Sabtu, 14 Februari 2026

"Surat Cap Kebesaran Maharaja Diraja: Mandat Daulat Pagaruyung di Pulau Percha"



 Pengantar Filologis: Jejak Kedaulatan Pagaruyung dalam Manuskrip Nusantara


Naskah yang tersaji ini merupakan sebuah dokumen diplomatik dan sakral yang memotret luasnya pengaruh simbolis Kerajaan Pagaruyung di masa lampau. Penelusuran atas dokumen ini bermula ketika Tuan Schouw Santvoort memperoleh sebuah naskah—diduga di Jambi—yang salinannya menjadi dasar bagi kajian ini. Dokumen tersebut bukanlah surat yang ditujukan kepada individu tertentu, melainkan sebuah "surat kepercayaan" atau mandat kedaulatan.


Secara formal, dokumen ini diterbitkan oleh Sultan Daulat Mohamad Noer Sjah Alboekas bagi kerabatnya, Hadji Dajang Hapat. Isinya menginstruksikan kepada setiap penguasa di negeri-negeri yang dikunjungi agar mengakui pembawa surat sebagai kerabat kerajaan dan memberikan perlindungan serta bantuan yang diperlukan. Keunikan naskah ini terletak pada struktur visualnya; di bagian kepala surat terdapat cap meterai agung yang dikelilingi oleh lima belas lingkaran medali. Setiap medali tersebut mencantumkan nama-nama penguasa dari berbagai penjuru Nusantara—mulai dari Jawa (Mataram), Aceh, Makassar, hingga Banjar—yang mayoritasnya diakui sebagai keturunan dari Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung.


Meskipun naskah ini ditemukan dalam kondisi tidak lengkap dan tidak mencantumkan tahun penertiban, esensinya sejalan dengan berbagai manuskrip serupa yang ditemukan di wilayah lain, seperti naskah dari Moeara Aman (Lebong) dan catatan pangeran Raja Laboe yang diterjemahkan oleh Newbold. Keberadaan naskah-naskah sejenis di berbagai tempat—termasuk yang tersimpan di Perpustakaan Leiden—menunjukkan adanya pola konsisten di mana penguasa Pagaruyung secara berkala mengutus pangeran atau wakil keluarga ke berbagai wilayah "koloni" dengan membawa surat jalan ini. Hal ini sekaligus menegaskan pengakuan atas supremasi simbolik Pagaruyung sebagai keturunan ilahi di wilayah-wilayah yang secara politik mungkin sudah berdiri merdeka.


Transkripsi berikut mencakup isi dari setiap medali kebesaran, diikuti dengan narasi tradisi lama mengenai asal-usul para penguasa dunia, legenda Mahkota Sulaiman di Laut Silan-Khalidzum, hingga seruan mandat perlindungan yang disertai ancaman kutukan bagi siapa pun yang berani menyakiti pembawa surat tersebut.


... Kawloho al-hak ...


Cap meterai:

Khallada-lláho as-soeltán daulat Mohamad-Noer-Sjah-Alboekas.


Pada tepi cap tertulis:

Allah al-Baki, Allah al-Kawi, Allah al-Kadir, Allah al-Daim.


Medali-medali tersebut, dimulai dari kanan atas, memuat keterangan sebagai berikut:


- Sultan yang mula-mula menjadi raja di Manangkarbo Pagar-roejoeng, bernama Tanggal-Alam-Djadad-Soeltán, khalifah Allah, yang memiliki kesempurnaan kerajaan dan kedaulatan.


- Sultan yang mula-mula berkerajaan di negeri Jawa, bernama Soeltán-Haditah-Allah, pemilik Pulau Jawa. Ia mempunyai tiga orang putra: seorang menjadi Rădja-Kartasoerah, seorang menjadi Sultan di negeri Mataram, dan seorang menjadi Maharădja-Pil, bergelar Soeltán-Pangéran-Mangkoe-Negara; pada masa dahulu ia menjunjung mahkota empat puluh adanya.


- Sultan yang mula-mula menjadi raja di negeri Indrapoera, yang kebesarannya melimpah hingga ke negeri Moeka-Moeka, bernama Soeltán-Mohamad-Sjah, putra Daulat Jang-dipertoean di Pagar-roejoeng.


- Sultan yang bergombak putih, yang mula-mula berkerajaan di Soengei-Pagoe, yang kebesarannya melimpah hingga ke Bandar-jang-sapoeloeh, putra Daulat Jang-dipertoean di Pagar-roejoeng. Waällah alam.


- Sultan yang mula-mula berkerajaan di negeri Atjas, yang kebesarannya melimpah hingga ke Baroes dan ke sebelah Batoe-barah, bernama Soeltán-Sri-Padoeka berpangkat rahim, cucu Daulat Jang-dipertoean di Pagar-roejoeng.


- Sultan yang mula-mula memerintah di negeri Indragiri, yang kebesarannya melimpah hingga ke Kuantan, bernama Sultan Sri Kalu, cicit Daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung. *Wallahu a'lam*.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Makassar pulau Bugis berdarah putih, tiga orang bersaudara, seorang kerajaan di negeri Rum, bernama Sultan Mustafa, seorang kerajaan di negeri Ahmad Sultan kira seorang jadi.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Laut, yang bergelar Payung Duira Tu, yaitu turun-temurun berdarah putih anak Inda Jati, serta kebesarannya tujuh puluh sembilan, yang mempunyai laut air merah, yang mengalahkan banyak negeri, yang mengendarai sembarani adanya.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Makassar, yang bernama Karaeng Mohammad Dajat, anak raja yang berdarah putih, yang memerintahkan sekalian pulau Bugis, lalu ke Timur, lalu ke Metila, yang mempunyai lautan beberapa lama pelayaran, yang mempunyai payung kebesaran dan pelangki emas.


- Sultan Abd al-Ala ar-Rahman mempunyai kerajaan di negeri Minangkabau, anak Sultan Abdu Almahisa Alripa, mengharuskan kerajaan hingga kaki gunung berapi, lalu ke gunung emas, yang amat kaya menceritakan. Sultan yang bernama Haditah Allah itu beranak laki-laki empat orang, seorang bernama Si Maharaja Alif, dan seorang bernama Si Maharaja Sati, dan seorang bernama Si Maharaja Dipang, dan seorang bernama Si Maharaja Diraja, anak tuan putri dalam negeri Tibet al-Ma'mur itu. *Wallahu a'lam*.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Banjar, bernama Sultan Haditah Allah, bersaudara Sultan Abd al-Kadir, yang mempunyai beberapa itu, yang empunya gunung emas dan gunung intan yang batin, lagi adil bicaranya dan sempurna ilmunya, iyalah kakek Sultan Raja di pulau Banjar. *Wallahu a'lam*.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Palembang, melimpah kebesarannya lalu ke negeri Bangka, yang bernama Sultan Nadar (Indera?) Him, kakek Yang Dipertuan, saudara Baginda Rab, anak cucu daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung jua adanya.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di Priaman Batu Bengawan, melimpah kebesarannya lalu ke Tiku, lalu ke Natal, yang bernama Si Maharaja Dewi, anak cucu daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung jua adanya.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Banten, melimpah kebesarannya lalu ke Betawi, lalu ke gunung, lalu di pesisir tanah Jawa, yang bernama Sultan Mahabat, anak cucu daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung jua adanya.


- Sultan yang mula-mula menjadi kerajaan di negeri Jambi, melimpah kebesarannya lalu ke Batanghari, yang bernama Baginda Tuan, anak cucu daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung jua adanya.


Pembukaan Arab dari naskah Lebong ini ditulis dengan sangat buruk dan ceroboh, sehingga beberapa kata tidak dapat dikenali.


Tulisan dalam stempel dimulai dengan kata-kata: *Al-W-Alif bi-inayat*.


Apa arti dari dua kata pertama tidak diketahui; yang terakhir mungkin dapat diterjemahkan sebagai: dalam penjagaan, atau dalam lindungan.


Kata-kata berikut dapat dibaca dengan jelas: Sultan al-Azhim, putra Sultan Maharaja Diraja, putra Sultan Abd-al-Djalil, al-Matlim.


Kemudian terdapat huruf-huruf: M J Th, yang mana huruf terakhir dalam stempel sebelah kanan digantikan oleh J-Y. Tidak mungkin bagi saya untuk memberikan penjelasan mengenai huruf-huruf tersebut.


Berikut ini adalah ikhtisar sedapat mungkin setia dari isi naskah tersebut.


Puji bagi Allah!


Sultan yang utama, yang termasyhur, yang tepercaya, yang gemilang, yang berlindung kepada Allah dari dosa kecil dan besar, pendukung rakyatnya; betapa banyak anugerah dari Sang Pencipta! Yang menyediakan kurnia dan anugerah, cahaya ilahi menurut agama dan tradisi, kemuliaan dunia masa depan dan masa kini, pembangun kerajaan dan kesultanan, cahaya Masjid, yang membentangkan panji keadilan di atas kejahatan, tempat berlindung kaum miskin dan malang, dan yang telah mendirikan kesultanan dunia dengan bantuan Tuhan semesta alam, menurut perintah Allah, Maha Tinggi Dia, dalam Al-Qur'an, Yang Maha Penyayang, yang telah mengajarkan Al-Qur'an, menciptakan manusia, mengajarkan akal budi, matahari dan bulan menurut perhitungan.


Dan ketika bumi belum diciptakan dan masih terbungkus dalam kabut, 

Allah, Maha Tinggi Dia, menurunkan utusan bagi jin dan manusia; Allah, Maha Tinggi Dia, menciptakan jin dan manusia. Allah, Maha Tinggi Dia, menurunkan seekor burung, yang mampu berkata: carilah daratan bernama Pulau Langkapuri, yang terletak di antara Palembang dan Jambi. Si Maharaja Dipang dan Si Maharaja Diraja adalah cucu-cucu dari Raja Iskandar Zulkarnain, wakil Allah di dunia.


Dengan bantuan Allah, keselamatan Allah hingga selamanya, berkat Muhammad, penghulu para makhluk. Amin! Tuhan semesta alam.


Dan napas Sang Maha Penyayang berhembus ke dalam taman-taman surga, dan aroma wangi memenuhi ruangan. Lebih besar dari kilau matahari dan bulan adalah kilau mahkota, yang dengannya Allah, Maha Tinggi Dia, menganugerahi sang raja. Amin!


Mereka yang membawa stempel jabatan ini adalah dua Tuanku: mereka melakukan perjalanan, baik di atas angin maupun di bawah angin.


Jika mereka disakiti, pelakunya akan terkena kutukan dari Yang Dipertuan, Yang Maha Kuasa.


Ini adalah stempel jabatan dari Yang Dipertuan, Yang Maha Kuasa.


Kepada Dipati di wilayah Lebong, terletak dekat wilayah Subit; isi naskah ini dimaksudkan untuk diketahui oleh raja.


Pikirkanlah akhirat.


Puji bagi Allah, yang telah menerangi permulaan dan apa yang engkau inginkan dengan manusia!


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan jagat raya dan memberikan bantuan kepada semua manusia yang memiliki martabat. Manusia dijadikan sempurna oleh Allah melalui kebesaran leluhur kita, Nabi Adam alaihissalam, dan dari semua nenek moyang kita. Allah, Maha Tinggi Dia, menurunkan Nabi Adam dengan istrinya Hawa dari surga ke atas gunung besar antara Timur dan Barat di tanah Hasam, di atas perbendaharaan rumah yang berpenghuni.


Untuk memperjelas hubungan keturunan Adam, hendaknya diketahui bahwa mereka berjumlah empat orang, yaitu: 

1° Adam Sulih, 

2° Adam Supi, 

3° Adam Abu Basyar, 

4° Adam Khalifatullah Ta'ala fi al-Alam.


Dan Allah, Maha Tinggi Dia, berfirman: Lihatlah, Aku menetapkan di bumi seorang khalifah.


Dan firman Allah berbunyi: Malaikat! Aku hendak menetapkan seorang raja di bumi untuk menggantikan-Ku, agar kepadanya diberikan penghormatan oleh semua manusia dari Barat sampai ke Timur, untuk menyebarkan iman dengan kuat di antara semua yang mendiami bumi, hingga selamanya. 


Disebutkan bahwa ketika Adam dan Siti Hawa diciptakan, mereka dipisahkan satu sama lain, satu di Timur dan yang lainnya di Barat dari kerajaan Tuhan. 


Mengenai Adam, ia menemukan sebuah cermin. Seorang malaikat telah menuangkan air mawar dan air sihir di sana, yang setelah beberapa saat menunjukkan kepadanya di dalam cermin itu bayangan seorang pria dengan penampilan yang sangat baik, yang tandingannya tidak dapat ditemukan. Inilah sang raja, yang kerajaannya terletak antara Barat dan Timur dan di antara kabut.


Ia adalah cucu dari Raja Iskandar Zulkarnain, wakil Allah di dunia. Ia yang memperoleh mahkota adalah Salomo (Sulaiman) yang dianugerahi melalui kurnia Allah.


Sultan mendapatkan pakaian berwarna-warni dari segala jenis warna, keindahannya tiada banding; ketika pakaian itu dibentangkan, ia menutupi jagat raya, dan ketika digulung, ia hanya menempati ruang seukuran kuku. Melalui kurnia Allah, Sultan memperoleh sebagai atribut kerajaan seekor kuda emas, yang tali kendalinya bersinar cemerlang dan melompat lima kali di udara.


Melalui ketentuan Allah, Sultan memperoleh seekor burung walet emas dengan sayap suwasa.


Melalui ketentuan Allah, Sultan membuat "syamsam", yang berfungsi untuk memusnahkan dan membunuh hewan di darat dan di laut, yang dari dirinya sendiri memiliki kekuatan supranatural yang besar.


Pada saat itu, ia membuat melalui ketentuan Allah sebuah baju sutra pendek, bernama Simarahi, bertaburkan permata, buatan bidadari surgawi, yang termasuk dalam atribut raja yang sejati. Ia bernama Sultan Hadit Allah fi al-Alam, raja seluruh dunia. Ia mempunyai tiga saudara laki-laki, mereka adalah putra-putra Sultan. Seorang bernama Si Maharaja Alif, yang tertua, yang memegang kekuasaan di kerajaan Turki; yang lain bernama Si Maharaja Dipang, yang tengah, yang memegang kerajaan Cina, dan seorang lagi bernama Si Maharaja Diraja, yang termuda, yang memegang kekuasaan atas kerajaan Pagaruyung, yang terletak di Pulau Percha.


Sultan yang bernama Si Maharaja Diraja memperoleh mahkota sebagai tanda kebesaran melalui ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, mahkota Sulaiman ini terombang-ambing akibat putusnya tali kapal yang disertai bunyi memekik, di antara bukit Silan dan laut Silan-Khalidzum, yaitu angkasa berawan di antara Timur dan Barat. Atas kehendak Allah, bertiuplah angin yang murni di angkasa, sementara burung walet terbang membubung dengan suara mendengung.


Mahkota Sulaiman tersebut terus terombang-ambing hingga jatuh ke dalam laut Silan dengan kilauan cahaya yang tiada bandingnya. Sultan, sang wakil Tuhan di dunia, segera bangkit, namun seluruh pusaka dan lambang kebesaran telah lenyap. Sultan kemudian berseru: "Wahai Tuhan semesta alam, adillah segala perintah-Mu!" Tak lama kemudian, seorang perajin bernama Jati Bilang Pandai berdiri dan turun ke dalam laut untuk menempa sebuah mahkota baru yang menyerupai mahkota yang telah jatuh tersebut, dengan mengambil cahaya kilauannya. Maka, berdirilah penguasa sejati dengan berbagai lambang kebesaran kerajaan di kerajaan Pagaruyung.


Sultan memiliki genderang Saliguri dan tabuh dari kayu pulut, serta balai penghadapan dengan tiang tengah yang terbuat dari teras kayu jelatang, dan beralaskan tikar ilalang. Selain itu, Sultan memiliki sungai-sungai yang mengandung emas dengan air yang harum; beliau juga memiliki seekor kuda hitam dan singgasana kerajaan di atas gunung berapi. Kelak, kedudukan tersebut dipindahkan ke tanah Priangan Padang Panjang. Beliau yang tertua menempatkan genderang Segagar Melayu sebagai tanda martabat dari penguasa sejati. Beliau jugalah penguasa atas seluruh Pulau Percha, dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Pada hari Selasa, tanggal tujuh bulan Syawal. Untuk diketahui: Kami adalah Yang Dipertuan yang sejati dari kerajaan Pagaruyung; semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menyampaikan surat ini ke tujuannya. Ke mana pun orang-orang yang membawa surat ini pergi, baik melalui laut maupun darat, baik mereka menuju Rantau atau ke Bandar Aceh; apabila bertemu dengan orang-orang tersebut, yang merupakan cucu-cucu Kami yang membawa surat ini, hendaknya mereka dijaga. Baik saat mereka meneruskan perjalanan ke Aceh, atau menuju Susoh dan Meulaboh, baik ke Bengkulu, maupun ke Palembang dan Jambi, baik ke Batu Bara, maupun ke Siak dan Petapahan, baik saat mereka menuju Kampar Kiri dan Kampar Kanan, maupun saat meneruskan perjalanan ke Batu Bara dan Pulau Pinang, ke Jawa dan ke Batavia, baik saat menempuh jalur laut maupun darat.


Para pembawa surat ini adalah orang-orang dari Yang Dipertuan Pagaruyung; hendaknya kalian menjaga mereka yang membawa surat ini di sepanjang wilayah kekuasaan kerajaan Minangkabau, baik kalian para pembesar, maupun kalian semua para hulubalang, serta seluruh rakyat yang berada di tepi laut maupun di pedalaman. Apabila kalian menyakiti para pembawa surat ini tanpa adanya kesalahan pada mereka, maka kalian yang tinggal di hilir akan ditimpa kutukan dari Sultan, dan kalian yang menetap di hulu akan ditimpa kutukan dari Yang Dipertuan yang mulia dan maha kuasa.


Nasib baik tidak akan menyertai kalian, dan keturunan kalian tidak akan bertambah. Setelah itu, kutukan selama seribu hari dan seribu malam akan menimpa kalian. Demikianlah adanya.


Tamat.


Pada bulan Safar. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


sumber: REIZEN EN ONDERZOEKINGEN DER SUMATRA-EXPEDITIE, UITGERUST DOOR HET AARDRIJKSKUNDIG GENOOTSCHAP, 1877-1879, BESCHREVEN DOOR DE LEDEN DER EXPEDITIE, ONDER TOEZICHT VAN Prof. P. J. VETH. (LEIDEN. E. J. BRILL.1881.)

penulis: marjafri



Tidak ada komentar:

Posting Komentar