabuk-mabukan dan menari di atas batu dengan rambut terurai, sambil menggigit leher seekor ayam jantan hingga putus. Nama ibu kotanya bahkan berarti Minuman Keras (sura — tuak) ! 


Perpatih ini merupakan seorang penganut Tantra sejati, seorang penyihir magis-erotis yang kekuasaannya dalam banyak hal lebih besar daripada kekuasaan raja di Pagarroejoeng. Perilaku berlebihannya memiliki karakter sakral. Orang-orang dari suku Domo kemungkinan besar seluruhnya merupakan penganut Tantra. Tidak mengherankan jika Moeara Takoes dengan kuil-kuil sihir merahnya menjadi pusat bagi mereka. Tempat-tempat suci yang didirikan di sini terletak seperti kelopak bunga, atau seperti ujung-ujung "wadjra" (halilintar) dalam sebuah lingkaran magis yang saling berhadapan satu sama lain.


Minangkabau.


Penjelasan mengenai nama ini telah dipaparkan dalam buku Schönes Indonesien, hal. 11. Meskipun demikian, persoalan di sini tidaklah sesederhana itu. Terdapat anggapan bahwa nama tersebut sangat kuno dan berarti Kerbau yang Menang (Nandiwidjaja), atau di sisi lain berarti "Pinang Kabhu = Tanah Asal; namun di wilayah itu sendiri, terdapat berbagai penjelasan berbeda yang diberikan. 


Satu pendapat menyebut Menanga Bahu (atau Kebo), yakni Pangeran Bahu (atau Kerbau); pendapat lain menyatakan Menanga Boeo, yakni Tuan dari Boeo. Ada pula pendapat ketiga yang mengartikannya sebagai Negeri Perempuan (kab merupakan kata umum untuk unsur feminin). Semua hal tersebut terdengar cukup fantastis.


Jika "minangka" benar-benar sama dengan minanga, maka itu merupakan istilah lama, karena Minanga Tambang telah disebutkan dalam prasasti Palembang dari tahun 683. Nama-nama tempat dengan unsur minanga sangat umum ditemukan di Sumatra Selatan, dan kemungkinan yang paling mendekati adalah bahwa "Minanga Tambang" merupakan sebuah desa di Sumatra Selatan. Ataukah di Minangkabau? Tidak menutup kemungkinan bahwa Çriwidjaja pernah berpusat di Minangkabau untuk waktu yang lama. Namun, hal ini tidak dapat dibuktikan. Di hulu sungai dari Palembang masih terdapat sebuah pulau bernama Poeloe Pedjaja (Widjaja) dan di sungai Lematang terdapat sebuah marga bernama "Panang Karabla Soekoe Pedjaja (3).


Menurut Coedès, nama "Minanga Tambang" juga dapat dibaca sebagai M. Hamwar. Mungkin dapat dihubungkan dengan Batoe Ampar di dekat kawasan reruntuhan Lemahbang di sebelah timur kota Palembang. Apakah mungkin Minanga Tambang terletak di muara Batang Hari dan sungai ini dulunya bernama Tambang?


"Mappappalam" disebutkan dalam prasasti Tanjore tahun 1030. Bandingkan dengan Bijdr. Kon. Inst. 77, hal. 83. Nama tersebut diidentifikasi dengan Pappal di Borneo Utara, sebelah timur laut kota Brunei. Mengenai Manakkawaram dari prasasti yang sama, pada tahun 1941 telah dilakukan identifikasi dengan Minangkabau (4). Hal serupa juga dilakukan oleh Tuan Obdeyn dalam terbitan tahun 1942, hal. 65 dari Majalah ini, dalam sebuah artikel yang bagus dan memikat.


CATATAN KAKI DAN REFERENSI


1. Dalam buku "Oudheidkundige Vondsten in Palembang", Lampiran C (Brill, Leiden, 1936), telah ditunjukkan bahwa raja Çailendra dari Kalasan, Pancapana Panamkarana, berasal dari daerah Pancapananadu di India Selatan. Panam-karana (Panangkaran) berarti Sang Perluas (dari akar kata tangkar). Terdapat kemungkinan bahwa nama tersebut merupakan nama Sumatra, dengan merujuk pada istilah Minangkabau Manang-kerang.


2. Secara unik, nama-nama tersebut juga merujuk pada hewan di saat yang bersamaan. Misalnya, Si Djang-kang merujuk pada tanaman sekaligus udang air tawar; Si Toengir merujuk pada tanaman sekaligus kutu ayam. Moeara Takoes dahulu bernama Telago Oendang (Kolam Udang), dan jenis udang ini juga muncul dalam nama kerajaan Kedebon Oendang di aliran sungai Lematang.


3. Nama "Panang Karabla" ini mengingatkan pada nama raja Jawa, Panangkaran.


4. Der Gewittervogel in Asien, Mitt. der anthropol. Gesellschaft in Wien, 1941, hal. 345. Mengenai penyetaraan Nakur dengan Minangkabau oleh Obdeyn, hal tersebut tidak dapat diterima, namun identifikasinya mengenai Andaman dengan tanah Batak dapat disetujui. Nama tersebut dianggap sama dengan Rondaman. Natumeran kemungkinan besar adalah Sitoe-morang. Adapun Litai yang dimaksud adalah Blida di sungai Moesi. Selain itu, apakah di balik nama misterius Dagroian dari Marco Polo tidak tersembunyi marga Dongoran?


PENJELASAN PADA PETA


- "Sumatra" sebagai nama untuk keseluruhan pulau tidak dikenal di kalangan orang Melayu. Awalnya, yang dipahami dari nama tersebut hanyalah wilayah delta Batang Hari. Terdapat anggapan bahwa Sumatra terdiri atas beberapa pulau yang berbeda, di mana yang terpenting adalah Serodja (Aceh), tanah Batak, Kebon Lado (Jambi), dan Malajoe.


- Minangkabau. Wilayah intinya bernama Tandjong Boenga (Tanjung Bunga), dengan kota Pagarroejoeng yang terletak di sungai Bangkoewas.


- Djambi disebut juga Serambi atau Doea Batin. Wilayah ini terletak di Sungai Matahari, Pohon Matahari dengan 9 cabang, yang sekaligus merupakan sungai kematian. Arwah-arwah berlayar ke hulu menggunakan perahu dan mengumpulkan emas di mana-mana. Jambi bagian hulu disebut Poeloe Mas (Pulau Emas).


- Palembang memiliki bentuk seperti daun lebar (lèbar daven), sebagaimana Minangkabau memiliki bentuk seperti bunga.


- Pegunungan. Poesoek Boehit dianggap sebagai tempat tinggal tertua orang Batak. Di puncaknya, leluhur mereka turun dari langit menggunakan seutas liana. Peran serupa dimainkan oleh Gunung Merapi dan Dempo bagi orang Melayu. Krakatau adalah gunung api dinasti Wangsa Çailendra. Api abadinya melambangkan kekuasaan mereka. Di dalam kawahnya bersemayam iblis yang kuat. Tidak kalah menakutkan adalah Radja Baso (Raja Basah). Dua roh api jahat dari gunung-gunung berapi ini selama berabad-abad menjaga Selat Sunda.


- Manusia Harimau, yakni orang-orang yang dapat berubah menjadi harimau, tinggal di Dempo, Korintji, dan Tjenako. Setahun sekali mereka berkumpul di sungai Kampar. Anggota marga Batak "Babiyat" (Harimau Raja) tidak diperbolehkan memakan daging harimau, dan kelompok Agam di Minangkabau dikatakan berasal dari keturunan harimau. Bandingkan dengan buku FORGOTTEN KINGDOMS IN SUMATRA, hal. 192.


- Kuburan Gajah, tempat di mana gajah-gajah pergi secara sukarela saat mereka merasakan ajal mendekat, diyakini berada di Mesoedji dan di sekitar Pasir Pengarajan. Bandingkan dengan FORGOTTEN KINGDOMS, hal. 48-49.


- Orang Pendek menurut orang Melayu adalah manusia kerdil. Mereka diyakini tinggal terutama di sebelah timur Pasir Pengarajan, meskipun keberadaan mereka juga dilaporkan dari daerah lain.


- Kebo Ngoendang atau Kebo Moendang atau Kedebon Oendang merupakan sebuah kerajaan Hindu di hilir sungai Lematang. Karya pahatan dari wilayah ini digambarkan pada pelat *o* dalam buku "ARCHAEOLOGY OF HINDOO SUMATRA".


- Sekala Brak dianggap sebagai tanah asal orang Lampung. Dahulu wilayah ini terletak di tepi laut. Di sinilah manusia pertama datang dengan perahu dan mendarat melalui pelangi. Lampong adalah kata kuno untuk kapal.


- Bangka menurut legenda merupakan sebuah kapal yang membatu. Cerita mengenai kapal yang membatu ditemukan di seluruh pesisir timur Sumatra. "Kapal" yang paling luar biasa dari jenis ini adalah Pintoe Toedjoeh, sebuah gua dengan 7 kamar di wilayah hulu sungai Gangsal, di sekitar Boekit Segoentang. Pada tahun 1936 ditemukan artefak neolitikum di sini dengan tipe yang sama seperti di Liang Ginorga di Borbor (tanah Batak bagian barat). Bangka juga merupakan nama sebuah buah.


- Moeara Takoes. Sketsa terlampir, yang digambar berdasarkan ingatan, memuat rincian-rincian yang tidak ditemukan pada peta manapun. Sangat diharapkan agar seorang topografer melakukan penelitian yang akurat di lokasi tersebut. Di dekat reruntuhan tersebut terletak Sawah Pantjoeran Gadiang.


**********************************************

Penutup


Nama-nama besar dalam sejarah tidak pernah sekadar rangkaian huruf. Ia adalah lapisan-lapisan ingatan, tafsir, keyakinan, dan pencarian makna yang terus bergerak dari satu zaman ke zaman berikutnya. Sumatra, Minangkabau, dan berbagai nama lain yang disebutkan dalam uraian ini bukan hanya penanda geografis, melainkan juga cermin dari perjumpaan budaya, kekuasaan, mitologi, dan bahasa yang saling berkelindan selama berabad-abad.


Setiap teori yang diajukan adalah upaya memahami jejak yang samar. Setiap asosiasi bunyi, prasasti, dan legenda adalah pintu yang membuka kemungkinan, bukan kepastian. Dalam sejarah, terutama sejarah yang jauh dari saksi hidup, sering kali yang tersisa bukanlah jawaban yang final, melainkan ruang dialog yang terus terbuka.


Barangkali di situlah letak kekuatan sejarah itu sendiri: ia tidak memaksa untuk tunggal, tetapi memberi ruang bagi penafsiran. Tulisan ini hadir sebagai bagian dari percakapan panjang tentang asal-usul dan makna—sebuah percakapan yang belum selesai, dan mungkin memang tidak pernah selesai.


Selebihnya, pembaca dipersilakan menimbang, merenungkan, dan menafsirkan sesuai sudut pandang masing-masing.



sumber: Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1943, 01-01-1943 (hal. 111-115)

penulis: marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar