Basarah: Catatan Kontrolir O’Brien di Distrik Kwantan (1905)***
Laporan ini merangkum perjalanan dinas yang dilakukan oleh Kontrolir O’Brien dari tanggal 27 Juli hingga 9 Agustus 1905, yang membentang dari Gunung Sahilan menuju Basarah di tepian Sungai Kwantan, serta menyertakan catatan mengenai wilayah Tanah Darat dan Distrik Kwantan.
"Awal Perjalanan: Menyusuri Sungai Teso"
Perjalanan dimulai pada 27 Juli 1905. Kontrolir O’Brien berangkat dari Gunung Sahilan didampingi delapan personel polisi bersenjata dengan menggunakan dua perahu kayu. Mereka menyusuri Sungai Teso menuju Lubuk Merbo. Dalam kondisi debit air normal, perjalanan dari Gunung Sahilan ke Londar memakan waktu sepuluh jam, dengan pengawalan dari para kepala wilayah (*hoofden*) Teso. Dari Londar, dibutuhkan waktu sepuluh jam lagi untuk mencapai Ampang Cimpur, dan delapan jam berikutnya hingga tiba di Lubuk Merbo. Di tempat inilah perahu ditinggalkan dan rombongan bermalam.
"Melintasi Tanah Darat dan Parit Jawo"
Keesokan harinya, ekspedisi dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju wilayah Tanah Darat. Perjalanan menempuh waktu enam jam menuju Perhentian Tinggi melalui Pangkalan Bringin. Di Pangkalan Bringin, rombongan ditemui oleh seluruh kepala adat dan *dubalang* dari Luhak nan Berlimo (wilayah utara Tanah Darat). Mereka mengawal rombongan hingga ke Parit Jawo dan tetap berjaga di sana. Di sisi kiri jalan setapak dekat Pangkalan Bringin, tercatat keberadaan sebuah makam keramat. Rombongan bermalam di Perhentian Tinggi sebelum melanjutkan perjalanan selama empat jam menuju Parit Jawo pada hari berikutnya.
Di Parit Jawo, Kontrolir memanggil Datuk Amat dari Teso serta para pemimpin otoritas Tanah Darat. Terjadi sebuah kesalahpahaman awal di mana masyarakat setempat mengira rombongan tersebut adalah agen dari seorang pedagang bernama Tuan Bluntschli. Kontrolir segera memberikan penjelasan bahwa kedatangannya mewakili *Kompeni* (Pemerintah), bukan sebagai saudagar. Ia menegaskan bahwa jika misi ini gagal, tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan Raja Basarah dan para kepala wilayah yang mendukungnya.
Saat itu, utusan dari Pangean dan Basarah tiba dengan membawa surat dari Raja Basarah yang ditujukan kepada dua kepala wilayah Tanah Darat. Di antara mereka terdapat Manti Raja, seorang pria berusia enam puluh tahun yang masih tampak kuat dan merupakan kerabat jauh Raja yang sering dimintai nasihat dalam persoalan pelik.
"Diplomasi dan Pemahaman Mengenai "Kompeni"
Muncul kabar mengenai tuntutan dari Raja Basarah agar pihak Kontrolir membawa uang sebesar f1.000 jika ingin mengadakan pertemuan. Di sisi lain, Manti Raja mempertanyakan definisi sebenarnya dari "Kompeni". Terungkap bahwa bagi penduduk Kwantan, istilah Kompeni sering kali dipahami secara terfragmentasi; mereka mengenal "Kompeni Bukit Tinggi", "Kompeni Indragiri", dan "Kompeni Medan" sebagai entitas yang berbeda.
Konsep otoritas pusat sepenuhnya asing bagi mereka. Kontrolir harus memberikan penjelasan mendalam bahwa seluruh "Kompeni" tersebut adalah satu kesatuan, dan para pejabat pemerintah adalah abdi dari satu Kompeni yang tunduk pada perintah Gubernur Jenderal di Buitenzorg (Bogor).
Pada 3 Agustus, utusan pribumi yang sebelumnya dikirim ke Basarah kembali dengan membawa surat balasan dari Raja. Dalam surat tersebut, Raja menyatakan kesediaannya untuk menerima kunjungan dan meminta agar persoalan uang f1.000 tersebut diabaikan. Meski tidak menaruh harapan besar pada keberhasilan misi diplomatik ini, Kontrolir tetap bertekad untuk melihat langsung kondisi wilayah Kwantan dan mencatat hal-hal penting di sana. Situasi ini mengingatkan pada pengalaman yang dicatat oleh IJzerman di Lubuk Ambacang, di mana permintaan uang serupa juga pernah diajukan sebagai syarat keramahtamahan.
"Menuju Jantung Basarah"
Pada 4 Agustus, rombongan berangkat dari Parit Jawo menuju Basarah dengan pengawalan kepala wilayah Tanah Datar. Di Perhentian Lawas, mereka bertemu dengan pemimpin Pangean dan juru tulis (*krani*) kepercayaan Raja yang bertugas mengantar rombongan ke Basarah. Perjalanan kaki dari Parit Jawo ke pasar Pangean memakan waktu empat jam, disusul dua jam berikutnya menuju Basarah.
Setibanya di Pangean yang saat itu bertepatan dengan hari pasar (Jumat), sempat terjadi kegaduhan saat para perempuan di pasar melihat personel polisi bersenjata dan berseru, "*Kompeni datang!*". Namun, situasi tetap terkendali tanpa ada insiden. Setelah beristirahat sejenak di kedai milik seorang haji asal Pariaman, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri tepi kiri Batang Kwantan. Di Tanah Bakali, mereka menyeberangi sungai menggunakan perahu besar sepanjang 20 meter yang mampu menampung 30 orang, dan tiba di kanan sungai Basarah pada pukul empat sore.
"Pertemuan dengan Raja Basarah"
Halaman depan kediaman Raja dipenuhi oleh rakyat yang bersenjata. Di gerbang, berdiri seorang pria Melayu berpakaian hitam yang mengenakan medali perunggu dan Salib Ekspedisi Aceh dengan dua gesper di dadanya, serta menyandang pedang pengawas polisi. Ia menghunus pedangnya dan memberikan penghormatan saat rombongan mendekat.
Kerabat muda Raja menyambut dan mengantar Kontrolir menuju *Balai Penghadapan* (ruang audiensi). Bangunan kayu beratap rumbia tersebut memiliki lantai yang ditinggikan di tengahnya dengan dua kursi yang tersedia. Raja menyambut di tangga balai dan mempersilakan Kontrolir naik.
Pertemuan tersebut disaksikan oleh orang banyak. Kontrolir dalam kondisi lelah dan kotor setelah perjalanan panjang melintasi hutan dan lumpur, sementara Raja tampak gugup. Raja mengenakan celana hitam buatan lokal, jas hitam yang terbuka sebagian hingga memperlihatkan hulu kerisnya, kopiah hitam dengan hiasan emas selebar telapak tangan, dan tanpa alas kaki. Raja memohon maaf karena tidak dapat menerima kunjungan di istana (*astana*) utama dengan alasan salah satu anaknya sedang sakit.
"Deskripsi Wilayah Astana"
Kompleks kediaman Raja (Astana) dikelilingi oleh pagar tanaman hidup. Parit dan pagar memisahkan halaman depan dengan area kediaman pribadi. Halaman depan ditanami pisang dan menjadi tempat penggembalaan ternak, di mana seekor gajah berusia satu tahun juga tampak berkeliaran. Di sisi kiri halaman terdapat gudang garam milik Raja yang saat itu hanya berisi enam karung garam, sementara di sisi kanan berdiri Balai Penghadapan dan paviliun penginapan.
Akses menuju kediaman dibatasi oleh pintu gerbang luar, tempat sebuah meriam besi tua bertahun 1766 diletakkan. Dari gerbang luar, jalan selebar dua meter menuju gerbang kedua; kedua gerbang tersebut memiliki atap. Gerbang pertama tetap terbuka pada malam hari, sedangkan gerbang kedua selalu dikunci. Bangunan istana sendiri merupakan rumah papan tua beratap rumbia. Di sebelah selatan kediaman Raja, terdapat jalan setapak yang terpelihara baik menuju Kota Raja, pusat permukiman keluarga raja yang berjarak 40 menit perjalanan. Sekitar lima menit ke arah barat dari sana, terletak pemakaman kerajaan yang nisan-nisannya tidak berbeda dengan makam masyarakat umum.
"Negosiasi di Basarah dan Catatan Geografis Rantau Kwantan (1905)'
"Pertemuan dengan Raja Hasan"
Raja Hasan digambarkan sebagai sosok dengan perawakan sedang, bertubuh kurus dan pucat, serta memiliki suara yang serak. Dalam pertemuan tersebut, ia sempat dibantu dengan pemberian pil kina. Terdapat fenomena menarik mengenai besarnya kepercayaan masyarakat di Kwantan dan Tanah Darat terhadap obat-obatan Eropa; sepanjang perjalanan, banyak penduduk yang datang berbondong-bondong untuk meminta obat (obat).
Perundingan resmi dengan Raja dimulai pada Sabtu pagi, 5 Agustus, pukul 09.00 di kediaman pribadinya. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Raja beserta kerabatnya, Manti Raja yang telah disebutkan sebelumnya, para pemuka dari Tanah Darat, serta beberapa penghulu (kepala kampung) dari Basarah dan Pangean.
"Struktur Kekuasaan dan Federasi Kwantan*"
Secara umum diakui bahwa distrik-distrik Kwantan berada di bawah wewenang Raja di Basarah dan lima orang besar (*Orang Gadang*) atau *Datoek nan Balimo*, yaitu:
1. Datuk Putro di Cerenti.
2. Datuk Danu Sakaro di Inuman.
3. Datuk Majo Bisai di Taluk.
4. Datuk Chabitdi Lubuk Jambi.
5. Datuk Paduko Rajo di Lubuk Ambacang.
Secara historis, Rantau Kwantan terdiri dari XIX Kota (koerang aso doea poeloeh) yang berada di bawah kedaulatan seorang Sultan dan lima Orang Gadang tersebut. Namun, sejak pengangkatan Jang Pitoean Pandak pada tahun 1845, federasi Lubuk Ambacang dan Lubuk Jambi telah memisahkan diri. Jang Pitoean Pandak beserta para penerusnya hanya diakui dan diikuti (arak) dari Kari hingga Cerenti. Hal yang sama berlaku bagi penguasa saat itu, Raja Hasan yang menyandang gelar Jang di Pertoean Poetih, namun ia bukanlah seorang Sultan. Belakangan, Cerenti dan V Kota Taluk juga memisahkan diri. Masyarakat Taluk sendiri dikenal memiliki sentimen kuat terhadap keberadaan bangsa Eropa.
Saat itu, otoritas nyata Raja Hasan hanya diakui oleh Inuman, Basarah, dan Pangean. Para pimpinan dari ketiga nagari ini, bersama dengan Tanah Darat, telah menyatakan secara tertulis untuk mematuhi kesepakatan yang dibuat Raja dengan pihak Pemerintah. Namun, para pimpinan V Kota Taluk secara tegas menolak untuk datang ke Basarah guna melakukan pertemuan.
"Persoalan Narapidana dan Hukum Adat"
Negosiasi terutama berfokus pada penangkapan dan pengembalian para pekerja paksa yang melarikan diri dari Indragiri. Raja menjamin bahwa tidak ada dari mereka yang berada di wilayah Inuman, Basarah, dan Pangean, namun ia berjanji bersama para penghulu akan melakukan pencarian di wilayah-wilayah tersebut termasuk Tanah Darat. Sebagai syarat, Raja meminta pernyataan tertulis bahwa apabila terjadi perlawanan yang menyebabkan pelarian tersebut terluka atau tewas, Pemerintah tidak akan menuntut "uang darah" (pampas atau dandang). Permintaan tersebut dikabulkan.
Informasi dari sumber lain menunjukkan bahwa para pelarian tersebut sebagian besar bersembunyi di V Kota Taluk, V Kota di Tengah (federasi Lubuk Jambi), dan federasi Lubuk Ambacang. Di Kota Tuo, terdapat sekitar enam pelarian yang berlindung pada Angku Kuning (Sutan Abdul Majid), serta sekitar dua puluh keluarga asal Jambi yang juga diberi perlindungan di Kota Tuo dan Sarasah. Di wilayah-wilayah ini, Raja Hasan tidak lagi memiliki otoritas nyata, meskipun ia berjanji akan mencoba membujuk pihak V Kota untuk berkompromi.
"Perjalanan Pulang ke Gunung Sahilan"
Pada Senin, 7 Agustus, rombongan memulai perjalanan pulang menuju Gunung Sahilan melalui rute yang sama. Rombongan dikawal oleh putra dan keponakan Raja hingga ke Pangean, kemudian oleh pimpinan Pangean hingga Perhentian Lawas, dan selanjutnya oleh pimpinan Tanah Darat. Berangkat pukul 06.30 dari Basarah, rombongan tiba di Parit Jawo pukul 14.00 untuk bermalam. Di sana, apresiasi disampaikan kepada para pimpinan Tanah Darat atas bantuan setia mereka, mengingat angkutan barang sepenuhnya bergantung pada mereka tanpa bantuan tenaga dari penduduk Kwantan.
Meskipun Raja Hasan menekankan bahwa Tanah Darat berada di bawah kekuasaannya, para pimpinan Tanah Darat justru menyatakan kesediaan mereka untuk mengikuti perintah Pemerintah secara langsung.
Perjalanan berlanjut pada Selasa, 8 Agustus, menuju Lubuk Merbo dan tiba pukul 17.00. Keesokan harinya, 9 Agustus, rombongan berangkat menggunakan perahu pada pukul 06.00 dan tiba di Gunung Sahilan tepat tengah malam, terbantu oleh kondisi air pasang dan cahaya bulan. Perjalanan pulang melalui sungai jauh lebih mudah dibandingkan saat keberangkatan, di mana saat itu Sungai Teso sangat dangkal dan banyak terhalang oleh batang pohon yang tumbang sehingga perahu harus ditarik melintasi kerikil.
"Catatan Geografis dan Pemukiman"
Jalur dari Lubuk Merbo menuju Pangean merupakan jalan hutan yang melintasi beberapa lereng kecil di sekitar Parit Jawo. Selebihnya, medan berupa hutan lebat yang mendatar, kecuali di sekitar permukiman yang telah dibersihkan untuk peladangan. Di sepanjang tepi Batang Kwantan, jalur melintasi kampung-kampung dan persawahan yang tertata (sawah djadjaran), dengan tanaman padi yang baru setinggi jari.
Di Tanah Bakali, terdapat sisa-sisa benteng (koeboe) dengan bambu berduri yang dulunya digunakan dalam perang adat antar-nagari. Berdasarkan informasi, pemukiman dan persawahan membentang bersambungan di kedua sisi sungai dari Lubuk Jambi hingga Cerenti. Lebar sungai di Pangean dan Basarah diperkirakan mencapai 200 meter.
Beberapa titik pemukiman kecil tercatat, seperti Perhentian Tinggi yang hanya terdiri dari empat rumah, serta Banjar Pangean yang terdiri dari enam rumah milik penduduk Pangean. Dari Perhentian Tinggi juga terdapat jalur ke arah selatan menuju Sentajo melalui Taratak Aer Itam.
"Catatan Singkat Mengenai Tanah dan Penduduk di Tanah Darat dan Kwantan"
(Bersambung...)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar