Senin, 16 Februari 2026

"OPERASI MILITER DI KAMANG: LAPORAN WESTENENK TERKAIT PENGEPUNGAN DAN KONTAK SENJATA 15 JUNI 1908"


 Pengantar penulis

Laporan ini bukan sekadar catatan militer rutin; ia adalah saksi bisu atas sebuah benturan peradaban dan harga dari harga diri sebuah bangsa. Di bawah bayang-bayang kebijakan *Belasting* (pajak) yang mencekik, rakyat Kamang di bawah kepemimpinan spritual Hadji Abdoel Manan menunjukkan bahwa senjata modern dan disiplin militer Eropa dapat digetarkan oleh kekuatan zikir dan keberanian yang menjemput maut.


Teks ini menyingkap kepanikan pasukan KNIL di tengah kegelapan rawa dan kabut asap mesiu, di mana keunggulan teknologi mereka nyaris lumpuh menghadapi serangan jarak dekat yang gigih. Melalui laporan Westenenk, kita melihat bagaimana taktik pengepungan kolonial justru berubah menjadi pertarungan untuk bertahan hidup bagi para serdadu. Penggunaan istilah "fanatisme" oleh pihak Belanda hanyalah upaya bahasa untuk menutupi kenyataan bahwa yang mereka hadapi adalah perlawanan rakyat semesta yang telah mewakafkan diri demi kedaulatan dan keyakinan. Inilah kronik malam berdarah 15 Juni 1908—sebuah palagan di mana setiap jengkal jalan sempit dan parit rawa menjadi saksi bagi gugurnya para syuhada Kamang.


I. Pergerakan Taktis dan Strategi Pengepungan Pasukan Kolonial


Pada malam tanggal 15 Juni, tiga patroli dikerahkan untuk mengepung dan menangkap Hadji Abdoel Manan, yang bersama para pengikutnya menjadi pusat dari gerakan perlawanan tersebut.


Patroli pertama, yang terdiri dari tiga puluh personel di bawah pimpinan Letnan Itzig Heine dan Letnan Cheriex, bergerak menuju Pauh.


Patroli kedua, yang diikuti oleh Kontrolir Oud-Agam dan Kontrolir Dahler, terdiri dari delapan puluh personel di bawah komando Kapten Lutz, Letnan Leroux, dan Letnan Muda Van Heulen. Patroli ini bertugas melakukan upaya penangkapan di Kampung Tangah, tempat kediaman Abdoel Manan.


Patroli ketiga, yang terdiri dari lima puluh personel dan dipimpin oleh Letnan Boldingh serta Letnan Muda Schaap, bergerak menuju Magek. Setiap pasukan didampingi oleh pejabat laras terkemuka, mantri kelas satu, dan penghulu kepala.


II. Kegagalan Operasi Penangkapan di Kampung Tangah


Pada pukul 21.30, patroli kedua yang bertolak dari Fort de Kock memulai pergerakan. Pasukan berbelok ke kiri di Ambacang dan mengepung rumah Hadji Abdoel Manan di Kampung Tapi. Setelah melalui upaya keras, akses diberikan kepada Kontrolir dan penghulu kepala. Dari keterangan tiga wanita yang berada di lokasi, diketahui bahwa Hadji Abdoel Manan kemungkinan berada di rumah istrinya di Kampung Tangah, atau di rumah putranya, Hadji Amat, di Kampung Bangsar.


Di Kampung Tangah, rumah Abdoel Manan segera dikepung. Terjadi kegaduhan di dalam rumah, dan istri sang Hadji mulai berteriak histeris untuk memperingatkan seluruh kampung. Rumah tersebut tetap dijaga ketat, sementara separuh pasukan bergerak menuju Kampung Bangsar sebelum warga setempat sempat bersiaga. Namun, sang Hadji tidak ditemukan di rumah putranya. Saat pemeriksaan kembali dilakukan di rumah yang dijaga di Kampung Tangah, diketahui bahwa subjek telah melarikan diri, meninggalkan sebagian pakaiannya di atas tempat tidur.


III. Mobilisasi Rakyat dan Isyarat Perlawanan Semesta


Di tengah penggeledahan, Kontrolir Dahler melaporkan terlihatnya sekelompok pria berpakaian putih di jalan besar. Kontrolir Oud-Agam kemudian meminta komandan patroli untuk mengerahkan pasukan ke arah tersebut. Satu seksi di bawah Sersan Schreuder bergerak maju, sementara Kontrolir sendiri menuju bagian belakang rumah untuk memerintahkan orang-orang tersebut segera pulang ke rumah masing-masing.


Kelompok tersebut bergerak perlahan ke arah timur, diikuti oleh pasukan yang keluar dari kampung yang gelap. Di Pauh, terdengar suara tabuh bertalu-talu, menandakan bahwa keberadaan patroli pertama telah diketahui. Secara serentak, suara tabuh dan tongtong juga menggema di seluruh wilayah Magek.


Tiba-tiba, dari arah kiri di posisi kelompok berpakaian putih yang sedang mundur, terdengar sekitar lima belas tembakan. Seksi Schreuder terlibat dalam kontak senjata. Suara zikir *La ilaha illallah* terdengar bergemuruh. Pasukan maju dengan langkah serbu dan menemukan beberapa serdadu telah tergeletak.


Seorang prajurit Jawa yang terluka melaporkan bahwa ia diserang secara mendadak oleh beberapa orang berpakaian putih yang menggunakan senjata tajam. Prajurit tersebut berhasil melumpuhkan dua penyerang. Seksi tersebut terjebak dalam penyergapan di sebuah kebun pisang dekat rawa kecil. Empat prajurit dan dua orang penduduk setempat tewas dalam insiden ini. Pasukan kemudian mengambil posisi bertahan di atas jalan yang lebarnya hanya tiga meter, diapit oleh parit rawa yang dalam di sisi persawahan.


Kondisi pencahayaan pada saat itu sangat minim. Bulan purnama tertutup sepenuhnya oleh awan tebal. Cahaya bulan yang sangat redup membuat uap lembap dari gerimis tampak kelabu, sehingga bentuk benda dan jarak sulit dibedakan dengan jelas.


Kontrolir Westenenk melanjutkan bahwa terdengar suara ratib yang mendekat dengan ritme *La ilaha illallah*, disertai penampakan sekitar 400 pria berpakaian putih yang bergerak maju. Saat melihat pasukan, kelompok tersebut berbelok ke arah barat menuju Italang. Di sana, mereka merusak rumah pimpinan pribumi, membunuh ayah dari penghulu kepala, dan melukai dua prajurit.


Sementara itu, dari arah timur, kelompok lain yang juga berpakaian putih mendekati posisi patroli. Saat mereka berada pada jarak seratus meter, peringatan diberikan bahwa tindakan mereka mendekat akan membawa maut dan mereka diperintahkan untuk mundur. Namun, mereka tetap bergeming di posisi tersebut. Di saat yang sama, dilaporkan adanya kelompok berpakaian putih lain yang mendekat dari arah barat. Ketika kelompok barat tersebut menyebar untuk sementara waktu, diketahui bahwa kelompok timur telah merangkak maju hingga jarak enam puluh meter.


lV. Diplomasi yang Buntu dan Serangan Jarak Dekat


Selama lima belas menit, upaya komunikasi dilakukan secara persuasif dan bersahabat, namun tidak membuahkan hasil. Pernyataan pihak otoritas hanya didengarkan dalam keheningan yang mendalam. Saat Kontrolir sedang berkonsultasi dengan Kontrolir Dahler dan perwira kesehatan Justesen, para prajurit memberikan peringatan bahwa sosok-sosok berpakaian putih tersebut terus mendekat dengan cara bergeser sambil duduk. Berulang kali mereka meletakkan senjata di tanah, lalu bergeser maju kembali.


Peringatan terakhir diberikan bahwa penembakan akan dilakukan jika mereka maju satu langkah lagi. Namun, mereka terus merapat hingga jarak lima puluh meter. Perintah tembak kemudian diberikan. Secara serentak, para pria berpakaian putih tersebut menyerbu dengan kelewang di tangan. Banyak yang gugur, namun sebagian berhasil menembus barisan kolom pasukan, tampak samar di tengah cahaya yang redup dan kabut asap mesiu yang tertahan di udara lembap. Pasukan yang tidak mengantisipasi serangan jarak dekat tersebut sempat terpukul mundur.


Kontrolir bersama Sersan Boersma berhasil menahan gerak mundur pasukan dan memberi semangat untuk kembali bertahan. Dua prajurit tewas akibat tebasan senjata tajam sebelum akhirnya para penyerang dilumpuhkan.


Musuh kemudian merangsek dari sisi lain jalan, di mana pasukan dikomandoi oleh Letnan Dua Leroux. Tembakan kembali dilepaskan dalam menghadapi serangan mematikan dari kelompok pria yang berada dalam kondisi religiusitas yang ekstrem dan telah bersiap menjemput maut. Beberapa prajurit kembali gugur. Pasukan sangat tertekan menghadapi kegigihan para penyerang yang terus maju mengayunkan kelewang dalam pencahayaan yang samar. Tercatat sebanyak sembilan kali serangan serupa terjadi, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok beranggotakan sekitar tiga puluh orang, sementara tembakan terus diarahkan pada sosok-sosok putih yang muncul dari arah kampung di kejauhan.


Serangan kesepuluh dilakukan oleh seorang pria secara individu. Ia merangkak dengan lututnya hingga mencapai jarak empat meter sebelum akhirnya terhenti oleh tembakan.


Lima ratus orang menyerang pasukan, sementara jumlah dua kali lipat dari itu terus melakukan gerakan mengepung untuk memancing pasukan ke area persawahan. Serangan kedelapan adalah yang paling berat. Jalan yang sempit hanya memberikan garis depan yang kecil bagi pasukan dan pandangan sangat terbatas.


Ketika beberapa penyerang melompat dari balik kabut asap mesiu tepat di depan para prajurit, empat orang di antaranya mundur begitu mendadak sehingga mendorong Kontroleur ke arah mayat yang tergeletak di pematang. Kontroleur tersandung dan jatuh ke dalam parit rawa. Pada saat yang sama, salah satu penyerang membelah tengkorak seorang sersan pribumi di sampingnya. Terdengar teriakan bahwa Kontroleur telah tewas, namun para prajurit tetap menjalankan tugas mereka dan serangan tersebut berhasil dipatahkan.


V. Akhir Pertempuran dan Data Korban di Agam

Tepat pukul empat lebih lima belas menit, bayang-bayang putih terakhir menjauh di atas persawahan yang lembap sambil membawa pergi rekan-rekan mereka yang terluka. Demikianlah sejarah pertempuran tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Kontroleur Oud-Agam. Beliau adalah sahabat bagi penduduk, dan bukti-bukti mengenai hal ini terlihat setiap hari. Beliau tampak sangat terharu saat menceritakan tragedi fanatisme agama ini dan menyampaikan bagaimana para pria tersebut dengan gigih mencari kematian.


Setelah pertempuran usai, ditemukan 90 jenazah dan 4 orang luka-laki yang kemudian ditangani oleh petugas kesehatan. Para korban luka lainnya dibawa pergi oleh pengikut Haji Abdul Manan yang mundur. Haji Abdul Manan sendiri, bersama dua pemimpin utama lainnya yaitu Rajo Pangulu dan Haji Mohammad Saleh, tewas dalam peristiwa tersebut. Abdul Manan menyaksikan kematian para pengikutnya dari kejauhan di pekarangan rumahnya sebelum sebuah peluru nyasar mengenainya. Putranya juga gugur dalam kejadian itu.


*** Penutup


Tragedi di Kamang pada 15 Juni 1908 bukanlah sekadar kekalahan militer rakyat atas teknologi penjajah, melainkan sebuah pernyataan iman yang tak terpadamkan. Melalui narasi Westenenk, meski dibungkus dengan bahasa kolonial, kita tetap dapat merasakan getaran ketakutan serdadu KNIL saat menghadapi manusia-manusia yang tidak lagi takut pada peluru.


Gugurnya Hadji Abdoel Manan bersama para syuhada lainnya di persawahan Kamang adalah titik nadir sekaligus puncak kemuliaan perlawanan terhadap ketidakadilan pajak. Tanah Joho dan sekitarnya telah meminum darah para pejuang yang menolak tunduk. Dokumen ini, meski ditulis dari sudut pandang pemenang secara militer, gagal menyembunyikan kenyataan bahwa kedaulatan spiritual rakyat Minangkabau tidak pernah bisa benar-benar dijajah. Peristiwa ini tetap abadi sebagai pengingat bahwa di balik ketenangan persawahan Agam, pernah berdiri keberanian yang sanggup menghentikan derap langkah mesin perang kolonial.


Sumber: Terjemahan dan Olah Data Primer dari Tropisch Nederland, 1909.

edited by Marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar