Senin, 02 Februari 2026

Asal-usul Nama Ras Melayu: Sebuah Tinjauan Perspektif Sejarah dari Pers Hindia


 
Batavia, 1921 – Diskusi mengenai identitas dan asal-usul "Ras Melayu" senantiasa menjadi topik yang menarik dalam literatur sejarah Nusantara. Dalam harian "Soenting Melajoe" edisi Jumat, 14 Januari 1921, tokoh pers terkemuka Datoe Soetan Maharadja memaparkan sebuah tesis mengenai bagaimana terminologi "Melayu" mulai terbentuk dan melekat pada identitas sebuah bangsa.

Karakteristik dan Sebaran Ras

Secara antropologis, Ras Melayu diklasifikasikan memiliki ciri fisik berupa warna kulit wajah kekuningan hingga kecokelatan. Kelompok ini mencakup sebaran geografis yang luas, mulai dari penduduk Madagaskar hingga Filipina. Bahkan, penduduk asli pulau Taiwan (Hoan) juga dikategorikan ke dalam rumpun ras ini.

Munculnya Istilah "Melayu"

Menarik untuk dicatat bahwa sebelum tahun 1000 Masehi, istilah "Melayu" belum dikenal secara luas. Pada masa itu, dinamika perdagangan antara penduduk Sumatra dengan India-Inggris (Engelsch Vóór-Indië) telah mencapai puncaknya, bahkan meluas hingga ke Bagdad. Dalam tatanan geopolitik masa itu, India-Inggris dikenal sebagai "Negeri di Atas Angin", sementara Sumatra, dari Palembang hingga Lampung, dikenal sebagai "Negeri di Bawah Angin".

Secara etimologis, perspektif Jawa memberikan pemaknaan unik terhadap kata "Melayu". Istilah ini dikaitkan dengan kata overloopers, yang merujuk pada mereka yang "menyeberang" atau berpindah keyakinan dari agama Buddha ke agama Islam. Lokasi pemukiman pertama bagi para pendatang yang berpindah keyakinan ini tercatat berada di tepian sungai di wilayah Palembang, yang kemudian dikenal sebagai Sungai Melayu. Sementara itu, di wilayah Minangkabau, para penganut awal agama Islam ini dikenal dengan identitas "Suku Melayu".

Narasi Sailan Sang Sparba dan Kedaulatan Palembang

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1100 Masehi, seorang tokoh bernama Sailan Sang Sparba berlayar dari India menuju selatan hingga mendarat di Palembang. Di sana, ia menjalin ikatan pernikahan dengan Wan Sari Bani, putri dari penguasa setempat, Demang Lebar Daon.

Pernikahan ini melahirkan empat orang putra-putri: Sang Nila Utama, Sang Manijaka, Tjindoer Dewi, dan Siloer Dewi. Pada tahun 1160 M, Sang Nila Utama meninggalkan Palembang menuju Riau dan menikah dengan bangsawan dari Pulau Bintan yang telah memeluk Islam—sehingga ia pun menyandang identitas sebagai "Melayu". Di sisi lain, Sang Sparba melanjutkan perjalanannya menuju Indragiri, menyusuri Sungai Kuantan, hingga sampai ke Gunung Merapi.

Persentuhan Budaya dan Perubahan Struktur Politik

Di Pariangan Padang Panjang, Sang Sparba menikah dengan Djoewita, adik dari Soeri di Radja. Putra mereka, Pang Seri Padoeka Besar, tumbuh menjadi ahli kitab Islam terkemuka yang oleh orang Jawa dianugerahi gelar Kiai Toemenggoengan.

Dinamika berlanjut ketika janda Djoewita menikah kembali dengan Indo Djati, yang melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Perpatih Sebatang dan Sri Maharadja Nego. Salah satu putri mereka, Ratna Djamilan, menikah dengan Adiati Awarman, seorang tokoh asal India.

Adiati Awarman memiliki rekam jejak politik yang signifikan; ia pernah diangkat sebagai "Firdana Mantri" (Perdana Menteri) oleh penguasa Hindu di Jawa, dan kemudian ditunjuk sebagai penguasa Palembang, yang saat itu berada di bawah yurisdiksi kerajaan Jawa. Atas desakan rakyat di Pariangan Padang Panjang, Adiati Awarman akhirnya memeluk Islam—sebuah langkah yang secara formal menjadikannya seorang "Melayu". Peristiwa konversi agama ini terjadi di Muara Takus, dan sejak saat itu ia pun dikenal luas sebagai Sri Padoeka Berhala.

Pembentukan Laras dan Konsolidasi Pagaruyung

Perbedaan pandangan politik antara Perpatih Sebatang dan Adiati Awarman memicu pembentukan struktur adat yang terpisah. Adiati Awarman bersama Kiai Toemenggoengan membentuk laras *Kota Piliang*, sementara Perpatih Sebatang membentuk laras *Boedi Tjiniago*. Wilayah Pariangan Padang Panjang yang tetap netral di antara kedua faksi tersebut kemudian membentuk Laras nan Pandjang.

Sebagai langkah konsolidasi kekuasaan di luar Pariangan Padang Panjang, Adiati Awarman akhirnya memilih Pagaruyung sebagai pusat pemukiman baru dan membangun sebuah kota di sana. Catatan sejarah ini memberikan gambaran betapa istilah "Melayu" bukan sekadar identitas etnis statis, melainkan sebuah identitas dinamis yang lahir dari pergerakan agama, politik, dan hubungan diplomatik antarwilayah di Nusantara.

sumber; HET KOLONIAAL WEEKBLAD ORGAAN DER VEREENIGING OOST EN WEST, Donderdag 12 Mei 1921 - 21ste Jaargang.
Edited by: Marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar