Rabu, 18 Februari 2026

Tantalanai dalam Tradisi Asal-Usul Kerajaan Djambi: Perkawinan Politik dan Transisi Legitimasi Kekuasaan


 Beberapa Catatan mengenai Djambi


Pada tahun 1928, dalam Jilid I buku peringatan Koninklijk Bataviaasch Genootschap, diterbitkan sebuah kontribusi dari Dr. B. J. Haga berjudul Beberapa Catatan tentang Hukum Adat Kenegaraan Djambi. Tulisan tersebut merupakan pembahasan pertama mengenai pokok ini, khususnya berkaitan dengan wilayah Benedenlanden (daerah hilir) Djambi, dan secara khusus pula menyoroti kelompok yang disebut Bangsa XII serta perbedaannya dengan penduduk lainnya. Pentingnya pokok bahasan ini, juga dalam kaitannya dengan pembentukan Provinsi Sumatra, menjadi alasan untuk menyampaikan data yang dihimpun selama masa tugas di Moeara Tambesi, mengingat keterangan yang diperoleh pada beberapa hal menyimpang dari yang didapatkan Dr. Haga dan kiranya dapat berfungsi sebagai pelengkap.


Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai asal-usul berbagai bangsa, berikut disajikan ringkasan kisah dan legenda yang berkaitan dengan kelahirannya. Kisah-kisah tersebut berkaitan erat dengan cerita mengenai berdirinya Kerajaan Djambi.


Sejarah Kerajaån Jambi 


Pada masa ketika nama Jambi belum ada, memerintah seorang raja bernama Tantalanai, yang berkedudukan di dekat Muara Sabak sekarang. Tantalanai ini mendapat kabar bahwa di Minangkabau terdapat tiga putri yang sangat cantik dan ia memutuskan untuk pergi ke sana dengan maksud untuk menikahi salah satu dari mereka jika mungkin. Setibanya di tempat tinggal para putri itu, pilihannya jatuh pada Putri Selaras Pinang Masak, yang ia lamar. Orang tuanya sama sekali tidak menyukai calon menantu ini, begitu pula Putri Pinang Masak, tetapi karena takut akan kemungkinan balas dendam, mereka tidak berani menolak secara langsung. Mereka memutuskan untuk menggunakan tipu daya. Putri Pinang Masak akan pergi bersama sejumlah besar pengikut dan pengawal bersama Tantalanai untuk melihat negerinya, sementara ia, sesampainya di sana, harus membangun sebuah kastil yang megah dalam satu malam. Jika kastil itu tidak selesai sebelum ayam berkokok di pagi hari, maka pernikahan itu tidak akan terjadi. Demikianlah Tantalanai dan para pengikutnya serta Putri Pinang Masak dengan rombongannya berangkat dengan beberapa perahu. 


Dalam perjalanan mereka menyusuri sungai, mereka dipandu oleh bebek dan mereka akan beristirahat di mana bebek-bebek itu berhenti. Ini terjadi pertama kali di muara sebuah anak sungai Batang Hari yang kemudian diberi nama Muara Tiba (tiba), tempat di mana sekarang terletak Kota Muara Tebo.


Tempat istirahat kedua juga berada di sebuah anak sungai Batang Hari. Tantalanai harus bermalam di satu sisi sungai, sementara Putri Pinang Masak bersama para pengikutnya masuk ke anak sungai itu. Agar terhindar dari kemungkinan pandangan tidak sopan dari Tantalanai, ketika Putri Pinang Masak ingin mandi, mereka membentangkan tirai di sungai. Dari situlah sungai itu sekarang masih bernama Tabir (tirai). Namun, Tantalanai tidak dapat menahan rasa ingin tahunya, ia memanjat sebuah bukit di sisi sungai yang lain untuk mencoba melihat melewati tirai (tinjau). Dari situlah dusun yang terbentuk di sana sekarang masih bernama Peninjauan.


Demikianlah mereka tiba di tempat tinggal Tantalanai dan sekarang kastil itu harus dibangun dalam satu malam. Ini juga akan berhasil jika Putri Pinang Masak tidak mencegahnya dengan tipu daya. Beberapa jam sebelum matahari terbit, ia keluar dengan membawa lampu dan meletakkan cahaya itu di dekat ayam-ayam, yang mengira matahari telah terbit, lalu mulai berkokok dengan keras. Kita melihat di sini kemiripan yang mencolok dengan cerita lama yang terkenal. Syarat untuk pernikahan itu jadi tidak terpenuhi. Tantalanai menanggapinya dengan cukup santai dan menyatakan bahwa ia akan menganggap Putri Pinang Masak sebagai putrinya. Ia akan kembali ke orang tuanya dan mewarisi kerajaannya setelah kematiannya.


Tantalanai juga memiliki seorang putra, yang diramalkan akan membunuh ayahnya. Karena takut akan hal itu, Tantalanai mengikat putranya ini di atas rakit dan menghanyutkannya ke laut. Rakit itu terdampar di Siam di mana putranya dibesarkan. Setelah dewasa, ia mendengar kisahnya dan berlayar kembali ke kerajaan ayahnya, memperoleh banyak pengikut dan bertempur dengan ayahnya di Muara Sabak, di mana ayahnya terbunuh dalam pertempuran itu. Setelah itu, putranya melanjutkan perjalanan ke Putri Pinang Masak, kepadanya ia menawarkan kerajaannya, sementara ia sendiri kembali ke Siam. 


Putri Selaras Pinang Masak menerima kerajaan itu dan berangkat ke Kota Sultan. Bersamanya pergi, selain tentu saja banyak pengikut, tiga saudara laki-lakinya, yaitu Sunan Muaro Pidjuan, Sunan Kembang Seri, dan Sunan Pulau Johor. Ketiga orang ini kemudian memainkan peran dalam pembentukan Bangsa XII. Kerajaan itu bernama Ujung Jabung.


Setelah Putri Pinang Masak memerintah selama beberapa waktu, terdamparlah sebuah perahu milik seorang pangeran bernama Datuk Berhala di sebuah pulau dekat pantai. Dari mana Datuk Berhala berasal tidak diketahui. Beberapa orang mengatakan dari Turki, beberapa lainnya menyebutkan negara lain. Datuk Berhala ini membawa serta sebuah senapan bernama Seno Panoei. 


Ketika sudah pasti bahwa Datuk Berhala juga berdarah bangsawan, Putri Selaras Pinang Masak menikah dengan Datuk Berhala dan sejak saat itu pulau tempat Datuk Berhala terdampar dinamakan Pulau Berhala. Kerajaan itu semakin makmur dan banyak juga pedagang dari Majapahit datang untuk berdagang. Raja Majapahit, mendengar tentang Putri Selaras Pinang Masak, memanggilnya dalam bahasanya Raja Jambe (jambe = pinang), dari situlah nama Jambi berasal, akibat perubahan bunyi dari Jambe. Kerajaan itu tampaknya juga menjadi taklukan Majapahit.


Datuk Berhala dan Putri Pinang memiliki empat orang anak bernama: 1. Orang Kaya Pingai; 2. Orang Kaya Pedataran; 3. Orang Kaya Gemuk; 4. Orang Kaya Hitam. Yang terakhir ini adalah seorang penguasa yang kuat yang tidak sudi kerajaannya menjadi taklukan Majapahit dan mengancam dengan kematian siapa pun yang ingin memenuhi kewajiban upeti itu. Putri Pinang Masak dan Datuk Berhala juga tidak berani menentangnya dan dengan demikian pengiriman upeti ke Majapahit berhenti. Raja Mataram karena itu ingin melenyapkan Orang Kaya Hitam, tetapi beredar cerita bahwa ia kebal dan hanya bisa dibunuh oleh keris yang dibuat di sembilan desa. Ia kemudian memerintahkan keris itu dibuat. 


Namun, Orang Kaya Hitam mengetahui perintah ini dan pergi ke Majapahit, di mana ia dengan tipu daya berhasil mendapatkan keris itu. Raja Majapahit kemudian menganggap lebih bijaksana untuk berteman dengan Orang Kaya Hitam, menikahkannya dengan Putri Ratu dan menghapuskan kewajiban upeti Jambi serta memberikan Orang Kaya Hitam keris 9 desa, yang sejak saat itu disebut Siginjai. Siginjai ini menjadi pusaka kerajaan para sultan Jambi dan hanya dia yang memiliki keris ini yang menjadi Sultan. Keris Siginjai kemudian disimpan di Museum Kolonial di Batavia, mungkin sekarang terbakar di Paris.


Ketika Orang Kaya Hitam kembali ke Jambi dari perjalanannya ke Majapahit, ayahnya Datuk Berhala telah meninggal dan dimakamkan di pulau tempat ia pertama kali terdampar.


Untuk sementara waktu, Orang Kaya Pingai menjalankan pemerintahan. (Untuk memperjelas apa yang akan dijelaskan selanjutnya, terlampir silsilah Sultan-Sultan Jambi di mana perlu dicatat bahwa Sunan Muara Piduan, Sunan Kembang Seri, dan Sunan Pulau Johor adalah saudara laki-laki Putri Selaras Pinang Masak yang datang bersamanya dari Minangkabau.)


Setelah Orang Kaja Itam kembali, ia dipilih menjadi pangeran dan keris Sigindjei ditetapkan sebagai tanda kesultanan. Pada pertemuan dimana Orang Kaja Itam diangkat menjadi Sultan


yang terpilih hadir : 

1. Sunan Poelau Djohar: 

2. Sunan Kembang Sari: 

3. Sunan Muara Pidjoean; 

4. Orang Kay Pedataran: 

5. Orang Kaya Gemoek: 

6. Orang Kaya Pingai. 


Masing-masing dari mereka akan diangkat ke posisi kepala kalboe", sementara masing-masing kalboe ini diberi tugas khusus. Mereka menjadi apa yang disebut orang keradjaan. Namun, pada saat itu, Soenan Moeara Pidjoan sudah begitu tua sehingga ia tidak ingin dianggap sebagai orang keradjaan, sehingga keempat anaknya diangkat sebagai orang keradjaän. Mereka menjadi kepala kalboe (bangsa): 

1. Awin: 

2. Pinokan Tengah; 

3. Penagen: 

4. Midji.


Maka dibentuklah kalboe kalboe berikut ini:


1. Sunan Poelau Djohar menjadi ketua kalbu VII IX kotta.

2. Sunan Kembang Sari dari kalboe Mara Sebo.

3. anak dari Soenan Moeara Pidjoan van Awin.

4. Penagen.

5. Pinokan Tengah.

6. Midji.

7. Orang kaja Pingai dari kalbu Radja Sari atau Djeboes.

8. Orang kaja Pedataran dari kalboe Petadjen.

9. Orang kaja Gemoek dari kalboe Air Itam.


Cicit Orang kaja Itam, Penembahan Bawah Sawah memiliki empat orang putra, salah satunya. Penembahan Kota Baroe diangkat menjadi Sultan sedangkan saudara-saudaranya diangkat menjadi orang kerajaän. Ini adalah:


1. Kiaji Patih Mesting, ketua bangsa Mestong.

2. Singa Patih, ketua bangsa Kebalen dan

3. Ranggo Mas, ketua bangsa Pemajoeng, sehingga sejak saat itu berdirilah bangsa XII, yaitu:


1. VII-IV kota. 

2. Petadjen.

3. Mara Sebo.

4. Djeboes Radja Sari.

5. Air Itam.

6. Awin.

7. Penagen.

8. Midji.

9. Kebalen.

10. Lidah kotoran.

11. Pinokawa.

12. Pemajoeng.


Informasi yang diberikan kepada saya berbeda dengan yang disebutkan oleh Dr. Haga. Dr. Haga yakin bahwa bangsa VII-IX kota tidak termasuk dalam bangsa XII dan memberikan bangsa Seredadoe sebagai gantinya. Lebih jauh lagi, penyelidikan setempat yang dilakukan oleh Dr. Haga dibantah oleh masyarakat terkait bahwa mereka termasuk bangsa XII sementara mereka juga diduga tidak memiliki tanah siringan. 


Mereka dikatakan telah membentuk kerajaan mereka sendiri di bawah penguasa mereka sendiri dan berasal dari Minangkabau. Anehnya hal itu disampaikan kepada saya, bahkan oleh Pasirah dari Mersam. Dimana bangsa VII-IX kota merupakan mayoritas, mereka tergolong bangsa XII dan tanah siringan juga terdapat di antara mereka.


Memang benar bahwa mereka memiliki apa yang disebut pangeran. Namun hal ini menjadi jelas dari penjelasan berikut. Di bawah pemerintahan Sultan Sri Ingologo campur tangan Belanda di Djmabi dimulai dan menurut tradisi Sultan Sri Ingologo pasti telah dibuang ke Banda.


Kemudian Raden Tjokro Negaro diceritakan mengangkat dirinya menjadi pangeran dan menetap di Tanah Pilih. Akan tetapi, Raden Tjokro ini dikatakan telah dikeluarkan dari suksesi karena kesalahan serius yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Sri Ingologo. Ketika Raden Tjokro Negaro merebut Kesultanan setelah Sultan Sri Ingologo diasingkan, saudaranya Raden Tjoelip melarikan diri ke daerah hulu Djambi (Moeara Tebo) dan di sana mengumpulkan bangsa VII-IX kota, menceritakan kepada mereka tentang perilaku Raden Tjokro Negara dan pergi ke Pagar Roejoeng di Menangkabau untuk mencari dukungan. 


Jang Dipertoean Pagar Roejoeng menganugerahinya galar Sultan Maharadja Batoe, setelah itu ia kembali dan menetap sebagai pangeran di dekat Moeara Tebo di distrik Mangoendjaja. Saat itu Jambi mempunyai dua Sultan, satu di Tanah Pilih kota Jambi, dan satu lagi di Muara Tebo.


Bahwa Sultan Maharadja Batoe pergi ke Menangkabau untuk mencari dukungan dan martabat dan bahwa bangsa VII-IX kota mengakuinya bukanlah hal yang tidak mungkin bila kita mempertimbangkan bahwa Poetri Pinang Masak dan ketiga saudaranya berasal dari Menangkabau dan bahwa bangsa VII-IX kota mempunyai sebagai kepala garis keturunan mereka Soenan Poelau Djohar, salah seorang dari ketiga saudara ini. Dr. Haga mengemukakan, menurut adat, Bangsa XII adalah keturunan 12 dari 13 putra seorang Sultan, dan yang termuda menggantikan ayahnya.


Keturunan sebagaimana yang dikomunikasikan kepada saya dan diuraikan di atas tampaknya bagi saya sangat masuk akal dan menjelaskan pengaruh Menangkabau dan juga negara VII dan IX kota. Barangkali komunikasi kepada Dr. Haga tertukar mengenai hal ini dengan Sultan Pangeran Dipo Negara yang bergelar Radja 40, sebab Pangeran Dipo Negara ini mempunyai 40 orang putra.


Setelah Raden Tjokro Negara meninggal, ia digantikan oleh putranya Mohamad Sjah, dan selanjutnya digantikan oleh Sultan Sri Maharadja Batoe, dari Tebo, yang kemudian bergelar Sultan Soeto Ingologo.


Sejauh mana Dr. Benar atau tidaknya apa yang diberikan kepada saya bisa menjadi hal yang perlu diselidiki lebih lanjut. Hal ini tentu penting karena Bangsa XII merupakan salah satu kelompok utama penduduk Djambi dan perlu diketahui siapa saja yang termasuk di dalamnya.


Sebagaimana telah diuraikan di atas, pada masa pemerintahan Panembahan Bawah Sawah, dengan diangkatnya ketiga saudaranya sebagai orang keradjaän maka diangkatlah ketua-ketua bangsa XII. Yaitu : Poesat djala timboenan ikan, adat teloek timboenan aroes atau: pergi tempat bertanja, poelang tempat berita". 


Mereka adalah "..pajoeng pandji-pandji" kerajaan Djambi, "sekebar bak penjapoe, sedenting bak besi, setjiap bak ajam" yang artinya berhubungan dengan kerajaan Djambi dalam hidup dan mati atau dalam istilah adat: datang tengkoedjoe (bandjir) djak di moedik, sama kemoedik, datang senak (pasang) djak di ilir samo kehilir, datang di tengah samo di koempoeli, terendam sama basak, terhampar samo kering”. 


Karena dalam adat juga tertulis: Radjo sedaulat, pengadoe seandiko, alim se igamo". Ketika diangkat menjadi kepala bangsa, diperlukan sumpah yang di dalamnya dinyatakan: Bersoeroek boedi bertanam akal pepat diloear pantjoeng didalam, memesang randjau di kendoelen, menandjak kanti seiring, djika diboeat dan tanda djandji boeatan, maka di kutuk bisa kawi dan kutuk datoek Padouka Berhala, keatas tidak berpoetjoe' kebawah tidak beroerat (berbangkar) di tengah dilarik kumbang." 


Pemukiman Bangsa XII pada umumnya adalah sebagai berikut:


1. VII kotta dari Tandjoeng Semelidoe sampai Soekoe Rano IX kotta dari IX kotta dari Teloek Koeala ilir sampai Soengai Ramba.


2. Petadjen pada saat matahari terbenam:

- Penindjowan (Matebo)

- Doesoen Toea (Matebo)

- Teloek Rendah (Matebo)

- Betoeng Bedara (Matebo)

- Penapalan (Matebo)

- Sungai Keroeh (Matebo)

- Aro.. (Matebo)

- Tamboen Arang (Sungai Tabir)

Pasirah tinggal di Doesoen Betoeng Bedara, sehingga dapat dikatakan sebagai doesoen induk.


3. Mara Sebo (marilah bersama).

- Doesoen Moedo Koepeh (Djambi)

- Sekoemboeng (Djambi)

- Koeboe Kandang (Ma Tambesi)

- Pelajang (Ma Tambesi)

- Ramboetan Masam (Ma Tambesi)

- Sengkati Ketjil (Ma Tambesi)

- Soengai Roean (Ma Tambesi)

- Soengai Rengas (Ma Tambesi)

- Boeloeh Kasap (Ma Tambesi)

- Kembang Seri (Ma Tambesi)

- Teloek Leban (Ma Tambesi)

- Rengas Sembilan (Ma Tambesi)

- Soengai Bengkal (Ma Tebo)

- Remadji (Ma Tebo)

- Rantau api (Ma Tebo)

- Mengoepeh (Ma Tebo)

Dusun induk adalah Kembang Seri.


Mereka adalah prajurit yang harus berbaris pertama kali jika terjadi perang dan menurut adat : tankap kebal, melawan boenoeh. moedjoer laloe, melintang patah


4. Djeboes - Radja Sari

- Tandjoeng Alai (Koempeh)

- Djeboes (Koempeh)

- Petanang (Koempeh)

- Parit (Sabak)

- Tjoeloem (Sabak)

Tk Dawan Pedalaman Kp Barat.


Salah seorang di antara pembesar mereka, pada waktu terjadi pergantian Sultan Jambi, menjadi pejabat sementara Pangeran yang diberi nama Radja Sari, dan menyerahkan tahta Sultan kepada penggantinya untuk dilantik.  


5. Air Itam.

- Ini awalnya wanita, yaitu mereka yang beradja" kepada Orang kaja Gemoek, karena yang ini perempuan. 

- Air Itam, 

- Batoe Koetjing. 

- Loeboek Kepajang. 

- Loeboek Djering. Pematang, 

- Semoeroeng. 

- Doesoen Baroe, 

- Koedoek Mampir, 

- Pintasan, 

- Bangko Pintas, 

- Matjang Gedang. 

- Batoe Ampar. 

- Tebing Tinggi, 

- Olak Kemang, 

- Rantau Sagu. 

- Padang Kelapa, 

- Durian Idjo.


Pasirah berkedudukan di perkebunan induk Loeboek Kepajang. Pekerjaan mereka ada di dapur.


6. Awin.

- Poelau kajoe Aro.

- Doesoen Tengah.

Ketua mereka, seorang ngebi, mempunyai gelar Rakso Dano: mereka harus mendampingi sang pangeran, membawa tombak dan mereka berdiri di belakang sang pangeran dengan ujung tombak mengarah ke bawah.


7. Penegan, Doesoen Koeap. 

Kepala mereka adalah ngebi bergelar Bingokerti: mereka juga bertugas sebagai pembawa tombak. Mereka berdiri di samping sang pangeran dengan ujung tombak mengarah ke atas.


8. Midji, Doesoen Sekernan, penjaga kamar tidur.


9. Kebalen.

- doesoen Rengas Djondong (Tambesi)

- Toerai 

- Kedotan 

- Teroesan.

Pelindung sang pangeran dan pembawa pedang


10. Mestong.

- Sarang boeroeng ( Koempeh)

- Tarikau ( Koempeh)

- Soengai Terap ( Koempeh)

- Loepoek Alai 

Pembawa senjata api.


11. Pinokawan.

- Loepak Aoer (Tambesi)

- Poelau Betoeng (Tambesi)

- Soengai Doeren (Tambesi)

- Tk Toerai Alai.

Pelayan pangeran yang diizinkan memasuki rumah dan kamar Sultan.


12. Pemajoeng.

- Doesoen Teloek (Ma Tambesi)

- Poelan Mentaro (Koempeh)

- Poelan Tigo (Koempeh)

- Soeko Beradjo

- Poelu Raman (Ma Tambesi)

- Poedak 

- Karang gedang (Djambi)

Pemegang Payung Sultan


sumber: Η. Μ. Μ. MENNES. Contr. 1e klasse. - Koloniaal tijdschrift, jrg 21, 1932, 01-01-1932

penulis: marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar