Rabu, 16 September 2020

Profil Kapten Soedarsin Bupati & Walikota Sawahlunto / Sijunjung 1962 – 1965 .

 

                   Kapten Soedarsin Bupati & Walikota Sawahlunto / Sijunjung 1962 – 1965 .   

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung termasuk wilayah Afdeling Solok dengan ibu kotanya Sawahlunto. Afdeling Solok mempunyai beberapa Onder Afdeling, salah satu diantaranya adalah Onder Afdeling Sijunjung dengan ibu negerinya Sijunjung. Ini berlangsung sampai pada zaman pemerintahan Jepang. Sesudah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pada Oktober 1945 dibentuk Kabupaten Tanah Datar dengan ibu kotanya Sawahlunto yang wilayahnya meliputi beberapa kewedanan, yaitu Batu Sangkar, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto dan Sijunjung.

Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada pemerintahan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, ibu kota Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung ditetapkan menjadi daerah otonomi Sawahlunto/Sijunjung dalam lingkungan Provinsi Sumatra Tengah. Melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956, dibentuk kota kecil Padang Panjang, Payakumbuh dan Sawahlunto. Kota kecil Sawahlunto beribu kota di Sawahlunto, Kepala daerahnya dirangkap oleh Kepala daerah tingkat II Sawahlunto/Sijunjung. Tahun 1960 ibukota Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dipindahkan dari Sawahlunto ke Sijunjung.

Dalam perjalananya Pemerintahan kota Sawahlunto sebelum terjadi G 30 S 1965 tengah mengadakan reorganisasi pemerintahan untuk memacu pembangunan. Antara tahun 1960-1965 dengan Kepala Daerah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan Kotamadya Sawahlunto dijabat oleh satu pimpinan yang pada waktu itu dijabat oleh Kapten Soedarsin periode 1962 – 1965.

Dalam masa kepemimpinanya tersebut Soedarsin  juga di percaya dan di beri mandat oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia ( PSSI ) guna menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Gunung Arang Sawahlunto ( PSGAS ) periode 1962 / 1963

                                      SK.Pengangkatan sebagai KETUM PSGAS Sawahlunto 


BIOGRAFI 

- Terlahir dengan nama lengkap lengkap Jusup Soedarsin Sastramihardja ( Temanggung -  Jawa Tengah , Jumat Legi, 11 September 1925.  

* Riwayat Pendidikan Dan Militer =

1.Sekolah Dasar 1933 -1940

2.Sekolah Pertukangan 1940 – 1943

3.SMA LPPU A-C 1955 -1958

4.PETA 1943 -1944

5.ULANGAN PERWIRA 1957

6.SUS-KI 1962 – 1963

7.SUSLAPA 1967

*Riwayat Kepangkatan Militer =

1.LETNAN DUA 1 Maret 1947

2.LETNAN SATU 1 Januari 1955

3.KAPTEN 1 Januari 1960

4.MAYOR 1 Januari 1965

5.LETNAN KOLONEL 1 Januari 1969 

 

                                    Saat pelantikan sebagai DAN DIM Yogyakarta 1969-1971

*Riwayat Pekerjaan dan Jabatan

1.DAN TON IF. AMBARAWA 1947 -1950 (JONIF 440)

2.DAN KI IF. AMBARAWA 1950 – 1957 ... Sda ...

3.DAN DSS . SALATIGA 1957 – 1960 ( RINIF 14)

4.PASI II RES . SALATIGA 1960 ...Sda...

5.PASI II SKODAM . PADANG 1960 – 1961 ( KODAM III )

6.BUPATI/KDH . SAWAHLUNTO 1961 – 1967

7.KARO BINWAN . SEMARANG 1968 – 1969 ( KODAM VII )

8.DAN DIM YOGYAKARTA 1969 – 1971 ( REM o72 )

9.ANGG DPRD YOGYAKARTA 1971 – 1977 ( PROV.DIY )

10.ASSOSPOL SKW. YOGYAKARTA 1978 – 1979 ( SKARWIL II )

11.ASSEKWILDA PROP. YOGYAKARTA 1979 (PROP.DIY)

*Riwayat Penugasan Militer

1.GERAKAN GERILYA TEMANGGUNG 1946-1949

2.Ops.MERAPI-MERBABU Compl. 1949-1950

3.Ops.KAHAR MUZAKAR SULAWESI SELATAN 1951-1952

4.D.I. JAWA TENGAH 1952-1955

5.Ops. 17 AGUSTUS SUMATERA BARAT 1959-1961

*Bintang Jasa dan Penghargaan

1.MEDALI SEWINDU APRI

2.SATYA LANCANA SAPTA MARGA

3.SATYA LANCANA KESETIAAN

4.SATYA LANCANA AKSI MILITER KE I.

5.SATYA LANCANA AKSI MILITER KE II.

6.MEDALI BHAKTI

7.SATYA LENCANA PENEGAK

8.SATYA LANCANA KESETIAAN 24 TAHUN

9.BINTANG KARTIKA EKA PAKSI KELAS III

10.PIAGAM PENGHARGAAN MENDAGRI 28 Oktober 1971

 

                                                                          KELUARGA

                                                            Kapten Soedarsin beserta isteri

Isteri : Maria Soewarti.

Tempat dan tanggal lahir: Temanggung [Jawa Tengah], Rabu Kliwon, 15 Agustus 1927.

Wafat: 11 Mei 2004, di makamkan di makam keluarga di Temanggung Jateng

Anak-anak =

                                                         Keluarga besar Kapten Soedarsin

1. Hendar Klestono, Temanggung [Jateng], Minggu Legi, 28 Mei 1950.

2. Hendar Yudhianto, Ungaran [Jateng], Minggu Wage, 2 Desember 1951. [Alm]

3. Hendar Triwarsono, Ungaran [Jateng], Rabu Wage, 4 Februari 1953.

4. Hendarwati Sudarini, Ungaran [Jateng], Kamis Pon , 30 Desember 1954.

5. Hendarini Sudarwati, Ambarawa [Jateng], Sabtu Wage, 23 Juni 1956. [Alm]

6. Hendarwasih Yuniati, Ambarawa [Jateng], Sabtu Paing, 20 Juni 1958.

7. Hendar Djoko Riwayanto, Jakarta [D.K.I], Rabo Pon, 23 November 1960.

8. Hendar Hari Wardhana, Sawahlunto [Sumbar], Minggu Kliwon, 28 April 1963.

9. Hendar Agus Suskiyanto, Sawahlunto [Sumbar], Senin Kliwon, 12 Agustus 1963. [Alm]

[dimakamkan di Sawahlunto di makam dekat SMA ]

10. Hendarsih Kurniastuti, Padang [Sumbar], Rabu Pon, 30 Juni 1965.

 

Dengan pangkat terakhir sebagai Letnan Kolonel ,  Jusup Soedarsin Sastramihardja wafat: 15 Januari 1990, dan dimakamkan di TMP “Kusuma Negara” di Jogyakarta.

Sumber =    Bpk. Hendar Klestono


                    

 

 

Sabtu, 02 Mei 2020

Sulaiman Labai , Pejuang dari Silungkang Sawahlunto

Sulaiman Labai , Pejuang dari Silungkang Sawahlunto

Pada tahun 1912, di bawah kekuasan kolonial Belanda, Silungkang merupakan pusat perdagangan dan pertambangan. Seiring dengan interaksinya dengan dunia luar, gagasan-gagasan radikal masuk juga ke tana Silungkang.
Pada tahun 1915, Sulaiman Labai, seorang saudagar muslim, mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang. Tiga tahun kemudian, ia mulai mempelopori perlawanan terhadap peraturan-peraturan kolonial yang melarang pengangkutan beras.
Saat itu, sebagian besar rakyat Silungkang sedang dilanda kelaparan. Namun, ironisnya, kereta-kereta pengangkut beras belanda tidak pernah berhenti hilir-mudik melewati Silungkang. Beras-beras itu dikirim untuk pejabat dan administrator Belanda yang berada di tambang Ombilin di Sawahlunto.
Di sinilah aksi “Robin Hood” itu terjadi. Pada tahun 1918, Sulaiman Labai dan puluhan anggotanya memaksa kepala stasiun untuk menyerahkan dua gerbong beras dari keretap api yang melintas di Silungkang. Beras hasil rampasan itu kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat yang kelaparan.
Sulaiman Labai ditangkap gara-gara aksi tersebut. Namun demikian, kisah kepahlawanannya membuat rakyat sangat bersimpati kepadanya dan Sarekat Islam. Dalam sekejap, banyak orang yang ingin bergabung dengan organisasi bentuk HOS Tjokroaminoto tersebut.
SI cabang Silungkang pun berkembang pesat. Selain memimpin SI, Sulaiman Labai juga memimpin koran kiri: Panas. Tetapi, sangat sedikit sumber tentang koran ini dan sepak terjang Sulaiman Labai di dalamnya.
Pada tahun 1924, SI cabang Silungkang diubah menjadi Sarekat Rakyat (SR). Meningkatnya aktivitas kaum radikal dalam perjuangan anti-kolonial mendorong pemerintah Belanda melakukan penangkapan-penangkapan. Pada tahun 1926, Sulaiman Labai ditangkap oleh Belanda.
Sulaiman Labai ditangkap sebelum terjadinya pemberontakan anti-kolonial di Silungkang  pada malam Tahun Baru 1927. Pemberontakan rakyat itu dipimpin oleh PKI dan Sarekat Rakyat. Pemberontakan itu menemui kegagalan. Ribuan aktivis, kaum tani, kaum buruh, ulama, dan rakyat biasa ditangkap oleh Belanda.
Nasib sulaiman Labai sendiri sudah tidak jelas saat itu. Sebuah artikel yang ditulis oleh Anwar Sirin, Perang Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1927, menceritakan bahwa pada Maret 1928 Sulaiman Labai dan sejumlah pejuang rakyat Silungkang di pindahkan ke sebuah penjara di Pulau Jawa.
Anwar Sirin mencatat sebuah dialog antara  Sulaiman Labai dengan Rusad, seorang pribumi yang menjadi Mantri Polisi Belanda. Di situ, Mantri Polisi Rusad mengejek para pejuang itu dengan mengatakan: “Kamu semua telah merasakan tanganku. Tentu kamu menaruh dendam kepadaku. Tapi jangan harap kamu semua dapat membalas dendam itu. Sekalipun kini ada Sukarno mengikuti jejak kalian yang hendak merdeka dan hendak menjadi raja. Besok pagi kalian semuanya berangkat untuk jadi raja dan rakyat di hotel prodeo di tanah Jawa.
Sulaiman Labai, yang berada di barisan pejuang itu, maju kedepan dan mengatakan: “Tidak ada dendam kami terhadap pegawai dan amtenar bahkan terhadap Belanda pribadi, kami hanya dendam terhadap penjajah Belanda.”
Abdul Muluk Nasution, salah seorang tokoh pemberontakan rakyat Silungkang yang turut dibuang ke pulau Jawa, menulis satu lagi kisah keberanian Sulaiman Labai saat berada di penjara Belanda di Glodok, Jakarta.
Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda, seorang tokoh PNI Jabar yang juga dipenjara di Glodok, Tussin, memberitahu Sulaiman Labai dan kawan-kawan perihal Sumpah Pemuda itu. Tidak hanya itu, Tussin juga mengajari Sulaiman Labai dan kawan-kawa menghafal dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.
Pada pukul 8 malam, 28 Oktober 1930, di bawah pimpinan Sulaiman Labai, tokoh pemberontak Silungkang, Sumpah Pemuda dibacakan. Lagu Indonesia Raya pun mereka gemakan serentak di setiap sel penjara Glodok, tanpa mempedulikan risiko dicambuk atau diasingkan di sel gelap dengan tangan dan kaki terantai. Ya, Sulaiman Labai, pahlawan yang tak kenal takut itu.
Pada tahun 1937, ketika Abdul Muluk dibebaskan dari penjara, Sulaiman Labai yang sudah berumur 60-an tahun masih harus menjalani penjara 15 tahun lagi.
Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sulaiman Labai tetap berada di dalam penjara. Ia menolak dibebaskan oleh Jepang. Sebab, baginya, Jepang dan Belanda sama saja: merampas kemerdekaan rakyat Indonesia.
Sulaiman Labai, pejuang rakyat Silungkan yang tak kenal surut, meninggal di dalam penjara pada tanggal 15 Agustus 1945—dua hari menjelang Bung Karno dan Bung Hatta membacakan kemerdekaan negeri yang diperjuangkannya. Semoga kita tetap mengenang kisah perjuangan seperti beliau ini. Merdeka!