Kamis, 12 Oktober 2023

Tentoonstelling Dan Pakan Malam Di Pajakoemboeh, 1912.



(Hari Sabtoe 4 Januari 1913)

Akan mendjadi kenang - kenangan sampai di kemoedian hari; toean Westenenk lah jang telah mendjadikan tentoonstelling Pakan Malam Pajakoemboeh diboelan December 1912; toean itoelah jang djadi president; dan Ahmad gelar Datoe' Maharadja Besar jang djadi vice president .

Datoe' Maharadja Besar itoe diseboet namanja Manteri Takap; sebab tjakap serta radjin, maoe dan betah. Soengoehpoen ija seorang moeda dari penghoeloe soekoe di Simaboer didjadikan manteri klas III: tiada berapa lama di naikan keklas II, kemoedian dinaikkan lagi ke klas 1, dan sampai poela dinaikkan djadi tijd larashoofd mengepalai 4 boeah negeri jang selama ini dikepala oleh 4 orang toeankoe laras, sebesar satoe onderafdeeling dikepalai olehnja sendiri; itoepoen akan pembalas djasa tjakapnja, oleh gouvernement dihiasi lagi dadanja dengan bintang mas.

Oleh sebab berhati maoe dan betah ta' takoet hoedjan dan panas lagi tjakap dan radjin, terdirilah di Pasar Pajakoemboeh dalam doea tiga boelan jang baroe laloe enam boeah loods baharoe, besar dan pandjang, kepoenjaan negeri, berhatap zink bertonggak besi, akan tempat orang berkedai dan beli membeli, soepaja diwaktoe panas djangan kepanasan, diwaktoe hoedjan djangan kehoedjanan, dan lagi soepaja djangan berlenjah - lenjah.

Soedahnja loods baharoe itoe dinaiki dengan soeatoe peralatan Pakan Malam dan tentoonstelling peroesahaan tanah, kepandaian keradjinan dan teranak (landbouw, nijverheid en veetei), hingga diadakan poela soeatoe roemah tinggi berhatap zink bertandoek wapen Alam Minang Kabau dengan beroekir, keradjinan dan kepandaian orang loehak 50 kota, beoekir tjara oekiran boeatan laoet, satoe kemadjoean lagi di abad nan ke 20 ini.



Tentoonstelling dan Pakan Malam itoe, di moelai dari petang Sabtoe 21 December 1912, sampai hari 29 nja, hingga moelai dari hari Chamis 19 December telah moelai datanglah laki - laki perempoean dan anak perempoean dari negeri lain jang akan masoek di médan gelanggang kemadjoean kepandaian itoe (tentoonstelling) disamboet di station kereta api oleh Commissaris laki - laki mana jang laki - laki dan oleh Commissarices perempoean mana jang perempoean, sedang anak perempoean jang datang itoe, ada jang dihiringkan oleh iboe bapanja, oleh ninik mamaknja dan ada poela jang oleh penghoeloe kepala dan toeankoe larasnja, dan ada poela jang dengan penghoeloe andikonja, sedang comissaris jang menjamboet di station itoe, ada poela penghoeloe andiko loehak 50 kota, hingga waktoe bertemoe penghoeloe andiko sama penghoeloe andiko itoe, sembah menjembahlah berpidato tjara Alam Minang Kabau, bertemoelah seperti kata kita orang Alam Minang Kabau: "kok lah bersoea pandai sama pandai, rasa bak santan djo tanggoeli".

Sekalian orang jang datang djadi halat Pakan Malam itoe (djamoe berdjapoet) diharak oleh jang menjamboet itoe ke "Medan Setia", dari sitoelah halat itoe dibawa oleh satoe toeankne laras, oleh satoe penghoeloe kepala, keroemah jang disediakan oentoek djamoe berdjapoet itoe, karena djamoe berdjapoet itoe sepandjang adat kita orang Alam Minang Kabau, bermoeliakan dengan semoelia - moelianja.

Pada petang Sabtoe 21 December 1912, moelailah diboeka tentoonstelling Pakan Malam Pajakoemboeh 1912. Soenggoehpoen dalam beriboe - riboe orang jang datang, ada jang datangnja karena hoeroe - hoeroe sadja, ada jang datangnja karena hendak melihat orang banjak sadja, ma'loemlah menoesia itoe, ada jang orang - orang namanja, ada jang tjando orang namanja, ada jang tampan orang namanja dan sebagainja tetapi tiadalah sekaliannja jang begitoe karena diantara orang jang beriboe - riboe itoe, adalah beberapa orang jang kelihatan di air moekanja soeatoe alamat bahwa datangnja melihat tentoonstelling itoe dengan berarti, dengan pikiran pandjang, dengan penglihatan tadjam, hendak mentjari toekoek tambah pengatahoean, dengan memperhatikan apa - apa jang baik oentoek tanah airnja, diperhatikannja soeatoe persatoe kepandaian di tentoonstelling itoe. 

Demikianlah beberapa orang jang tadjam pikiran, moelai sadja masing - masing merika itoe hendak masoek ketempat tentoonstelling, bermoela diperhatikan oleh merika itoe pintoe gerbang tempat masoek itoe amat kokoh dan indah roepanja diperboeat oleh kepandaian kemajoean di abad jang ke 20. 

Pintoe gerbang itoe ialah dalam roeang 2 boeah tonggak besar jang berdiri dipintoe itoe sebagai "Laras Nan Doea", diatasnja diperhoeboengkan oleh sesoeatoe jang sebagai djambatan perhoeboengan. Sekaliannja itoe soedah diperboeat oleh orang jang berhati maoe dan radjin, hingga nampaklah lagi goenanja bamboe berbelah - belah tipis bernganjam dengan berboenga sebagai lapik berboenga - boenga amat indah pada pemandangan mata, dan orang jang tadjam-tadjam pikiran, lantas djoega mendapat pikiran bahwa bamboe dibelah - belah tipis bernganjam jang di perboeat dengan berboenga - boenga itoe baik poela djadikan dinding roemah penambahkan kebagoesan dinding dengan ta' oesah lagi membeli kertas dinding, sedang bangsa bamboe jang boleh dibelah tipis - tipis dan boleh dinganjam itoe adalah bamboe jang boleh didapat pada beberapa negeri di Alam Minang Kabau ini, Boeloeh Kaso' namanja. Selama ini, oleh kita orang Alam Minang Kabau melainkan dinganjam oentoek pemboeat niroe, tidak dinganjam oentoek pemboeat dinding dengan berboenga - boenga seperti di boeat oleh orang di Bogor.

Lepas dari pintoe gerbang itoe, orang jang datangnja berarti, dengan tadjam pikiran, laloe memperhatikan roemah tinggi jang ditjeritrakan diatas, tempatnja disebelah kiri djalan masoek. Jang meoekirnja toekang oekir orang 50 Kota. 

Roemah tinggi itoe, tidak akan diboeka sesoedahnja Pakan Malam, melainkan akan tinggal teroes berdiri, akan mendjadi soeatoe museum bagi tempat barang kepandaian keradjinan kita orang Alam Minang Kabau.

- Kepandaian dari sebelah Priaman adalah nampak di tentonstelling ini, berlima anak perempoean bekerja memboeat renda Palembang, jaitoe soeatoe Kepandaian jang baharoe akan kembang di Priaman, dikembangkan oleh njonja Dahler, masa toean Dahler mendjadi controleur di Priaman beloem lama ini.

- Kepandaian orang sebelah Batipoeh dan X Kota, adalah nampak di tentoonstelling itoe, jaitoe sibar - sibar badjoe dan sebagainja barang bermakau tenoenan Pitalah Boengo Tandjoeng. Sajang, barang jang sematjam itoe soesah akan diharap madjoenja di zaman ini akan djadi penghidoepan dan pentjarian anak boeah sebab orang - orang di zaman ini, ta' seberapa lagi jang soeka memakai badjoe hitam bersibar jang tjara tenoenan Pitalah Boenga Tandjoeng itoe, begitoepoen baik djoega dimasoekan ditentoonstelling tenoenan Pitalah Boenga Tandjoeng itoe akan mendjadi peringatan behasa ada kepandaian bertenoen di Pitalah Boenga Tandjoeng (kepandalan tjara lama) karena di tentonstelling itoe ada poela kepandaian baharoe di Padang Pandjang, 10 orang anak perempoean jang bekerdja merenda Palembang. 



- Kepandaian orang negeri Kota Gedang (K.G), adalah nampak di tentoonstelling itoe:

1. Pertoekangan mas jang bekerja dengan perkakas jang tiada berharga mahal tetapi bagoes boeatannja boléh bertanding dengan boeatan van Arcken & Co.

2. Ada 4 à 5 orang anak perempoean jang bekerdja di tentoonstelling itoe, memboeat renda Palembang

3. Ada 2 orang perempoean jang dikirim oléh negeri, bertenoen memboeat barang bermakau tjara model lama. Bagoes tenoenannja, sajang sadja di zaman ini tidak boléh madjoe banjak djadi perniagan akan djadi penghidoepan dan pentjarian anak boeah sebab orang di zaman ini, ta' seberapa lagi jang soeka memakai pakaian model lama itoe. 

Ada 2 orang perempoean kongsi "Amai Setia" bertenoen memboeat barang jang boleh lakoe banjak di zaman ini, jaitoe seorang bertenoen memboeat kaîn saroeng, seorang bertenoen memboeat tjéla. Sajang pertenoenan itoe masih tjara lama djoega, dengan berentang pandjang, tidak boléh bertenoen ditempat jang sampit, tidak boleh bertenoen memboeat barang berkajoe jang berpoeloeh poeloeh Meter pandjangnja dan tidak boleh memboeat kain saroeng 5 á 6 halai sekali hari sebab mehaninja berentang sehalai sehalai dengan berjalan poelang balik memenatkan kaki, semoea itoe menjebabkan ta' dapat memboeat barang banjak sepetenoen. Di Soelit Air pada masa ini, boléh mengeloearkan kain berkodi - kodi karena satoe - satoe perempoean boleh memboeat kain saroeng lebih 60 halai seseorangnja dalam satoe tahoen hingga boleh mendjoealin moerah harga pelawan moerah boeatan datang.

Dalam hal pekerdjaan tenoen di Kota Gedang (K.G) itoe, Rohana directrice "Amai Setia" dan Datoe Maharadjo, hendak mengadakan peroebahan tenoenan K.G. soepaja boleh poela nanti memboeat barang banjak seperti di Soelit Air masa ini (boleh mengeloearkan barang berkodi - kodi dengan moerah harga pelawan harga boeatan datang), sedang "Amai Setia" Kota Gedang soedahlah bersaudara dengan "Andéh Setia" Soelit Air.

- Kepandaian orang Tilatang adalah nampak di tentoonstelling itoe, 3 a 4 orang anak perempoean bekerdja merénda Palembang.

- Kepandaian orang kota Batoe Sangkar poen adalah poela di tentoonstelling itoe, 4 a 5 orang anak perempoean merenda Palembang..

Sepandjang pikiran orang jang ta' paham akan pekerdjaan renda Palembang itoe, sama semoea kepandaian itoe, tetapi oleh orang jang paham, katanja adalah beda - bedanja kepandaian itoe dan anak perempoean Batoe Sangkar itoelah jang lebih kepandaiannja dari jang lain sebab padanja ada lagi kepandaian memboeat kraag njonja - njonja dengan renda, (begitoepoen dalam pakerdjaan kepandaian bertenoen adalah lebih koerang kepandaiannja; melainkan diketahoei oléh jang amat paham dalam pekerdjaan tenoen.) 

- Kepandaian Padang nampak di tentoonstelling itoe:

1. Kak Sidin peranakkan Djawa, toekang pahat batoe, pandai memboeat hoeroef di batoe dengan berpahat.

2. 4 à 5 orang perempoean dengan anak perempoean kampoeng Seberang Padang (datangnja soedah doea hari terkemoedian) kepandaianja mendjahit kelengkang dan menakat soelaman tjina. Barang ini boleh djoega mendjadi pentjarian tetapi ta' dipakai oleh beratoes riboe orang seperti kain saroeng jang diboeat oleh kepandaian bertenoen, beratoes riboe laki - laki perempoean jang akan memakainja sebab perloe penoetoep orat).

- Kepandaian orang Kota Nan Gedang Pajakoemboeh adalah di tentoonstelling itoe: 

1. Kepandaian Si Marah gelar Bagindo Malin memboeat barang batik toelisan, sajang ia tidak bekerdja di tentoonstelling itoe, hingga barang kepandaiannja itoe, ada orang jang menjangka barang datang dari Djawa sebab tidak bédanja sedikit djoega dengan boeatan Tanah Djawa.

2. Ada perhijasan médja terboeat dari pada tawas, boeatan Sapiah (binti Datoek Soetan Maharadja) isteri Datoek Gampo Alam, jang sekarang ini tinggal di Kota Nan Gedang masoek djadi orang Kota nan Gedang.

3. Barang bermakau tenoenan perampoean Kota Nan Gedang jaitoe selendang - selendang dan kain - kain model ...; sajang di zaman ini ta' boléh djadi peran ... ?

- Kepandaian orang Kota nan Ampat adalah nampak pada tentoonstelling itoe :

1. memboeat barang besi seperti kepandain orang Soengai Poear dan pandai lagi toekang besi itoe memboeat bedil;

2. Ada 4 a 5 orang anak perempoean bekerdja memboeat rénda Palembang.

- Kepandaian orang negeri Soengai Poear adalah di tentoonstelling itoe :

1. Bekerdja memboeat barang besi, pandai poela memboeat pisau pena dan pisau pena jang seija dengan sapit djanggoet d.l.l. barang besi.

Kepandaian orang Soengai Poear dalam pekerdjaan besi itoe, ialah soeatoe pekerdjaan jang boleh sekali djadi pentjarian jang tetap karena satoe roemah tangga perloe memakai pisau, perloe memakai lading, perloe mamakai kapak, perIoe memakai pankoer. d.l.l.

2.  Bekerdja memboeat barang lojang ialah soeatoe kepandaian jang boleh poela mendjadi pentjarian jang tetap, apalagi di zaman ini.. bangsa Europa amat soeka membeli barang lojang.

3. Bekerdja memboeat barang tandoek dan toelang, boleh poela mendjadi soeatoe pentjarian sebab kemadjoeannja sekarang, boleh memboeat boeah badjoe, kepala toengkat jang bagoes, pipa roko' d.s.b.

4. Kepandaian kemadjoean perempoean bertenoen, soedahlah pandai memboeat kain Boegis, dan kain Palembang, boleh bertanding dengan boeatan datang dan bertenoennja itoe tidak berentang pandjang, tidak poela di tempat jang lapang, boleh bertenoen di roemah jang sempit, boleh bertenoen didalam bilik, kedoedoeknja bertenoen (bankoe tenoennja) di tentoonstelling itoe dibawaknja dari negerinja, pekakas baharoe, bagoes roepanja menandakan bagoes nampaknja roepa kain jang ditenoennja di tentoonstelling itoe. 

Kain tenoenan Soengai Poer itoe boleh benar mendjadi perniagaan kemana - mana dan boleh mendjadi penghidoepan dan pentjarian anak boeah, sajang sadja tidak boleh dapat banjak berkodi - kodi akan djadi perniagaan sebab kepandaian perempoean Soengai Poear itoe dalam hal mehani, masih dengan berdjalan poelang balik merentang sehalai sehalai benang, sepandjang pandjangnja 15 hésta memenatkan kaki menjebabkan ta' dapat memboeat kain berkajoe pandjang berpoeloeh hésta dan menjebabkan ta' dapat memboeat kain saroeng 6 a 7 halai (75 hésta, sakali hani karana pada perempoean Soengai Poear itoe beloem ada lagi kepandaian mehani seperti jang diajarkan di sekolah tenoen di Padang dan seperti jang soedah ada pada perempoean di Soelit Air, boleh memboeat kain berkajoe pandjang berpoeloeh hesta, boleh memboeat kain saroeng 6 a 7 helai sekali hani; menjebabkan lekas dan moedah kerdjanja hingga kain tenoen Soelit Air itoe jang bagoesnja poen boleh didjoealnja f40 sekodi; tetapi kain Tenoenan Soengai Poear jang sebagoes itoe f1,40 baharoe boleh didjoealnja sekodi; sebab lama hari terpakai mengerdiakannja).

Jang meoesahakan dan memadjoekan pekerdjaan tenoen itoe di Soengai Poear ialah Hadji Abdoel Ra'oef dan jang mendjadi goeroe tenoen itoe ialah isterinja bernama Hadji Aisah, adalah témpoh hari dalam advertentie "Oetoesan Melajoe" begitoepoen di tentoonstelling adalah poela Hadji Aisah itoe bertenoen. 

Hadji Aisah dan perempoean Soengai Poear itoe roepanja adalah liberaal karena adalah keinginannja hendak meoebah mehani tjaranja itoe dengan mehani tjara Soelit Air hingga kedatangannja ke tentoonstelling itoe mendjadikan soeatoe keoentoengan kepadanja dapat tambah pengatahoean dan pertemoeannja dengan perempoean Soelit Air di tentoonstelling itoe memperhoeboengkan tali persaudaraan "Soengai Poear" dengan "Soelit Air" dan lagi oleh Hadji Abdoel Ra'oef, dalam pekerjaan tenoen itoe dimintaknja soepaja akan sama dipimpin poela oleh hamba (D. S. M.) baik dalam hal mentjarikan benang jang moerah harganja, baik dalam hal mendjoealkan barangnja di toko "Orang Alam Minang Kabau", di Padang, baik akan memadjoekan keloear negeri.


(Hari Chamis 9 Januari 1913)

Di tentoonstelling ini adalah poela perempoean negeri Galoeng menoendjoekkan kepandaiannja mentjolok kain (memperhitam kain poetih), djaoeh lebih bagoes hitamnja dari tjolok Europa, demikianlah tjolok Galoeng itoe dari selama ini amat mashoernja, tida' terteladan oléh fabriek Europa; dan dari sebab itoelah saudagar, kami di Alam Minang Kabau ini, ta'ada jang memesan kain hitam tjolok Europa; melainkan jang dipesan, kedar kain moeri sadja, dioelang kembali mentjolok kain moeri itoe di negeri Galoeng soepaja dapat kain jang bagoes hitamnja. 

Ada poela di tentoonstelling itoe kepandaian perempoean negeri Koemango bagaimana memperhitam kain soepaja bertambah bagoes lagi hitamnja Kain; begitopoen ada poela kepandaian perempoean negeri Koemango itoe mmmboeat genggong. 

Perempoean negeri Goeroen adalah nampak kepandaiannja bertenoen di tentoonstelling itoe;. tetapi masih tenoen tjara lama djoega sedang pekerdjaan bertenoen di Goeroen itoe soedah mati bertahoen tahoen lamanja dan soenggoehpoen telah dihidoepkan kembali oleh oesahanja Datoek S. maharadja di negeri itoe kira - kira 3 a 4 tahoen jang soedah: tetapi tida' lama mati poela peroesahaan itoe. Maka oleh Datoe' Gadang jang sekarang mendjadi penghoeloe kepala negeri itoe bersama. Soetan Toemanggoeng controle mantri jang mendjadi wd. larashoord negeri itoe moelai dihidoepkan kembali lagi pekerdjaän tenoen itoe; dan serandjang niat ST. akan diadakan lagi peroebahan bertenoen itoe soepaja perempoean negeri itoe nanti boleh bertenoen memboeat barang banjak (seperti di Soelit Air pada dimasa ini), akan boleh mendjadi pentjarian perempoean.

Di tentoonstelling itoe adalah nampak kepandaian perempoean negeri Galogandang bekerdja memboeat perioek dan pot - pot  boenga, semoea diperboeatnja dari pada tanah liat belaka, tidak besar pokoknja.

Kepandaian ini boleh mendjadi pentjarian poela, dan soedahlah mendjadi penghidoepan tetap oleh perempoean negeri Galogandang; karena satoe roemah tangga diseloeroeh Alam Minang Kabau kita ini perioek memakai perioek belanga; dan walaupoen ada jang datang dari Europa dan dari negeri Keling (belanga Keling) tetapi oléh sebab perioek belanga boeatan Galogandang ada djaoeh lebih moerah harganja: maka oleh orang di kampoeng - kampoeng diseloeroeh AIam Minang Kabau ini melainkan jang boeatan Galogandang itoelah jang dibelinja.

Di tentoonstelling itoe adalah nampak kepandaian perempoean negeri Panindjauwan (XX kota) bekerdja bertenoen tjara tenoen Siloengkang memboeat barang perhiasan roemah tangga bangsa Europa.

Kepandaian itoe selama ini beloemlah ada di negeri Panindjauwan; melainkan sesoedahnja Datoe' Mangkoeto Sati djadi penghoeloe kepala di negeri itoe, diadakanja sekolah tenoen hingga sekarang soedahlah masoek di tentoonstelling tenoennan Panindjauwan itoe dengan orangnja jang bertenoen sekali. 

Poen perempoean negeri Siloengkang adalah poela bertenoen di tentoonstelling itoe memboeat barang perhiasan jang terpakai oleh bangsa Eurepa. Barang jang demikian boléh djadi perniagaan dan soedahlah djadi perniagaan dalam beberapa tahoen ini; begitoepoen soedahlah ada poela orang Siloengkang jang pergi ke Betawi dan ke Deli, Soerabaja berniaga barang - barang Siloengkang itoe. 

Barang itoe boleh mendjadi pentjarian dan soedahlah mendjadi pentjarian oleh perempoen negeri Siloengkang: tetapi kalau diperboeat lebih banjak dari sekarang ini, akan koeranglah madjoenja, sebab barang itoe jang akan membelinja melainkan bangsa Europa sadja oentoek tanda mata oleh bangsa Europa, dan oentoek perhijasan medja dan koersi, tida' banjak habisnja. 

Demikianlah sekarang; barang perhiasan tenoen Siloengkang itoe soedah moelai koerang madjoenja. Maka perempoean negeri Siloengkang itoe moelailah berkoerang memboeat barang itoe; melainkan jang moelai banjak sekarang ditenoennja di Siloengkang, melainkan kain berboenga jang boleh dibeli dan boleh dipakai oleh laki perempoean kita orang Alam Minang Kabau jaitoe kain poetih dengan bertjoekirkan boenganja mérah se tangkai-setangkai, seakan-akan boenga tjita.



(Hari Chamis, 15 Januari 1913)

Di tentoonstelling itoe, nampaklah kepandaian perempoean negeri Koebang laras Goegoek loehak 50 Kota; bertenoen memboeat barang bertjoekir seperti barang Siloengkang, ada jang bertenoen memboeat kain poetih tebal dan ada jang bertenoen memboeat kain saroeng Palikat Boegis, hingga tenoenan Koebang itoepoen boleh mendjadi perniagaan kemana - mana dan boleh mendjadi pentjarian dan penghidoepan perempoean, sedang tenoenannjapoen rapat poela seperti tenoenan Soengai Poear, Kota Gedang dan Soelit Air; dan lagi tidak poela tenoen berentang pandjang hingga boleh bertenoen ditempat jang sempit, boleh bertenoen didalam bilik; melainkan dalam pekerdjaän mehani sadja perempoean Koebang itoe jang masih berentang sehalai sehalai benang, poelang balik memenatkan kaki, beloem lagi mehani dengan perkakas seperti jang diadjarkan di sekolah tenoen di Padang dan seperti ada ditentoonstelling itoe ditoendjoekkan oleh perempoean Soelit Air, (soepaja negeri lain memperhatikannja).

Jang mendjadi orang toea oleh perempoean negeri Koebang jang bertenoen ditentoonstelling Itoe ialah toean Hadji Abdoel Wahid orang negeri Koebang itoe, timbalan Hadji Abdoel Ra'oef di Soengai Poear. Begitoepoen sebagai Hadji Aisah isterinja Hadji Abdoel Ra'oef bertenoen di tentoonstelling itoe, demikian isterinja toean Hadji Abdoel Wahid adalah poela bertenoen di tentoonstelling itoe, hingga ada bertiga jang isterinja toean hadji jang bertenoen di tentoonstelling itoe, karena jang dari Soengai Poear ada lagi isterinja Hadji Ahmad Choelidi, Sarimin namanja. Djadi berempat dengan jang datang dari Soelit Air, jaitoe Hadji Amai isteri toean Sjech Soleiman. 

Inilah tandanja pekerjaan tenoen itoe boekan pekerdjaän hina, boekan pekerdjaan boedak orang seperti kata satoe doea soerat chabar di Padang 8 á 4 tahoen dahoeloe.

Njatalah di tentoonstelling itoe, bahwa pekerdjaan tenoen itoe pekerdjaan moelia, pekerdjaan bidadari di sjorga, sedang didoenia ini mendjadi pekerdjaan isterinja toean hadji dan toean sjech. Lain dari pada itoe jang bertenoen di tenteonstelling itoe adalah poela isterinja Datoek Bongsoe penghoeloe kepala Soengai Poear jang baharoe dan ada poela kemanakan Datoek Temanggoeng penghoeloe kepala Soelit Air dan ada poela isteri seorang penghoeloe soeke di Soelit Air, anaknja mandiang Datoe' Radja Mansoer toeankoe laras Soelit Air, dan ada poela isterinja seorang saudagar di Soelit Air, kemanakan toeankoe laras itoe, dan ada poela seorang perempoean toea iboe dari pada seorang saudagar di Soelit Air, sedang jang datang bertenoen dari Siloengkang adalah poela seorang anak gadis, anaknja penghoeloe kepala jang sekarang, timbalan anak dan kemanakan Datoek Mangkoeto Sati Penindjauwan; begitoepoen jang dari Goeroen adalah poela isterinja toean Pandoeko Intan jang kaja di Padang, sedemikian jang dari Kota Gedang, dan jang di Kota Nan Gedang Pajakoemboeh itoe, semoea perempoean jang bertenoen itoe, perempoean patoet belaka; tandanja pekerdjaan bertenoen itoe moelia, boekan pekerdjaan hina.

Kepandaian orang negeri Soelit Air adalah nampak di tentoontstelling itoe, akan penerbitkan goli negeri lain :

1. Seorang anak laki - laki oemoer 15 tahoen, Si Damin namanja, bekerdja di tentoonstelling itoe memboeat kipas seperti kipas Djepang jang didjoeal oleh toko Djepang dan oleh Si Damin boleh didjoealnja dengan harga lebih moerah lagi dari boeatan Djepang itoe karena datangnja kemari dengan bersewa kapalnja, dan tokonja bersewa, orangnja bergadji, padahal Si Damin tidak begitoe.

Kipas boeatan anak Alam Minang Kabau itoe boleh poela didjadikan perniagaan seperti olih orang Djepang, baik didjoeal dikedai atau dilapau bersama barang lain, karena bagoes akan didjadikan perhisan dinding, dan bilik (perboeatan bangsa sendiri) ta'oesah lagi kita orang Alam Minang Kabau pengepoek kerbau orang djoega, sedang oleh njonja Westenenk poen telah dibeli kipas Si Damin anak Alam Minang Kabau itoe waktoe datang ke Soelit Air dalam boelan November j.s.

Si Damin itoe, walaupoen tiada bersekolah dari ketjilnja tetapi pikirannja tadjam, akalnja berdjalan, boleh digelarkan Edison Minang Kabau.

Dapat oléhnja memboeat kipas Djepang itoe, melainkan sadja dengan memperhatikan kipas Djepang dalam toco Djepang waktoe ia masoek keseboeah toco Djepang di Boekit Tinggi, masa ia mengadji di Banoehampoe.

Moedah - moedahan bertoekoek bertambah djoea hendaknja banjaknja anak Alam Minang Kabau kita jang akan seperti Si Damin itoe dalam hal kepandaian jang lain poela dan haroeslah orang toea mengetjekkan kepada anak jang lain kepoedjian si Damin itoe, penerbitkan nafsoe ketjiinan anak jang lain, soepaja mendjadi sebagai si Damin itoe mentjari kepandaian jang lain poela, sedang si Damin itoe masa melihat orang Belanda melepas ballon di Boekittinggi, diperhatikannja poela bagimana ballon itoe, hingga sekarang telah dapat poela oléhnja memboeat ballon; dan adalah poela ballon boeatan anak Alam Minang Kabau itoe di tentoonstelling Pakan Malam Pajakoemboeh, dinaikkannja keawang awang setiap malam; kadang bertoeroet doea ballon jang dinaikkannja, sebagai 2 bintang di langit nampaknja di awang awang, dan artinja ballon jang doea itoe oléhnja ialah Laras Nan Doea", (Kota Piliang dengan Boedi Tjaniaga) 

2. Adalah 2 orang perempoean negeri Soelit Air di tentoonstelling itoe menoendjoekkan bagimana menganjam pandan memboeat topi. Selang di zaman ini, kita orang Alam Minang Kabau dan anak kita, kebanjakkan soedah memakai topi bernganjam tetapi masih topi bernganjam boeatan datang, masih mempergepoek kerbau orang sebab perempoean bangsa kita beloem pandai memboeatnja. Inilah sekarang soedah ada perempoean bangsa kita, perempoean Alam Minang Kabau jang soedah pandai di Soelit Air, ditoendjoekkan di tentoonstelling itoe, soepaja negeri lain di Alam Minang Kabau ini boleh dapat pikiran akan memboeatnja poela karena topi bernganjam dari pada pandan itoe boleh mendjadi perniagaan poela kepada bangsa jang memakai topi, apalagi ke Afrika, nanti boleh banjak lakoenja, sebab benoea Afrika itoe panas; orang di sana lebih soeka memakai topi jang ringan dan topi pandan bernganjam itoelah jang seringan ringan topi.

Topi pandan nganjaman perempoean Alam Minang Kabau di tentoonstelling itoe amat lakoe. Karena harganja tjoema f.0,75 satoe topi, hingga ada seorang Tjina maoe membeli habis semoea topi itoe tetapi hamba larang perempoean jang memboeat itoe, soepaja bangsa kita orang Alam Minang Kabau, boleh poela dapat membeli topi boeatan bangsanja itoe dengan harga f.0.75.

Melihat banjak lakoenja topi itoe, maka perempoean Lintau & Boea jang pandai menganjam tikar, jaitoe jang bekerdja di sebelah perempoean Soelit Air jang menganjam topi itoe, beladjarlah ia kepada perempoean Soelit Air itoe, bagimana rahsianja menganjam topi itoe; moedah moedahan nanti dikembangkannja kepandaian itoe di negerinja, sedang oleh perempoean Soelit Air itoe, tida dibachilkannja mengadjarkan kepandaian itoe, soepaja kembang, apalagi pada perempoean Lintau & Boeo itoe, Lintau & Boeo dengan Soelit Air seperti bersaudara sama seloehak Tanah Datar (lebih baik dikatakan sama perempoean Alam Minang Kabau, sebab Loehak Nan III Laras Nan Doea, sehina semaloe.)

3. Ada 6 orang perempoean negeri Soelit Air, menoendjoekkan di tentoonstelling itoe, dalam perkara pekerdiaan bertenoen :-

 a. Seorang perempoean menoendjoekkan bagimana mehani soepaja boleh memboeat kain berkajoe pandjang berpoeloeh poeloeh hesta (boleh 2 kajoe pandjang 24 yard X2) dan boleh memboeat kain saroeng 6 à 7 helai dengan pekerdjaan sekali sadja mehaninja dan mehani itoe boléh' sambil doedoek sadja, dengan pekakas jang semahal mahal harganja ta'kan lebih dari seharga f 1. hingga pekerdjaan mehani itoe ta' oesah lagi dengan memenatkan kaki merentang sehalai sehalai benang, jang sepandjang pandjangnja ta' kan terkao lebih dari 25 hésta.

b. Ada seorang perempoen Soelit Air itoe menoendjoekkan di tentoonstelling, bagimana mengarap (mengarok) soepaja dilihat oleh jang beloem melihat; sedang perempoean Alam Minang Kabau jang moeda sekarang, ada jang beloem melihat bagimana bekerdja mengarap itoe.

c. Ada seorang perempoean Soelit Air itoe bekerdja bagimana memboeat kain linnen, sedang ankoe dan orang moeda kita di zaman ini banjak jang soeka memakai jas dan pantalon kain linnen, harga kain linnen itoe oentoek sehalai jas f6. pada hal manakala ditenoen oléh isteri atau oleh anak sendiri atau oléh adik: boleh terpokok koerang dari seringgit dalam satoe - satoe  jas. 

d. Ada seorang anak perempoean negeri Soelit Air itoe, bertenoen ditentoonstelling memboeat selèndang, baik oentoek pakaian perempoean moeda - moeda, oedjoengnja sebagai oedjoeng selendang tanah liat dan jang djadi boenga selendang itoe ialah kelengkang, soepaja boleh diketahoei orang, bahwa pekerdjaan tenoen itoe boleh poela memboeat barang kelengkang, seperti jang diboeat oleh perempoean dikampoeng Seberang Padang, berdjahitkan pada kain poetih jang dibelikan boeatan datang djoega; padahal oleh pekerdjaan tenoen, sama kainnja itoe ditenoennja sekali dengan boenganja itoe.

e. Ada seorang perempoean Soelit Air itoe bertenoen ditentoonstelling itoe, memboeat kain penanding kain Boegis.

f. Adalah seorang perempoean Soelit Air itoe, bertenoen memboeat kain penanding kain Palembang. 

Soenggoehpoen ada berenam orang perempoean Soelit air itoe disoeatoe roeang pekerdjaan tenoen, menoendjoekkan satoe djinis dalam pekerdjaan tenoen; poen boléh ia bekerdja ramai disoeatoe roeang itoe; boleh djadi pikiran oleh orang banjak, bahwa boleh mengadjarkan pekerjaan itoe diseboeah roemah ketjil, atau dalam seboeah bilik, dengan mengenang roemah disebelah pesisir kebanjakan roemah ketjil - Ketjil, tidak seberapa boeah roemah jang pandjang akan tempat perentang tenoen; dan walaupoen boleh bertenoen berentang pandjang dibawah kapoek seperti di Kota nan Gedang, tetapi tidak boleh bekerdja teroes, sebab tempoh - tempoh boleh terhalang oleh hoedjan; padahal bertenoen jang dengan tidak berentang pandjang itoe boleh bertenoen siang atau malam dibilik tidak akan terhambat oleh hoedjan. 

Demikianlah di Soelit Air pada masa ini boleh bertenoen disembarang tempat hingga barang tenoennja negeri Soelit air itoe sedah boleh djadi perniagaan, didjoeal kepekan - pekan oleh orang negeri itoe, sehingga pada masa ini soedahlah moelai banjak kita orang Alam Minang Kabau jang soedah memakai kain tenoenan bangsa sendiri, jaitoe kain jang seperti kain Palekat, jang seperti kain Boegis dan yang seperti kain Palembang, sedang di tentoonstelling di Pakan Malam Pajakoemboeh itoe, penoeh doea roeang oleh barang tenoenan Soelit Aier dan tenoenan itoelah jang paling banjak di tentoonstelling itoe akan penekan gati negeri - negeri lain kepekerdjaan tenoen, dengan melihat tjontohnja boeah pekerdjan tenoen itoe di tentoonstelling, ada jang tjela sebagai tjela Keling, ada jang genggang sebagai kain tjap kelapa, ada jang warlian sebagai warlian datang, ada jang pansin sebagai pansin Syanghaij, ada jang linnen, pique, kamgar, selindang penanding selindang tanah liat, dan ada jang kain saroeng akan penanding kain Palekat Boegis dan Palembang.

Barang tenoenan Soelit Air itoelah jang banjak madjoe di beli orang di tentoonstelling itoe; boleh mendjadi pikiran oleh negeri lain apa matjam barang jang akan banjak di tenoen, ialah jang akan banjak madjoenja dan jang akan bergoena oentoek beriboe - riboe kita orang Alam Minang Kabau.

Sekarang ta' boleh dikata lagi, kita orang Alam Minang Kabau, ta' maoe membeli, ta' maoe memadjoekan barang perboeatan bangsa sendiri, karena soedahlah nampak di tentoonstelling itoe, maoe hatinja bangsa kita hendak memadjoekan itoe.

Baik djoega diwartakan disini berapa dibeli orang kain tenoen Alam Minang Kabau itoe, soepaja di ketahoei oleh orang banjak, bahasa harganja boleh melawan moerahnja harga boeatan datang, itoepoen jang bertenoen adalah boleh dapat keoentoengan sekira bergadji 50 a 60 cent dalam satoe hari, manakala ada bertenoen tjara atoeran baharoe itoe memboeat barang jang boleh banjak dan lekas lakoenja.

Siapa jang soedah memadjoekan barang tenoenan bangsa sendiri itoe baik djoega diwartakan karena adalah ditoeliskan oleh jang mendjoeal dan dikirim ke Oetoesan Melajoe:

- Oleh toeankoe laras Periaman dibeli 1 loesin sapoetangan dengan harga f1.20 dan sehalai kain saroeng sebagai kain Palikat jang bagoes f4.50. 

- Oleh penghoeloe kepala Goegoek (Pajakoemboeh) dibeli sehalai kain saroeng jang berharga f7 boleh bertanding dengan kain Palembang jang ber harga f10. 

- Oleh penghoelee kepala Tabat V Kaoem 2 halai f12.50.

- Oleh toeankoe laras Batoe Hampar 1 loesin sapoetangan f1.20 dan sehalai kain saroeng f6.80 boleh bertanding dengan kain Boegis jang mahal harganja.

- Oleh djoeroetoelis Loemboeng Limboekan sehalai kain saroeng f6.50 (boleh bertanding dengan kain Palembang jang mahal harganja) begitoepoen oleh djoeroetoelis toeankee laras Batoe Hampar sehalai kain f6.50. 

- Oleh penghoeloe kepala Sitoedjoeh Bandar Dalam sehalai kain saroeng f6. 50.

- Oleh Soetan Sati sehalai kain saroeng f6.50. 

- Oleh Hadji Joenoes saudagar di Solok sehalai kain saroeng f6.50.

- Oleh Soetan Baginda Koto Hilalang saudagar di Pajakoemboeh sehalai kain saroeng f6.50. 

- Oleh Hamid Kota Katjik sehalai kain saroeng f7.50 lebih bagoes lagi.

- Oleh Datoe Padoeka Alam penghoeloe kepala Ladang Lawas sehalai kain saroeng f6. 50.

- Oleh Malin Besar Sianok sehalai kain saroeng f6.75 lebih bagoes.

- Oleh anak samang Malin Besar 1 kain saroeng jang f5. 

- Oleh 'ngkoe djaksa Pajakoemboeh, setengah loesin sapoetangan f0.80.

- Oleh Soetan Moentiko Radja controle mantri Batang Hari seloesin sapoetangan f1.20. 

- Oleh penghoeloe kepala Sitoedjoeh Batoer 1. k.s. jang f650. 

- Oleh Ablullah glr. Soetan Ibrahim Goegoek IV Kota sehalai kain saroeng jang f6.

- Oleh Baginda Chatib Rao Rao saudagar di Batoe Sangkar 1 k. s. jang f6.50. 

- Oleh Hadji Mohamad Arif saudagar di Batoe Sangkar 1 k. s. jang f6.50.

Dan lagi jang memadjoekan barang tenoenan Alam Minang Kabau kita itoe (sebagai mempertinggi soemarak Goenoeng Merapi djoea) : 

- Oléh Hadji Mahmoed Sianok saudagar, dibeli sehalai kain saroeng jang harga f8.

- Oleh Datoe Sari Maharadja hakim loemboeng di Soemani dibeli sehalai kain saroeng jang harga f6.50.

- Oleh Datoe Madjobesar Kampoeng Pisang 4 Koto Agam dibeli sehalai kain saroeng jang berharga f7.30 

- Oleh Chatib Malelo Palambaian, dibeli sehalai kain saroeng jang berharga f7.50.

- Oleh Soetan Kajo Kota Nan Gedang, dibeli sehalai kain saroeng jang berharga f7. 

- Oleb Arif glr. Bandharo Kajo IV Angkat, dibeli sehalai kain saroeng jang berharga f7.50 

- Oleh Baginda Moeda penghoeloe pasar Pajakoemboeh dibeli 2 halai kain saroeng f14.

- Oleh : Besar nan Me...goen hakim loemboeng Kota Nan Gedang dibeli 1 helai kain jang harganja f7.50

- Oleh si Panoeh anak penghoeloe kepala Pasar nan toea dibeli 6 helai ... f2.50 

- Oleh si Kolo glr. Tambijo beli 1 helai kain saroeng f7

- Oleh Samah Koebang 1 h. kain jang f6 

- Oleh Hadji Moehamad Thaha Sawahan Padang dibeli 9 h. sapoetangan f6.95

- Oleh Zainoedin ladang Lawas Sitoedjoeh dibeli 1 h. kain saroeng f7.50. 

- Oleh Datoe Bagindo, toeankoe laras Goegoek dibeli 1 loesin sapoetangan f1.20

- Oleh si Latif glr. Amat Mage' Agam dibeli 1 helai kain jang f5.30

- Oleh Abas 4 Angkat 1 h. kain jang f60 

- Oleh Padoeka Alam aannemer di Boeo dibeli sehalai sapoetangan f0.50. 

- Oleh Setan Pamoentjak Pakan Sinajan Banoe hampoe dibeli 1 h. kain jang f7.

- Oleh Datoe Bidjo nan Hiitam Padang Kerambil Limboekan dibeli 1 h. kain jang f6.50. 

- Oleh Soetan Temanggung controle mantri w.d larashoof Rao-Rao enz. dibeli 1 h. kain jang f8 

- Oleh Datoe Mangkoedoem Nan Batoeah djoero toelis Loemboeng Limboekan dibeli 1 h. kain jang f7.

- Oleh Datoe Toemanggong Nan Hitam pengholoe kepala Limboekan dibeli 1 h. kain jang f6.5

- Olen Datoe Amat diradja penghoeloe kepala Periangan Padang Panjang dibeli 1 h. kain jang f7.50.

- Oleh Datoe Radja Endah Kota Toeo IV Koto Agam dibeli 1 h. kain jang f6. 

- Oleh Datoe Samoleh Air Tabit dibeli 1 h. kai  jang f4.75.

- Oleh Sainal Kota Nan 4, di beli 1 h. kain jang f6.50

- Oleh Datoe Padoeka Sari Radja goeroe sekolah Solok dibeli 1 h. kain jang f6.50.

Disini kita perhentikanlah dahoeloe memasoekan dalam soerat chabar ini karena soedah sampailah rasanja terang apa matjam - matjam barang tenoenan jang banjak lakoe soepaja diketahoei oleh negeri - negeri lain jang hendak bertenoen dan lagi berapa lakoenja satoe halai dan siapa jang membelinja. Ada jang ankoe goeroe, ada jang soedagar, ada jang toeankoe laras, ada jang controler - controler manteri, ada jang ankoe djaksa ada jang djoeroetoelis, ada jang hakim loemboeng ada jang penghoeloe, d.l.l.

Kenanglah pergoenaan kain saroeng, bergoena oleh beratoes riboe kita orang Alam Minang Kabau laki perempoean, toea moeda; beriboe kodi datang dari Boegis, Palembang, Palikat d.l.l. Patoet sekali pekerdjaan bertenoen itoe bertambah tambah lagi banjaknja ditiap - tiap negeri di Alam Minang Kabau kita ini, akan mendjadi perhadapan perempoean dalam roemah; apalagi kalau dikenang perhadapan perempoean - perempoean bangsa kita sekarang diatas roemah; sedang setengahnja ta' soeka lagi kesawah melainkan hendak berkasai sadja atau bertjarian koetoe, mengetjek - ngetjek mehabiskan waktoe, memoekoel hormonika, bergoendjing d.s.b. jang ta' mendatangkan keoentoengan. 

Soenggoehpoen demikian, bolehlah djoega sjoekoer kita melihat di tentoonstelling itoe kepadaian perempoean negeri Lintau & Boeo adalah kepandaiannja, pandai memboeat tikar pandan jang bagoes- bagoes dengan berterawang pinggirnja dan adalah di toendjoekkannja di tentoonstelling itoe, begimana ia bekerdja, sedang jang laki - lakinja adalah poela kepandaiannja memboeat barang besi dan adalah poela lakinja itoe bekerdja di tentoonstelling itoe.

Poen perempoean Boekit Kandoeng (Soelit Air), perempoean doesoen, adalah poela kepandaiannja menganjam memboeat tikar pandan dan adalah poela di tentoonstelling itoe, menoendjoekan bagimana ia bekerdja.

Kepandaian menganjam memboeat tikar pandan jang bagoes - Bagoes itoepoen boleh djadi perhadapan perempoean dalam roemah, akan mendjadi keoentoengannja karena tikar itoe bergoena di tiap - tiap roemah kita orang Alam Minang Kabau; begitoepoen boleh lakoe poela di Benkoeloe d.l.l. negeri; dan kalau ada pandai menganjam itoe, boleh memboeat tikar oentoek bilik sendiri atau oentoek roemah tangga sendiri.

Kepandaian perempoean negeri Panyinggahan (XX kota) poen adalah poela tampak di testoonstelling itoe dengan ada jang bekerdja menganjam memboeat tikar pandan djoega, diberinja berboenga - boenga, berpetak - petak, seakan akan permadani,  baik benar oentoek pemoeliakan halat doedoek ganti permedani; sebab permadani lekas panasnja dan lagi baik poela ontoek lapik peran keganti lapik permadani dimoeka tempat tidoer, sebab entah jang mana bagoesnja dengan permadani Stamboel, sedang njonja bangsa Europapoen soeka poela membelinja, hingga njonja toean Lekeukerker inspecteur sekolahpoen membeli lapik Peninggahan itoe jang haloes boetannja dan berboenga - boenga dengan harga f3 sehalai lebarnja 75 c.M. pandjang 1,50 c.M.

Kepandaian perempoean negeri Soengajang adalah poela tampak di tentoonstelling itoe dengan ada jang bekerdja menganjam memboeat lapik berboenga - boenga poela seakan - akan lapik permadani, seperti kepandaian perempoean negeri Panjinggahan poela : melainkan bedanja, oleh perempoean negeri Panjinggahan pandan jang di nganjamnja dan oleh perempoen negeri Soengajang mansiang jang dinganjamnja, sedangkan boenga - boenganja ada jang bernama siamang bergajoet, betoel - betoel seperti siamang bergajoet.

Lapik Soengajang jang berboenga - boenga itoe, ada jang hitam boenganja, ada jang merah boenganja, dan ada jang hidjau boenganja seperti warna daoen kajoe, semoea warna itoe tjolok perempoean negeri Soengajang itoe sendiri; dan baik benar lapik itoe akan tempat doedoek pemoeliakan djamoean keganti lapik permadani, sajang pada masa ini lapik Soengajang jang berboenga - boenga itoe beloem lagi keloear kebandar jang ramai atau kenegeri lain akan djadi perniagaan dan soepaja boleh jadi pentarian jang tetap oleh perempoean sedang kepandaian bertenoenpoen ada poela di Soengajang itoe sajang ta' dimasoekkannja ke tentoontenstelling.

Negeri Soengajang itoe ialah negeri laras Boedi Tjaniago; oleh toean Westenenk dinamai "Parmato intan diatéh ameh, ikan bataloeh dalam batoe",  adalah poela negeri nan baitoe timbalannja di Lareh Koto Piliang.



Kepandaian perempoean Kota Baroe Simalanggang adalah poela nampak di tentoonstelling itoe dengan ada jang bekerdja sekali seorang perempoean moeda beroemoer 17 tahoen jang menoendjoekkan kepandaiannja di Pasar Ramadlan Padang 1909, menganjam memboeat kamboet - kamboet ketjil, di anjamnja dari pada sebangsa toemboehan Loi namanja.

Kamboet ketjil itoe baik oentoek perhiasan di gantoengkan dilampoe mendjadi perhiasan lampoe; dan boleh djadi perniagaan seperti perniagaan barang Jepang tetapi ta' boleh banjak, sebab ta' banjak lakoenja.

Kepandaian perempoean negeri Matoer, adalah poela nampak ditentoonstelling itoe dengan ada perempoen negeri itoe jang bekerdja menganjam memboeat tempat roko', diperboeatnja dari pada mansiang jang dibelah haloes dengan radjin. Tempat roko' boeatan Matoer itoe haloes dan bagoes, boleh bertanding dengan boeatan datang; patoet benar poela dimadjoekan kepandaian itoe atau diadakan sekolahnja sebab memboeat tempat roko' itoe boleh akan djadi perhadapan jang tetap oleh perempoean dalam roemah karena barang itoe boleh djadi perniagaan kemana - mana hingga ke Europa dan Amerika, poen kenanglah ratoes riboenja asia jang merokok akan mempergoenakan tempat roko'


(Hari Chamis 23 Januari 1913).

Jang akan tandingan haloes dan bagoesnja tempat roko' anjaman perempoean Matoer itoe, melainkan tempat roko' anjaman perempoean negeri Halaban ada poela bekerdja di tentoonstelling itoe, tetapi sebentar sadja sebab anaknja masih ketjil, sebentar - sebentar menangis.

Ragoe mata memandang, mana jang bagoes tempat roko' anjaman Matoer itoe dengan anjaman Halaban karena jang satoe dipandang elok jang satoe dipandang manis; sedang oléh perempoean Matoer ada sebangsa toemboeh - toemboehan bernama "Mansiang" jang dibelahnja haloes - haloes dengan radjin, dinganjam djadi tempat roko', olèh perempoean negeri Halaban. 

Lidi poetjoek enau jang dibelahnja haloes di raoetnja mipis, semipis kertas post jang haloes berkilat, demikianlah diraoetnja lidi poetjoek enau itoe dengan radjin dinganjamnja djadi tempat roko', hingga lidi poetjoek enau jang berbelah haloes itoe, kalau dinganjam djadi topi, boleh bertanding dengan topi Panama jang berharga f25 - f75 seboeah; karena topi Panama itoepoen dinganjam orang daripada sebangsa toemboeh - toemboehan poela, sedang roempoet saroetpoen kalau dinganjam djadi tempat roko' ataoe topi, entah bagimana poela bagoesnja apalagi kalau dibelah poela roempoet saroet itoe dengan radjin dan betah, akan lebih poela lagi haloes dan bagoesnja. 

Kepandaian orang negeri Sitoedjoeh adalah nampak di tentoonstelling itoe, jaitoe ketoekangan Imam Noerdin dalam hal memboeat barang blik (kangsa) dengan ketoekangannja mentjet haloes sebagai haloesnja tjét Djepang, lagi pandai poela memboeat boenga haloes dengan tjét diatas barang kangsa boeatannja itoe, hingga barang kangsa ketoekangan Imam Noerdin itoe boléh bertanding dengan barang Djepang dan Europa, baik tentangan bagoesnja, baik tentangan moerah harganja karena satoe tèkoh jang didjoeal oleh bangsa asing f1.50, olêh Imam Noerdin boléh didjoealnja f0.75 itoepoen kalau membeli banjak lagi ditoeroenkannja sampai f0.50 seboeah. Demikian ada beberapa tékoh kangsa perboeatan Imam Noerdin jang ada ditentoonstelling itoe, diantaranja ada jang baik poela oentoek tempat air tèh atau kopi dibawak moesafir menoempang kereta api atau djalan laoet, karena ada poela tersedia di toetoep tékoh itoe seboeah mangkok kangsa bertangkai, penanding mangkok kangsa barang datang. 

Barang kangsa boeatan Imam Noerdin kita orang Alam Minang Kabau itoe, oleh ketoekangannja, diperboeatnja melainkan dari pada kangsa minjak tanah sadja (soepaja blik berisi minjak tanah jang soedah dibeli oléh bangsa kita, boléh poela didjadikan barang kangsa oleh ketoekangan orang kita Alam Minang Kabau).

Tekoh kangsa ketoekangan anak Alam Minang Kabau itoe, sedianja akan hamba habiskan membelinja semoea akan didjadikan perniagaan dibandar Padang didjoeal di toco Orang Alam Minang Kabau dimoeka station Poelau Air, karena barang itoe boekan sadja bergoena oentoek satoe - satoe roemah tangga, tetapi amat bergoena poela tempat air téh atau kopi bagi orang moesafir menoempang kereta api atau berlajar. Akan tetapi tiadalah dapat oleh hamba membeli sekalian tekoh kangsa, ketoekangan kita orang Alam Minang Kabau itoe sebab ada beberapa lagi kita orang Alam Minang Kabau jang berarti hidoepnja maoe poela barang itoe, akan djadi tanda mata poelang dari Pakan Malam; ada membawa' barang boeatan Alam Minang Kabau; tandanja mempertinggi soemarak Goenoeng Merapi. Maka seboeah sadja djadi dapat oléh hamba membeli tèkoh moesafir itoe; oentoeng ada dapat lagi hamba membeli barang lain boeatan Alam Minang Kabau.


(Chamis 13 Februari 1913).

Kepandaian orang negeri Palembajan poen adalah poela di tentoonstelling itoe memperboeat lapik lawas dinganjamnja daripada "Bamban" berbelah haloes - haloes, jaitoe sebangsa toemboehan jang toemboehnja dirimba, boleh kiranja diperboeat djadi lapik pendjemoer dan boleh poela djadi lapik roemah tangga sebagai lapik rotan dan kalau banjak, bolehlah djadi perniagaan kemana - mana penambah keoentoengan anak boeah.

Sampai disini berhentilah kalam hamba merentjanakan kepandaian orang seboeah - seboleh negeri dan kemadjoeannja, karena hamba hendak mewartakan poela barang boeatan (producten) jang ditoendjoekkan di Pakan Malam itoe.

Jang teroetama ialah beras, karena beras itoelah jang djadi makanan petang pagi, oleh sekalian kita menoesia di Alam Minang Kabau ini hingga oléh ninik moejang kita dimoeliakan beras itoe diberi bernama "Silansari", adalah roeh didalamnja roeh nabati namanja.

Soenggoehpoen beras itoe sama derdjatnja, sama menganjangkan, tetapi adalah jang bernama beras "Medja", karena sangat disoekai oleh njonja dan toean bangsa Europa. Adalah nampak ditentoonstelling itoe ialah beras Air Tabit, poetihnja sebagai beras Siam tetapi lebih oetama dari pada beras Siam sebab beras Air Tabit itoe tidak menimboelkan penjakit béri-béri, kepada orang jang hari - hari memakannja.

Akan penambah beras itoe, oentoek peroet kita menoesia, maoelah ada poela sajoeran karena di sajoer-sajoeran itoe adalah sebangsa zat jang akan penambah darah dan pengoeatkan kita manoesia, poen adalah nampak serba djinis sajoer - sajoeran di Pakan Malam itoe. Semoea itoe tanaman dalam onderafdeeling Pajakoemboeh belaka, hingga boléh dikata onderafdeeling itoe adalah kaja poela oléh tanaman sajoer - sajoeran, ..begitoepoen adalah poela ditentoontstelling itoe bawang dan, ketoembar keloearan negeri Batoe Hampar, sajang beloem didjadikan perniagaan kenegeri lain, sedang bawang dan ketoembar itoe, boleh djadi perniagaan kenegeri lain. Kenanglah ketoembar jang didjoeal orang di kampoeng keling bandar Padang, dari negeri Keling datangnja, padahal ada kiranja ketoembar itoe di Batoe Hampar Pajakoemboeh, sedang cacao (tjoklat) poen kiranja ada poela di Pajakoembaeh dan ada poela dipertoendjoekan di Pakan Malam itoe..

Cacao itoe ditanam orang di Pajakoemboeh, di pagar, di belakang roemah, di roesoek roemah dan dimoeka roemah, moelanja di tahoen 1888 oléh adjakkan toean Simon jang masa itoe mendjadi griffier disana, sebab toean itoe amat soeka poela memadjoekan anak negeri kepada peroesahaän tanah hingga adalah keboen bibit jang di perboeat oleh toean itoe di Pajakoemboeh, akan tempat anak negeri meminta bibit. Demikianlah tampang cacao itoe dipesan oleh toean itoe kekeboen ankoe Radja Mangkoeta di Siban; dibagi - bagi kepada toeankoe laras, itoelah jang kembang pada masa ini dan adalah mendjadi keping poela oleh anak boeah, tiap berboeah, dibeli boeahnja oleh orang tjina f1 sekeping.  Sebab anak negeri beloem tahoe memperniagakannja atau mendjadikannja seboek maka selaloelah djatoeh harga boeah cacao itoe di Pajakoemboeh. Moedah - moedahan pandailah nanti anak negeri memboeat seboek cacao itoe dan memboeat Koewe koewenja.

Di Pakan Malam itue adalah poela ditoendjoekan Bagaimana anak negeri Sarilamak memboeat gambir (gambir jang ta' bertjampoer), sajang anak negeri di Pajakoemboeh beloem pergi membawa gambir itoe ke Djawa atau mengirim gambir itoe kepada saudagar bangsa anak negeri di Tanah Djawa sedang jang memakai gambir itoe di Tanah Djawa melainkan bangsa anak negeri djoega..

TAMAT 

Pemimpin S. M - D. S. MAHARADJA.

*** 


Laporan :

* Hari Sabtoe 4 Januari 1913)

- "Pendapatan komidi gambar hidoep". Pendapatan komidi gambar hidoep selama Pakan Malam Pajakoemboeh chabarnja lebih f4000 sebab dimainkannja siang malam, sedang djoemlahnja orang jang masoek Pakan Malam itoe dalam 9 hari 9 malam, ada sedjoemlah 184104 (seratoes selapan poeloeh empat riboe seratoes empat orang).

Di Pasar Malam Padang Pandjang tentoelah nanti akan lebih banjak poela dari itoe, sebab dari tiga simpang djalannja kereta api orang akan datang (dari Padang, Priaman, Boekit Tinggi dan Pajakoemboeh, Sawah Loento, Solok dan Batoe Sangkar)

- "Pendapatan komidi orang".

Selama Pakan Malam Pajakoemboeh, chabarnja ada lebih f1600 bersih pendapatan komidi orang. Tooneel vereeniging "Torpedo" dikota ini chabarnja nanti akan toeroet poela menawar lélang tempat bermain komidi di Pasar Malam Padang Pandjang soepaja orang boleh lihat poela bagoes bagoes pekakasnja dan pandai pandainjá bermain anak komidienja.

Poen komidi di Solok dan komidi di Sawah Loento, barangkali akan toeroet poela menawar lélang itoe, begitoepoen komidi jang main di Pakan Malam Pajakoemboeh baharoe ini.

- "Kepoetoesan lotterij takok taki Pakan Malam Pajakoemboeh".

Oléh bestuur telah diperiksa pada 2 Januari 1913, oeang nan satoe - satoe cent djoemlah nan sebenarnja f 1841.04 (seriboe selapan ratoes empat poeloeh satoe roepiah empat cent) : 

- prijs ke satoe Soetan Pamoentjak kongsi Pajakoemboeh takoknja f1841 

- prijs kedoea Njo Tjoei enco takoknja f 1841.19'

- prijs nan ketiga Idem f 1840. 69. 

- prijs nan ke empat Panghoeloe kepala kongsi 7 takoknja f 1841. 45. 

- prijs nan ke lima Ahmad Siat djoeroelis bank Pajakoemboeh f1840. 50.

Nan sarandahnja takok ialah takok Saan glr. Soetan Simoelia, goeroe sekolah Halaban (Pajakoemboeh). Takok baliau djoemlah pitih nan satoe - satoe cent hanja f100 (seratoes roepiah) sadja. Nan setinggi takok si Osman glr. Datoe Maharadja goeroe Limbanang (Pajakoemboeh), beliau takok oeang nan satoe - satoe cent akan dapat f10865.43. (sepoeloeh riboe lapan ratoes enam poeloeh lima roepiah, empat poeloeh tiga cent).. 

Nan marasa datanglah dalam 5 hari ini !


(Hari Chamis 23 Januari 1913).

- "Paedahnja Pakan Malam di PAJAKOEMBOEH"

Sebeloemnja hamba meoeraikan boeah pikiran hamba, jang terasa dihati terkalang dimata, lebih dahoeloe hamba memintak ma'af kepada segala aripin djohari pembatja Soenting Melajoe ini dan kehadapan kedoea padoeka Kakanda Redacterices Soenting Melajoe jang mengemoedikan dengan djalan nan loeroes. 

Berharaplah hamba atas karangan hamba jang tidak sepertinja ini, mana jang salah titik komanja dan djanggal soesoen perkataan harap hamba akan diobah, karena hamba beloem lagi biasa karang mengarang melainkan baroe sekali inilah hamba memberanikan hati masoek ketaman Soenting ini, meoeraikan boeah pikiran hamba dan lagi hendak bertjangkarama dengan sekalian saoedarakoe dan kakanda hamba jang selaloe membajankan boeah pikirannja. Disinilah hamba hendak meoeraikan kepala karangan hamba jaitu "Paédahnja Pakan Malam di Pajokoemboeh".

Sebeloemnja Pakan Malam di Pajokoemboeh diadakan, beloemlah bangsakoe perempoean ditanah airkoe Pajokoemboeh jang bergerak hendak meniroe jang dilazimkan perempoean masa sekarang seperti bertenoen, merenda dan menerawang, laksana orang Soelit Air, Siloengkang dan lain negeri jang soedah terdiri sekolah tenoen jang gemar akan nama kemadjoean.

Tetapi masa sekarang, sehabisnja Pakan malam itoe, banjaklah kawan sedjawatkoe di Pajokoemboeh jang soedah bermaksoed dan berichtiar hendak masoek kesekolah jang dimadjoekan orang perempoean seperti sekolah tenoen jang hamba seboetkan diatas.

Tetapi sajang seriboe kali sajang, ditempat kediaman hamba di Kota nan Gedang, beloem ada sekolah jang madjoe masa sekarang seperti tenoenan Soelit Air, Siloengkang, jang boleh diperboeat menoeroet zaman kemadjoean jang dikatakan masa sekarang abad jang ka XX. Hanjalah ditempat kediaman hamba di Kota nan Gedang masih sekolah tenoen boeatan jang lama djoega. Pada pikiran hamba tenoenan matjam lama itoe tentoe tidak akan berapa mendatangkan hasil, (pelawan boeatan datang).

Sebabnja hamba berkata demikian adalah karena tenoenan matjam lama itoe koerang disoekai orang masa sekarang, hanjalah jang menjoekai anak negeri Kota nan Gedang sadja, sedang dibawa ke negeri lain di Alam Minang Kabau ini djoega, tidak berapa disoekai orang, apalagi oleh bangsa Eropah. Djikalau hamba perhatikan benar tenoenan matjam lama itoe, dengan tenoenan matjam sekarang, sangatlah beratnja mengerdjakan tenoenan matjam lama itoe dan mendatangkan hasil tidak seberapa.

Oleh karena sekolah tenoen matjam baroe itoe beloem terdiri ditempat kediaman hamba, berharaplah hamba kehadapan jang moelia ankoe Soetan Pamoentjak Penghoeloe Kepala Kota nan Gedang, jang gemar akan zaman kemadjoean, jaitoe abad jang ke XX, akan mendirikan sekolah tenoen jang telah terwas-was djoega dihati beliau, poen beliau soedah djoega mengeloearkan bitjara akan meadakan sekolah tenoen itoe, jang dipidatokan beliau kepada penghoeloe dan anak boeah negeri Kota nan Gedang waktoe mendirikan sekolah desa di Moeara Kota nan Gedang.

Chabarnja anak perampoean dari Kota nan Empat kakanda Siti Roesilah agent Soenting Melajoe ini dan Djoesa anak toeankoe laras Sitoedjoeh ada lagi tiga orang kawannja soedah masoek sekolah tenoen itoe. Kepada Djoeragan isteri Datoek Padoeko Alam Kota nan Empat, moedah - moedahan berharaplah hamba akan lekas hendaknja paham dalam peladjaran itoe, soepaja nanti boleh mengembangkan kepandaian beliau itoe ditanah airkoe di Pajokoembueh dan lekas poelalah terdiri sekolah tenoen ítoe ditempat kediaman hamba di Kota nan Gedang.

Sehingga inilah dahoeloe, djikalau mana jang salah, haraplah hamba kakanda Redacterices akan meobah serta segala pembatja Soenting ini akan mema'afkan hamba jang bodoh bebal ini.

DARAMA, moerid sekolah Pajakoemboeh (langganan no. 3). Pajokoemboeh..... Januari 1913.

*marjafri - Founder Komunitas Anak Nagari



Jumat, 06 Oktober 2023

Seruan Rohana Koedoes Kepada Kaum Perempuan

 


"Gerakkan Kesoekaän Perempoean Di Zaman Ini

SM, Djuma'at 4 Juli 1913


Kalau dilihat dan di perhatikan beberapa orang jang pintar atau orang jang beloem terpeladjar betoel, seperti orang Europa, orang Djawa, Melajoe, Papoea atau orang hoeloean sekalipoen, tiadalah selaloe hari siang dan malam bekerdja mentjari penghideepan sadja, akan tetapi terkadang sesoedah bekerdja pergilah ia melepaskan lelahnja waktoe perhentian itoe; kebanjakkan ada poela jang disertai dengan beberapa goerau dan pekerajaan lain jang meriangkan hatinja; dinamai kepelzieran artinja kesoekaan.

Misalnja bagi setengah bangsa Europa, pergilah ia ke sociteit main bola dan lain lain, setengahnja pergi main tenis dan ada poela tempo yang pergi berboeroe, tentoelah menoeroet keadaan atau keramaian negeri kebiasaan dan kesoekaan masing2 djoea. Begitoe djoea pada bangsa kita Melajoe, bermatjam poela kesoekaan kita; misalnja oleh orang laki main hamboeng, sepak rago, main lajang, bersoeling berseroenai, berabab berkoetjapi, basile' bamantja' dengan bermatjam tari, main piring, mantja' pedang, tari séwai, mehadoe balam, berkatitiran dan lain2. Pada kita perempoean batjètje bamomongan, bahagoeng ba talempong baharmonika dan lain."

Selainnja dengan boenian lagoe dan njanji, kepelezieran kita perempoean boleh dikata, selama ini masih koerang benar jang menoedjoe djalan keselamatan, meingat diri yang akan memberi faidah atau kesihatan badan; kalau saja ta' salah teroetama hanjalah barale'k memakai dan berpakaian jang indah serta dengan, beberapa mas dan intan, itoelah sadja kebanjakkan kesoekaan kita perempoean; hingga berniat berkaoellah kita moedah-moedahan nini' mama' sana' saudara kita jang laki dapat kekajaan, akan pembeli barang jang indah emas dan intan jang terseboet, dan boekanlah diniatkan oentoe' pembéla bangsa dan tanah air.

Djadi orang kita melakoekan kesoekaan itoe dengan perkakas perhiasan, ada poela dengan perkataan kelakoean d.l.l. menoeroet hati haloean kemaoean dan maksoed hidoep djoea, ada jang bersamaan dan banjak poela jang berlainan, aga'nja menoeroet keadaan hidoep poela, misalnja: seorang pesawah atau peladang kesoekaannja memangkoer atau membadja', measah pangkoer dan badjaknja; melihat apabila padinja soedah beroemboet atau katjangnja soedah moelai berisi memoepoe' mehoelangi dan menjiangi tinamannja, itoelah kepelezieran baginja.

Tjerita orang laoet, setengah pendajoeng sampan atau penangkap ikan, berdajoeng waktoe hari badai kena angin riboet hoedjan rinti's itoelah kesoekaan baginja.

Kesoekaan seorang bachil lain poela matjamnja: si bachil itoe selaloe hari memikirkan bagimana harta bendanja baik harta apa sekalipoen, djangan hendaknja barang kepoenjaannja itoe didapat orang lain walaupoen harta benda jang ta' berfaidah baginja atau jang ta' berharga sekalipoen; begitoe djoega kalau ia mempoenjai oeang, oeang itoe selaloe hari disimpannja didalam peti, pergilah ia mehetong-hetong djangan hendaknja oeang simpanannja itoe oesa', walau oentoe' pembeli makan makanan jang bergoena atau pakaian dan perhiasan jang akan pemboengakan hatinja, padalah baginja berpakaian kedar oentoe" penoetoep badannja sadja sedang makan-makanan kedar pehilangkan lapar dahaganja sadja-; meskipoen ia berkatjinan memakan makanan jang aga' lazat dan pakaian jang aga' indah sedikit pada pemandangan mata, di lawaninjalah nafsoenja dikatakannja pekerjaan itoe sia2, takasier, malah meroegi2 kan sadja.

Demikianlah poela kesoekaan orang jang soeka memadjoekan bangsanja, nan sajang pada tanah airnja, selaloe hari doedoe' meichtiarkan ba' mana hendaknja soepaja bertambah keoentoengan atau perlabaan bangsanja dan soepaja terlepas dari pada bahaja kemiskinan dan kepapaan, dan lagi soepaja bangsanja moelia di mata bangsa asing.

Orang jang berhaloean demikian tiadalah diperdoelikannja djarih pajahnja; baik dengan oeang, baik dengan keseksaan djiwanja; hanjalah siang ma-lam beramai ia agar maksoed dan niat hatinja lekas sampai-, Besar hatinja melihat dan mendengar bangsanja bertambah keoentoengan dan moelia dipandang orang, meskipoen djarih pajahnja ta' akan dibalas orang dengan oeang dan lain": karena kata dalam hatinja, haloeanaja adalah di toeroet orang, itoelah oepah jang berharga baginja; demikianlah poela kebalikannja orang kaoem kibir", jang djadi kesoekaan olehnja mehambat kemadjoean bangsanya.

Dan ada poela orang jang hanja tjinta akan bangsa dan tanah air"; kesoekaanja menggahkan diri" (?) henda' naik tangga sekali melangkah doea atau tiga anak djandjang dan hendak memboeat kapal terbang di Alam Minang Kabau akan mendjadi tontonan bahwa A. M. K, soedah beransoer bergera' menoedjoe tingkap kemadjoean jang diperlombakan oleh beberapa bangsa di zaman ini: sampai disini saja kelokkanlah pena saja kepada kesoekaan perhiasan pakajan:

Kalau ditili' dan diperhatikan bagimana dan betapa bangsa Europa memakai pakajan tentangan perhiasan emas dan intan, soenggoehlah amat bagoes dan sedarhana bagi pemandangan beberapa diantara kita bangsa Melajoe nan telah ke Olanda oelandaan; bila di perhatikan prijs, 'courant, dari tahoen ketahoen ta' poeas2nja nafsoe kesoekaan bangsa Europa itoe toekar menoekar model dan goenting bantoe' tampan pakajanja. 

Begitoe djoega bagi bangsakoe Melajoe, dari tahoen ketahoen bertambah tambah djoea banja'nja bilangan orang jang menjoekai menjeroepai langgam pakajan tjara Europa itoe.

Dibandar jang rami didekat kantoor di iboe negeri atau dinegeri jang telah mempoenjai sekolah, banja'lah garan jang telah menoekar kesoekaan perhiasan pakajan itoe; hal ini kebanja'kan samangkin bertambah kekajaan bangsakoe, samingkin lebih soekalah merika itoe hendak meniroe perhiasan langgam tjara Europa; poen adalah bertambah bagoes dan manis poela bagi pemandangan kebanja'kan kita jang telah menjoekai. Ada poela beberapa diantara kita jang sajang pada perhiasan bangsa dan tanah air, hingga memperkokoh mempertahankan dan memoeliakän langgam pakajan lama itoe; kasihan hiba hati mereka itoe, sama sekali akan dipoeter haloean perhiasan itoe oleh kaoem jang menjoekai menjeroepai langgam pakajan tjara Europa tadi; karena adalah poela seolah kesoekaan bagi mereka itoe senang hatinja merasai melihat dan mentjamini dadanja terhias dengan beberapa perhiasan emas dan intan grenteng penteng dan lengannja terlingkar dengan beberapa boeah mardjau dan gelang emas jang bertatahkan delima dan intan berliant.

Sekarang soedah njatalah bagi kita bahwa segala manoesia di moeka boemi ini, tiadalah sama hal kesoekaännja jang menjenangkan hatinja, sebagai jang telah hamba rawikan diatas tadi. Djadi kalau dipikir dan dihetongkan njatalah segala orang dimoeka boemi ini amat soesah akan ditari' kesamaan kesoekaanja kalau segala yang, baik laki baik perampoean beloem sama kepandaiannja, perasaannja, penghidoepannja, petjampoeran hidoepnja, (omgang) kekajaannja, tempat tinggalnja dan lain2.

Karena kata setengah begini kata setengah begitoe jang baik, jang lain poela berkata seroepa ini jang bagoes.

Ingatlah, meskipoen si bachil itoe kesoekaannja seakan meaniaja dirinja dan setengah sipengisap tjandoe itoe selaloe hari mendapat kaseksaan toeboehnja mehisap ditempat jang kelam dengan kotornja, samalah kesenangan hatinja dengan jang dirasai oleh seorang milionair jang setiap hari pelezier dan bersoeka soekaan di roemah besar atau diistana jang di hampari permadani dengan memakan pelbagai makanan jang lezat.

Sepandjang pikiran saja, tiadalah akan dapat kesamaan kesoekaan itoe, hanjalah berharab kita kepada sekalian bangsakoe perempoean di beberapa negeri nan soeka memikirkan kemoelaratan dan kesengsaraan bangsa kita, akan tegoeh2 memegang padoman beroesaha meangkat bangsa kita dari lembah kerendahan dengan hati jang tetap, baik dengan djerih pajah atau dengan roegi, soepaja kemanoesiaan bangsa kita di pandang orang; apalagi bekal menantang moesoeh jang kesoekaanja mehambat kemadjoean jang baik.

ROEHANA.

Kota Gedang (Red: Soenting Melajoe)

Kedoedoekan Perempoean Dalam Perkawinan Di Indonesia Oleh Mr. Maria Ulfah Santoso

 


* Al Moe'min , 24 December 1939

Pada boelan Juni 1937 pemerentah mengeloearkan soeatoe ordonnantie perkawinan tertjatat dengan permintaan rakjat, bagaimanakah sikap kita terhadap ordonnantie itoe. Maksoed ordonnantie jalah memberi perlindoengan dan ketetapan (zekerheid) kepada perempoean Indonesia dalam perkawinan.

Meskipoen ordonnantie itoe ditarik kembali, itoe boeat kita tidak berarti, bahwa kaoem perempoean Indonesia, soedah merasa poeas dengan kedoedoekan kita dalam masjarakat sekarang ini. Kerena itoe kita tidak tinggal diam, tetapi sebaliknja.

Agar soepaja maksoed kita lekas tertjapai, kita haroes memberi perlindoengan dengan sepenoch-penoehnja dan ketetapan pada perempoean Indonesia dalam perkawinannja. Di Djakarta oleh beberapa kaoem iboe dibentoek seboeah comite Perlindoengan Kaoem Perempoean dan Anak-anak Indonesia (K.P.K.P.A.I.) jang bermaksoed mendjalankan penjelidikan perkawinan dimasjarakat Indonesia, memberi penerangan tentang hak-hak perempoean Indonesia dalam perkawinan, memberi pertolongan kepada perempoean-perempoean kita jang mendapat kesoesahan, soepaja mereka diberi nafkah oleh bekas soeaminja, soepaja anak-anak diberi penghidoepan dari ajahnja dan soepaja kita memboeat rentjana peratoeran perkawinan, dimana perempoean Indonesia dapat penoeh perlindoengan. Dengan adanja conferentie boelan Juli 1939 di Mataram nama K.P.K.P.A.I. dirobah mendjadi Badan Perlindoengan Perempoean Indonesia dalam Perkawinan" (B. P. P. I. P.). Ditetapkan poela pada tiap-tiap tjabang didirikan Consultatie-bureau perkawinan jang bermaksoed memberi pertolongan dan nasehat kepada perempoean-perempoean kita jang berada kesoesahan dengan perkawinannja. B.P.P.I.P. mempoenjai Studiecommissie oentoek mempeladjari semoea hoekoem-hoekoem perkawinan, soepaja dapat memboeat rentjana peratoeran per- kawinan.

Bureau itoe didirikan, karena banjak perempoean bangsa kita jang ditjerai oleh soeaminja tidak dengan alasan, tidak diberi nafkah dan anak-anaknja hidoep terlantar. Pendirian bureau itoe soedah ada hasilnja. Banjak kaoem iboe jang soedah tertolong olehnja.

Kita semoeanja mengetahoei, perkawinan di Indonesia oemoemnja disjahkan menoeroet Agama Islam. Meskipoen didalam Agama Islam telah ditegaskan, bagaimanakah perkawinan itoe dipetjahkan dan apakah hak-haknja perempoeanan koeadjiban laki², tetapi didalam praktyknja amat menjedihkan. Ini boekan omong kosong kerena dengan pendirian bureau itoe, dapatla kita mengoempoelkan boekti-boekti betapa rendahnja kedoedoekan perempoean dalam praktijknja. Sering benar thalak didjatoehkan tidak dengan alasan sedikitpoen, meskipoen kitab Koerän soetji menerangkan, bahwa lelaki tidak boleh mempergoenakan thalak dengan semaoe-maoenja sendiri. Dengarlah apa jang disabdakan oleh K.N. Moehammad s.a.w.: 

,Beloem pernah Toehan mengidinkan sesoeatoe jang menjedihkan, ketjoeali pertjeraian dalam perkawinan."

Menoeroet perkataan tsb. ternjata, bahwa thalak atau pertjeraian itoe hanja dapat dilakoekan, bilamana ada alasan- alasan jang njata dan soenggoeh. Poela diterangkan, bahwa perkawinan dapat diboebarkan, hanja apabila segala daja- oepaja oentoek memperdamaikan itoe gagal.

Pertjeralan jang demikian itoe tidak hanja dilakoekan oleh kaoem lelaki dari rakjat djelata, djoega kaoem bangsawan dan para ambtenaar-ambtenaar (intelectueelen) jang menjia-njiakan sang isteri dan menjteraikannja dengan tidak ada alasan.

Hak perempoean dalam perkawinan memang sangat rendah dan sempit dalam praktijknja. Kerena itoe tidak dapat dibela dengan leloeasa dan seadil-adilnja. Poen dalam pengalaman, Raad Agama dan Penghoeloe masih berdiri dibelakang kaoem lelaki. Kebanjakan kaoem penghoeloe memboeat soerat thalak dengan tidak ada alasan-alasannja, poen boleh tidaknja. Djika seorang soeami datang hendak mentjeraikan isterinja, penghoeloe teroes bikin soerat thalaknja dengan tidak menjelidiki terlebih dahoeloe. Hal ini soenggoeh tidak adil.

Perboeatan penghoeloe jang demikian itoe tidak mengherankan, karena bila mereka memboeat soerat thalak, tentoe mendapat bajaran. Dari itoe pemerentah haroes merobah keadaan jang demikian itoe dengan memberi gadji tetap kepadanja.

Disebabkan kedoedoekan kaoem perempoean dalam perkawinan masih rendah, maka hendaknja maoe kawin, kita adakan talik, jalah perdjandjian-perdjandjian, dari mana tjerai tergantoengnja. Orang lelaki jang bernikah menerangkan, bahwa ia tidak memberi nafkah isteri jang ditjeraikannja. Apabila isteri dianiaja atau diroesak miliknja. Meninggalkan isterinja didarat sampai 7 boelan atau setahoen dilaoetan. Talik ini baroe berlakoe sjah, bilamana sang isteri tidak terima, poela bila dapat diboektikannja. Bila sang isteri mengadoekannja kepada penghoeloe, maka dinamakan napaq.

Meskipoen talik ini agak baik, tetapi sebab kaoem lelaki mempergoenakannja dengan tiada alasan, maka kedoedoekan kaoem kita kaoem perempoean Indonesia masih tetap rendah. Dari sebab itoe kita bersama-sama berdaja-oepaja memperbaiki keboeroekan itoe, soepaja mendapat perobahan jang sempoerna, oempamanja:

1. Soepaja thalak djangan didjatoehkan sewenang-wenang.

2. Soepaja talik (perdjandjian nikah) diperloeaskan.

3. Soepaja roedjoeq, jalah tarik kembali thalak ta' dapat didjalankan dengan paksaan, djadi pabila perempoean ta' maoe, tidak dapat.

4. Soepaja noesjoes hanja terdjadi, djika perempoean lari dengan tidak pakai alasan.

5. Soepaja perempoean jang ditjerai tidak dengan alasan dan tidak dapat bekerdja, diberi onderstand oleh soeaminja (bekas).

6. Soepaja anak-anak jang ikoet iboenja jang ditjerai tidak terlantar hidoepnja. 

7. Soepaja gana-gini dibagi dengan adil, bila perkawinan ditjeraikan. 

Dengan toelisan ini moga-moga deradjat kaoem perempoean Indonesia dan persamaan hak antara kaoem lelaki dan kaoem perempoean lekas tertjapai.

Catatan : 

Mr. Hj. Raden Ayu Maria Ulfah atau Maria Ulfah Santoso atau Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo (18 Agustus 1911 – 15 April 1988) atau dahulu dikenal sebagai Maria Ulfah Santoso adalah salah satu mantan Menteri Sosial pada Kabinet Sjahrir II. Nama Santoso diambil dari nama suami pertama dan nama Soebadio Sastrosatomo diambil dari nama suami kedua setelah suami pertama meninggal dunia.

Ia adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum, memangku jabatan menteri dan anggota Dewan Pertimbangan Agung. Ia memulai kariernya sebagai tenaga honorer bagian perundang-undangan Kabupaten Cirebon. Ia juga menjadi guru AMS Muhammadiyah Jakarta pada tahun 1943.

Selama pendudukan Jepang ia bekerja di Departemen Kehakiman, kemudian pindah ke Departemen Luar Negeri. Pada tahun 1946, setahus setelah Deklarasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Subadio diangkat menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir. Pada tahun 1946-1947, ia menjabat sebagai sekretaris Perdana Menteri/Dewan Menteri di Jakarta. Pada tahun 1950-1961, Subadio menjadi ketua Panitia Sensor Film di Jakarta.

Selain jabatan tetapnya itu, ia aktif dalam mengikuti kongres-kongres yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada tahun 1968, ia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Untuk jasa-jasanya, Maria Ulfah Subadio dianugerahi penghargaan Satya Lencana Karya Satya Tingkat II pada tahun 1961; Bintang Maha Putera Utama (1973).

Kaba Sutan Manangkérang (Bag.12)



Barauari Soetan Nasoeha, naie' kumbali inyo kalancang, dibongka sauah, balaie pulo. Dè' lamo lambè' di jalan, kian lamo basarang dake', ko' dake hampie lah tibŏ, tibo di Ula' Tandjoeang Médan. Baru inyo tibo disanan, basuolah ayah dangan bundo, io tuanku Radjo Tuo, io poeti Lindoeang Boelan. 

Bakato ayah jo bundo, tagala' sambiě manangih : 

"Sikujua di Batang Kapèh, 

kambanglah bungo parauitan; 

lé mujua kami malapèh, 

pulang kumbali kapaui'tan" 


Namun sahari-hari nantun, diguguăh tabuah nan larangan, bakurulieng urang samöhönyo. Barauari garan disanan, dipòtong kabau ampè' limo, minta' doa salamat hanyólai. Dè' lamo lambè' nan ba' kian, bakato poeti Andam Déwi : 'Lah lamo kito disiko, manölah guru Boengo Kapèh, mangapo inyo ta' kamari, pai joh kau Kambang Manih, bajalan joh kau kini-kini, japui ka' guru Boengo Kapèh, japui' tabao inyo sakali" 

Barauari si Kambang sanan bajalan inyo hanyolai, ka mudie' ka Kötö Tuo, mahimbau poeti Boengo Kapèh. Baru sampai inyo kasanan, lalu naie' kaatèh rumah, batanyö poeti Boengo Kapèh : "Alahmoh datang kau Kambang, kami na' barang ditanyõkan; iölah pulang mandé acie' kau ? Barito sajo nan didanga, antah io antah tido" 

Manjawab si Kambang sanan : "Io bana barito nantun, lah lamo baliau pulang; kini hambo kanai suruăh, mahimbau mandé acie' handa'lah datang kini juo. 

Lah lamo tida' karimbo, 

pandan babuah lah ko kini 

lah lamo inda' basuo, 

róman barubah lah ko kini ! 

Ba'itu katonyo tadi" 


Mandjawab poeti Boengo Kapèh : "Ko itu nan kau katökan, dangakan pantun jo ibarat

Lah rumi' den kakatalang, 

talang atèh pandakian 

lah rumi' dèn kamanjalang, 

jalan bahambè' jo kulindan" 

nankan katonyo Boengo Kapèh. 

Kambang babalie lah kau pulang"


Barauari si Kambang sanan, babalie' pulang hanyolai, pulang ka Ula' Tandjoeang Médan. De' lamo lambe' di jalan, lah sampai inyo di rumah, batanyo poeti Andam Déwi : "Mano kau Kambang, O na' kanduang ! Lai tabao nan dijapui' ?" 

Manjawab pulonyo si Kambang : "Manolah mandé acie' hambo ! dangakan na' den katökan : "nan dijapui' ta' tabao; bakato inyo dihambo, bakato sambie jo ibarat : Roemi' dèn kakatalang, talang diatèh pandakian; rumi' kini kamanjalang, jalan bahambè' jo kulindan. Itu nan kato Boengo Kapèh; pikieri di mandé acie'.

Barauari poeti Andam Déwi, bakato inyö disanan : "Mano di ana' dayang-dayang ! mari kalian samöhönyö, kito bajalan kini juo, karumah poeti Boengo Kapèh, lah lamo tida' basuo." 

Barauari poeti Andam Déwi bajalan turun kahalaman, hiliekan labuah nan panjang. De' lamo lambè' di jalan, hampiě kasampai hanyolai. Lórong de' poeti Boengo Kapèh, manampa' Andam Déwi datang, tasambua darah di dado, disangko diri dibunuahnyo. 

Turun bajalan haunyolai, manurui' jalan ka tapian, larinyo lari-lari anjieng, manyurua'-nyuruă': masua' timbo mahiliakan aie nan gadang, sampai kalubua' di Cimantuăng, sampai ka Ula' Pantai Camin. Hilanglah poeti Boengo Kapèh; mati ditangko' rang boenian !


Pinang kale' didalam lurah 

Ure'nyo sampai masua' kabun 

Kalam patah, dawat tatimpah 

Karatèh manyambah minta ampun !


Rami galanggang di Singkuang, 

Tampe' bajua bali suto 

Ta kasah baragó' lai 

Kato putuih hakim lah hilang 

Api padam puntuanglah hanyui'

Ta buliah diulang lai ! 


Kaba Manangkérang tamatlah soedah

Nan banamo si Gairoellah

Ana tuanku Radjo Tuo

Poeti Lindoeang Boelan namonyo bundo.


Tandjoeăng Médan namo nagari

Wakatoe ini tiadölah lagi

Talah mandjadi halalang tinggi

Antaro Solò' dangan Sumani.


Hambo danga barito urang

Parumahan jo lasuăng ado sakarang

Bakèhnyo mandi balunlah hilang

Hanjo manjadi rimbo nan gadang.


Sungai banamo sungai Sumani

Disitulah sumua tampè'nyo mandi

Hanyui'lah mundam si Andam Déwi

Itu mambao' badannyo mati.


Lubua' Bunta urang namokan

Disinanlah inyo disèmba ikan

Dibaonyo lari sampai kalaui'tan

Hinggo tapasah kapulau Sétan.


Laui' Baharullah disabui'kannyo

Danau Singkara' pado sangkōnyo

Di sungai Sumani hanyui' mundamnyo

Dake' Saniengbaka ado muaronyo.


Pulau Sétan nan tasabui itu

Dake' Panyinggahan sudahlah tantu

Pulaunyo kètè' karang dan batu

Balun panah hambo kasitu.


Sabagai pulö hambo kabakan,

Takalo Andam Déwi disèmba ikan

Hidui' kumbali di pulau Sétan

Datang garudo nan malarikan.


Dibao'nyo tabang ka Bahiram Déwa

Poeti Taroeih Mato mamaliarönyo

Hinggo bakawin dangan sudaronyo

Dapatlah ana' Soetan Nasoeha.


Bahiram Déwa namo dahulunyo

Batipuah namo sakarangnyo

Dimano kampuang si Taroeih Mato

Kurang tarangnyo pado hambo.


Tamat ...

Sumber : 

Bijdragen tot de taal, land en volkenkunde van Nederlandsch Indie 1885 (Nijhoff, 01-01-1885)

*marjafri - founder komunitas anak nagari Sawahlunto


Kaba Sutan Manangkérang (Bag.11)

 


Kaba barito nan tadanga, inyo kakawin hanyolai, kawin jo rajö Sonsong Haroeih, mamancang galanggang inyo kini. Mandanga kato nan ba'kian, mupakat Soetan Manangkérang, io jo rajo Kalamkaboei, inyo na' pai kasanan, kagalanggang rajö Sonsong Haroeih. 

Bakato Soetan Manangkérang : "Manolah datua' urang pangaie ! carikan kami andalan, carikan ayam aga' sikua, kami na' pai kagalanggang, galanggang rajo Sonsong Haroeih; lórong ayam nan datua' cari, usah ayam nan batuah, nan kahalah akan di cari." 

Lórong de tuo pangaie, lah dape' ayam saikua, ayam nan kuyu patah kaki. Barauari Soetan Manangkérang, alah dapè' nan dicari, bajalan inyo batigo, kagalanggang rajo Sonsong Haroeih.

Dè' lamo lambe' di jalan, alah sampai inyo kasanan, kagalanggang Sonsong Haroeih. Namun de' Soetan Nasoeha, lah naie' inyo kagalanggang, héranlah urang samohonyo : Urang dimanökölah ikö ?" Barauari garan disanan, lah tibo rajo Sonsong Haroeih, lah naie' inyo kagalanggang, bakato inyo disanan: "Mano juaro samohonyo, apo sabab balun bapadan, satinggi nangkõlah hari ?" 

Namun de' Soetan Nasoeha, bakatö inyo disanan : "Manolah datua' rajo siko ! kamilah lamo dè' mananti, urang ta' bapadan juo, kini ba'itulah dè' rajo, kito bapadan kini-kini, kito manyabuang aga' salapèh" nan kan katonyo Soetan Nasoeha. Barauari rajo Sonsong Haroeih, mandanga kato nan ba' kian, lah bérang inyo disanan, gumanta sagalo sandi: lah lamo galanggang den rami, balun surang nan ba' nangko, balun surang nan malawan den".

Salamo lambè nan ba' kian, dikaca' ayam sikuǎ surang, bakato Soetan Nasoeha : "Manölah rajo Sonsong Haroeih, bakato sambie baibarat : Kayu urang kayi candano, kayu babat manangah rimbo: usah bérang hambo batanyo, ba' apo adat sabuang siko, hambo kamari sakaliko" 

Bakato rajo Sonsong Haroeih :"ko' itu nan ang tanyokan, habih gawa de' karilaan, habih cupa' de' palilisan; adat kami di galanggangkö, lari kalah, matipun kalah: pantang maharie' di galanggang ! Ba'itoe adat kami siko."

Barauari garan disanan, dibulang ajam sikuă surang; lah sudah ayam tabulang, taruah batampin hanyölai. Dè' lamo lambè' nan ba' kian, namun de' rajo Sonsong Haroeih, diambie'nyo makanan ayam, dibari makan ayam sabanta. 

Bakato Soetan Nasoeha : "Manolah datua' rajo siko ! kami lah lupo katinggalan, kami nan datang dari jauah, makanan ayam ta' babao, kini ba'itulah de' datua', bari padi hambo sadiki'. 

Manjawab rajo Sonsong Haroeih : "ko itu nan diminta', tida' bapadi kami siko, kò' datua' na' padi juo, pailah karumah hambo, minta'lah di urang di rumah, sanan padi nan banya', na' kami nanti disikö" 

Barauari Soetan Nasoeha, balari inyo kakampuăng, kampuăng rajo Sonsong Haroeih. Baru tibo inyo disanan, alah tampa' bundo kanduangnyö, iolah poeti Andam Déwi, takuruăng dalam karando. Manangih Soetan Nasoeha, malihè' rupo damikian : "Manölah mandé kanduang hambo ! hambo datang kamari nangko, sarato dangan ayah kanduăng: baliau mananti di muaro, sarato dangan mama Gairoellah; den lah pai kagalanggang, galanggang rajo Sonsong Haroeih; alah bapadan kami tadi; kamanyabuăng moh hanyolai, kò' sabuăng sakali nangko, bukan sabuang mancari amèh, sabuang hambo mahadang tingkah, sabuăng mancari gaduah sajo. Kini ba'itulah de' mandé, cubo katōkan pado hambo, mungkonyo sakarèh itu, apo sinjatonyo nan labieh" 

Manjawab mandé kanduangnyo : "kò' itu nan ang tanyokan, sabuah karih panda' jao, sahalai padang mutuih rantai, itu pakaiannyo nan labieh" nankan katonyö Andam Déwi. 

"Kini ba'itu malah mandé, kò' io itu nan labiah, dima lata'nyo na' dèn lihè." 

Barauari Soetan Nasoeha baru dilihè' karih nantun, dipatah-patah patigo, diambie' batu ditòkò'i. Kini ba'itulah dè' mandé, baru tadanga haru di galanggang, sugirò mandé bajalan, balari sajo kamuaro, baunduang-unduangmalah mandé, usah mandé tampa'kan róman." 

Barauari Soetan Nasoeha, babalie' inyo kagalanggang. De' lamo lambe' dijalan, lah sampai inyo kasanan, diambie' ayam dibari makan, dirantang lalu dilapèhkan. Alah sabanta ayam lago, lah mati ayam Soetan Nasoeha. Hirui'lah urang di galanggang, sóra' ba' buni guruăh tuhuk, Barauari Soetan Nasoeha kalah, ta amuah batimbang; bakato sambie baibarat : "Sigantang buki' Sigantang, katigo buki' Katialo ; alah den tida' kabatimbang, antah kò' carai lihie jo kapalo" 

Bakato rajo Sonsong Haroeih : "Kalah tida' amuah batimbang, tando kacarai lihie jo kapalo" 

Bakato Soetan Nasoeha, malompe' sambie katangah : "Manölah datua' rajo siko ! marilah aga' sajamang, kito papasiah-pasiah langkah, kito mambuang kare' basi". 

Dè' lamo inyo bagadiah, tabi'lah habu di galanggang, runtuah-runtuăh galanggang itu. Héran tacangang rang nan banya', bakato rajo Sonsong Haroeih : "Kalau den taluă' dè' ang, ta' dèn banamo rajo Sonsong Haroeih" 

Manjawab Soetan Nasoeha : "kò datua' ta' mati di karihkö, ta' den bagala Soetan Nasoeha"

Barauari garan disanan, alah bacubo sajamang lai, bapalun hilie jó mudie' tahindèh takasie' bulan. Lah cameh ayah Soetan Nasoeha, balari-lari kagalanggang, bakato Soetan Nasoeha : "Manölah ayah kanduang hambo ! usah ayah rusuah bana, calie'kan sajolah dahulu" 

Barauari garan di sanan, taga' taganjua Sonsong Haroeih; baru malangkah tikam tibo, tibo dirusua' jaraja' mudo, mati satikam Sonsong Haroeih. Mangilie darah di galanggang, bakinco jo darah ayam; bangkai tagolè' masuak banda. Lorong de' urang nan banya' tu, manyambah manyimpuah hanyolai, takui'lah urang samöhönyö.

Barauari poeti Andam Déwi, tadanga haru di galanggang, dikupa' pintu karando, diréwai salèndang panjang, balari-lari kamuaro, masua'lah inyo samohönyo, dibongka sauah balaie juo. De' lamo lambe' di jalan, lah talampau Paliang jo Malalo, lah sampai inyo ka Panyinggahan, bahanti inyo disanan; turun kadarat sakutiko, dudua' bahanti atèh tanjuang, bakato sambie baibarat :

Gadang aie Tandjuang Jurahan

Alai dijuluă' jó siraui'

Batuah balai Panyinggahan

Balai manjórò' masuă' laui'. 


Alai julua' jo siraui'

Cubada' ambie' jo pisau 

Balai manjórò' masua' laui' 

Batu taga' bakèh maninjau.


Cubada' kai' jo pisau 

Elo' kambangnyo bungo inai 

Batu taga' bakèh maninjau 

Elo' ranahnyo muaro Pingai.


Elo' kambangnyo bungo inai 

Siraui' diatèh banta

Elo' ranahnyo muarò Pingai 

Laui' banamo Saniangbaka.


Siraui' diatèh banta 

Babuah duku di Nanggalo 

Laui' diadang Saniangbaka 

Lah tampa' Sumpu jo Malalo.


Bersambung ...

Kaba Sutan Manangkérang (Bag.10)

 


Le kacie' pandan di banda, lah gadang pandan di rimbo. Dè' kacie' masa pangaja, lah gadang akuan tibo. Allah manólong kapadonyo, kiro-kirö batambah juo. 

Bakato Soetan Nasoeha : "Manölah ayah bundo hambo ! den sangko saja' dahulu, hambo nangko urang disiko, kirönyö bukan malah hanyo; kini ba'itulah dè' ayah, hambo na' pulang hanyö lai, kakampuang halaman hambo, kò' io hambo tida' rang siko, kò' tumbuah so'a siasè', kò' lai urang mananyökan, apo kajawab hambo mandé ?" 

Barauari garan disanan, alah bakato ayah bundo : "ko' ba'itu kato na' kanduang, anto' kabuakan janyo hambo, pailah ang kaandé bungsu ang, io si poeti Taroeih Mato, minta' rila malah dahulu, kò' sukö inyo malapèh, kito malangkah malah kasanan" nankan katonyo ayah jo bundo. 

Manjawab poeti Taroeih Mato, bakato sambie baibarat: "O buyuang, buyuang, O buyuäng ! Tari' bilah diatèh pintu, pamului' didalam padi; haramlillah tahu ba'itu, dari mului' lalu kahati; ko' ang na' pai juo, pai ka Ula' Tandjoeang Medan, dèn lapeh jo mului' manih, kito cari kutiko baie."

Barauari garan disanan disukè' barèh jo baka, dibilang amèh jó péra'. Lah hasia' barèh jó baka, bakato Soetan Nasoeha : "Mano di mandé kanduang bungsu hambo ? Kain sikalat dalam kamba', rang kare' kakalang hulu; paci' umanat de' nan tingga, lapèh juo aden dahulu. Sabagai pulo mandé bungsi, na' duo pantun saliriang : Kò' lé babuah bakuang mandé, katari makanan kudo; kò' lé batuah kampuăng mandé, sudah pai babalie' poelo" 

Bakato mandé bungsunyo: "Dangakan juo malah de' ang. Baru mahimbau halang janjang, antah bacarai antah tida'; baru ang turun dari janjang, antah babalie' antah tida".

Barauari garan disanan, lah dapè' kutiko baie', tibo diukua dijangkönyo, balapèh-lapèh hanyolai. Bajalan Soetan Nasoeha, sarato dangan ayah bundo; barampe' dangan Manangkérang, pulang ka Ula' Tandjoeăng Médan. 

Baru tibo inyo di muaro, naie' lancang moh hanuolai, laiě tarinjè' angin tibo. Dè' lamo bakalamoan, alah sahari duo hari, sampailah inyo ka pulau si Baringin, nan banamo pulau Sétan. Barauari garan disanan, lah tampa' lancang sabuah, gadang nan bukan alang-alang; kirönyo lancang rang panyamun, tuönyo rajo Sonsong Haroeih. Barauari garan disanan, alah batamu lancang nantun, io di pulau jihin Sétan. 

Lórong di rajo Sonsong Haroeih, batanyo inyo disanan : "Manölah tuo lancang nangko ! dari mano turun bajalan, handa' kamano pai balaie ? Balunkoh tahu salamo ko, ikö pulau larangan dèn, tida' buliah ditampuah urang ? Barang siapo nan kamari, ta' inyo kumbali pulang" nankan kato rajö Sonsong Haroeih.

Manjawab sanan Kalamkaboei : "ko' itu datua' tanyokan, hambo rang dare' Minangkabau, kampuang banamo Bahéran Déwa, itu nan kampuang kórong hambo. Sabagai lagi pulo de' datuă', ta' laui'tan nan balarang, kamano kitö pai bahukun, ka Ruhun, kabanua Cino, ka Sento', ka Lubua' Aluang, kadarè' ka Minangkabau, adat laui'tan ditampuah lancang. Pantang den mahinda sikö"

Barauari rajo Sonsong Haroeih, bakato inyo disanan, maharie' mahantam tanah : "Mano kalian dalam lancang ! usah kalian bakarèh-karèh, usah kalian salah bicaro, èlò' turui'kan bicaro hambo, pado kalian andam karam"

Sanan bakato Kalamkaboei : "Manolah ka' tuo Manangkérang ! itu nan rajo Sonsong Haroeih, dè' maso galanggang rami, mamangkeh gomba' sibuyuangko, injo juo nan bagaduah, nan babantah jo ka tuo; kini nyo na' manuntui' baleh" nankan katonyo Kalamkaboei. 

Bakato Soetan Manangkérang : "kini ba'itulah dè' ka tuo, usah babincang- bincang jio. Pabule' kayu pangali, tida' nan labiah dari ruyuäng; pabule' hati nan barani, tida' nan labieh dari untuang. Allah nan sudah manjanjikan. "

Barauari rajo Sonsong Haroeih, bagai harimau kamanangko bagai garudo kamanyèmba, mangarètèh buni garamannyo. Dè' lamo lambè' nan ba' kian, lah pueh babincang-bincang, lah pueh batangka-tangka, malompè' rajo Sonsong Haroeih, malompè' kapangka lancang, bagaduah malah di sanan, ganti hampèh-mahampèhkan, basilang karih dangan tomba', tida' tantu makan panggado, samo ta' talo' dimakan bantuă', tida' nan lukö surang juo, jangankan luko barieng tida'. 

Barauari garan disanan, lah payah de' bagaduah, tida' nan luko-malukai, bakato rajo Sonsong Haroeih: "Manölah rajo Kalamkaboei ; kalau kito bagaduah juo, samo kalétai malah hanyö, balun kaluko-malukai, kini ba'itu malah juo, kito baranti malah dahulu." 

Lorong dè' rajo Sonsong Haroeih, kumbali inyo kalancangnyo, diambie'nyo jalo rantainyo; babalie' pulo ka lancang Kalamkaboei. Baru tibo inyo disanan, jalo taséra' hanyolai, tasungkui' rajo Kalamkaboei, baduó jan Soetan Manangkérang. urang banya' datang hanyólai, ta' bulieh manggarie' lai, tasungkui' dalam jalo rantai. 

Barauari rajo Sonsong Haroeih, bakato inyo disanan : "Saja' tadi dèn katokan, usah bakarèh-karèh awa', isah bakuat-kuat awa', balin ang tahu salamo ko, iko nan rajö Sonsong Haroeih " Maharie' rajö Sonsong Haroeih : 

"Mano kalian samohönyo, ambie' tali panggantuang laie, gantuangkan urangkö kaduonyo, gantuăngkan katèh baringin, bianyo mati bagayui" 

Diambie'nyo pulo Soetan Nasoeha, dilantiangkannyo kadalam laui', alah manjadi apuăng laui'. Lorong ka poeti Andam Déwi, dibaö'nyo kadalam lancang, dimasua'kan dalam kuruangan, dalam bilie' karando kacö, ta' bulieh kalua lai.

Lorong ka Soetan Nasoeha tarapuăng-apuang dilaui'tan, hidui' tida' mati ta' amuah; lah sampai ampè' balèh hari, de' dilambua'-lambua' omba', alun manula' manundokan, lah tapasah inyo katapi, kapondo' urang pangaie. Ado saurang tuo pangaie, nan manaruah aie mawa, manaruah lidih tujuah halai. Barauari Soetan Nasoeha, diambie' urang pangaie, jangankan busuak rangieng tida', usah karata' karétai tida', sapantun urang tidua lalò'. Namun tuo pangaie, disiram jo aie mawa, dilacui' jo lidih tujuah halai; hidui' lah Soetan Nasoeha, sapantun urang baru bangun. 

Barauari garan disanan, de' tuo urang pangaie, dipaliharökannyo ana' nantun. De' lamo bakalamoan, inyo basarang gadang juo, cadia'njo batukua' juo. De' masă déwaso itu, takanalah ayah dangan bindo, takanalah mama'nyo Soetan Manangkérang, duduă' manangih-nangih juo, aie mato irieng-gumiring. Barauari garan disanan, diminta'nyo lidih tujuah halai, sarato dangan aie mawa, dibao' sampan sabuah, dilihè'ti ayah jo bundo. Baru tibo inyo kasanan pulau banamo pulau Sétan, alah tampa' ayah kanduangnyo, sarato Soetan Manangkérang, tagantuang tabuai-buai, diatèh baringin gadang. 

Lórong dè' Soetan Nasoeha, kadipangku diturunkan, dè' kètè' tida' tapangku; habihlah tenggang jo bicaro, manangih manggaruang panjang, aie mató irieng-gumirieng, lalu dipanje' baringin nantun, diputuih tali panggantuang, jatuah talayang kadunyo, dilihè'ti turun kabawah, usah busua', rangieng pun tida', sapantun urang tiduă takalo'. 

Barauari Soetan Nasoeha, diambie' lidih tujuah halai, disiram dangan aie mawa. Allah nan juo mauntuǎngkan, balun kamati ayah kanduăng, sarato mama' Manangkérang, alah hidui' kaduonyo, sabagai urang baru bangun. Lorong de' Soetan Nasoeha, lah sanang kirönyo hati, Allahhurabi maso itu, batangih-tangikan malah sinan : 

"Ondeh na' kanduang janyo hambo, laimoh mati ang hidui'kan ! laimoh hilang ang cari ! mandé ang antah dimano, ditawan rajo Sonsong Haroeih " 

Barauari garan disanan, kumbali inyö hanyölai, io karumah tuo pangaie. De' lamo bakalamoan, tingga dirumah rang pangaie, tumbuah pikiran sakutiko, io de' rajo Kalamkaboei : 

"Mano ka' tuo, si Gairoellah ! lorong ka Soetan Nasoeha ko, elo' lah kito aja-aja, aja manggayuăng jo balabè', aja hikamat dan èlému". 

Barauari garan disanan, alah diaja ana' kanduang, sahabih-habih àlému, sahabih-habih kapandaian.

Kaba baraliah hanyolai, sungguah baraliah sinan juo, lórong ka poeti Andam Déwi. 

Bersambung ...

Kaba Sutan Manangkérang (Bag.9)

 


Lorong ka Soetan Manangkérang, diam dirumah hampiëng jalan, di rumah mandé roebiah Reno Gadieng. Bakato Soetan Manangkérang : "Manolah mandé kanduang hambo, dangakan malah den katokan ; urang mangapó kölah itu, patang-patang babondong hilië, pagi-pagi babondong mudie'; buni aguang mandangui'-dangui', buni gandang batalun jadi." 

Bakatö mandé roebiah: "O na' kanduang Manangkérang, ko' itu nan ang tanyokan, urang bagalanggang garan kini, galanggang mamangkèh gomba' ana' rajo Kalamkaboei, mandényo poeti Andam Déwi." 

Mandanga kato nan ba' kian, tasirò' darah di dado, sumirò lalu kamuko. Barauari si Manangkérang, dudua' tamanuang hanyolai, sambië bapikie dalam hati; dapè' pikieran sakutiko, bakato inyo disanan : "Manolah mandé kanduang hambo, bari ijin hambo de' mandé, hambo na' pai kagalanggang, pai malihè' rami urang, sambie bajua-jua ayam." Manjawab mandé roebiah: joko' ba'itu nan ang minta', anto' kabuakan janyo hambo."

Barauari si Manangkérang, alah sahari duö hari, inyo nan hilie mudie' sajo, malihè' urang di galanggang; lah puèh mato mamandang kumbali pulang hanyolai. De' lamo bakalamoan na' pulo kagalanggang, bakató sanan mandé roebiah: "O na kanduang si Manangkérang, kò' kapai kagalanggang dangakan na' den katökan, pailah pai balimau, pai mandilah dahulu, salarui' salamo nangkö, balun panah ang balimau !" nankan katonyo mandé roebiah : limau didalam para' kito, pailah ambie' kini-kini." 

Barauari si Manangkérang, lalulah turun ka halaman, masua' kapara' mahambie' limau; di panje' limau nan tinggi, sabuah tida' nan dapè', habih di ambie' paja-paja. Barauari si Manangkérang naie' ka rumah hanyolai, batanyö mandé roebiah : "Manölah limau nan ang ambie'. Manjawab si Manangkérang : limau sabuah tida' dape', sabanya' jatuah sabanya' hilang, habih diambie' paja-paja" 

Bakato mandé roebiah, sambie mahimbau pado si Kambang : "Ambie' joh limau mandé acie' kau, habih palimau kalamhari!" Barauari si Kambang sanan, diambie' limau andé acie', limau purui' tujuah sarangkai, dibarikan pado Manangkérang. 

Barauari si Manangkérang, pai balimau hanyolai, lalu bajalan katapian; baru tibo inyo kasanan, mandi balimau hanyolai. De' lamo lambè' disanan, lah sudah inyo balimau, malimbaia' ikan di lubuak, balalah arau di laui'tan, mangile' lalu kasubarang. Urang baduo disubarang, nan surang mandikan ana', nan surang mahisi parian. De' mamandang si Manangkérang, tida' diaso ta' disangko, ana' batuka jö parian. 

Barauari si Manangkérang, taga' baranjua atèh tabieng, sambie bajamua-jamua diri. Bakato mandé roebiah : "Manolah Kambang O na' kanduang, pai joh lihe' urang tadi, mangapo tida' polulang juo; ko' lah mati garan perang itu" 

Barauari Si Kambang sanan, lah turun inyo kahalaman, bajalan lalu katapian, sasaat lamo dijalan, mamandang kiri jo kanan, alah mambangun hulamangiang, mangile' mangalimantang. Barauari garan disanan, babalie' si Kambang naie', sambie bakato pado mandé : "Lihè'lah di mandé hambo, alah mambangun hulamangiang. Barauari mandé roebiah turunlah inyo kahalaman, bajalan lalu katapian; si Kambang manurui' juo. Baru sampai inyo kasanan lah tampa' si Manangkérang; bakato mandé rochiah: O buyuang, si Manangkérang ! hilie kapakan karabaa, singgah kapakan mambali siriah; den patui'-patui' jo kalaka, sadiki' tida' basalisiah; buyuang tölah kito pulang, mangapo buyuang disiko ?" 

Barauari si Manangkérang, bajalan pulang hanyolai. Barauari mandé roebiah, dikambangkan lapie' haluih, tagantuang tirai langi'-langi'. Alah duduă' si Manangkérang, barauari mandé roebiah diambie'kan malah pakaian, pakaian urang nan hilang, ikö pakaian dunsana' ang. nan banamo Soetan Badoe Gomba'; kini ang malah kagantinyo !" nankan katonyo mandé roebiah. 

Bakato andé roebiah, bakato sambia baibarat: Batang padi ambie' kapupui', batang pinang ambie' kalanta'; urang mati alah moh hidui', urang nan hilang alah moh tampa." 

Bakato juo mandé roebiah; "O buyuang, si Manangkérang ! lihè' lah kö ayam maniangkö, ayam nan birieng sanggonani, ko taji lai sabarumbuang." 

Barauari si Manangkérang, namun samalam-malam itu, sadiki' tida' di tiduăkan, gilo mambantuă-bantuă taji, gilö marantang-rantang banang.

Bakato juo mandé roebiah: "Lórong dè' ayam kito nangkö, ayam nan birieng sanggonani, dangakan malah tuahnyo; kò' patah ayam nangko, usah ang rusuah disanan, ana' rajo batungke' mandah, kò' kanai pangka kapa'nyo, ana' rajo mangambang laia'; itu tuahnyö ayam kito." Barauari garan disanan, hari manjalang para' siang, ayam bakukua' manjagökan, murai bakicau hari siang. 

Sapanggalah matohari naie', alah sudah minum jö makan, lah lalu hale' jauah hampieng. Barauari si Manangkérang, bakato pado mandé roebiah : "Manōlah mandé kanduang hambo ! hambo bajalan kini-kini, samantaro hari balun tinggi, uranglah banyak nan pai"

De' lamo lambe' di jalan, lah tibo inyo di galanggang, di galanggang Soetan Nasoeha. Ayam tapaui' atèh balai, inyolah naie' kagalanggang, dudua' diayun kiro-kiro, dimakan siriah sakapoea, dipatie' ròkò' sabatang, galanggang sarang rami juo. Lah datang urang jauah hampiêng, lah tibo radjo Sonsong Haroeih, inyo panjamun di daratan, nan pambajau di laui'tan. Barauari radjo Sonsong Haroeih, dipandang dalam galanggang, salapèh urang ta' manyabuang, surang tida' nan bapadan, uranglah hiru birolu sajo, malihe' Soetan Manangkérang : radjö dimanökölah iko, Soetan dimanökölah iko,". 

Buni bisia' balasuih-lasuih, kò caca' mancabie' kain. Bakatö radjo Sonsong Haroeih : "Mano paradano manti ! apokoh sabab karanönyo, mungko ta' bapadan juo, mungkö tida' manyabuang juo, galanggangkoh nan karabah, balaikoh nan ka-usai, utangkoh ta' babaie ? mungkö cabuäh didalam balai " 

Manjawab paradano manti : "Ko' itu radjó tanyokan, tida' galanggang nan kausai, kamilah héran de' malihè', Soetan dimanökölah itu, radjo dimanökölah itu, laranglah rajo ka bandingnyo, laranglah poeti kajudunyo; itumah dudua' atèh balai " 

Mandanga kato nan ba' kian, bakato rajo Sonsong Haroeih, bakato sambie baibarat : "Kò èndah bungö ambacang, saliri' bungö ditulo'; kò' endah rajo nan datang, balun tahimpi' rajó siko" 

Manyahui'i Soetan Manangkérang : "Kini ba'itulah dè' guru, kito lah samo-samo èndah, bario-iö malah kito, hambo nan datang dari jauah, bapadan malah kitö kini-kini, na' tantu alah manangnyo." 

Bakato radjo Sonsong Haroeih : "Salamo hambo disiko, ikö baru ditanyói urang, joko' ba'itolu kato Soetan, mari kito katéh galanggang".

Barauari radjo Sonsong Haroeih, naie'lah inyo kagalanggang, baduo jo Soetan Manangkérang ; dikaca' ayam sikua surang, sanan bakato Soetan Manangkérang ; "Manölah radjo Sonsong Haroeih ! sadiki' hambo tanyokan: ba' apo adat rang disiko, ba' apo adat di galanggang ?" 

Manjawab radjo Sonsong Haroeih : 'ko' adat kami disiko, habih gawa de' karilaan, habih cupa' de' palilisan, kalah baie', manangpun baie', pantang maranta' di galanggang." 

Barauari si Manangkérang, dibulang ayam hanyolai, taruah batampin hanyolai, ayam barantang hanyolai.

Bakato radjo Sonsong Haroeih: "O guru rajo nan datang ! dangakan malah dahulu: Si Gsntang buki' si Gantang, katigo buki' Panjalinan, ko' alah hambo ta' batimbang, ko' manang turui jo tintiangan"- katonyo radjö Sonsong Haroeih. 

Manjawab Soetan Manangkérang : "Manölah guru radjo siko ! Si Gantang buki' Si Gantang, katigo buki' Katialo; kalah tida' namuah batimbang, bacarai lihie jo kapalo."

Ayam barantang balapèhkan, ayam balago hanyolai. - De' lamo bakalamöan, lah patah ayam Manangkérang. Maharie' rajo Sonsong Haroeih. 

Bakato si Manangkérang : "Jangan tuanku mahirie' daholulu, ayam kitö balago juo. Bakato si Manangkérang : manölah birieng Sanggoenani ! andalan mandé roebiah; cubokan gayuang nan batuah, cubo camuakan di nan gantieng kabaka pulang de' kitö" 

Barauari ayam nan birieng, mandanga kato nan ba' kian, inyo gayuangkan di nan mipih, takéyo' ayam rajo Sonsong Haroeih. Hiruă' lah urang di galanggang: tumbuahlah silang jo salisiah. Lorong de' rajó Sonsong Haroeih, inyo nan tida' namuah kalah. 

Bakato paradano manti : "Urang nan arih bija'sano : manölah kitö samöhönyö ! manölah rajö kaduönyó ! Ko' tumbuah salisiah siko, tumbuah bantah jo kalahi, siapo nan akan mahukun ? kini ba' itulah nan elo', kitö himbaukan pado nan punyo, nan punyo galanggang nangko, nan bagala Soetan Nasoeha; inyo nan patui' mahukunkan !

Barauari Soetan Nasoeha lah tibo inyo kasanan, rape' pape' samöhönyo, rape' pangoeloe dalam balai, rapè' doebalang dangan manti. Batanyo Soetan Nasoeha : "Apökoh sabab karanönyo, mungko kacabuah di galanggang ?" 

Manjawab paradano manti : "ko' itu Soetan tanyokan, adolah rajo baru datang, inyo manyabuang sikö tadi, manyabuăng jo rajo Sonsong Haroeih, tumbuahlah bantah jo kalahi" 

Bakato Soetan Nasoeha : "Tatakalo akan manyabuang, bagimanokoh mulo padannyo ?" 

Manjawab paradano manti : "Adapoen nan jadi mulo padan, alah baie', manangpun baie', bapantang maharie' di galanggang, lari alah mati alah; kinilah lari ayam rajo Sonsong Haroeih, inyo nan tida' namuah kalah ! 

Manjawab Soetan Nasoeha, sarato pangoeloe samohonyo : "Itoe bana tumuah rajo, itulah adat di galanggang; kò' lari kalah, ko' mati ayam kalah juo, ba'itu nan adat salamo nangko, jangan mancari silang salisiah, usah mamacah galanggang urang " Nan kan kato Soetan Nasoeha.

Barauari si Manangkérang ditarimo taruah kamanangan, sananglah hati Manangkérang, sambiě bakato inyo sanan : "Manölah buyuang Soetan Nasoeha ! ambie' lah de' ang sapaduo, bao'lah pulang taruăh nangko !"

Barauari Soetan Nasoeha, diambie' taruah dibao' pulang, sambie bakato pado bundonyo: "Iko lamo galanggang rami, balun den malihè' rajo, rajo nan saendah itu, rajo dimanökölah itu, soetan dimanökölah itu, pangasiéh lagi panyayang: baru manang inyo manyabuang, dibarinyo hambo sapadoluo, kini baitulah de' mandé, kito bao' pulang rajo nantun, kito pasinggah rajo itu" 

Manjawab bundo kanduangnyo : "ko itu nan ang katokan, kito cari malah rundiëngan." Manjawab ayahnyö sanan : ko itu nan ang katokan, malam hari kito pasinggah, siang hari hale' banya' datang" 

Manjawab Soetan Nasoeha : manolah mandé kanduăng hambo, sarato dangan ayah kanduang ! èlò' kini kito pasinggah, antah bajalan rajo nantun, antah dimano nagarinyo ?" Bakato ayah jo bundo : kò ba'itu nan ka èlo', anto' kaboluakan janyo kami, japui'lah kini kagalanggang, na' buliah si Kambang sadiokan."

Barauari Soetan Nasoeha, balari inyo ka galanggang, dibao'nyo si Manangkérang. De' lamo lambè' di jalan, sampailah inyo di rumah, dudua' kaatèh anjuang pera'. Antaro sabanta sakitiko, mahimbau si Andam Déwi : "Na' kandoeăng Soetan Nasoeha, kamari joh ang sabanta, den na' barang dikatökan !" Barauari Soetan Nasoeha, lah datang inyo kabundönyö : "O buyuáng buyuang, O buyuăng ! hati den kini tida' sanang: saja' malihe' urang nantun, itu ba' cando ka' tuo den, bagala Soetan Manangkérang ; pai joh ang ka rajo nantun, antah inyo datang kamari, manuruti hambo hilang." 

Barauari Soetan Nasoeha, didakè'tinyo rajo itu, sambie bapalun kaharibaan. Baru inyo dudua' kasanan, kadangaran buni gantö cincin, batanyo Soetan Nasoeha: "O datoea' datoea' O datoea', apokoh nan mandarieng itu ?" 

Manjawab Soetan Manangkérang : "barumbuang jo tukia' api, itu nan mandariang nantun" Mandanga kato nan ba' kian, bakato Soetan Nasoeha : 

"Bari malihe' malah hambo, apo rupönyo tukie' api, mandanga ikölah baru". Barauari si Manangkérang, diambie' cincin sabantua', diambie' lalu dibarikan. 

Barauari Soetan Nasoeha, baru mandapè' cincin nantun, larilah inyo kateh anjuăng, lalu dibarikan pado bundonyo. Lórong dè' poeti Andam Déwi, baru dilihè' cincin nantun, badabuak darah di dado, dilihè' lalu disaruangkan, sasuai sajo di kalingkiang. 

Barauari poeti Andam Déwi, manangih maratò' panjang, aie mato ba' manie' putuih; turunlah inyo kasurambi, bakato sambie baibarat : "Kuni' tida', kuniangpun tida', ambie' saganggam jo tangkainyo, rata' tida', sumbiěng pun tida', cincinlah pulang kanan punyö" 

Lórong dè' si Manangkérang, malihè' adie' lah manangih, manangih pulo Manangkérang : "Laimoh hilang kadapè', laimoh mati kahidoei" 

Barauari rajö Kalamkaboei, malihè' damikian itu, bakato inyo disanan : "Apokoh sabab karanōnyo, mungkönyo damikian ?" 

Bakato poeti Andam Déwi : "Mungko hambo sadamikian, ikölah kaka' kanduang hambo, bagala Soetan Manangkérang, nan banamo si Gairoellah, laimoh hilang dicarinyo, laimoh luluih disalamnyö" 

Bakato Soetan Manangkérang : "Salamo kau bajalan, banya' bana nan den rasaikan". 

Habih bincangan jó barito. Kaba baraliah hanyolai, lórong ka Soetan Nasoeha. 

Bersambung ...