Sejarah Toraja bukanlah sejarah tentang tanah sunyi yang menunggu untuk ditaklukkan.
Ia adalah sejarah tentang perlawanan, ingatan kolektif, dan harga darah yang harus dibayar untuk tetap menjadi tuan di negeri sendiri.
Jauh sebelum Kompeni menancapkan administrasi kolonialnya, dan jauh sebelum batas-batas kekuasaan digambar di atas peta oleh tangan asing, negeri Ma’kalé dan Sangalla’ telah memiliki tatanan, kepemimpinan, serta kesadaran penuh akan kemerdekaannya. Hubungan dengan kerajaan-kerajaan besar di sekitarnya—Luwu, Goa, dan Boni—bukanlah hubungan penaklukan mutlak, melainkan tarik-menarik kekuasaan yang sarat simbol, sumpah kosmologis, dan kekerasan nyata.
Namun sejarah tidak berhenti pada sumpah dan gelar.
Ia bergerak melalui penindasan, penghinaan, pemerasan, dan akhirnya—pemberontakan.
Kisah pembebasan Toraja dari kekuasaan bangsa Boni bukan sekadar catatan peperangan, tetapi rekaman memori traumatis sekaligus kemenangan eksistensial. Ia hidup dalam nama-nama tempat, dalam syair rakyat, dalam kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi—sebagai pengingat bahwa kebebasan bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian kolektif menghadapi kehancuran.
Tulisan ini tidak bermaksud mengagungkan kekerasan, apalagi memuliakan pembantaian. Ia bertujuan untuk mengembalikan konteks sejarah yang lama dipinggirkan, untuk menunjukkan bahwa ketika Toraja bangkit melawan, yang dipertaruhkan bukan hanya wilayah, melainkan martabat, ingatan, dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
sebuah sejarah yang keras, berdarah, dan hingga kini masih bergema di dalam kesadaran orang Toraja sebagai tanda bahwa mereka pernah, dan tetap, merdeka.
Menurut beberapa laporan dari para penduduk dan pemimpin tertua Ma'kalé, wilayah ini selalu bebas dari segala bentuk kekuasaan dari sekelilingnya. Hal ini disebabkan karena letaknya yang terlalu terpencil, dipisahkan dari arah laut oleh deretan pegunungan yang sukar dilalui.
Namun demikian, penghormatan dari para kepala daerah Ma'kalé dahulu memang diterima oleh penguasa (datoe) dari Luwu, meskipun penyebabnya sudah tidak lagi diketahui dengan jelas.
Salah satu bagian yang paling berpengaruh dan makmur dari Ma'kalé ialah distrik Sangalla’, yang pengaruhnya bahkan diakui secara jelas oleh Datoe dari Luwu pada banyak kesempatan. Masih ada cerita di Ma'kalé yang mengatakan bahwa pengukuhan penguasa baru (datoe) tidak dapat dilakukan tanpa kehadiran penguasa dari Sangalla’.
Kemudian, tampaknya pengaruh Sangalla’ di Luwu semakin lama semakin memudar, bahkan terlupakan sama sekali. Hingga belum lama berselang, telah menjadi kebiasaan bahwa para kepala dari Sangalla’, ketika mereka datang ke tempat di mana Datoe Luwu berada — yaitu di Palopo — mereka akan menghadap kepada Datoe itu dan, dengan cara tertentu, menjadi semacam pihak yang wajib memberikan penghormatan atau upeti kepadanya.
Namun, pada tahun 1917, para kepala dari bagian wilayah Ma'kalé ini melakukan upaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan kembali kemerdekaan mereka.
Karena masyarakat Toraja pada waktu itu sebagian besar masih buta huruf, maka usaha tersebut secara alamiah menemui banyak kesulitan. Setelah berdirinya pemerintahan Belanda pada tahun 1907, wilayah Ma'kalé dimasukkan ke dalam kekuasaan Luwu oleh pihak Kompeni. Karena itu, tidak ada bukti tertulis yang dapat ditunjukkan, dan apa yang hanya diketahui melalui tradisi lisan di kalangan penduduk menjadi satu-satunya dasar atau bukti yang dapat diajukan.
Hal ini kurang lebih terjadi seperti kisah berikut:
Kira-kira dua belas keturunan raja yang lalu — bahkan sebelum perang pertama Kompeni dengan Goa — hiduplah seorang raja dari Luwu bernama Datoe Patimang.
Raja ini tinggal di timur laut Palopo, di Patimang. Suatu hari, raja ini mendengar kabar bahwa raja Sangala’ telah berani menyebut dirinya sebagai saudara ketiga dari raja Luwu dan Goa, serta menyebut dirinya Datoe Matampo, yang artinya “raja dari Barat,” yakni tempat di mana matahari terbenam.
Sejak dahulu kala, raja-raja Luwu disebut Datoe Matallo, yang berarti “di mana matahari terbit.” Datoe Patimang menjadi marah mendengar hal ini, lalu memutuskan untuk memerangi Sangala. Maka ia memerintahkan salah satu saudaranya, Pata Padoeri, untuk memimpin pasukan ke pegunungan Toraja, menaklukkan negeri itu dan menundukkan Sangalla’.
Demikianlah yang terjadi. Sangalla’ dikalahkan oleh Pata Padoeri, dan rajanya ditangkap lalu dibawa ke Patimang. Di sana raja itu ditahan beberapa waktu lamanya, hingga akhirnya dipanggil menghadap kepada Datoe.
Datoe berkata kepadanya:
“Aku merasa sudah tua, dan anak-anakku kelak akan mengambil alih warisanku. Kembalilah engkau ke negerimu, perintahlah Sangala’ atas namaku, dan terimalah dari aku gelar Ma’dika.”
(Kata Ma’dika dalam bahasa Melayu berasal dari mardahéka, yang berarti “merdeka” atau “orang yang bebas,” yakni mereka yang termasuk golongan merdeka, tetapi masih tunduk di bawah kekuasaan raja-raja besar.)
“Aku akan mengatur agar negerimu berada di bawah pengawasan, tetapi engkau bebas memerintah, selama engkau tetap setia kepadaku,” demikian kata Datoe.
Tidak lama setelah itu, Datoe ini wafat. Kemudian Ma’dika dari Sangala’ dipanggil ke Patimang untuk menghadiri penobatan Datoe yang baru. Namun, Sangala’ tidak memenuhi panggilan tersebut.
Hal ini menggambarkan watak khas orang Toraja, yang riang, bebas, dan tidak mudah tunduk, serta memiliki sifat yang agak sinis. Maka pecahlah perang kedua antara Luwu dan Sangala’.
Untuk memahami sepenuhnya, perlu diketahui bahwa pada masa itu Sangala’ adalah negeri yang sangat kuat. Wilayahnya meliputi daerah-daerah: Ma’kalé, Minkindik, Palesang, Bala, Bitoeng, Dende, Oeloe, Saloe, dan Saloe-Korea.
Orang yang memimpin perang melawan Sangala’ kali ini adalah putra dari almarhum Datoe Pata Malangke.
Sangala’ kembali dikalahkan. Setelah itu, raja (Ma’dika) Sangala’ bersumpah setia kepada Datoe Luwu dengan sumpah yang paling berat, yang disebut “Talli”.
Lalu perhiasan kerajaan kedua pihak diletakkan ke dalam sebuah pot porselen, dan ke dalamnya dituangkan balok arak dari nira pohon palem).
Perhiasan kerajaan Luwu terdiri dari:
1. Boenga,
2. Lakaroeroeng,
3. Labarana —
ketiganya adalah nama-nama pedang yang melegenda.
Sementara perhiasan kerajaan Sangala’ terdiri dari:
1. Dosso,
2. Maniang,
keduanya juga pedang yang memiliki kisah dan legenda tersendiri.
Ketika arak (balok) telah bercampur dengan perhiasan dari kedua kerajaan itu, para peserta upacara meminum arak tersebut dari pot, dan kemudian Ma’dika dari Sangala’ dengan khidmat mengucapkan sumpah di hadapan banyak saksi dan orang-orang terkemuka dari kedua belah pihak.
Sumpah itu berbunyi kurang lebih demikian:
“Aku mengakui Sangala’ sebagai bawahan dari Datoe di Luwu.
Aku menyatakan bahwa aku, karena Datoe, akan tunduk dan menaati segala perintahnya.
Semoga nenek moyang kami tidak menurunkan penyakit atau bencana kepada kami;
semoga ubi kami tidak berubah menjadi batu;
semoga padi kami tidak berubah menjadi alang-alang (rumput liar);
semoga segala yang kami makan tidak membawa penyakit luar maupun dalam; dan semoga segala yang terjadi di luar tubuh kami tidak membawa kesakitan yang menimbulkan penyakit dalam.
Jika kami memberontak lagi melawan kekuasaan Datoe, semoga semua kutuk ini menimpa kami.”
Setelah itu, Ma’dika yang telah ditaklukkan itu ditanya:
“Sampai di mana wilayahmu terbentang?”
Ia menjawab: “Sampai ke pantai barat.”
Maka Datoe berkata: “Baiklah, sampai di sanalah batas kerajaanku juga akan terbentang.”
Kemudian Pata Malangke memerintahkan pengikutnya, Opoe Patoenroe, Moestafa Daëng Manroeloek, agar bersama salah satu pejabat kerajaan berangkat mengumpulkan rakyat Sangala’ yang tercerai-berai dan melarikan diri. Mereka diperintahkan untuk membuat sebuah jalan dari Maindo ke Tampotika (terletak di pantai selatan Palopo). Jalan itu harus selebar satu vadem kira-kira 1,8 meter).
Setelah pekerjaan itu selesai, Datoe memerintahkan agar dibuat pula makam bagi ayahnya serta segala perlengkapan yang diperlukan untuk upacara persembahan bagi arwah sang ayah.
Barulah, setelah pekerjaan itu rampung — yang memakan waktu berbulan-bulan — rakyat Sangala’ diizinkan untuk kembali ke rumah dan kampung halamannya.
Ketika pekerjaan itu akhirnya diselesaikan, diberitahukan kepada raja Sangala’ bahwa ia boleh pulang ke negerinya bersama rakyatnya, tiga tahun setelah masa pengasingannya.
Setelah kembali, ia harus membangun sebuah benteng batu (rotsvesting) dan juga sebuah missigit, artinya masjid — sebab pada waktu itu Islam mulai masuk ke wilayah tersebut.
Selain itu, kepada kerajaan yang telah ditaklukkan itu dikenakan pajak tahunan, yang terdiri dari:
1. Sebuah pemberian tahunan berupa seberat lima rijksdaalder emas murni (emas yang ditemukan di salah satu aliran sungai di wilayah Sangala’).
2°. Seorang gadis yang masih perawan.
3°. Seekor tedong todiŋ (yaitu kerbau dengan tanda tertentu di dahinya).
4°. Seribu tikar Toraja.
Selain itu, setiap kepala kampung juga berkewajiban untuk setiap tahun menyerahkan sepuluh pikul beras dan sepuluh ekor ayam.
Sebagai ancaman, kepada Ma’dika dari Sangala’ akhirnya dikatakan bahwa jika dalam waktu tiga tahun ia tidak juga datang menghadap Datoe, maka ia akan “dihancurkan sampai lumat”.
Tampaknya Sangala’ menepati janjinya itu hingga Datoe meninggal dunia. Setelah kematian Datoe, Ma’dika dari Sangala’ dipanggil untuk menguadap di hadapan pengganti Datoe — namun panggilan itu tidak pernah dijawab. Karena berbagai keadaan, Ma’dika ini tidak segera ditindak, dan hukuman yang seharusnya dijatuhkan ditunda untuk sementara waktu.
Sementara itu, kerajaan Goa terlibat dalam perselisihan dengan Boni dan meminta bantuan kepada Luwu. Bantuan ini kemudian dibalas oleh Boni sebagai timbal balik: Boni membantu Luwu ketika Luwu menundukkan Sangala’.
Akibat dari hubungan itu, orang-orang Boni yang datang ke wilayah Sangala’ dan Ma’kalé menikahi perempuan-perempuan Toraja, dan terhadap rakyat Toraja mereka menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan.
Keturunan Ma’dika dari Sangala’ yang sekarang, bernama So Rinding, menyangkal sama sekali bahwa bangsanya pernah membayar upeti kepada Datoe.
Sebuah peristiwa menarik terjadi dalam sejarah pembebasan orang Toraja dari kekuasaan orang Boni.
Dikisahkan bahwa seorang bernama Poeang Kerang, seorang pejabat di bawah raja (Ma’dika) Sangala’, memainkan peran penting dalam peristiwa ini.
Menurut cerita rakyat, setelah Poeang Kerang terbunuh, rakyat Sangala’ yang berasal dari keturunan Toraja bangkit dan memberontak terhadap kekuasaan Luwu dan Sangala’.
Diceritakan bahwa Poeang Kerang, pada suatu ketika, atas permintaan Pagadangan, raja Pantilang, diminta untuk membeli seekor kerbau yang sangat indah untuk sang raja.
Ia pun tetap tinggal di Pantilang (disebut juga Maindo) untuk menantikan hasil pembelian itu.
Namun sementara itu, Poeang Kerang menjalin hubungan asmara dengan istri Pagadangan, seorang perempuan yang sangat cantik.
Ketika Pagadangan kembali dari Palopo — setelah pergi membeli kerbau seperti yang diperintahkan — dan mendengar kabar hubungan terlarang itu, ia murka dan bertekad menuntut balas dengan darah.
Ia berpura-pura tidak tahu-menahu, lalu mengatakan kepada Poeang Kerang bahwa ia telah melihat seekor kerbau yang sangat bagus di Radja, dan ingin membelinya. Ia meminta Poeang Kerang menemaninya pergi ke sana untuk melihat sendiri kerbau itu.
Tanpa curiga sedikit pun, Poeang Kerang berangkat bersama sahabatnya menuju tempat yang disebut Radja. Namun, sesampainya di sana, dia disergap dan dibunuh secara kejam.
Di sebuah tempat bernama Mamasa, Pagadangan menyerang sahabatnya Poeang Kerang secara tiba-tiba, mengalahkannya, dan mengebiri dia di atas sebuah batu besar dan datar yang terdapat di tempat itu.
Hingga kini, para penduduk masih menunjukkan kepada orang yang lewat di tempat itu bekas tapak kaki korban dan sebuah garis darah pada batu tersebut. Menurut kepercayaan rakyat yang masih hidup sampai sekarang, keturunan Poeang Kerang memiliki darah putih dalam urat mereka.
Akibat dari tindakan itu, Poeang Kerang kehilangan nyawanya.
Kabar tentang pembunuhan itu menimbulkan kemarahan besar di kalangan rakyat Toraja.
Ketika berita mengenai pembunuhan ini menyebar, seluruh penduduk Sangala’, bersama-sama dengan penduduk dari daerah Minkindik dan Ma’kalé, memutuskan untuk melakukan pembalasan yang mengerikan.
Sebuah perang dahsyat pun pecah — setengah dari wilayah Pantilang dibakar habis, dan penduduknya melarikan diri ke pegunungan.
Jasad Poeang Kerang dibawa ke Sangala’ dan dimakamkan di Tokesan.
Bagian dari wilayah itu, di sisi lain, yaitu yang meliputi daerah Pantilang dan sekitarnya, kemudian sungai mende masih dapat bertahan dan memberikan perlawanan sengit.
Kemudian, raja Sangala’ memohon bantuan dari saudaranya, raja Goa.
— Luwu, yang saat itu hidup dalam kedamaian semu dengan Sangala’, juga dikatakan terlibat dalam peperangan tersebut. Namun, tampaknya keikutsertaan itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Raja Goa, yang segera datang memberikan bantuan, bertempur bersama dengan tiga wilayah: Sangala’, Ma’kalé, dan Minkindik, serta menaklukkan seluruh wilayah Pantilang.
Pagadangan ditangkap hidup-hidup, dibawa dalam kandang ke Sangala’, dan disiksa sampai mati oleh para perempuan dari keluarga Poeang Kerang. Siksaan itu berlangsung selama tujuh hari.
Setelah itu, pertempuran hebat melawan orang Boni pun pecah.
— Dalam kesulitan, Luwu pun dimintai bantuan. Akibatnya, Sangala’ sekali lagi jatuh ke tangan orang Boni, yang dipimpin oleh Aroe Palaka yang perkasa. Hanya kampung-kampung Bebo, Randan Batoe, dan Botto’ yang masih bisa bertahan melawan kekuatan besar tersebut.
Seorang Toraja cerdas dari kaum Tomakaka dari golongan bebas) bernama Pong Kaloéa menemukan sebuah tipu muslihat perang, dan siasat ini akan menjadi penyebab pembebasan Sangala’.
Seekor kuda liar ditangkap, dan tubuhnya dibungkus dengan pelepah pisang yang dibelah dua. Di atas lapisan pelepah pisang itu kemudian ditaburkan sejumlah besar resin damar yang sangat mudah terbakar. Para penonton dikumpulkan untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika “kuda api” ini disiapkan.
Pasukan utama orang Boni berkemah di kampung Toeminding. Kuda itu kemudian dibawa ke dekat perkemahan orang Boni, tali pengikatnya dibakar, dan “kuda api” itu dilepaskan menuju musuh.
Hewan itu, panik karena ketakutan, berlari langsung ke perkemahan orang Boni, menyebabkan kekacauan di antara kuda-kuda musuh. Kuda-kuda musuh pun ikut panik dan mulai berlari tak terkendali.
Pasukan Boni berusaha melarikan diri, dan kekacauan total pun terjadi di seluruh kamp mereka. Dari segala penjuru mereka berudaha keras untuk menyelamatkan diri dan memisahkan kuda mereka dari “iblis api” yang mengamuk di tengah-tengah mereka.
Ini menjadi tanda bagi orang Toraja di perbukitan!
Dengan teriakan perang yang menggema, mereka menyerbu turun dari bukit, menerjang pasukan Boni di kamp mereka. Dengan tombak, pedang, dan pentungan kayu keras, mereka mengamuk dengan dahsyat. Musuh tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk pulih dari rasa panik dan ketakutan mereka.
Seperti longsoran salju, orang-orang Toraja menerjang para penyusup asing itu. Pembantaian mengerikanpun terjadi. Ribuan orang tewas di Toeminding dan di sekitarnya, dan apa yang tidak dibunuh melarikan diri dengan ketakutan dan kengerian, terus-menerus dikejar oleh para prajurit Toraja yang murka.
Tidak ada ampunan..
Mereka melarikan diri ke selatan untuk mencoba mencapai daerah aman Enrekang.
Namun, tentara besar Aroe Palaka dipukul mundur, dikejar seperti anjing pemburu oleh orang Toraja, dan raja besar Boni itu menderita kekalahan yang memalukan. Aroe Palaka harus melarikan diri dengan pikiran putus asa, karena ribuan prajurit terbaiknya dibantai seperti anjing gila.
Pelarian ke selatan terus berlanjut.
Di Karombi (dalam wilayah Minkindik) mereka bertemu dengan pasukan Boni yang datang dari selatan, yang telah berbaris menuju Bonde, dan di tengah kegelapan malam mereka saling bertemu.
Pasukan yang putus asa itu, mengira bahwa mereka adalah rekan sebangsa mereka, berteriak:
“Kawan atau musuh?”
“Kawan!” dijawab dari sana, dan orang-orang yang letih dan putus asa ini jatuh ke dalam perangkap, sebab orang Toraja yang menunggu mereka tidak menunjukkan belas kasihan.
Sejak saat itu Karombi disebut ‘Mebali’, yang berarti ‘jawaban’.
Pelarian segala yang masih hidup terus berlangsung.
Ke selatan!
Terus-menerus mereka dikejar seperti binatang buruan.
Di daerah yang kini merupakan dataran tinggi antara Doeri dan Ma’kalé, tempat wilayah itu berakhir, musuh yang melarikan diri begitu lemah dan tak berdaya, sehingga mereka dapat ditangkap seolah-olah hanya dengan menjangkau leher mereka.
Dari situlah nama tempat Baroko berasal — artinya “leher.”
Pelarian terus berlanjut ke selatan!
Hingga ke Bambabare, pengejaran itu masih berlangsung, dan hanya segelintir orang Boni yang lolos dari bencana besar ini.
Aroe Palaka sendiri berhasil melarikan diri, tetapi para Aroe lainnya tertangkap dan disiksa sampai mati.
Para Aroe Lareamanda, Poeteh, To Bajang, Tjennrana, dan Pamadalate tidak pernah melihat Boni lagi.
Mengerikan pembantaian itu!
Ketika beberapa pasukan dari Boni berbaris menuju Ma’kalé, di dekat tempat yang sekarang disebut Kampung Ke’pe, mereka merasakan betapa besar aib yang menimpa bangsa mereka dan bahwa lima Aroe terkenal telah tewas.
Dalam keputusasaan dan tangisan besar, mereka berseru:
“Mengapa kita harus terus hidup?!”
Lalu mereka saling membunuh, sehingga tiga ratus orang mati di Ke’pe, tanpa satu pun tangan orang Toraja yang terlibat.
Besar dan mengerikanlah pembantaian itu!
Di Toeminding saja, ribuan orang Boni tewas.
Barisan mayat terbentang begitu panjang dan padat, sehingga selama bertahun-tahun ladang di sana tidak dapat lagi digarap!
Besar pula harta rampasan yang jatuh ke tangan pemenang.
Besar pula kegembiraan orang Toraja atas pembebasan tanah mereka.
Kenangan akan kemenangan yang agung dan termasyhur ini masih hidup di antara banyak orang Toraja hingga kini.
Dalam syair rakyat, nyanyian, teka-teki, dan kisah-kisah rakyat Toraja, sering kali masih ditemukan banyak kiasan yang menyinggung pembebasan ini.
Orang-orang Toraja, yang hingga kini masih merasakan diri sebagai tuan di tanah mereka sendiri, menganggap penggabungan wilayah Ma’kalé pada saat kedatangan Kompeni sebagai tindakan yang tidak adil, dan sejak awal para kepala adat telah sangat menentangnya.
Mereka yang kini bertanggung jawab atas pemerintahan wilayah tersebut, bila memperhatikan perasaan mendalam bangsa Toraja mengenai persoalan ini, diharapkan dapat menemukan penyelesaian yang memuaskan dan tuntas bagi kedua belah pihak.
.......................................
D. C. PRINS: Sumber-sumber untuk penyusunan kisah diberikan kepada saya oleh mantan kontrolir Ma’kalé, Tuan P. Lakeman.
Sumber: Gellustreerd weekblad voor Nederland en kolonin, 1923.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar