Sabtu, 14 Februari 2026

POTRET KEHIDUPAN ORANG RANTAI TAHUN 1899 DI SAWAHLUNTO


 

Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad - Datum 05-07-1899


Teks ini melaporkan korespondensi dari Solok tertanggal 29 Juni mengenai situasi di Sawah-Loento (Sawahlunto) dan sekitarnya.


DARI SOLOK seseorang menulis kepada kami tertanggal 29 Juni yang lalu:


Dari seseorang di Sawah-Loento saya mendengar bahwa beberapa hari yang lalu seorang narapidana rantaian (kettingganger) telah dibunuh oleh satu atau lebih rekannya. Pria itu menerima sekitar dua puluh tusukan pisau; ia ditemukan keesokan harinya tergeletak di semak-semak, mati kaku. Pembunuhnya tidak diketahui. Apakah polisi sudah menangkap pelakunya, saya tidak tahu. Menurut kabar yang beredar, pembunuhan misterius seperti itu sering terjadi di Sawah-Loento tanpa mendapatkan penjelasan. Pada sebagian besar pembunuhan, para pelaku membiarkan pisau tetap berada di dalam luka; pastinya, agar tidak mengkhianati diri mereka sendiri dengan noda darah.


Tampaknya di Sawah-Loento anjuran mengenai tindakan pencegahan terhadap wabah pes dan cacar diabaikan begitu saja. Di sana, di beberapa tempat, pastinya sangat bau; terutama salah satu selokan yang ditemukan di sana menyebarkan aroma yang bahkan bau asinan "zawie" (sejenis makanan/ikan awetan) tidak ada apa-apanya dibandingkan itu. Lagipula, hal ini sangat bisa dimengerti karena orang-orang pasar membuang semua kotoran ke dalamnya dan selokan itu tidak dipelihara lebih lanjut atau secara memadai.


Lebih jauh lagi, tampaknya mereka belum berhasil mengeluarkan tiga orang narapidana rantaian yang, menurut pemberi kabar Anda, tertimbun di salah satu lorong tambang; mereka pastinya sudah tertidur selamanya (meninggal dunia).


Saya melihat bahwa Anda sekarang mendapatkan koresponden lagi di Solok kami yang tercinta! Singkatnya, semakin banyak jiwa, semakin banyak kegembiraan; semakin banyak pemberi kabar, semakin banyak berita. Agar tidak tertinggal dari kolega kompetitor saya, atau apa pun Anda menyebutnya, saya juga telah berupaya keras untuk mendapatkan beberapa berita.


Dari Solok sendiri tidak banyak hal istimewa yang bisa dilaporkan; setelah keberangkatan para pembela tanah air kita, tempat ini seperti mati. Para "tuan-tuan tambang" (toean-toean tambangan - pengusaha tambang emas) juga telah meninggalkan Solok.


Mantan masinis kita dari SS (Staatspoorwegen) telah memberikan performa yang baik. Dia pastinya sangat disukai oleh penduduk pribumi, terutama oleh para kepala (pemimpin lokal); lagipula kami pun menyukainya.


Rombongan spesialis Beresford, Pettitt, dengan biografi (mungkin merujuk pada pertunjukan bioscope/film) tidak mendapatkan banyak penghasilan di sini, jumlah penontonnya pun sangat sedikit. Di Sawah-Loento mereka pasti telah melakukan bisnis yang baik.


Mantan dokter kita sekarang sedang sibuk membenahi keadaan di Sawah-Loento. Atas permintaannya, jalan setapak dari rumah sakit ke pemukiman narapidana rantaian di Doerian (Durian), di mana dulu narapidana rantaian yang sakit parah dibawa dengan selimut wol, harus diperbaiki secara signifikan. Orang yang sakit parah saat ini juga tidak lagi dibawa dengan selimut wol, melainkan dibawa turun dengan tandu; bagaimana rupa tandu-tandu tersebut, saya belum tahu. Di Sawah-Loentoh mereka sedang sibuk membangun jalan.


Banyak juga yang dilakukan untuk perburuan di sana. Penguasa kota (burgervader) Sawah-Loento harus sering berburu bersama penduduk untuk mencari para pekerja paksa yang melarikan diri (gedroste dwangarbeiders). Suatu kali Yang Mulia (ZEd. - Zijn Edelheid) kembali dengan dua... narapidana rantaian yang melarikan diri.


Mengenai rencana hukuman gantung terhadap narapidana rantaian yang ditulis oleh koresponden Anda, saya tidak tahu bagi siapa ini akan lebih tidak menyenangkan. Pria itu sangat beruntung, jika karena ketakutan ia menjadi hilang ingatan, karena seingat saya, seorang yang sakit jiwa tidak boleh dihukum mati.

...................................


Laporan dalam koran Sumatra-courant edisi 5 Juli 1899 memberikan gambaran nyata mengenai situasi di Sawah-Loento pada masa itu. Melalui tulisan tersebut, kita dapat melihat bagaimana sistem kerja paksa bagi para "Orang Rantai" (Kettingganger) dijalankan beserta segala risiko kemanusiaan yang menyertainya. Berdasarkan data koran tersebut, ada beberapa poin penting yang menggambarkan kondisi mereka:


1. Risiko Kekerasan di Lingkungan Kerja


Koran tersebut mencatat peristiwa pembunuhan seorang narapidana rantaian dengan luka tusuk yang sangat banyak. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengakuan bahwa kejadian serupa sering terjadi tanpa ada kejelasan hukum. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan dan perlindungan nyawa bagi para pekerja paksa di area tambang masih sangat rendah pada masa itu.


2. Kondisi Lingkungan dan Kesehatan


Laporan tersebut menyoroti masalah sanitasi yang buruk di pemukiman pekerja. Saluran air yang tersumbat sampah pasar menimbulkan bau menyengat dan menjadi ancaman kesehatan, terutama di tengah kekhawatiran wabah pes dan cacar. Meskipun ada upaya perbaikan fasilitas kesehatan, seperti pengadaan tandu untuk menggantikan selimut wol saat membawa pasien, hal ini menunjukkan bahwa standar perawatan medis bagi Orang Rantai baru mulai diperhatikan setelah kondisi di lapangan sangat memprihatinkan.


3. Bahaya Pekerjaan Tambang


Catatan mengenai tiga orang pekerja rantaian yang tertimbun di lorong tambang dan tidak berhasil dikeluarkan menjadi bukti nyata besarnya risiko pekerjaan di bawah tanah. Kejadian ini dianggap sebagai peristiwa yang berujung pada kematian permanen di lokasi kerja, yang menunjukkan betapa sulitnya prosedur penyelamatan di dalam lubang tambang saat itu.


4. Pengawasan dan Pelarian


Adanya istilah "perburuan" bagi narapidana yang melarikan diri mengonfirmasi bahwa tekanan kerja yang berat memicu para Orang Rantai untuk mencoba keluar dari sistem tersebut. Tindakan pengejaran yang melibatkan pejabat kota memperlihatkan ketatnya kontrol militer dan sipil terhadap mobilitas para pekerja ini guna memastikan operasional tambang tidak terganggu.


Kesimpulan


Informasi dari tahun 1899 ini menjadi data penting untuk memahami bahwa di balik operasional tambang batu bara Sawahlunto, terdapat kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ruang gerak, risiko fisik yang tinggi, dan lingkungan yang kurang layak. Catatan ini mengembalikan ingatan kita pada sejarah buruh di Indonesia yang penuh dengan tantangan dan pengorbanan.


catatan: foto ilustrasi rekayasa AI

sumber: Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 05-07-1899.

penulis: marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar