Minggu, 18 Januari 2026

Legenda Hantu Si Marah Buru dan Hantu-Hantu Penyebab Penyakit dalam Kepercayaan Melayu Minangkabau


 

Catatan etnografi berdasarkan penelitian J. J. Kreemer tentang kepercayaan dan pengobatan tradisional Melayu di Padang Darat (Air Haji, 1908)


Dalam kepercayaan Melayu Minangkabau, dunia manusia tidak pernah dipandang sebagai ruang yang berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan dunia makhluk halus, yang kehadirannya diyakini nyata, dikenali, dan dalam banyak hal—ditakuti. Di antara berbagai makhluk halus itu, hantu menempati posisi khusus: bukan sekadar penampakan, melainkan sosok dengan watak, tempat tinggal, dan pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia, termasuk terhadap penyakit dan penderitaan tubuh.


Menurut catatan etnografis J. J. Kreemer, yang melakukan penelitian mendalam di Padang Darat, khususnya wilayah Air Haji pada awal abad ke-20, hantu-hantu ini dipandang sebagai makhluk yang paling mengganggu, paling menyiksa, dan paling sering dikaitkan dengan munculnya sakit yang tidak dapat dijelaskan oleh pengobatan biasa. Perilaku mereka yang dianggap luar biasa dan tidak masuk akal dalam logika manusia telah melahirkan beragam legenda yang hidup kuat dalam ingatan kolektif masyarakat.


Masyarakat tidak hanya mengaku mengenal nama dan rupa hantu-hantu tersebut, tetapi juga mengetahui tempat-tempat kediaman mereka. Bahkan, tidak jarang seseorang bersumpah telah melihat mereka dengan mata kepala sendiri. Dalam tradisi lisan, kesaksian semacam ini bukanlah hal yang luar biasa, melainkan bagian dari pengetahuan bersama.


Hantu Si Marah Buru: Dari Manusia Menjadi Hantu Penghuni Rimba


Di antara semua hantu yang dikenal dan ditakuti, Hantu Si Marah Buru menempati tempat yang paling menonjol. Ia bukan hanya sosok yang menakutkan, tetapi juga figur legendaris yang kisahnya diceritakan turun-temurun.


Menurut legenda, dahulu kala Si Marah Buru adalah seorang manusia biasa dari suku Jambak Katapang. Kisah ini bermula ketika istrinya tengah mengandung dan sangat mengidamkan daging rusa yang juga sedang bunting. Mendengar permintaan tersebut, sang suami pun bertekad memenuhinya. Ia berangkat ke hutan belantara ditemani dua ekor anjing pemburu setianya, Si Alang Jonjang dan Tabuan Tanah.


Namun, meski telah melacak jauh ke dalam rimba, ia tak kunjung menemukan rusa yang dicari. Kecewa dan didera rasa bersalah, ia kehilangan gairah untuk makan dan minum. Ketika akhirnya ia kembali ke rumah, tubuhnya telah berubah menjadi kurus kering dan sangat kotor tak terawat. Begitu buruk kondisinya hingga sang istri tidak lagi mengenalinya sebagai sang suami.


"Engkau bukan suamiku," ujar istrinya dengan nada sangsi, "sebab jika benar, engkau pastilah pulang membawa rusa yang kuidamkan."


Dengan hati yang pedih, sang suami menjawab: 

"Jika demikian pikiranmu, maka aku akan kembali ke hutan belantara dan tak akan pulang sebelum hewan itu kutemukan. Jika aku tak pernah kembali, yakinlah bahwa aku telah menjadi Hantu. Apabila lahir seorang putra selama kepergianku, berikanlah cincin ini kepadanya."


Ia pun berangkat kembali bersama anjing-anjingnya dan sejak saat itu tak pernah lagi menampakkan diri di perkampungan. Ia menjelma menjadi roh hutan yang amat ditakuti dan dijuluki "Si Marah Buru.


Waktu berlalu, sang istri melahirkan seorang anak laki-laki. Saat sang anak beranjak dewasa dan bertanya tentang keberadaan ayahnya, ibunya menceritakan kisah keberangkatan ayahnya ke hutan luas dan keyakinan bahwa ia telah menjadi Hantu. Setelah menerima cincin milik ayahnya, pemuda itu pun bertekad untuk mencari sang ayah.


Sebelum berangkat, ibunya berpesan: "Ayahmu membawa dua ekor anjing. Jika engkau mendengar gonggongan di hutan belantara, tujulah arah suara tersebut, karena di sanalah jejak ayahmu akan kau temukan."


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, pemuda itu mendengar gonggongan anjing. Saat bergegas menuju sumber suara, ia tertegun melihat sesosok mahluk halus bertubuh panjang dan berbulu lebat sedang berayun di akar gantung pohon Bengkudu.


Pemuda itu memberikan salam, menyangka bahwa sosok itu adalah ayahnya. Namun, mahluk itu hanya menanggapi dengan geraman rendah yang mengerikan. Saat pemuda itu menunjukkan cincin yang dibawanya, roh hutan tersebut akhirnya mengakuinya, namun ia memperingatkan bahwa kini dirinya telah menjadi pemangsa manusia.


Meskipun pemuda itu dicekam ketakutan, sang roh hutan menenangkannya dengan berkata: 

"Jangan takut. Ambillah Gantung Pucuk (1), itu adalah tanda yang membuatku tak berdaya terhadapmu."


Itulah sebabnya mengapa "Gantung Pucuk" menjadi sarana penangkal yang sangat sakral, karena perintah tersebut datang langsung dari Si Marah Burou sebagai "Janji" kepada keturunannya.



Hantu-Hantu Lain yang Dikaitkan dengan Penyakit


Selain Si Marah Buru, Kreemer mencatat sejumlah hantu lain yang dipercaya memiliki hubungan langsung dengan timbulnya penyakit.


- Hantu Tinggi digambarkan bertubuh manusia raksasa dengan kepala anjing. Sentuhannya menyebabkan rasa seperti terbakar, dan jika mencengkeram leher seseorang, korban dipercaya akan mengalami muntah darah.


- Hantu Kapan menampakkan diri sebagai kain kafan dan berkeliaran di pemakaman. Kesukaannya adalah menakuti manusia, dan ketakutan itu diyakini dapat berkembang menjadi penyakit.


- Hantu Air adalah roh air yang mendiami sungai. Orang yang mandi dan tiba-tiba diliputi rasa takut dipercaya akan ditarik ke bawah air, seolah kakinya dipegang. Keselamatan hanya mungkin jika orang tersebut mampu menahan rasa takut.


- Hantu Jahat dikenal sebagai penyebab kejang pada anak-anak dan gangguan pada perempuan setelah melahirkan. Wujudnya hitam dan berbulu lebat seperti beruang.


- Hantu Papan memiliki bentuk manusia, tetapi bergerak dengan posisi tubuh yang terbalik, kadang kepala di bawah, kadang kaki di atas.


- Hantu Kayu menyerupai manusia hitam berbulu seperti siamang dan melompat dari pohon ke pohon. Ia diyakini akan membuat seseorang sakit jika pohon keramat ditebang.


Penutup


Catatan Kreemer memperlihatkan bahwa dalam kepercayaan Melayu Minangkabau, penyakit tidak selalu dipahami semata-mata sebagai gangguan tubuh, melainkan sebagai akibat dari perjumpaan, gangguan, atau pelanggaran terhadap makhluk halus. Hantu-hantu ini bukan figur abstrak, melainkan bagian dari sistem kepercayaan yang hidup, dengan nama, watak, dan ruang keberadaan yang jelas dalam imajinasi kolektif masyarakat.


Kepercayaan semacam ini tidak berdiri di masa lalu semata, tetapi jejaknya masih dapat ditemukan dalam pandangan dan praktik masyarakat hingga hari ini.


Catatan: 


Gantung Pucuk merupakan sebuah jimat yang umum dijumpai di kalangan masyarakat Melayu. Benda ini digantungkan di depan kediaman, tepat di bawah bagian atap yang menonjol, sebagai sarana penangkal terhadap pengaruh-pengaruh jahat.


Jimat ini terdiri dari beberapa helai daun dari pucuk pohon kelapa yang masih muda; pada bagian tersebut dikaitkan seutas tali yang menjuntai melalui belahan tempurung kelapa. Selanjutnya, pada ujung bawah tali tersebut digantungkan pula si tawar, si dingin, serta koelit lamang (yaitu sepotong bambu kuning atau talang-koening yang telah dibelah dua).


penulis: Marjafri - Jurnalis, Pendiri dan Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture & Tourism.

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 8)


 

- Doa Limau Térsapo.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Jahoelo, Gamboelo, Djamboe-Erang, Si-Mato, Si-Mabau-Tonggaq, Si-Tjoetjoep-Darah, Si-Timbo-Loeloeng, bergantoeng, berboeai-boeai, berkipas, berangin-angin.


Toeroenlah Boedjang-Hairoelah, berbadjoe basi, běrkatopong basi (1).


Marapoeq-marapaq (2) ka roemah tanggo djihin dan setan, hantoe dan oebili.


Djangan dibinasokan anaq tjoetjoe Nabi Adam.


Kalau dibinasokan anaq tjoetjoe Nabi Adam, angkau dimakan sati kalam Oelah, dimakan Qoran tigo poeloeh djoez, hilir dimakan biso-kawi, moediq dimakan koetoeq Soetan, dikoetoeqi Radjo-nan-anam-kadoedoekan, dimakan biso-kawi Daulat Toeankoe dinagari.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Wahadi, madi akoe mamakai doa sangkari (3), akoe mamakai doa soelasalih (4); akoe mamakai doa alih-alih.


Salang angin gadang lagi beralah lagi beralih ta-akoe përalah pěralihkan Allah-taäla përalah peralihkan. Salang ajër-gadang lagi beralah lagi beralih, ta-akoe përalah peralihkan, Allah-taäla përalah përalihkan. Salang ombaq gadang lagi beralah lagi beralih, ta-akoe pěralah peralihkan Allah-taäla peralah peralihkan. Ko qoenoen përboewatan djihin dan setan, hantoe dan oebili lagi beralah lagi beralih, ta-akoe përalah-peralihkan. Allah-taäla përalah peralihkan.


Sadang angin gadang lagi tanang tadoeh (5) kabasaran dari Njèg Radjo Soleiman, qoenoen përboewatan boelo dan pari, dewa dan mambang, qoenoen koelit pakal (6). 


Djangan binasokan anaq tjoetjoe Nabi Adam. Kalau binasokan anaq tjoetjoe Nabi Adam akoe tahoe moelo asal angkan djadi. Pinang-loemoetan moelo asal angkau djadi.


Masoeq tawar, kaloear biso, tawar Allah tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah. Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Hai, Njèq-Radjo-Soleiman nan bërampat Njèq-Pitalo-Goeroe. Niniq lah disaroe. Koemajan lah dipanggang.


Kami naq manimbang kasalahan nan sakit nangko, ataw salah di kaki, ataw salah ditangan ataw salah di përdjalanan, ataw salah dari pantjèlikan (7) ataw salah diparoendingan (8). Itoelah salah kami naq manimbang kapado sanaq soedaro nan disiko.


Hai Si-Hantoe-Moeno, Si-Kati-Moeno, Si-Oelo-Oelo, Si-Gamboelo, Sindjo-Sindjo, Si-Oenggoe-Oenggoe, Si-Angga-Angga, Djoembalang-Ajer, Djoembalang-Tahing. Hai Njèq-Radjo-Ti-Djoembalang, nan mangatahoei boekit nan tinggi, loerah nan dalam, akar nan ber-boekoe, kaloemboeh nan berbanir (9), bamban nan berdoeri, ajër nan ilang-ilangan (10), pintjoeran Manti-Soemonjo (11),


Kami naq manimbang kasalahan nan sakit nangko, ataw salah dikaki, ataw salah perdjalanan, ataw salah ditangan ataw salah dipantjèlikan, ataw salah diparoendingan. Itoelah salah kami naq manimbang.


Oetang naq mambajar bagai sanaq soedaro nan disiko.


Kami maminto bërbajo-bajo (12) djo moeloed nan manis (13) përkataän nan sadang (14) djo adat djo limbago (15) mano telah adat djo limbagonjo, baras randang nan sadikit, sirih nan sakapoer, kèpèng nan sakoepang sapiah, baras nan sasoekat soelang-aling (16)


Itoe tando kami maminto bagai sanaq soedaro nan disiko.


Pinto kami naq paliarokan nan sakit nangko.


Ataw lai sanaq soedaro nan sakit disiko, kami maädapkan obat djo djampi Si-Tawar, Si-Dingin.


Baäpo ko orang uan sakit nangko, minto dipaliarokan di doesanaq soedaro disiko.


Kalau angkau obahi angkau dimakan sati kalam Oelah dimakan Qoran tigo poeloeh djoez, kaätas angkau tida bërpoetjoeq, kabawah angkau tida bëroerat, ditangah digiriq koembang, hilir dimakan biso kawi, moediq dimakan koetoeq Soetan, dikoetoeqi Radjo-nan-anam-kadoedoeqan, dimakan biso-kawi Daulat-Toeankoe dinagari.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe-Bagindo-Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Tawar biring-biring.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Rajo-rajo, si-biring-rajo.


Mandapat si-biring-rajo.


Biring bersanggo api, api bersanggo (17) biring.


Akoe manawar si-biring biso. Samboeh (18) diloear, samboeh didalam, samboeh sakali-kali.


Akoe tahoe moelo asal angkau djadi. Biring-rajo (19) moelo asal angkau djadi. Biring-tambago moelo asal angkau djadi. Biring-ronggo moelo asal angkau djadi.


Panah-alam (20) moelo asal angkau djadi. Panah-galam moelo asal angkau djadi. Hoeri bali moelo asal angkau djadi. Darah bali moelo asal angkau djadi.


Masoeq sakalian tawar, kaloear sakalian biso. Tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah.


Qaboel běrkat doa ditoeroenkan goeroe akoe, diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, berkat la ilaha illah Allah.


Tawar galang-galang.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Kati-kati, katang-katang.

Hilirkan batang baranang.

Moediqkan batang-oembilan.

Gadang gadang kapi adang (21).

Térsangkoet di roempoet saroeq (22)

Akoe manoedjoekan (23) galang-galang.

Soedah akoe pidjit didalam paroet.

Masoeq tawar, kaloear biso.

Tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah.

Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Tawar patah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Palapah tjondong ka laoet.

Diambil ka ringgajan (24) moesang.

Batoe balah lagi bërtaoet, ko koenoen djangat sandi salérang, darah daging Si Anoe lagi bërtaoet (25).

Masoeq tawar kaloear biso. Diqaboelkan Allah diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Bagindo Rasoel Allah.

Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Tawar loeko.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Hoeri bali katoeban darah 

Maka toeroenlah darahbali dalam batang toeboeh Si Anoe.

Maka naiklah darahnani ka moekonjo.

Kajoe biring toemboeh di biring.

Ka hilir batang si tawar, ka moediq batang si gando.

Akoe malakatkan tawar biring.

Sakalian nan beroerat nan berpoetjoeq lagi tawar.

Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Bagindo Roesoel Allah.

Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Tawar sipasan.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Marisiq (26), marisiq di bawah saroq.

Gigi hitam kapalo sirah.

Akoe tahoe moelo si angkau djadi: toelang laoeq Njeq Pitalo Goeroe moelo si angkau djadi.

Masoeq tawar kaloear biso.

Tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasuel Allah.

Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Tawar terpanggang.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Di dantjing (27) boekan tò api Terbang sabrang laoetan.

Hinggap di kajoe hidoep mati. Lah mati mangko njo hidoep.

Akoe tahoe di moelo si angkau djadi: salémo Njèq Di Batjiq asal moelo angkau djadi.

Masoeq tawar kaloer biso.

Tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah.

Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


... TAMAT ...


........................


Catatan


1) Katopong = topi/penutup kepala,


(2) Marapoeq-marapaq rapoen = menyerbu atau menghantam sesuatu dengan kekerasan; dengan paksa menerobos untuk memperoleh akses ke sesuatu (bandingkan rampoq, rompaq).


(3) Sangkari = suci, keramat.


(4) Soelasalih = sesuatu yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya (bandingkan gandjil).


(5) Tanang tadoeh = tenang, teduh, tidak bergelora (digunakan untuk angin atau air).


(6) Pakal = tersembunyi, tetapi sedemikian rupa sehingga tidak terlihat sama sekali (bandingkan bersemboenie); berlawanan dengan koemoea, yaitu tersembunyi tetapi masih tampak.


(7) Mantjeli = berhenti menatap.


(8) Mamparoendingan = berunding, berbicara satu sama lain (bandingkan mampaparan).


(9) Banir = tonjolan berbentuk lembaran pada akar beberapa jenis pohon. Mata kayu bukanlah banir (sebagaimana tercantum dalam kamus), melainkan disebut matan.


(10) Ajer-ilang-ilangan = air yang sebagian mengalir di bawah tanah dan kemudian muncul kembali ke permukaan.


(11) Pintjoeran-Manti-Soemonjo = yang dimaksud dengan istilah ini adalah air terjun, karena tempat-tempat tersebut dianggap sebagai lokasi pemandian roh jahat M. S.


(12) Maminto berbajo-bajo = meminta dengan penuh kepatuhan dan rasa iba.


(13) Maminto djo moeloed manis = meminta sesuatu dengan cara sedemikian rupa sehingga orang yang diajak bicara menjadi luluh dan tidak dapat menolak.


(14) Perkataan sadang = bahasa pergaulan, yang berada di antara perkataan kasar (bahasa yang digunakan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya) dan perkataan hormatan (bahasa penghormatan).

Dalam bentuk tutur terakhir ini, penutur berbicara sambil duduk berlutut, tangan di atas lutut, dan kepala tertunduk ke depan (dengan sendjem loetoet, dengan takoeq kopalo).


(15) Adat djo limbago = istilah yang memiliki arti sangat penting dalam masyarakat Melayu.

“Adat diisi, limbago ditoewang” merupakan kaidah hukum umum yang harus diperhatikan dalam berbagai transaksi yang melibatkan pengalihan suatu hak.


Isi adat dapat dijelaskan sebagai pengakuan formal terhadap hak yang diberikan, sedangkan limbago adalah bentuk ganti rugi atas pelepasan hak tersebut.

Hanya melalui pengakuan dan pemberian ganti rugi inilah suatu hak menurut adat dianggap telah sepenuhnya berpindah.


Beberapa contoh:

Dalam pembukaan lahan, dalam pelangsungan perkawinan, dalam pengangkatan ke suatu jabatan, dan sebagainya, isi adat diwujudkan dalam apa yang disebut sirih salangkap, yakni sirih beserta seluruh perlengkapannya, yang diperuntukkan bagi para hadirin dalam upacara tersebut.


Limbago dalam pembukaan lahan dibayarkan setelah panen pertama dan besarnya antara f 7,50 hingga f 10 per djandjang seluas 100 × 20 depa, tergantung apakah sawah tersebut menerima air irigasi langsung dari sungai besar atau tidak.


Dalam perkawinan, limbago (yakni mas kawin) berjumlah satu rijksdaalder, dibayarkan kepada wamaq, sebagai ganti atas pelepasan hak atas perempuan.


Dalam pengangkatan suatu jabatan, besarnya limbago bervariasi sesuai dengan pentingnya jabatan tersebut dan dibayarkan kepada pihak yang memiliki kewenangan pengangkatan.


(16) Sasoekat saoelang-aling = satu ukuran isi dari bambu (soekat) yang terisi penuh [6 tjoepaq], ditambah lagi dengan isi yang dapat dimuat oleh rongga bagian dasar soekat yang dibalik.


(17) Sanggo =

a. berkumpul (bandingkan djoempo dan tjampoer),

b. menangkis atau menahan (bandingkan catatan 2, halaman 476).


(18) Samboeh = sembuh; tidak boleh disamakan dengan samboer yang berarti meludah.


(19) Biring-rajo = penyakit biring besar;

biring-tambago = sejenis ruam berwarna seperti tembaga;

biring-ronggo = sejenis ruam dengan lepuh bernanah putih (?).


(20) Panah-alam = sejenis ruam yang terdiri atas bintik-bintik kebiruan yang kemudian berubah menjadi luka kecil (?);

panah-galam = bintil-bintil kecil di bagian belakang lidah (?).


(21) Kapi adang = — ?


(22) Roempoet-suroeq = sejenis rumput yang keras, pendek, dan runcing.


(23) Manoedjoekan = menyihir, membetot kekuatan gaib.


(24) Ringgajan = tempat di mana sesuatu berada.


(25) Bertaoet = disambung atau dilekatkan.


(26) Marisiq = merayap atau bergerak dengan merangkak.


(27) Dantjing = bunyi yang terdengar ketika menggunakan batu api.

Kamis, 15 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 7)


 

* Doa limau daun.


Bismillahi-r-Rachman-r-Rahimi.


Oeroe-oeroe, Si Djampoeroe !

Si-Raoet-Pandjang-Oeloe (1)

Kanapo Si-Raoet-Pandjang-Oeloe?

Pandidis pinang-běrboeloe, (2)

Kanapo pinang-bërboeloe ?

Kaobat Si-Anoe kanai përboewatan Si-Hantoe-Si-Marah-Boeroe.


Si Oembang namonjo angkau, Si Batjiq namonjo angkau, Si-Alang-Djondjang namonjo andjing angkau, Taboean Tanah namonjo andjing angkau.


Djangan dimakan koelit, djangat, sandi salerang, djangan dimakan oetaq, banaq, mato, moetagi. Djangan dimakan hati, djantoeng, limpo, ampadoenjo. (3) 


Djikalau dimakan hati, djantoeng, limpo, ampadoenjo, minto dikombalikan, Djandji kito doewo hari dan katigo, (4) kalau tida angkau kombalikan dalam doewo hari dan katigo sirih berboeloe, pinang berboeloe, tjoeliq, gariq, gariau." (5)


Si-Madang-Giri pamantjong anaq Si-Hantoe-Si-Marah-Boeroe.


Tida dapat angkau malawan akoe dari doenia laloe ka achirat. Akoe tahoe moelo asal angkau djadi, Djambaq-Katapang moelo asal angkau djadi, gatah akar Si-Bangkoedoe moelo asal angkau djadi.


Njèq kito mangarangkan sati, Njèq-Si-Orè mangarangkan sati, sadalam laoet, satinggi langit. Njèq angkau matigarangkan sati. Siapo orang mamanggëm sati di ajër batoe, mamanggem sati di darat basi.


Djangan angkau obahi, kalau angkau obahi kaätas angkau tida bërpoetjoeq, kabawah angkau tida beroerat, tangah-tangah digariq koembang, hilir dimakan biso-kawi, moediq dimakan koetoeq Soetan, dikoetoeqi Radjo nan anam kadoedoeqan, dimakan biso kawi Daulat Toeankoe dinagari.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Titiq ka langit mandjadi boeroeng-langit, titiq ka laoet mandjadi djihin pitoenggoe laoet, titiq ka boemi mandjadi Palasieq panjinggahan dari boemi sampai kalangit.


Lèhèr angkau soedah akoe rantai, rantai lakat saratoes sambilan poeloeh. Tida dapat malawan akoe dari doenia laloe ka achirat.


Ajer liwis akoelah nan biso.


Tadoeng kalau njo biso toemboeh oepas sandırinjo, Si-Tawar dalam paraq, Si-Dingin dalam padi.


Akoe manawar dengan hati dingin laloe kabanaqnjo ajerbalang ajër djantan (9) ajer tompat (10) dimoearonjo.


Bertamoe oerat samo oerat, bertamoe daging samo daging.


Hai malaékat nan poetih, toeroenlah angkau, bawahkan lilin nan moedo. Kanapo lilin nan moedo? Palali (11) darah nan moedo.


Haq-Mampat kalau bergantoeng dikoelit djangat sandi salerangnjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di oetaq banaq mato moetaginjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di hati djantoeng limpo ampadoenjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di kainnjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng de ramboetnjo minto dilapaskan.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Doa Limau Bungo.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Hong! tangko, tangki, hidoep nan tiada mati, lapas dari pintoe mati. Ali mati, Mangga mati. Boeloenjo sahalai djangan raras (13) ramboetnjo sahalai djangan binaso. Lapas dari përboewatan boelo-boelo, djihin dan pari, limau sati, limau dewa. Kalau datang perboewatan boelo-boelo, djihin dan pari kaätas nan sapoetjoeq boelat (14), raras si-lambaq (15) poetjoeq boelat baq tërlataq baban barat, baq tërongkai (16) badjoe sampit, lapas dari pěrboewatan boelo-boelo, djihin dan pari.


Kalau datang përboewatan dewa di goenoeng kombali ka dewa di goenoeng. Kalau datang përboewatan dewa de awan-awan bertoempoeq, bërtrawang kombalilah angkau kapado awan bertoempoeq, běrtrawang. Kalau datang perboewatan dewa di korong kampoeng, kombalilah angkau ka roemah nan beratap amas, nan bërtonggaq amas, nan berlantai amas, nan bërlakar amas, nan berparioeq amas, nan bersandoq amas.


Roedjoe-roedjoe, radja-radja, akoe malakatkan soenting-gandoen batang toeboeh Si-Anoe.


Si-Kinantan namo kandalan. Hoeri-bali moelo asal angkau djadi. Samboeni moelo asal angkau djadi. Tamboeni moelo asal angkau djadi. Darah bali moelo asal angkau djadi.


Masoeq tawar kaloear biso, tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah. Qaboel berkat la-ilaha-illah Allah.


- Doa Limau Térsapo.


(Bersambung...) 

...........................................


Catatan


1) Si-Raoet-Pandjang-Oeloe. Pisau raut adalah pisau sederhana, yang bilah dan gagangnya yang melengkung terbuat dari satu potong besi. Dalam mantra, pisau ini sering disebutkan sebagai senjata yang ditakuti oleh roh jahat. "Pisau pengupas (pisau raut)"—menurut Skeat o. e., hlm. 456—disebutkan karena ditakuti oleh setan, yang konon melukai diri mereka sendiri dengan menginjak salah satu ujungnya, ketika, menghadap bilahnya yang melengkung, ujung lainnya terangkat dan melukai mereka. Roh-roh seperti Pemburu Liar secara khusus disebutkan takut akan pisau ini.


"Pemburu Liar" merujuk pada Hantoe-Si-Marah-Boeroe. 


Apabila legenda mengenai hantu ini, sebagaimana yang disajikan oleh Skeat (hal. 113 dst.), dibandingkan dengan apa yang kami sebutkan pada halaman 441, maka akan terlihat kemiripan yang sangat besar. Sebagai contoh, menurut legenda yang berkembang di kalangan masyarakat Melayu di Selangor, *Si Marah Boeroe* juga menginstruksikan putranya mengenai sarana untuk menyembuhkan penyakit yang ia timbulkan sendiri. Kemiripan ciri-ciri keluarga semacam ini senantiasa terlihat jelas ketika kita membandingkan legenda, mitos, formula mantra, dan sebagainya, yang dicatat dari masyarakat Melayu di Semenanjung Malaya dengan apa yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Melayu di Sumatra Tengah.


(2) Pinang-berboeloe, secara harfiah berarti: pinang berbulu. Menurut para informan saya, yang dimaksud di dalam doa ini adalah daun-daun yang digunakan untuk ritual limau, di mana beberapa di antaranya memang ditumbuhi bulu-bulu halus.


(3) Oetak, banaq, moetagi, hati, djantoeng, limpo (juga disebut: koero), dan ampado, masing-masing merujuk pada: otak, sumsum, bagian tengah dahi, hati, jantung, limpa, dan kantung empedu. Dalam daftar ini, masih dapat ditambahkan antara lain: lamboeng gadang (lambung besar), lamboeng kete (lambung kecil), boewah poenggoeng (ginjal), dan raboe (paru-paru).


(4) Doewo hari dan katigo = dua hari ditambah hari ketiga, yang berarti: tiga hari.


(5) Tjoelik, garik, gariau = masing-masing merujuk pada tindakan melubangi atau mengebor secara dangkal, dalam, dan sangat dalam.


(6) Mamanggem = memegang atau menahan (bandingkan dengan mamegang).


(7) Kaätas angkau tida bérpoetjoeg, kabawah angkau tida beroerat, tangah-tangah digariq koembang, hilir dimakan biso-kawi, moedik dimakan koetoek Soetan, dikoetoeki Radjo nan anam kodoedoekan, dimakan biso-kawi Daulat Toeankoe dinagari."


Sebagaimana diketahui, kutukan-kutukan semacam ini juga terdapat dalam sumpah adat Melayu (bandingkan dengan D. G. Stibbe: "De adateed bij de Menangkabausche Maleiers", Wet en Adat, jilid 3 hal. 222). Versi pertamanya jika diterjemahkan berbunyi: "ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, di tengah-tengah digirik kumbang," yang maknanya adalah: "engkau tidak akan memiliki leluhur maupun keturunan, dan engkau sendiri akan binasa," atau dengan kata lain, "engkau bersama seluruh garis keturunanmu akan musnah."


Bagian selanjutnya diterjemahkan sebagai: "keturunanmu akan dimakan oleh biso-kawi, leluhurmu akan dimakan oleh kutukan Setan, oleh kutukan Radjo nan anam kadoedoekan, serta binasa oleh biso-kawi dari Daulat Toeankoe di dalam kerajaan."


Mengenai arti dari "biso-kawi" ini, informan saya tidak dapat menjelaskannya, sehingga saya membiarkannya tidak diterjemahkan. Namun, dalam catatan Skeat (hal. 978), disebutkan bahwa ini kemungkinan merupakan bentuk Sumatra Barat untuk besi kawi, yaitu sepotong besi suci yang menjadi bagian dari regalia (tanda kebesaran) beberapa Sultan di Semenanjung Malaya. Besi tersebut diyakini memiliki kekuatan supranatural dan digunakan sebagai media untuk mengambil sumpah setia. Jika menurut konsep Melayu kuno, benda-benda kebesaran kerajaan memancarkan kekuatan yang hampir menyerupai ketuhanan, maka terlebih lagi dengan sosok penguasa itu sendiri. Siapa pun yang berani merongrong kekuasaan tersebut akan kena daulat, yang sebagaimana dinyatakan oleh Skeat (hal. 24) berarti: "mati terpanggang oleh semacam aliran listrik dari Kekuatan Ilahi, yang menurut kepercayaan orang Melayu bersemayam dalam diri Raja, yang disebut sebagai Daulat atau Kesaktian Raja."


Menurut tradisi lisan, Daulat pertama dari kerajaan Pagaruyung berasal dari Stambul, dan Bundo Kanduang adalah pemegang daulat terakhir karena ia tidak meninggalkan putra saat wafat; putra tunggalnya, Tuanku Mudo, telah lebih dulu wafat di Bukit Siguntang-Guntang (di perbatasan Palembang dan Jambi). Ia kemudian digantikan oleh Cindua Mato, putra dari Kambang, yang karena asal-usul kelahirannya tidak menyandang gelar Daulat melainkan Sutan. Tokoh inilah yang kemudian membagi kerajaan menjadi enam bagian dan menetapkan para penguasa yang disebut Radjo nan anam kadoedoekan sebagaimana dimaksud di atas (bandingkan juga dengan sketsa kami "De Maleier en zijn Karbouw", *Ind. Gids* 1907 I hal. 958).


(8) Ajer-liwis = air liur; ludah (bandingkan dengan lioer).


(9) Ajer-djantan; ajer-balang. Istilah pertama merujuk pada air murni yang digunakan untuk ritual limau. Sementara itu, "ajer-balang" berarti air yang mengalir dari mata air ke dalam rawa (air yang semula jernih namun kemudian tercemar), dalam hal ini merujuk pada air limau yang telah menjadi keruh karena campuran bahan-bahan jeruk tersebut.


(10) Ajer-tompat = air yang tidak memiliki saluran pembuangan, dalam hal ini merujuk pada air limau yang terkurung di dalam wadah atau mangkuk.


(11) Palali = bahan pendingin (berasal dari kata lali yang berarti dingin).


(12) Hong = Kata ini diucapkan dengan nada rendah dan panjang, serta sering muncul sebagai suku kata pembuka dalam berbagai formula mantra. 


Sebagaimana diketahui, kata "hong" ini tidak lain adalah kata Sanskerta "om". Menurut Prof. F. Max Müller, "Tidak ada kata yang lebih sering digunakan oleh kaum Brahmana selain kata 'om'." Kata tersebut dapat mewakili "avam" dan, sebagaimana kata "oui" dalam bahasa Prancis yang berasal dari "hoc illud", awalnya mungkin berarti "Ya"; namun kemudian maknanya berkembang menjadi lebih sakral, kurang lebih setara dengan kata "Amin" bagi kita. Kata ini harus digunakan pada awal dan akhir setiap doa, dan hanya sedikit naskah kuno yang tidak dimulai dengan kata tersebut.


Bahkan, penggunaan kata ini diwajibkan untuk sapaan tertentu. Dapat dipastikan bahwa baik di India kuno maupun di masa sesudahnya, sangat sedikit kata yang lebih sering terdengar berulang-ulang selain "om".


"Seorang Brahmana harus selalu mengucapkan om pada awal dan akhir pembacaan Weda; tanpa om di awal, pengetahuan itu akan luput; dan tanpa om di akhir, ia akan sirna." (Burnell and Hopkins: The Ordinances of Manu, Lect: II 74).


(13) Raras = Laras; berguguran.


(14) Sapoetjoeq boelat = Sepenuhnya; seluruhnya (sahabis-habisnjo). Demikian pula orang mengenal istilah "adat nan berpoetjoeg boelat", yaitu adat sebagaimana adanya yang sebenarnya, sebagai lawan dari 'saraq nan bärkitab boelat" atau hukum suci sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab.


(15) Lambak = Panjang; irisan tipis. Dalam konteks ini merujuk pada irisan-irisan jeruk nipis (limau).


(16) Ongkai = Membuka; membongkar; mengeluarkan.


(17) Mengenai asal-usul sifat (sipat) dan esensi (sat) tubuh manusia, para dukun Melayu memiliki teori mistik yang sangat mereka rahasiakan. [Gambaran serupa juga ditemukan di tempat lain di Sumatra serta di Jawa dan Madura, di mana mereka sama sekali tidak merahasiakannya]. Menurut teori tersebut, esensi manusia lahir dari empat jenis substansi yang berasal dari pihak ayah (yaitu: wadi, madi, mani, manikam), sementara sifat-sifat manusia berasal dari empat substansi serupa dari pihak ibu (yaitu: hoeri, bali, katoeban, darah).


Mengenai apa yang dimaksud dengan seluruh substansi tersebut—yang begitu sering disebut dalam mantra-mantra Melayu—belum sepenuhnya jelas bagi penulis. Barangkali pandangan suku-suku Muslim di Sulawesi Selatan, bahwa setiap manusia lahir ke dunia bersama tujuh "saudara" (yaitu: air ketuban, tali pusat, plasenta, darah, sejenis cairan yang sebagian merah dan sebagian putih yang keluar saat pembersihan setelah melahirkan, dsb.) berakar pada jenis mistisisme yang serupa. Hal ini kemungkinan juga berkaitan dengan berbagai fase penciptaan manusia yang dimaksud dalam Al-Qur'an 39:6.


Istilah "hoeri" kemungkinan besar merujuk pada "plasenta" atau "uri". [Dalam Kamus Melayu-Belanda karya Dr. J. Pijnappel, istilah ini dijelaskan sebagai gumpalan darah yang mengikuti keluarnya plasenta (temboeni)]. "Bali" dapat diterjemahkan sebagai "tali pusat", dan 'darahbali" sebagai "darah yang keluar saat pemotongan tali pusat". Dalam penggunaan sehari-hari, istilah "darah bali" juga dapat berarti "memiliki hati pengecut" (nyali kecil).


Dalam mantra-mantra yang disebutkan, masih terdapat jenis darah lain yang disebut, seperti "darahnani, darahsamboeni, darahtamboeni', dan dari formula sihir yang diproduksi oleh Skeat, masih banyak jenis lainnya yang dapat ditambahkan.


"Katoeban" dalam pengertian umum berarti "tempat penyimpanan" (bandingkan dengan "tompat"), namun di sini secara lebih khusus berarti "air ketuban" dan juga selaput yang membungkus air tersebut. Terjemahan kata ini sebagai "placenta" dalam kamus J. L. van der Toorn menurut saya kurang tepat. Kita tidak akan mendalami mistisisme ini lebih jauh, namun perlu dicatat bahwa plasenta (tembuni), setelah dibersihkan, biasanya dikubur di dekat rumah; di atas kuburan tersebut diletakkan sebuah batu sungai besar dan digambari tanda silang dengan kapur sirih. Jika sang anak—yang dianggap sebagai "kakak" dari plasenta tersebut kemudian jatuh sakit, bukanlah hal yang aneh bagi masyarakat untuk mengharapkan kesembuhan dengan mengadakan "mangadji" (pembacaan Al-Qur'an) di makam tersebut.

Rabu, 14 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 6)


 

a. Tarak Gadung


Selama menjalani pengobatan ini, pasien hanya diperbolehkan minum air rebusan gadung dan hanya boleh makan nasi putih kering dengan ikan badar (sejenis ikan kecil) yang dipanggang. Selain itu, selama periode tersebut, pasien wajib menahan diri dari hubungan seksual, menjaga ketenangan diri, dan terutama menjaga agar tidak berkeringat; sebab jika berkeringat, kekuatan penyembuh dari gadung diyakini akan hilang dari tubuh.


Gadung adalah sejenis tanaman merambat yang umbinya dalam keadaan kering dapat dibeli di setiap pasar dari Orang Kumango (pedagang barang kelontong) berdasarkan beratnya. Saat membelinya, terdapat sebuah pantangan (pantang) untuk tidak menawar harga yang telah ditentukan.


Umbi tersebut kemudian dipotong-potong oleh dukun (mancancang gadung) sambil merapalkan Bismillah. Potongan-potongan tersebut kemudian diasapi di atas kemenyan yang membara, sementara dukun mengucapkan tawar tarak gadung, sebuah mantra yang terdengar seperti bahasa Arab, namun maknanya tidak dapat dimengerti, baik oleh ahli medis maupun orang awam. Atas jasa keahliannya, sang dukun menerima sepiring nasi dan uang sebesar 25 sen. Proses merebus potongan gadung tersebut harus dilakukan di dalam periuk tanah liat yang masih baru (belum pernah digunakan).


b. Tarak Raso


Inti dari metode pengobatan ini adalah sang dukun menggunakan daun sirih atau daun selasih yang sebelumnya telah dibasahi dengan air wewangian tertentu, dukun menggosokkan sedikit air raksa (merkuri) pada bagian tubuh tertentu pasien (biasanya telapak tangan), sembari merapalkan mantra penawar yang terdengar seperti bahasa Arab yang sulit dipahami: tawar taraq raso. Air raksa yang diperlukan tersebut juga dapat diperoleh dari setiap pedagang kelontong (orang koemango).


Apabila si sakit merasakan manfaat dari pengobatan ini, maka prosedur tersebut diulangi setelah tiga hari, kemudian tiga hari berikutnya, dan seterusnya. Dalam metode ini, pasien juga harus menjalani diet ketat serta mematuhi aturan pantangan (pantang) sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian tarak gadung.


e. Tarak ke Gunung


Dalam metode ini, pasien mengasingkan diri selama beberapa waktu di suatu tempat keramat, yaitu tempat sunyi yang biasanya berupa makam suci milik seorang syekh atau dukun ternama. Tujuannya adalah untuk tidur di tempat tersebut dengan harapan mendapatkan petunjuk melalui mimpi mengenai sarana yang harus digunakan untuk mencapai kesembuhan. Ini merupakan sebuah metode pengobatan sugestif, yang tidak berbeda jauh dengan tradisi "tidur kuil" pada zaman Yunani kuno.


Pengasingan ini dilakukan sepenuhnya secara sukarela. Adapun praktik tarak sebagai bentuk pengasingan paksa (pembuangan), sebagaimana yang disebutkan oleh Tuan A. L. van Hasselt pada halaman 96 dalam buku Volksbeschrijving-nya yang terkenal, tidak dikenal di wilayah ini.


Upacara yang mendahului ritual tidur profetik (tidur untuk mendapatkan petunjuk) tersebut adalah sebagai berikut: 

pertama-tama, pasien harus menjalani semacam proses pembersihan, yakni menyiram tubuh dengan ramuan limau sintoq saat mandi di sungai, yang kemudian dilanjutkan dengan mengoleskan bedak (blanketsel) ke seluruh tubuh. Setelah menjalani ritual berlimau berkasai ini, diadakan jamuan makan persembahan di rumah pasien yang juga dihadiri oleh dukun.


Setelah rangkaian tersebut selesai, pasien mengenakan pakaian serba putih dan diantar oleh dukun menuju tempat keramat. Keberangkatan ini hanya boleh dilakukan pada hari Senin atau Kamis. Selain tikar tidur, pasien membawa sedikit nasi ketan sangrai sebagai bekal, yang hanya boleh dimakan sedikit pada pagi dan malam hari. Selama perjalanan, ia harus terus-menerus melantunkan "Assalamoe 'alaikoem" (mambaca salawat).


Selama masa pengasingan, setelah menyantap makanan yang sederhana, pasien harus selalu membakar dupa (kemenyan) dan merapalkan "seruan" (saroean) yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, ia wajib menjalankan ibadah salat lima waktu dengan tekun, dan setelah doa malam (Isya), ia harus melantunkan kalimat syahadat hingga jatuh tertidur.


Apabila dalam waktu tujuh hari orang yang taat tersebut tidak mendapatkan wahyu dalam mimpinya dari kekuatan surgawi, maka segala harapan untuk sembuh dianggap telah sirna. Hal itu diyakini sebagai kehendak Allah.


Berikut ini di sertakan teks Melayu dari mantra-mantra pengusir setan, yang terjemahan bebasnya telah diberikan pada halaman-halaman sebelumnya. Untuk penyederhanaan, kata-kata tersebut dieja sesuai dengan cara penulisannya dan bukan berdasarkan cara pengucapannya dalam dialek Minangkabau.


Doa Limau Buаh.


Bismillahir-Rachmanir-Rahimi.


Ja Allahoe, ja Rasoel Allah berkat Toeankoe Nabi Oelah, Nabi Mohamad. Kandalan akoe Djibrail, Mikail, Israil, Israpil, Aboe Bakar, Oemar, Oesman, Ali, Kiraman, Katibin.


Bërmoelo api, ajër, angin, tanah: 

zat daripado bapaq, sipat daripado iboe, ampat toeroen daripado bapaq, ampat toeroen daripado iboe.


Berdirilah angkau di kiri dikanannjo, dihadapan diblakangnjo 

Jahajan, Jadajan, Jahasin didalam Qoran; běrmaro Allah mangko bërmaro akoe, bërmaro Mohamad, mangko bërmaro Si Anoe daripado panjakitnjo.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel bërkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Salamo oemoer Madini, salamo oemoer Mohamad, berkat doa kiramat Allah dalam tirai koelamboe Allah dalam gadoeng Rasoel Allah.


Tida diapo kato soerat, soerat soedah tërdoeloenjo.


Kalau bergaraq di Batoe-Ampar-Poetih (1) mangko dirinjo bërgaraq, kalau tida bergaraq di poesat boemi, mangko bergaraq dirinjo.


Kalau mati hantarkan karahmat Allah, kalau hidoep kandaq berlakoe, Siraïl tagaq dikirinjo, Sirapil tagaq dikanannjo, Moekaïl tagaq dihadapannjo, Djibraïl tagaq diblakangnjo serta Allah djo Mohamad.


Kalau tersapo di boeboen-boeboennjo, dinding-berdindinglah angkau, mandindingkan obat dan panawar.


Masoeq tawar kaloear biso, tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah. Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Ali jang bernamo Ali, oerat tonggang angkau Aboe Bakar.


Boewah daoen karoeboet mari akoe soeroeh, akoe sarajo, djangan angkau berdoeto-doeto, berolo-olo, kaätas angkau tida bolih angin, kaloerah angkau tida bolih ajër.


Limau akoe, si-limau-koerau diramas dipinggan bibir, soeroet përboewatan djihin dan setan, hantoe dan oebili.


Tinggal djadjaq anaq sidang-manoesia angkau tangisi.


Batoe aning, batoe lado mangko dilangkapkan, djangan kami tergamang-gamang.


Katokan jang saběnar kato, ilmoe doedoeq diatas Qoran, serta Allah djo Mohamad.


Bolih kasi tolong Djibraïl.


Kalam moelo asal angkau djadi, djadi angkau karano akoe, djadi akoe karano Allah.


Sakalian biso tawar, sakalian tadjam toempoe, sakalian karas lamboet kabasaran doa Njeq Radjo Soleiman.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel běrkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Haq basi tahan manahan sanggo-manjanggo berkoekoeq bërkatiq basi didalam batoe, haq tahan sariboe tahan, manahan Djoembalang-Ajër, manahan Djoembalang-Tabing, manahan përboewatan djihin, manahan perboewatan setan, manahan perboewatan hantoe dan oebili, manahan përboewatan boelo, dan pari, dewa dan mambang, manahan perboewatan Si-Hantoe-Moeno, Si-Kati-Moeno, kaätas Si-Madang-Kilat, dibawah Radjo-Sikoedarang, Radjo-Itam.


Doebalang angkau saratoes sambilan poeloeh, saparo angkau djalan laoet, saparo angkau djalan darat, saparo angkau djalan awang-awang, tida angkau dapat malawan akoe dari doenja laloe ka achirat, hoe" namonjo akoe, wahab namonjo angkau. Mati dipantjoeng padang Toeankoe Bagindo Ali.


Ali-ta-Ali maädokan 

Radjo-Soleiman-Poetih nan diam di awan poetih, Radjo-Soleiman-Koening nan diam di awan koening, Radjo-Soleiman-Idjau nan diam di goenoeng awan-awan, Radjo-Soleiman-Hitam nam diam di moenggoeh tanah.


Hai Radjo-Soleiman nan ampat poeloeh ampat, ampat pindjoeroe boemi, pindjoeroe langit, anaq daro Si-Bintaro, nan bertoedjoeh diam di salowatas, djangan angkau lantjong niajo kapado anaq tjoetjoe Nabi Adam. Akoe tahoe asal moelo angkau djadi.


Datang angkau dari sandjo-rajo, kombali angkau kapado sandjo-rajo, datang angkau dari oedjan-panas, kombali angkau kapado oedjan-panas, datang angkau dari kajoe gadang, kombali angkau kapado kajoe gadang, datang angkau daripado batoe gadang, kombali angkau kapado batoe gadang, datang angkau daripado napar koening, kombali angkau kapado napar koening, datang angkau daripado poesat-tasiq kombali angkau kapado poesat tasiq.


Akoe tahoe di moelo asal angkau djadi karano Djibrail asal moelo angkau djadi.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha allah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Akoe halarkan pajoeng akoe. Mohamad terdiri. Jahajan, Jadajan, Jasin didalam Qoran, bermaro Allah mangko (2) bermaro akoe, bërmaro Mohamad, mangko běrmaro Si Anoe daripado panjakitnjo.


Saroelah, Baroelah (3) kalau bertamoe dengan dirinjo manjiarlah angkau kakiri kakanannjo, kahadapan kablakangnjo.


Akoe mamakai doa pangalah dan pangalih, sadang ajër gadang lagi beralah lagi beralih, ta akoe përalah peralihkan Allah-taäla përalah peralihkan. Ko koenoen përboewatan djihin dan setan, hantoe dan oebili peralah peralihkan Allah-taäla përalah peralihkan. Ko koenoen përboewatan boelo dan pari lagi beralah, lagi beralih ta akoe pēralah peralihkan Allah-taäla pěralah peralihkan. Ko koenoen pěrboewatan dewa dan mambang diperalihkan Allah, dipěralihkan Mohamad, diperalihkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel běrkat la ilaha illah Allah.


Doa limau daun.


(Bersambung...)


............................................


Catatan


2) Batoe-ampar-poetih

Dalam kosmologi Melayu, istilah ini merujuk pada batu tempat berdirinya lembu dunia. Bumi dibayangkan sebagai sebuah cakram datar, yang di atasnya terdapat tujuh tingkatan langit (toedjoeh pindjoeroe langit) dan di bawahnya terdapat tujuh tingkatan bumi (toedjoeh pindjoeroe boemi).


Bumi ditopang di atas kedua tanduk seekor lembu (lamboe). Apabila hewan ini menggoyangkan tanduknya, maka terjadilah gempa bumi. Lembu dunia ini berdiri di atas sebuah batu yang disebut sebagai "batoe ampar poetih". Batu tersebut, pada gilirannya, ditopang oleh seekor ikan raksasa (Ikan-Rajo-Bésar) yang berenang di lautan dunia.


2) Bermaro Allah mangko bermaro akoe = jika musibah menimpa Allah, maka musibah itu juga akan menimpa saya. Namun, karena tidak mungkin ada musibah yang menimpa Allah, maka arti ungkapan ini adalah: sebagaimana tidak ada bahaya yang dapat menimpa Allah, demikian pula tidak ada bahaya yang dapat menimpa saya."


3) Saroe, nama roh laut; Baroe, nama roh darat.


Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 5)


 

d. Pengobatan Limau Tersapo


Metode ini diterapkan apabila pasien diyakini telah "disapa" oleh entitas penyakit.


Sebagaimana telah dijelaskan, dalam kondisi tersebut dahi pasien mula-mula ditandai dengan simbol salib menggunakan air ludah sirih, kemudian persendiannya diolesi dengan bahan yang sama. Jika upaya ini belum membuahkan kesembuhan (tida-tjégaq), barulah ditempuh ritual limau-tërsapo yang sesungguhnya. Pengobatan ini dilaksanakan dengan tata cara yang sama seperti metode limau-boewah. Selama tiga siklus sembilan hari—pagi pada hari pertama, siang pada hari kedua, dan malam pada hari ketiga—ramuan jeruk ini digunakan, dan seluruh rangkaian tersebut diulang sebanyak tiga kali.


Doa yang lazim dirapalkan dalam pengobatan ini berbunyi sebagai berikut:


"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang !


Jakoelo, Gamboelo, Djamboe-Erang, Si-Mata, Si-Mabau-Tonggaq, Si-Tjoetjoep-Darah, Si-Timbo Loeloeng, yang bergantung dan berayun di sana, yang berayun tertiup angin dan bersemayam di dalam angin !


Turunlah engkau, Boedjang-Hairoelah, dengan baju zirah besimu dan dengan helm besimu. Masuklah dengan paksa ke dalam rumah-rumah setan, hantu, dan oebilih.


Janganlah kalian menyakiti anak-cucu Adam! Jika kalian melakukannya, maka kalian akan ditimpa kutukan suci dari Allah dan dari Al-Qur’an yang terbagi dalam tiga puluh bagian; keturunan kalian akan punah karena kutukan, dan leluhur kalian akan terkutuk oleh Sultan dan oleh enam Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat. Dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Aku menggunakan sebuah doa yang suci, sebuah doa yang luar biasa, sebuah doa penolak pengaruh jahat. Sebagaimana badai, arus deras, dan gelombang besar berubah arah bukan karena perbuatan kami melainkan karena kehendak Allah, demikian pula bukanlah pekerjaan kami melainkan pekerjaan Yang Mahatinggi apabila gangguan para makhluk halus itu dijauhkan. Sebagaimana badai pun dapat ditenangkan oleh kekuatan doa Njèq-Radja-Soleiman, terlebih lagi kekuatan jahat, serta penyakit yang tersembunyi dan tak kasat mata!


Janganlah kalian menyakiti manusia! Jika kalian tetap melakukannya, ketahuilah bahwa aku mengetahui asal-usul kalian: dari pinang-loemoetan kalian berasal ! Hendaklah kesembuhan masuk dan penyakit keluar; kesembuhan itu dari Allah, melalui Muhammad Utusan Allah, dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah."


Apabila rangkaian pengobatan tersebut belum menunjukkan perbaikan, maka roh penyakit yang diduga menjadi penyebabnya akan didatangi secara langsung (disonsong).


Untuk tujuan itu, dilakukan kunjungan ke lokasi tempat pasien mengalami tërsapo. Lokasi tersebut tidaklah tersembunyi bagi dukun, karena pengamatan cermat terhadap air ludah sirih sebelumnya telah memberikan petunjuk yang lengkap.


Selagi pasien tetap berada di rumah, sang dukun berangkat bersama dua orang pendamping dengan membawa sanggar, yaitu sebatang bambu kuning (talang-koening) yang bagian atasnya dibelah untuk menopang rangka bambu berbentuk segi empat. Selain itu, dibawa pula nasi putih, nasi darah (nasi dengan darah ayam), nasi arang (nasi dengan jelaga), nasi kuning (nasi dengan kunyit), serta si tawar dan si dingin, yang seluruhnya dibungkus daun pisang yang dilipat membentuk kotak terbuka (limas). Kelengkapan lainnya meliputi bras randang (beras sangrai), bras batik (beras tidak disosoh yang disangrai), sirikh tigo kapoer, satu soekat (enam tjoepaq beras biasa), serta uang mahar sejumlah sakoepang sapiah (9 wang = f 10,75; sapiah = satu keping seperempat gulden).


Setibanya di lokasi yang dianggap penting, sanggar tersebut ditancapkan ke tanah dan berbagai hidangan diletakkan di atasnya sebagai persembahan untuk menenangkan roh penyakit. Setelah terlebih dahulu membakar sedikit kemenyan, dukun memanggil roh-roh tersebut dengan ucapan:


"Hé Njèq Radja Soleiman, engkau yang berempat, dan juga engkau Njèq Pitalo Goeroe, kami memanggil kalian! Kemenyan telah dibakar! Kami hendak mempertimbangkan kesalahan pasien, apakah ia dengan tangan atau kakinya telah menyentuh makhluk halus, menghalangi jalan, tanpa sadar memandang, atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Itulah kesalahan yang hendak kami timbang bersama para kerabat sedarah secara gaib yang berkumpul di sini.


Hé Si-Hantoe Moeno, Si-Kati-Moeno, Si-Oelo-Oelo, Si Gamboelo Sindjo-Sindjo, Si-Oenggoe-Oenggoe, Si-Angga-Angga, Djoembalang-Ajër dan Djoembalang-Tabing, serta engkau Njèq-Radjo-Si-Djoembalang, yang mengenal gunung dan lembah, sulur-sulur beruas, pohon kaloemboek yang berakar menyerupai daun, bamban berduri, air yang mengalir di bawah tanah lalu muncul kembali, serta air terjun yang menjadi tempat pemandian Manti Samoeonyo datanglah! Marilah kita bersama-sama mempertimbangkan kesalahan orang sakit ini. Kami memohon dengan kerendahan hati dan kelembutan, tanpa basa-basi.


Inilah adat dan limbago yang terdiri atas sedikit beras sangrai, satu kunyahan sirih, uang tujuh puluh lima sen, satu soekat beras, dan apa yang dapat dimasukkan ke dalam cekungan dasar soekat yang dibalik sebagai pelengkap. Semua itu kami persembahkan seiring permohonan kami kepada para kerabat sedarah yang berkumpul di sini, agar pasien berkenan disembuhkan. Apabila di antara kerabat yang hadir ada pula yang sedang sakit, maka kami sediakan bagi mereka si tawar dan si dingin. Apa pun penyakit yang diderita pasien, kami memohon kesembuhannya kepada kalian semua.


Jika kalian tidak mengabulkan permohonan kami, maka kalian akan ditimpa kutukan suci dari Allah dan Al-Qur’an 30 Juz; seluruh keturunan kalian akan binasa, punah oleh kutukan, dan leluhur kalian akan terkutuk oleh Sultan dan enam Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat. Dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah."


Berdasarkan gambaran penyakit dalam doa tersebut, dipahami bahwa pasien dianggap telah menyinggung roh penyakit meskipun tanpa disadari sehingga ia memikul suatu kesalahan. Penyakit yang muncul sebagai akibatnya hanya dapat disembuhkan apabila kesalahan tersebut telah ditebus.


B. MANAWARI


Metode pengobatan ini bertujuan untuk melumpuhkan pengaruh penyakit. Meskipun malimaui memiliki tujuan serupa, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya.


Dalam malimaui, kesembuhan terutama diharapkan melalui pelaksanaan upacara pemanggilan dan penangkalan gaib yang rumit, yang ditujukan pada penyebab penyakit di luar diri pasien (makhluk jahat). Penggunaan obat-obatan hanya bersifat tambahan. Sebaliknya, dalam manawari, obat-obatan menjadi titik fokus utama yang diarahkan pada penyebab penyakit di dalam tubuh (seperti cacing atau infeksi darah), sementara unsur doa atau penangkal menempati posisi sekunder.


Pengetahuan empiris mengenai khasiat berbagai tumbuh-tumbuhan, yang disediakan alam secara berlimpah bagi masyarakat Melayu, dimanfaatkan secara efektif dalam metode ini. Dukun akan menginstruksikan pasien mengenai ramuan atau tanaman apa yang harus dicarikan. Terhadap tanaman yang masih mentah tersebut, dukun merapalkan doa yang lazim digunakan, biasanya disertai pembakaran kemenyan. Baru setelah proses manawari inilah, tumbuh-tumbuhan tersebut diolah dan digunakan sesuai petunjuk.


Tempat pelaksanaan ritual manawari tidak terikat lokasi tertentu. Penulis pernah menyaksikannya dilakukan di jalan umum: saat itu dukun memegang seikat tanaman pilihan dan, di hadapan pasien, merapalkan kata-kata yang sulit dipahami dengan suara perlahan.


Secara garis besar, dikenal dua macam doa tawar utama: tawar-biring-biring dan tawar-galang-galang. Adakalanya, selain infeksi darah atau cacing, terdapat pula faktor eksternal yang memicu penyakit. Dalam kondisi tersebut, selain formula utama, digunakan pula formula khusus tambahan.


Sebagai contoh, jika seseorang jatuh dari pohon hingga patah kaki dan kemudian membengkak, maka pembengkakan tersebut dianggap sebagai penyakit pada darah yang memerlukan tawar-biring. Namun, penyebab jatuh itu sendiri yakni faktor eksternal juga harus ditangkal, sehingga digunakan pula tawar patah. Dengan prinsip serupa, dibedakan pula jenis lainnya seperti tawar-loeko (luka), tawar-sipasan (gigitan lipan/hewan berbisa), tawar-terpanggang (luka bakar), dan sebagainya.


C. TARAK


Metode pengobatan lanjutan ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:


1. Tarak Gadung

2. Tarak Raso

3. Tarak ke Gunung


Metode ini khusus diterapkan pada kelompok penyakit yang sebelumnya disebut biring-biring (umumnya berupa pembengkakan / tumor yang sudah lama, luka yang terabaikan, dan sebagainya), terutama ketika obat-obatan biasa tidak lagi membuahkan hasil.


Prosedur pengobatan ini terdiri dari dua tahap utama:


- Pertama: Penggunaan obat khusus yang telah diberikan doa atau mantra (bertawar). Pada metode Gadung, obat diberikan untuk dikonsumsi (obat dalam), sedangkan pada pengobatan air raksa (kwikkur), obat digunakan secara luar (obat oles/tempel).

- Kedua: Menjalani masa pantang atau tirakat selama 7 hari (atau kelipatannya). Selama periode ini, pasien wajib mematuhi berbagai aturan pantangan (pantang) yang ditetapkan oleh dukun.


Khusus untuk Tarak ke Gunung, pasien tidak diberikan obat apa pun. Tujuan utama dari metode ini justru adalah untuk mencari atau mendapatkan petunjuk mengenai obat yang tepat. Oleh karena itu, masa pantang atau tirakat tersebut dilakukan dengan cara mengasingkan diri di tempat yang sunyi.


Jika setelah menjalani salah satu metode tarak selama  hari (28 hari) belum juga tampak tanda-tanda kesembuhan, maka pasien dapat beralih ke salah satu dari dua jenis tarak lainnya, atau sebagai upaya terakhir, mencari kesembuhan pada dukun lain.


Beberapa orang menjalani ketiga jenis tarak tersebut secara berturutan. Jika setelah itu kesembuhan tetap tidak kunjung tiba, mereka akan berserah diri dan menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Allah.


Sebagai catatan tambahan, jika sarana lain tidak membuahkan hasil, dalam kasus penyakit yang berkepanjangan, masyarakat terkadang berharap mendapatkan kesembuhan dengan cara mengganti nama. Hal ini dilakukan karena adanya keyakinan bahwa nama yang lama tidaklah cocok atau tidak selaras dengan jiwa penyandangnya (tidak sarasi namanya). Selain itu, sering pula ditemui pasangan suami-istri yang terus-menerus didera penyakit dalam rumah tangga mereka, menyalahkan ikatan pernikahan tersebut sebagai penyebabnya, sehingga mereka memutuskan untuk bercerai.


Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai ketiga jenis tarak tersebut:


a. Tarak Gadung


(Bersambung...)

Kamis, 08 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 4)


 

b. Pengobatan Limau Daun


Pengobatan ini dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perawatan limau boewah yang diterapkan pada kasus penyakit yang lebih gawat. Pembacaan saroean, salam, dan maramaskan limau dilakukan dengan cara yang sama seperti yang telah diuraikan pada pengobatan sebelumnya. Perbedaannya terletak pada sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi oleh pasien, yang dalam keadaan kritis ini dibuat lebih sederhana.


Dalam pengobatan ini, pasien tidak diwajibkan untuk menyiramkan air limau ke seluruh tubuhnya, melainkan cukup dengan mengoleskannya ke tubuh. Penggunaan blanketsel juga tidak diwajibkan. Selain itu, mandoai dalam hal ini, sebagai suatu pengecualian, boleh dilakukan di rumah pasien. Pemberian cairan yang telah diberkati dilakukan selama tiga hari, masing-masing tiga kali sehari. Pengobatan ini dapat diulang hingga tiga kali dan sering kali pula didukung dengan pemberian obat-obatan.


Doa yang digunakan dalam pengobatan ini, selain lima doa yang telah disebutkan sebelumnya, juga mencakup dua bait berikut:


Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang !


Berkumpullah kalian, wahai Si-Djampoeroe !

Si-Raoet dengan gagang yang panjang !


Mengapa pisau bergagang panjang itu ?

Untuk mengiris limau yang digunakan menjadi irisan tipis.

Mengapa limau itu ?

Untuk dijadikan obat bagi pasien yang dirasuki oleh hantu Si-Marah-Boeroe.


Si-Oembang adalah namamu,

Si-Batjih adalah namamu,

Si-Alang-Djondjang adalah nama salah satu anjingmu,

dan Taboean-Tanah adalah nama anjingmu yang lain.


Kulit, otak, sumsum, mata, ubun-ubun, hati, jantung, limpa, dan empedu tidak boleh kalian makan, demikian kata Si-Marah-Boeroe kepada anjing-anjingnya, sambil memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang telah dirampasnya.


“Jika kalian memakan hati, jantung, limpa, dan empedu itu, maka aku akan mengambilnya kembali dari tubuh kalian.”


Marilah kita membuat suatu perjanjian selama tiga hari, dan berjanji kepadaku bahwa dalam waktu itu kalian akan kembali,

sebagaimana pasti halnya bahwa sirih dan pinang tidak berbulu.

Jika kalian tidak kembali, maka aku akan menikam kalian.


Keris suci Madang-Giri digunakan untuk menumbangkan anak-anak Si-Marah-Boeroe.


Kalian tidak akan mampu melawanku,

baik di dunia maupun di alam akhirat.

Aku mengetahui asal-usul kalian.

Kalian berasal dari suku Djambaq Katapang;

kalian tercipta dari getah akar pohon Bangkoedoe !


Nenek moyang kami, Njèg-Si-Orè, telah menetapkan suatu sumpah, sedalam laut dan sejauh cakrawala.

Nenek moyang kalianlah yang menetapkan sumpah itu.

Siapakah yang menjaga sumpah itu tetap teguh, seabadi batu di dalam air dan besi di dalam tanah !


Janganlah melanggar sumpah itu, sebab jika kalian melanggarnya, kalian beserta seluruh keturunan kalian akan binasa, anak cucu kalian akan punah oleh kutukan, dan leluhur kalian akan dikutuk oleh Sultan dan oleh enam orang Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat.


Dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.

---

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Satu tetes (keringat) Radja Soleiman yang jatuh ke langit menjadi burung langit.

Satu tetes yang jatuh ke laut menjadi roh jahat dan penjaga laut.

Satu tetes yang jatuh ke bumi menjadi Palasieq, yang berada di mana-mana, di antara langit dan bumi.


Lehermu, wahai Palasieq, telah kuikat dengan rantai yang terdiri dari seratus sembilan puluh mata.


Engkau tidak akan mampu melawanku,

baik di dunia maupun di alam akhirat.


Ludahku adalah penawar

yang melemahkan pekerjaan para iblis.


Jika Tadoeng, roh jahat berwujud ular berbuat jahat, maka racunnya akan datang dengan sendirinya;

Si-Tawar dapat ditemukan di kebun,

dan Si-Dingin di ladang padi.


Dengan hati yang tulus, hingga ke bagian terdalam,aku membacakan jampi kepada air suci yang telah disiapkan untuk limau dan juga kepada air yang telah menjadi keruh

setelah limau diperas ke dalamnya, air yang seolah terkurung dan tidak dapat mengalir ke arah mana pun. Semoga otot dan daging pasien kembali menyatu.


Wahai malaikat yang berwarna putih, turunlah dan bawalah lilin yang baru.

Mengapa lilin baru?

Untuk mendinginkan darah segar pasien.


Wahai Haq-Ampat,

jika engkau melekat pada kulit pasien, lepaskanlah.

Jika engkau mencengkeram otaknya, sumsumnya, atau ubun-ubunnya, lepaskanlah.

Jika engkau mencengkeram hatinya, jantungnya, limpanya, atau empedunya, lepaskanlah.

Jika engkau melekat pada pakaiannya atau rambutnya, lepaskanlah.


Dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


c. Pengobatan Limau Bungo


Telah dijelaskan di atas bahwa roh-roh jahat terkadang menyebabkan seseorang jatuh sakit dengan memberikan suatu tanda pengenal (manandoi). Atau, lebih tepatnya, apabila pada tubuh seseorang terdapat tanda-tanda tertentu (tando), misalnya urat hitam di sudut mata, tanda lahir, atau bercak-bercak lain, maka diyakini bahwa tanda-tanda tersebut telah dibuat oleh salah satu makhluk pengganggu dengan maksud agar orang itu dapat selalu dikenali dan ditemukan kembali. Tanda-tanda tersebut berfungsi sebagai sarana pengenal bagi roh jahat bahwa ia telah menancapkan pengaruhnya pada orang itu.


Apabila seseorang sering sakit, maka menjadi tugas dukun untuk menyelidiki apakah pada tubuh pasien terdapat atau tidak tanda-tanda seperti yang dimaksudkan tersebut. Jika hal itu memang ada, maka pasien menjalani pengobatan limau bungo.


Begitu pula jika seorang anak terus-menerus menangis—keadaan yang disebut tangkal—hal ini juga dipandang sebagai suatu tando dari salah satu roh jahat.


Perhatian terhadap tanda-tanda tersebut tampaknya hanya diberikan pada perempuan dan anak-anak, sebab pada laki-laki pengobatan limau bungo jarang atau hampir tidak pernah dilakukan.


Disadari bahwa melalui pengobatan ini tanda-tanda tersebut tidak akan lenyap, namun proses penyembuhan dipahami sedemikian rupa bahwa roh penyakit diusir dari tubuh pasien oleh limau, sementara tando itu sendiri tetap tertinggal.


Namun demikian, tanda-tanda yang tertinggal itu sering kali menyebabkan roh jahat yang telah diusir tetap menyimpan kecenderungan untuk kembali mencari dan mengganggu korbannya. Oleh karena itu, pengobatan limau bungo merupakan pengobatan yang berlangsung sangat lama dan harus dilanjutkan hingga roh jahat tersebut melupakan tanda-tanda itu.


Terutama pada tanggal dua belas setiap bulan, korban yang telah diberi tanda berada dalam bahaya besar untuk kembali diganggu oleh hantu, dan keadaan ini harus diperhatikan secara khusus dalam metode pengobatan yang sedang dibahas ini.


Tahapan bërsiang, saroean, bari salam, maramaskan limau, serta penggunaan kasai juga dilakukan lebih dahulu, dan mandoai pun tetap berlangsung di rumah dukun.


Pengobatan ini dimulai pada hari pertama bulan baru, yaitu pada hari pertama di pagi hari, hari kedua pada siang hari, dan hari ketiga pada sore hari dengan menggunakan air limau. Proses ini diulang tiga kali berturut-turut dengan selang satu hari tanpa pengobatan. Dengan demikian: hari ke-4 tidak dilakukan, hari ke-5, ke-6, dan ke-7 dilakukan; satu hari tidak dilakukan; hari ke-9, ke-10, dan ke-11 dilakukan. Perawatan selama sebelas hari ini diulangi selama tiga bulan berturut-turut.


Pada tiga bulan berikutnya, pengobatan dilakukan sebulan sekali selama tiga hari, yaitu pada tanggal 12, 13, dan 14 setiap bulan.


Pada tiga bulan ketiga, pengobatan berlangsung dengan cara yang sama seperti pada tiga bulan kedua, namun dengan ketentuan bahwa setiap kali pasien datang ke rumah dukun untuk mengambil limau, ia harus membawa seekor ayam jantan putih seluruhnya (ajam parah). Sebelum dukun mengucapkan doa yang ditentukan atas limau tersebut, ia terlebih dahulu mencampurkannya dengan beberapa tetes darah yang diambil dari jengger ayam jantan itu.


Keesokan harinya, limau dan ayam tersebut diambil kembali oleh pasien. Ke mana pun pasien pergi, ayam itu harus selalu menyertainya, termasuk ketika ia pergi ke sungai untuk melakukan penyiraman ritual dengan air limau.


Setelah tiga bulan ketiga ini berlalu, tiga hari setelah limau terakhir digunakan, ayam jantan putih yang sama dibawa kembali kepada dukun, bersama dengan seekor ayam betina, serta beberapa jenis makanan, seperti nasi lamak (ketan yang dimasak dengan santan), nasi putih, gulai ayam, dan ayam panggang. Kemudian diadakan jamuan persembahan kecil di rumah dukun.


Setelah jamuan itu selesai, dukun mengambil sedikit nasi, mencampurnya dengan darah yang sekali lagi diambil dari jengger ayam jantan, lalu memberikan nasi tersebut kepada ayam betina untuk dimakan.


Setelah itu, pengobatan dihentikan hingga tanggal dua belas pada bulan puasa terdekat. Pada hari itu, bahan-bahan limau yang diwajibkan kembali dibawa ke rumah dukun dan digunakan selama tiga hari berturut-turut. Hal yang sama dilakukan kembali pada bulan puasa berikutnya dan sekali lagi pada bulan puasa setelahnya, sehingga seluruh rangkaian pengobatan baru benar-benar selesai setelah tiga tahun penuh.


Penutupan pengobatan ini (mamatikan limau) dirayakan dengan sebuah jamuan di rumah dukun, sementara bahan makanan yang diperlukan harus disediakan oleh pasien.


Pada saat ini pula harus dibayarkan upah yang menjadi hak sang penyembuh, yang terdiri atas sejumlah uang (biasanya ƒ 0,50 atau ƒ 1) serta sehelai kain putih (kaboeng).


Apakah peran ayam jantan dan ayam betina dalam metode pengobatan ini? Para informan memberikan jawaban sebagai berikut. Melalui pengobatan limau itu sendiri, roh jahat yang telah menancapkan pengaruhnya pada pasien memang berhasil diusir, tetapi perhatiannya tetap tertuju pada tanda pengenal korbannya, sehingga penyembuhan yang bersifat menetap tidak dapat dicapai dengan cara itu saja.


Oleh karena itu, diciptakan suatu pengalihan. Ayam jantan putih berfungsi sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian roh pengganggu ke hewan tersebut. Dengan demikian, disediakan pengganti agar pasien dapat dibiarkan dalam keadaan tenteram dan pulih kembali. Oleh sebab itu, harus diusahakan sedapat mungkin agar ayam jantan tersebut tidak mati sebelum mamatikan limau selesai dilaksanakan.


Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, dilakukan pemindahan sejumlah darah ayam jantan ke dalam tubuh ayam betina dengan cara yang telah dijelaskan. Apabila ayam jantan mati sebelum waktunya, maka roh jahat tersebut akan menemukan tempat tinggal lamanya kembali pada tubuh ayam betina.


Suatu tindakan khas yang hanya dilakukan dalam pengobatan limau bungo adalah yang disebut radja-radja. Tindakan ini dilakukan dengan mencetak empat titik hitam pada delapan bagian tubuh pasien menggunakan semacam cap yang disebut soenting, yang sebelumnya dicelupkan ke dalam zat pewarna tertentu. Cap tersebut terbuat dari sepotong ranting semak sikakau (Paratropia micrantha Miq.), di mana empat cabang kecil bertemu, sehingga alat tersebut menyerupai garpu kayu dengan empat gigi yang tersusun membentuk persegi.


Untuk membuat pewarna cap, digunakan bulu dari seekor elang hitam (alang), sehelai bulu merak, sehelai bulu gagak, dan sarang burung oenggai palano. Semua bahan ini dibakar dan kemudian dicampur dengan air hingga menjadi bubur hitam. Upacara pemberian cap ini diawali dengan pembakaran damar benzoin, yang asap harumya harus dibiarkan menyapu sekeliling tubuh pasien.


Pelaksanaan radja-radja tidak semata-mata menjadi tugas dukun; siapa pun dapat melakukannya. Jika pasien adalah seorang anak, maka biasanya ibunya sendiri yang melakukannya.


Makna upacara ini, sebagaimana dijelaskan, adalah agar jiwa pasien tidak meninggalkan tubuhnya. Kata-kata soenting-gandoen yang muncul dalam doa yang akan disebutkan berikutnya dipahami sebagai “cap untuk menahan (jiwa)”.


Kini tinggal menyebutkan doa yang menyertai metode pengobatan ini.


Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:


Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Apa yang hidup dan tidak dapat mati—yakni jiwa—

hendaklah dibebaskan dari pintu kematian!


Semoga boelo Ali dan boelo Mangga binasa!

Engkau tidak boleh membuat sehelai rambut pun dari pasien ini rontok,

tidak boleh memusnahkan sehelai rambut pun darinya!


Semoga pasien dibebaskan dari gangguan boelo, djihin, dan pari

melalui limau sati dan limau dewa.


Apabila gangguan boelo, djihin, dan pari datang,

maka limau dituangkan seluruhnya ke atas kepala pasien;

dan ketika irisan-irisan limau itu jatuh menimpanya,

ia akan merasakan seolah-olah beban berat telah diangkat darinya,

seolah-olah ikatan yang menghimpit dilepaskan,

dan ia dibebaskan dari tipu daya dan jerat roh-roh jahat.


Jika penyakit ini disebabkan oleh kalian, wahai para dewa dari gunung-gunung,

kembalilah ke gunung-gunung itu;

jika ia adalah perbuatan kalian, wahai para dewa yang berasal dari awan-awan yang berkumpul atau yang tercerai-berai,

kembalilah ke awan-awan itu;

jika ia berasal dari kalian, wahai para dewa yang tinggal berkelompok di desa-desa,

kembalilah ke rumah-rumah kalian yang beratap emas,

bertiang emas,

berlantai emas,

berperiuk emas,

dan bersendok emas!


Aku menekan cap penahan jiwa pada tubuh pasien ini!


Si-Kinantan adalah nama sahabatmu.

Dari hoeri-bali engkau berasal,

dari darah samboeni engkau berasal,

dari darah tamboeni engkau berasal,

dari darah bali engkau berasal.


Kesembuhan masuk ke dalam, penyakit keluar ke luar!

Kesembuhan oleh Tuhan, oleh Muhammad, Utusan Tuhan,

dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.



d. Pengobatan Limau Tërsapo


(Bersambung ...)


Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 3)


 

a. Pengobatan Limau Buah


Apabila diagnosis menunjukkan bahwa seorang pasien telah menjadi korban dari satu atau beberapa hantu, maka pada umumnya terlebih dahulu ditempuh pengobatan limau-buah. Untuk menyiapkan (bersiang) ramuan limau yang lazim digunakan dalam pengobatan ini, kedua jenis jeruk yang telah disebutkan sebelumnya dipotong-potong atau diiris (karatan atau lambaq), lalu diletakkan di dalam sebuah wadah berisi air. Setelah itu, dukun membakar sedikit damar benzoin (kemenyan) di atas sebuah piring dengan bara api, dan limau tersebut dipegangkan sebentar di atas asapnya. Sambil melakukan hal ini, dukun menyaru para wali (Aulia), para nabi (Ambia), dan lain-lain, serta mengucapkan doa berkat (saroean) berikut atas mereka:


Hai, berkat para Aulia dan Ambia,

berkat tempat Nabi Allah,

berkat Mekah dan Madinah,

berkat tiang Ka’bah,

berkat guru-guru kami yang terdahulu,

berkat la ilaha illallah.


Selanjutnya dukun mencelupkan tangannya sebentar ke dalam air limau tersebut dan, sambil memalingkan wajahnya bergantian ke kanan dan ke kiri, melafalkan salam penghormatan (bari salam) berikut:


Assalamualaikum!

Hai Jibril, Mikail, Israil, Israpil, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali,

Mukat, Muqarrabin, Kiraman Katibin.1]



Sesudah itu dilakukan apa yang disebut maramaskan limau , yaitu dukun mengaduk air limau dengan tangannya, sementara ia dengan sangat cepat melafalkan doa lima pasal berikut, dengan mata terpejam dan tubuh bagian atas digoyangkan bergantian ke kiri dan ke kanan:


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Ya Allah! 

Wahai Utusan Allah!

Dengan berkat Nabi Allah, Nabi Muhammad!

Tolonglah aku, wahai Jibril, Mikail, Izrail, Israfil, wahai Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, wahai para malaikat yang menyertai manusia dalam perjalanan hidupnya !


Pada mulanya ada api, air, angin, dan tanah.

Hakikat manusia berasal dari ayahnya dan sifat-sifatnya berasal dari ibunya.


Tempatkanlah dirimu di kanan dan kiri si ..., di depan dan di belakangnya, wahai Yahayan, Yadayan, dan Yahasin, yang disebutkan dalam Al-Qur’an !


Sebagaimana Allah tidak mungkin tertimpa suatu musibah apa pun, demikian pula janganlah si ... ini tertimpa musibah apa pun oleh penyakitnya; dengan izin Allah, dengan izin Muhammad, Utusan Allah, dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang !


Selama keberadaan Madinah dan sepanjang umur Muhammad, semoga berkat menaungi doa suci ini, yang berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya !


Segala sesuatu telah ditetapkan, demikian dikatakan Kitab Tua tentang ketetapan Allah.

Sebagaimana kini ada gerakan di Batoe Ampar Poetih, demikian pula hendaknya ada gerakan di dalam tubuh pasien, dan sebagaimana ada gerakan ikan di pusat bumi, demikian pula hendaknya ada gerakan di dalam tubuh pasien.


Jika ia harus mati, bawalah ia kepada kebahagiaan Allah; tetapi jika ia harus tetap hidup, kabulkanlah permohonanku ini [dan sembuhkanlah ia sepenuhnya].


Izrail berdirilah di sisi kirinya dan Israfil di sisi kanannya, Mikail berdirilah di belakangnya dan Jibril di depannya, bersama Allah dan Muhammad.


Jika pasien ini terkena gangguan roh jahat pada ubun-ubunnya, tempatkanlah dirimu di sekelilingnya untuk melindungi dirinya, obatnya, dan sarana penangkalnya.


Biarlah kesembuhan masuk ke dalam dan penyakit keluar ke luar.

Kesembuhan itu oleh Allah dan Muhammad, Utusan Allah, dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Ali, namanya Ali, penopangnya Abu Bakar.


Benjolan-benjolan pada daun tanaman karoeboet, datanglah ke sini, aku memerintahkan engkau, aku meminta bantuanmu, katakanlah kebenaran ! Jika engkau berdusta atau bergurau, maka engkau tidak akan mendapat angin di atas dan air di bawah.


Limauku, limau campuran yang aku peras ke dalam piring bertepi, mengusir penyakit yang berasal dari roh-roh jahat. Yang tertinggal hanyalah bekas-bekas penyakit, dan atas itu engkau akan menangis !


Apabila bahan-bahan limau itu lengkap [yakni seperti batu penggiling bulat dan pipih untuk menggiling lada Spanyol yang harus bersama], maka kita tidak perlu lagi merasa takut.


Katakanlah dengan jujur bahwa ilmu ini bersandar pada Al-Qur’an, pada Allah, dan pada Muhammad. Semoga Jibril menolong!


Dari kegelapan engkau berasal, engkau ada demi aku, dan aku ada demi Allah !


Segala yang sakit menjadi sembuh, segala yang tajam menjadi tumpul, segala yang keras menjadi lunak oleh doa yang kuat dari Nenek Raja Sulaiman !


Dengan izin Allah, Muhammad, Utusan Allah, dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Perbuatan roh-roh jahat yang berada dalam kekuasaan Allah harus kita tanggung dan kita lawan; dan sekalipun besi di dalam tanah mulai berbicara, kekuatan untuk melawan perbuatan setan itu—yang juga berada dalam kekuasaan Allah—harus kita jadikan milik kita seribu kali lipat, untuk melawan Djoembalang-Ajër dan Djoembalang-Tabing, perbuatan para jin, setan, hantu, oebili, boelo, pari, dewa, dan mambang, perbuatan Si-Hantoe-Moeno, Si-Kati-Moeno, Si-Madang-Kilat yang berada di atas, Radja-Sikoedarang yang berada di bawah, dan Radja-Itam.


Kalian seratus sembilan puluh doebalang, yang sebagian tinggal di laut, sebagian di darat, dan sebagian di udara, kalian tidak dapat mencelakaiku, baik di bumi maupun di langit. “Hu” adalah namaku dan Wahab adalah namamu. Kalian akan terus ditebas oleh pedang Ali sampai kalian mati.


Ali mengangkat ke derajat mereka Raja Sulaiman Putih, yang tinggal di awan putih, Raja Sulaiman Kuning, yang tinggal di awan kuning, Raja Sulaiman Hijau, yang tinggal di pegunungan awan, dan Raja Sulaiman Hitam, yang tinggal di bukit-bukit di bumi.


Hai para Raja Sulaiman, yang berjumlah empat puluh empat, yang tinggal di empat lapisan langit di atas bumi dan empat lapisan bumi di bawah bumi, dan para pengantin dari tujuh Si-Bintoro yang tinggal di hutan, janganlah berbuat curang dan menyiksa umat manusia. Aku tahu asal-usulmu. Dari senja engkau berasal dan ke senja engkau kembali. Engkau muncul ketika matahari bersinar di tengah hujan dan engkau kembali ketika hujan turun bersamaan dengan matahari. Engkau datang dari pohon-pohon besar dan ke sanalah engkau kembali. Engkau datang dari batu-batu besar dan ke sanalah engkau kembali. Engkau muncul dari tanah yang dapat dimakan dan ke sanalah engkau kembali. Engkau datang dari pusat lautan dunia dan ke sanalah engkau kembali. Aku mengetahui bagaimana engkau diciptakan: demi Jibril engkau diciptakan.


Dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Aku mengucapkan dengan niat yang sungguh-sungguh doa-ku [yakni sarana perlindunganku].


Muhammad berdiri; Yahayan, Yadayan; Yasin ada di dalam Al-Qur’an.


Sebagaimana Allah tidak mungkin tertimpa musibah apa pun, demikian pula janganlah si ... ini tertimpa bahaya apa pun oleh penyakitnya.


Saroe dan Baroe, apabila kalian bertemu manusia, menyingkirlah ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang mereka.


Aku menggunakan doa untuk penangkalan dan pengalihan.


Sebagaimana arus kuat dapat berubah arah bukan karena perbuatan kita, melainkan oleh kehendak Allah Yang Mahatinggi, demikian pula pengalihan gangguan roh-roh jahat bukanlah pekerjaan kita, melainkan pekerjaan Allah.


Dengan izin Allah, Muhammad, Utusan Allah, dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.

........... 


Yang disebut mandoai ini selalu dilakukan oleh dukun di rumahnya sendiri dan selalu pada waktu malam; pasien tidak hadir dalam ritual tersebut. Pasien sendiri harus menyediakan bahan-bahan limau yang diperlukan dan membawanya ke rumah dukun, dan setelah air limau itu disucikan dengan doa-doa yang dibacakan di atasnya, pasien harus mengambilnya sendiri dari rumah dukun. 


Dengan air limau tersebut, yang harus mencukupi untuk tiga hari, pasien melimaui dirinya ketika mandi di sungai, sedemikian rupa sehingga cairan yang telah disucikan itu mengalir ke seluruh tubuhnya. Pada hari pertama digunakan pada pagi hari, pada hari kedua pada siang hari, dan pada hari ketiga sisanya digunakan pada waktu matahari terbenam (sanjo). Setelah penyiraman ritual ini, orang sakit menyelam sebentar ke dalam air, kemudian mengoleskan ke seluruh tubuhnya sejenis bedak harum (kasai) dengan maksud untuk menghancurkan semua pengaruh buruk yang masih tersisa. Setelah itu dilakukan lagi penyelaman untuk membilas kasai tersebut. Untuk bedak ini diperlukan tiga butir kasai dari tepung beras, masing-masing dengan warna yang berbeda: hari pertama putih, hari kedua kuning, dan hari ketiga hitam.


Apabila pengobatan tiga hari ini telah selesai, maka pasien di rumahnya membakar sedikit koemajan (kemenyan) di atas piring dengan bara api dan membiarkan asap harum itu menyelimuti tubuhnya dari segala sisi, juga dengan maksud untuk membersihkannya dari semua pengaruh merugikan yang masih melekat.


Selama tiga hari tersebut, pasien harus menjaga agar bayangannya tidak disentuh oleh siapa pun dan agar tidak ada seorang pun yang melintasi bayangannya, karena hal itu diyakini pasti akan berdampak buruk baginya.


Menurut kepercayaan, banyak orang sakit yang sembuh hanya dengan pengobatan limau ini saja. Jika tidak demikian, maka pengobatan yang telah dijelaskan ini sering didukung dengan obat-obatan, yang berbeda-beda untuk setiap jenis penyakit.


Jika penyakit belum juga hilang, pengobatan ini dapat diulangi hingga tiga kali berturut-turut. Jika setelah itu masih belum tampak perbaikan (tida berangsur) dan obat-obatan pun tidak lagi membantu (tida talok diobat), maka disimpulkan bahwa penyakit tersebut bersifat lebih serius dan selanjutnya dilakukan pengobatan limau-daun, yang akan dibahas berikut ini.


6. Pengobatan Limau-Daun

(Bersambung ...)



Catatan kaki:


1] Kiraman Katibin adalah dua malaikat yang menyertai manusia untuk mencatat perjalanan hidupnya; mereka memberi inspirasi bagi De Genestet dalam puisinya yang indah “Turksche Beeldspraak”. Para Muqarrabin adalah para pembawa singgasana Allah.

Selasa, 06 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu Di Padang Darat (Bag.2)


 

II. METODE PENGOBATAN


Sama fantastisnya dengan penyebab penyakit itu sendiri, sarana untuk mengenali berbagai penyakit serta menetapkan metode pengobatan yang sesuai untuk setiap kasus spesifik juga demikian adanya. Sudah barang tentu hanya para dukun yang secara profesi memahami sarana-sarana tersebut.


Mengenai jabatan dukun, perlu disampaikan sepatah kata terlebih dahulu. Biasanya keahlian ini diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, namun terkadang seseorang juga mempersiapkan diri dengan mengikuti pendidikan di bawah bimbingan dukun lain dalam waktu yang cukup lama. Sebagai aturan umum, para praktisi medis ini juga merupakan pelaksana kewajiban agama yang setia dan bersedia datang untuk mandoa (berdoa) serta mangadji (mengaji) apabila diminta. Meskipun dalam gaya hidup sehari-hari mereka tidak berbeda dengan penduduk desa lainnya, mereka sering kali mendapatkan kedudukan tinggi di masyarakat karena dianggap memiliki alémoe (ilmu) yang diperlukan—yaitu kekuatan supranatural untuk menangkal praktik-praktik roh jahat. Terdapat dukun laki-laki maupun perempuan, kecuali dukun balian (dukun beranak/bidan) yang selalu dijabat oleh perempuan.


Apabila seorang dukun dipanggil untuk mengobati orang sakit, sudah menjadi kebiasaan tetap bahwa baginya disiapkan sekapur sirih, yang diperlukan untuk mendiagnosis penyakit tersebut. Setelah ia mengunyah sirih itu beberapa saat, ia menyemburkan ampas kunyahannya tiga kali berturut-turut ke dalam sebuah mangkuk kecil dan memeriksa isinya dengan saksama.


Jika mangkuk berisi air liur tersebut terasa suam-suam kuku (niloe-niloe koekoe), maka hal itu menjadi petanda pasti bahwa pasien tersebut tersapo (terkena sapaan roh). Seketika itu juga, air liur tersebut digunakan untuk membuat tanda salib/silang di dahi pasien dan persendiannya juga diolesi dengan air liur tersebut. Setelah itu, pasien menjalani apa yang disebut sebagai pengobatan liman.


Apabila melalui teknik dukun tersebut terbukti bahwa penyakit bukan disebabkan oleh roh jahat melainkan oleh pengaruh internal, maka diterapkanlah pengobatan tawar.


Sebelum kita membahas lebih lanjut kedua metode pengobatan ini, tampaknya perlu untuk memberikan catatan umum mengenai hakikat sarana-sarana yang diyakini dapat melawan roh penyakit dengan berhasil demi memperoleh kesembuhan.


Meskipun secara umum ditakuti, roh-roh tersebut tidaklah mahakuasa. Terutama pada kata-kata yang diucapkan oleh dukunlah mereka harus patuh. Di sinilah terletak sebagian besar kekuatan dari mantra-mantra pengusir roh yang akan disebutkan nanti. Perlu dicatat sejak awal bahwa mantra-mantra tersebut, menurut keyakinan mereka, bukan berasal dari manusia, melainkan dari Radja Soleiman—pemimpin roh jahat itu sendiri. Jadi, manusia melawan mereka dengan senjata dari gudang senjata mereka sendiri. Ketidakkonsistenan yang tampak ini tidaklah berdiri sendiri. Di mana Radja Soleiman beserta kaki tangannya membuat manusia sakit, ia pulalah yang memberikan beberapa saran obat-obatan kepada manusia.


Legenda menceritakan bahwa Radja Soleiman suatu ketika membagikan racun penyakit (biso) kepada burung Fadoeng serta seluruh doebalang dan bawahannya untuk ditiupkan kepada manusia agar jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, ia juga memberi tahu manusia bagaimana cara melumpuhkan racun penyakit tersebut: "Di dekat batu tangga rumahku, tempat aku biasa membasuh kaki," katanya, "tumbuh dua tanaman; yang satu bernama si-tawar dan yang lainnya bernama si-dingin. Yang pertama berfungsi untuk menetralkan segala pengaruh penyakit (panawari sakalian biso), yang kedua untuk mendinginkan segala pengaruh penyakit (kapandingini sakalian biso)." Dengan istilah "mendinginkan" ini, yang dimaksud juga adalah menjaga dari pengaruh-pengaruh berbahaya. Karakter dualistik dari roh jahat ini telah kita perhatikan sebelumnya saat menyebutkan gantoeng poetjoeq, sebuah jimat yang ditunjukkan oleh Hantoe Si-Marah-Boeroe sendiri sebagai sarana untuk melawan praktik jahatnya. Dalam hubungan ini, perlu diingat kembali bagaimana di Eropa dahulu, ketika kepercayaan terhadap iblis sebagai makhluk yang berkeliaran di bumi masih kuat, iblis juga dianggap sebagai pembawa racun sekaligus penawarnya.


Keyakinan bahwa pendinginan (verkoeling) memiliki khasiat penyembuhan sangatlah kuat di kalangan masyarakat Melayu, sehingga jika suatu obat telah diberikan, pasien akan selalu ditanya apakah obat tersebut terasa dingin; jika jawabannya negatif, maka mereka akan segera beralih ke obat lain.


Sering kali makna dari mantra-mantra yang digunakan sulit dipahami oleh orang luar karena banyaknya deskripsi simbolis serta kata-kata kuno yang sudah jarang atau tidak lagi digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari. Namun, di dalam ketidakpahaman itulah justru terletak sebagian dari kekuatan magis kata-kata tersebut. Terkadang mantra itu berisi ancaman atau kutukan untuk mengusir setan penyakit, terkadang mereka mencoba mengelabui roh-roh tersebut dengan tipu daya, atau membujuk mereka secara halus melalui janji-janji dan sanjungan. Lebih lanjut, mantra-mantra tersebut memberikan banyak contoh bahwa manusia mencoba melumpuhkan roh-roh itu dengan menunjukkan bahwa manusia telah mengenali mereka; bahwa nama, hakikat, asal-usul, serta penampilan mereka tidak lagi tersembunyi bagi manusia.


Di mana-mana di muka bumi ini, tulis Prof. J. J. M. de Groot, studi tentang bangsa-bangsa prasejahtera telah mengajarkan bahwa mereka sulit membedakan secara tajam antara kenyataan dengan apa yang diwakilinya, dan karenanya selalu menyamakan nama dengan pribadi yang dimaksud. Siapa yang mengetahui nama seseorang, maka ia memiliki pengaruh atas individu tersebut dan dapat menimbulkan malapetaka sesuka hati melalui berbagai bentuk sihir.


Itulah sebabnya muncul fenomena, yang juga asli di Nusantara kita, bahwa orang cenderung tidak memberitahukan nama orang-orang yang mereka hormati kepada orang asing. Itulah pula asal mula aksioma yang berlaku umum di Tiongkok, bahwa tidak ada hantu, termasuk harimau jadian (menschtijger), yang dapat mencelakai mereka yang menunjukkan bahwa ia mengetahui nama hantu tersebut dan dengan demikian memiliki kekuasaan atasnya. Perlu dicatat bahwa di Eropa juga terdapat kepercayaan bahwa jika seseorang memanggil manusia serigala (weerwolf) dengan nama baptisnya, ia akan kembali ke wujud manusia dan kehilangan sifat bahayanya.


Keunikan lain dari mantra-mantra tersebut adalah bahwa manusia berkali-kali mengingatkan roh-roh jahat itu akan suatu sumpah. Dalam hal ini perlu diingat bahwa roh-roh tersebut tidak hanya dianggap memiliki kecenderungan murni manusia, tetapi juga bahwa pertanggungjawaban mereka atas perbuatan mereka diatur oleh hukum yang serupa dengan hukum manusia; sehingga mereka pun, sebagaimana manusia, pasti akan menanggung konsekuensi fatal apabila mereka tidak setia pada sumpah yang pernah mereka ucapkan.


A. MALIMAUI


Yang dimaksud dengan malimaui adalah suatu bentuk pengobatan limau, yang pokok pelaksanaannya terletak pada tindakan menyiramkan penderita secara berkala dengan air limau tertentu, yang komposisinya telah ditetapkan sebelumnya, dan atasnya telah dibacakan doa khusus oleh seorang dukun.


Cara pengobatan ini, sebagaimana telah dijelaskan, hanya diterapkan apabila penyebab penyakit diyakini berasal dari gangguan makhluk halus.


Sebagaimana diketahui, buah-buahan jenis limau atau jeruk, karena rasa asamnya, termasuk ke dalam benda-benda yang menimbulkan rasa takut dan penghormatan sakral bagi para hantu.[1]


Campuran limau yang digunakan dalam praktik malimaui terdiri atas empat macam, yang disesuaikan dengan gejala penyakit yang dialami, yaitu sebagai berikut:


1. Limau Boewah


Campuran ini terdiri atas tiga buah limau kapas (juga dikenal sebagai limau nipis) dan tiga buah limau loenggo.


- 2. Limau Daoen


Campuran ini dibuat dari berbagai jenis daun dan bagian tumbuhan, yaitu:

daun si tawar (tumbuh di daerah berawa, tinggi 2–3 meter, berdaun lonjong dengan bulu halus di bagian bawah; mahkota bunganya berwarna putih dan tumbuh pada tangkai bunga merah keunguan), si dingin (semak setinggi ±1 meter, dengan daun dan batang berdaging yang terasa sejuk; bunganya menyerupai lonceng kecil berwarna hijau dan ungu muda), tji karau, tji koempai (sejenis rumput rawa),


djariangau atau kalmoes (di Jawa dikenal sebagai dringo, tumbuhan beraroma tajam yang berkembang biak cepat melalui rimpang di tanah lembap), koenjit bolai (juga disebut koenjit boenglai; di Jawa dikenal sebagai banglé, sejenis tanaman tinggi dengan bunga merah keunguan; rimpangnya berwarna kuning pucat dan beraroma),


banto (sejenis rumput), talang (sejenis bambu), saroq sabalai, akar sirah, koendoer (tanaman merambat dengan buah menyerupai labu), akar kait-kait (tanaman memanjat dengan pengait), baliq angin (pohon berukuran sedang, daunnya berbeda warna di kedua sisi sehingga tampak berubah warna saat tertiup angin; bunganya kecil berwarna ungu dan tumbuh berkelompok).


Selain itu digunakan pula pucuk muda (oemboet) dari:

* taboe oedang (sejenis tebu merah),

* rasau (jenis pandan),

* toembarau (sejenis rumput rawa),

* pisang kombali dan

* pisang tambatoe.


- 3. Limau Boengo (juga disebut limau sati)


Campuran ini terdiri atas masing-masing satu buah dari lima jenis limau, yaitu: limau poeroet, limau kapas, limau koentji, limau saring, dan limau loenggo.


Selain itu ditambahkan beberapa kuntum dari masing-masing bunga berikut:

tjampago (kuning tua dan beraroma kuat), mara (tidak berbau, tetapi indah; berbentuk bunga kupu-kupu berwarna jingga kemerahan), tandjoeng (kuning dan harum), boengo tjino (kepala bunga kecil berwarna kuning), pandam kaki (putih dan sangat harum).


- 4. Limau Tersapo


Campuran ini terdiri atas tiga buah dari masing-masing tiga jenis limau, yaitu: limau kambing, limau kapas, dan limau loenggo.


Doa dalam Malimaui


Setiap dari keempat campuran limau tersebut disertai dengan satu bentuk doa atau mantra tertentu (doa), dan justru doa-doa inilah yang diyakini sebagai sumber kekuatan batin dari praktik malimaui.


Dengan demikian dikenal empat jenis doa, yaitu:


- doa limau boewah,

- doa limau daoen,

- doa limau boengo,

- doa limau tersapo.


Doa limau boewah terdiri atas lima bait (pasal).

Doa limau daoen dan limau tersapo masing-masing terdiri atas lima bait tersebut ditambah dua bait lainnya.

Adapun doa limau boengo terdiri atas lima bait dasar ditambah satu bait tambahan.


Setiap bait doa selalu diawali dengan ucapan Bismillah.


a. Pengobatan Limau Boewah


(Bersambung …)


[1] Rasa takut sakral terhadap limau tampak sangat jelas, misalnya, dalam kegiatan penambangan timah di Semenanjung Melayu. Mengenai hal ini, Skeat pada halaman 264 karyanya Malay Magic antara lain menyampaikan sebagai berikut:


“Buah limau tidak boleh dibawa ke dalam tambang. Kepercayaan pantang ini khas di kalangan para penambang Melayu, yang memiliki rasa takut khusus terhadap buah ini. Dalam bahasa pantang, mereka menyebutnya salah nama (secara harfiah: ‘nama yang keliru’), dan bukan limau nipis.”




Lebih lanjut, pada halaman 254 karya yang sama, Skeat menulis:


“Apabila buah limau dibawa ke area tambang, para hantoe (roh) diyakini akan tersinggung. Unsur dari buah tersebut yang dianggap tidak disukai tampaknya adalah sifatnya yang asam. Menarik bahwa kepercayaan ini juga terdapat di kalangan orang Tionghoa, tidak hanya di kalangan Melayu. Tidak lama berselang, seorang towkay Tionghoa pemilik tambang mengadukan bahwa para pekerja dari kongsi saingan telah membawa limau dan memeras airnya ke dalam saluran utama tambangnya. Selain itu, mereka juga menggosok tubuh mereka dengan air jeruk yang dicampur air dari saluran tersebut. Ia menyatakan bahwa tindakan itu merupakan pelanggaran yang sangat berat dan menuntut agar para pelakunya dijatuhi hukuman.”




Di kalangan orang Melayu, pantangan ini tampaknya termasuk yang paling penting, dan diterapkan dengan sangat ketat. Bahkan belachan (terasi udang) pun tidak diperkenankan dibawa ke tambang, karena dikhawatirkan dapat mendorong orang untuk membawa limau, mengingat air jeruk merupakan bahan pelengkap yang lazim digunakan saat belachan disiapkan untuk dikonsumsi.


Di wilayah dunia Barat pun, buah limau—khususnya lemon—menempati kedudukan penting dalam praktik pengobatan tradisional. Sebagai tambahan penjelasan, lemon telah lama dikenal sebagai salah satu bahan obat yang bernilai tinggi.


Penggunaan medis lemon di kalangan rakyat dilakukan, antara lain, dengan menambahkannya ke dalam air minum bagi orang sakit serta ke dalam bir putih, karena air perasannya dipercaya dapat memperkuat lambung dan menghambat kerja ragi. Pada masa ketika lemon masih jarang ditemukan, buah ini bahkan kerap dianggap memiliki khasiat yang hampir bersifat magis, dan sejak awal telah dipandang sebagai suatu zat antiseptik, serta memiliki berbagai kegunaan pengobatan lainnya.


(Sumber: Dr. M. Höfler, Volksmedicin und Aberglaube in Oberbayerns Gegenwart und Vergangenheit).