Minggu, 18 Januari 2026

Legenda Hantu Si Marah Buru dan Hantu-Hantu Penyebab Penyakit dalam Kepercayaan Melayu Minangkabau


 

Catatan etnografi berdasarkan penelitian J. J. Kreemer tentang kepercayaan dan pengobatan tradisional Melayu di Padang Darat (Air Haji, 1908)


Dalam kepercayaan Melayu Minangkabau, dunia manusia tidak pernah dipandang sebagai ruang yang berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan dunia makhluk halus, yang kehadirannya diyakini nyata, dikenali, dan dalam banyak hal—ditakuti. Di antara berbagai makhluk halus itu, hantu menempati posisi khusus: bukan sekadar penampakan, melainkan sosok dengan watak, tempat tinggal, dan pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia, termasuk terhadap penyakit dan penderitaan tubuh.


Menurut catatan etnografis J. J. Kreemer, yang melakukan penelitian mendalam di Padang Darat, khususnya wilayah Air Haji pada awal abad ke-20, hantu-hantu ini dipandang sebagai makhluk yang paling mengganggu, paling menyiksa, dan paling sering dikaitkan dengan munculnya sakit yang tidak dapat dijelaskan oleh pengobatan biasa. Perilaku mereka yang dianggap luar biasa dan tidak masuk akal dalam logika manusia telah melahirkan beragam legenda yang hidup kuat dalam ingatan kolektif masyarakat.


Masyarakat tidak hanya mengaku mengenal nama dan rupa hantu-hantu tersebut, tetapi juga mengetahui tempat-tempat kediaman mereka. Bahkan, tidak jarang seseorang bersumpah telah melihat mereka dengan mata kepala sendiri. Dalam tradisi lisan, kesaksian semacam ini bukanlah hal yang luar biasa, melainkan bagian dari pengetahuan bersama.


Hantu Si Marah Buru: Dari Manusia Menjadi Hantu Penghuni Rimba


Di antara semua hantu yang dikenal dan ditakuti, Hantu Si Marah Buru menempati tempat yang paling menonjol. Ia bukan hanya sosok yang menakutkan, tetapi juga figur legendaris yang kisahnya diceritakan turun-temurun.


Menurut legenda, dahulu kala Si Marah Buru adalah seorang manusia biasa dari suku Jambak Katapang. Kisah ini bermula ketika istrinya tengah mengandung dan sangat mengidamkan daging rusa yang juga sedang bunting. Mendengar permintaan tersebut, sang suami pun bertekad memenuhinya. Ia berangkat ke hutan belantara ditemani dua ekor anjing pemburu setianya, Si Alang Jonjang dan Tabuan Tanah.


Namun, meski telah melacak jauh ke dalam rimba, ia tak kunjung menemukan rusa yang dicari. Kecewa dan didera rasa bersalah, ia kehilangan gairah untuk makan dan minum. Ketika akhirnya ia kembali ke rumah, tubuhnya telah berubah menjadi kurus kering dan sangat kotor tak terawat. Begitu buruk kondisinya hingga sang istri tidak lagi mengenalinya sebagai sang suami.


"Engkau bukan suamiku," ujar istrinya dengan nada sangsi, "sebab jika benar, engkau pastilah pulang membawa rusa yang kuidamkan."


Dengan hati yang pedih, sang suami menjawab: 

"Jika demikian pikiranmu, maka aku akan kembali ke hutan belantara dan tak akan pulang sebelum hewan itu kutemukan. Jika aku tak pernah kembali, yakinlah bahwa aku telah menjadi Hantu. Apabila lahir seorang putra selama kepergianku, berikanlah cincin ini kepadanya."


Ia pun berangkat kembali bersama anjing-anjingnya dan sejak saat itu tak pernah lagi menampakkan diri di perkampungan. Ia menjelma menjadi roh hutan yang amat ditakuti dan dijuluki "Si Marah Buru.


Waktu berlalu, sang istri melahirkan seorang anak laki-laki. Saat sang anak beranjak dewasa dan bertanya tentang keberadaan ayahnya, ibunya menceritakan kisah keberangkatan ayahnya ke hutan luas dan keyakinan bahwa ia telah menjadi Hantu. Setelah menerima cincin milik ayahnya, pemuda itu pun bertekad untuk mencari sang ayah.


Sebelum berangkat, ibunya berpesan: "Ayahmu membawa dua ekor anjing. Jika engkau mendengar gonggongan di hutan belantara, tujulah arah suara tersebut, karena di sanalah jejak ayahmu akan kau temukan."


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, pemuda itu mendengar gonggongan anjing. Saat bergegas menuju sumber suara, ia tertegun melihat sesosok mahluk halus bertubuh panjang dan berbulu lebat sedang berayun di akar gantung pohon Bengkudu.


Pemuda itu memberikan salam, menyangka bahwa sosok itu adalah ayahnya. Namun, mahluk itu hanya menanggapi dengan geraman rendah yang mengerikan. Saat pemuda itu menunjukkan cincin yang dibawanya, roh hutan tersebut akhirnya mengakuinya, namun ia memperingatkan bahwa kini dirinya telah menjadi pemangsa manusia.


Meskipun pemuda itu dicekam ketakutan, sang roh hutan menenangkannya dengan berkata: 

"Jangan takut. Ambillah Gantung Pucuk (1), itu adalah tanda yang membuatku tak berdaya terhadapmu."


Itulah sebabnya mengapa "Gantung Pucuk" menjadi sarana penangkal yang sangat sakral, karena perintah tersebut datang langsung dari Si Marah Burou sebagai "Janji" kepada keturunannya.



Hantu-Hantu Lain yang Dikaitkan dengan Penyakit


Selain Si Marah Buru, Kreemer mencatat sejumlah hantu lain yang dipercaya memiliki hubungan langsung dengan timbulnya penyakit.


- Hantu Tinggi digambarkan bertubuh manusia raksasa dengan kepala anjing. Sentuhannya menyebabkan rasa seperti terbakar, dan jika mencengkeram leher seseorang, korban dipercaya akan mengalami muntah darah.


- Hantu Kapan menampakkan diri sebagai kain kafan dan berkeliaran di pemakaman. Kesukaannya adalah menakuti manusia, dan ketakutan itu diyakini dapat berkembang menjadi penyakit.


- Hantu Air adalah roh air yang mendiami sungai. Orang yang mandi dan tiba-tiba diliputi rasa takut dipercaya akan ditarik ke bawah air, seolah kakinya dipegang. Keselamatan hanya mungkin jika orang tersebut mampu menahan rasa takut.


- Hantu Jahat dikenal sebagai penyebab kejang pada anak-anak dan gangguan pada perempuan setelah melahirkan. Wujudnya hitam dan berbulu lebat seperti beruang.


- Hantu Papan memiliki bentuk manusia, tetapi bergerak dengan posisi tubuh yang terbalik, kadang kepala di bawah, kadang kaki di atas.


- Hantu Kayu menyerupai manusia hitam berbulu seperti siamang dan melompat dari pohon ke pohon. Ia diyakini akan membuat seseorang sakit jika pohon keramat ditebang.


Penutup


Catatan Kreemer memperlihatkan bahwa dalam kepercayaan Melayu Minangkabau, penyakit tidak selalu dipahami semata-mata sebagai gangguan tubuh, melainkan sebagai akibat dari perjumpaan, gangguan, atau pelanggaran terhadap makhluk halus. Hantu-hantu ini bukan figur abstrak, melainkan bagian dari sistem kepercayaan yang hidup, dengan nama, watak, dan ruang keberadaan yang jelas dalam imajinasi kolektif masyarakat.


Kepercayaan semacam ini tidak berdiri di masa lalu semata, tetapi jejaknya masih dapat ditemukan dalam pandangan dan praktik masyarakat hingga hari ini.


Catatan: 


Gantung Pucuk merupakan sebuah jimat yang umum dijumpai di kalangan masyarakat Melayu. Benda ini digantungkan di depan kediaman, tepat di bawah bagian atap yang menonjol, sebagai sarana penangkal terhadap pengaruh-pengaruh jahat.


Jimat ini terdiri dari beberapa helai daun dari pucuk pohon kelapa yang masih muda; pada bagian tersebut dikaitkan seutas tali yang menjuntai melalui belahan tempurung kelapa. Selanjutnya, pada ujung bawah tali tersebut digantungkan pula si tawar, si dingin, serta koelit lamang (yaitu sepotong bambu kuning atau talang-koening yang telah dibelah dua).


penulis: Marjafri - Jurnalis, Pendiri dan Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture & Tourism.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar