Kamis, 08 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 4)


 

b. Pengobatan Limau Daun


Pengobatan ini dapat dipandang sebagai kelanjutan dari perawatan limau boewah yang diterapkan pada kasus penyakit yang lebih gawat. Pembacaan saroean, salam, dan maramaskan limau dilakukan dengan cara yang sama seperti yang telah diuraikan pada pengobatan sebelumnya. Perbedaannya terletak pada sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi oleh pasien, yang dalam keadaan kritis ini dibuat lebih sederhana.


Dalam pengobatan ini, pasien tidak diwajibkan untuk menyiramkan air limau ke seluruh tubuhnya, melainkan cukup dengan mengoleskannya ke tubuh. Penggunaan blanketsel juga tidak diwajibkan. Selain itu, mandoai dalam hal ini, sebagai suatu pengecualian, boleh dilakukan di rumah pasien. Pemberian cairan yang telah diberkati dilakukan selama tiga hari, masing-masing tiga kali sehari. Pengobatan ini dapat diulang hingga tiga kali dan sering kali pula didukung dengan pemberian obat-obatan.


Doa yang digunakan dalam pengobatan ini, selain lima doa yang telah disebutkan sebelumnya, juga mencakup dua bait berikut:


Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang !


Berkumpullah kalian, wahai Si-Djampoeroe !

Si-Raoet dengan gagang yang panjang !


Mengapa pisau bergagang panjang itu ?

Untuk mengiris limau yang digunakan menjadi irisan tipis.

Mengapa limau itu ?

Untuk dijadikan obat bagi pasien yang dirasuki oleh hantu Si-Marah-Boeroe.


Si-Oembang adalah namamu,

Si-Batjih adalah namamu,

Si-Alang-Djondjang adalah nama salah satu anjingmu,

dan Taboean-Tanah adalah nama anjingmu yang lain.


Kulit, otak, sumsum, mata, ubun-ubun, hati, jantung, limpa, dan empedu tidak boleh kalian makan, demikian kata Si-Marah-Boeroe kepada anjing-anjingnya, sambil memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang telah dirampasnya.


“Jika kalian memakan hati, jantung, limpa, dan empedu itu, maka aku akan mengambilnya kembali dari tubuh kalian.”


Marilah kita membuat suatu perjanjian selama tiga hari, dan berjanji kepadaku bahwa dalam waktu itu kalian akan kembali,

sebagaimana pasti halnya bahwa sirih dan pinang tidak berbulu.

Jika kalian tidak kembali, maka aku akan menikam kalian.


Keris suci Madang-Giri digunakan untuk menumbangkan anak-anak Si-Marah-Boeroe.


Kalian tidak akan mampu melawanku,

baik di dunia maupun di alam akhirat.

Aku mengetahui asal-usul kalian.

Kalian berasal dari suku Djambaq Katapang;

kalian tercipta dari getah akar pohon Bangkoedoe !


Nenek moyang kami, Njèg-Si-Orè, telah menetapkan suatu sumpah, sedalam laut dan sejauh cakrawala.

Nenek moyang kalianlah yang menetapkan sumpah itu.

Siapakah yang menjaga sumpah itu tetap teguh, seabadi batu di dalam air dan besi di dalam tanah !


Janganlah melanggar sumpah itu, sebab jika kalian melanggarnya, kalian beserta seluruh keturunan kalian akan binasa, anak cucu kalian akan punah oleh kutukan, dan leluhur kalian akan dikutuk oleh Sultan dan oleh enam orang Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat.


Dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.

---

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Satu tetes (keringat) Radja Soleiman yang jatuh ke langit menjadi burung langit.

Satu tetes yang jatuh ke laut menjadi roh jahat dan penjaga laut.

Satu tetes yang jatuh ke bumi menjadi Palasieq, yang berada di mana-mana, di antara langit dan bumi.


Lehermu, wahai Palasieq, telah kuikat dengan rantai yang terdiri dari seratus sembilan puluh mata.


Engkau tidak akan mampu melawanku,

baik di dunia maupun di alam akhirat.


Ludahku adalah penawar

yang melemahkan pekerjaan para iblis.


Jika Tadoeng, roh jahat berwujud ular berbuat jahat, maka racunnya akan datang dengan sendirinya;

Si-Tawar dapat ditemukan di kebun,

dan Si-Dingin di ladang padi.


Dengan hati yang tulus, hingga ke bagian terdalam,aku membacakan jampi kepada air suci yang telah disiapkan untuk limau dan juga kepada air yang telah menjadi keruh

setelah limau diperas ke dalamnya, air yang seolah terkurung dan tidak dapat mengalir ke arah mana pun. Semoga otot dan daging pasien kembali menyatu.


Wahai malaikat yang berwarna putih, turunlah dan bawalah lilin yang baru.

Mengapa lilin baru?

Untuk mendinginkan darah segar pasien.


Wahai Haq-Ampat,

jika engkau melekat pada kulit pasien, lepaskanlah.

Jika engkau mencengkeram otaknya, sumsumnya, atau ubun-ubunnya, lepaskanlah.

Jika engkau mencengkeram hatinya, jantungnya, limpanya, atau empedunya, lepaskanlah.

Jika engkau melekat pada pakaiannya atau rambutnya, lepaskanlah.


Dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


c. Pengobatan Limau Bungo


Telah dijelaskan di atas bahwa roh-roh jahat terkadang menyebabkan seseorang jatuh sakit dengan memberikan suatu tanda pengenal (manandoi). Atau, lebih tepatnya, apabila pada tubuh seseorang terdapat tanda-tanda tertentu (tando), misalnya urat hitam di sudut mata, tanda lahir, atau bercak-bercak lain, maka diyakini bahwa tanda-tanda tersebut telah dibuat oleh salah satu makhluk pengganggu dengan maksud agar orang itu dapat selalu dikenali dan ditemukan kembali. Tanda-tanda tersebut berfungsi sebagai sarana pengenal bagi roh jahat bahwa ia telah menancapkan pengaruhnya pada orang itu.


Apabila seseorang sering sakit, maka menjadi tugas dukun untuk menyelidiki apakah pada tubuh pasien terdapat atau tidak tanda-tanda seperti yang dimaksudkan tersebut. Jika hal itu memang ada, maka pasien menjalani pengobatan limau bungo.


Begitu pula jika seorang anak terus-menerus menangis—keadaan yang disebut tangkal—hal ini juga dipandang sebagai suatu tando dari salah satu roh jahat.


Perhatian terhadap tanda-tanda tersebut tampaknya hanya diberikan pada perempuan dan anak-anak, sebab pada laki-laki pengobatan limau bungo jarang atau hampir tidak pernah dilakukan.


Disadari bahwa melalui pengobatan ini tanda-tanda tersebut tidak akan lenyap, namun proses penyembuhan dipahami sedemikian rupa bahwa roh penyakit diusir dari tubuh pasien oleh limau, sementara tando itu sendiri tetap tertinggal.


Namun demikian, tanda-tanda yang tertinggal itu sering kali menyebabkan roh jahat yang telah diusir tetap menyimpan kecenderungan untuk kembali mencari dan mengganggu korbannya. Oleh karena itu, pengobatan limau bungo merupakan pengobatan yang berlangsung sangat lama dan harus dilanjutkan hingga roh jahat tersebut melupakan tanda-tanda itu.


Terutama pada tanggal dua belas setiap bulan, korban yang telah diberi tanda berada dalam bahaya besar untuk kembali diganggu oleh hantu, dan keadaan ini harus diperhatikan secara khusus dalam metode pengobatan yang sedang dibahas ini.


Tahapan bërsiang, saroean, bari salam, maramaskan limau, serta penggunaan kasai juga dilakukan lebih dahulu, dan mandoai pun tetap berlangsung di rumah dukun.


Pengobatan ini dimulai pada hari pertama bulan baru, yaitu pada hari pertama di pagi hari, hari kedua pada siang hari, dan hari ketiga pada sore hari dengan menggunakan air limau. Proses ini diulang tiga kali berturut-turut dengan selang satu hari tanpa pengobatan. Dengan demikian: hari ke-4 tidak dilakukan, hari ke-5, ke-6, dan ke-7 dilakukan; satu hari tidak dilakukan; hari ke-9, ke-10, dan ke-11 dilakukan. Perawatan selama sebelas hari ini diulangi selama tiga bulan berturut-turut.


Pada tiga bulan berikutnya, pengobatan dilakukan sebulan sekali selama tiga hari, yaitu pada tanggal 12, 13, dan 14 setiap bulan.


Pada tiga bulan ketiga, pengobatan berlangsung dengan cara yang sama seperti pada tiga bulan kedua, namun dengan ketentuan bahwa setiap kali pasien datang ke rumah dukun untuk mengambil limau, ia harus membawa seekor ayam jantan putih seluruhnya (ajam parah). Sebelum dukun mengucapkan doa yang ditentukan atas limau tersebut, ia terlebih dahulu mencampurkannya dengan beberapa tetes darah yang diambil dari jengger ayam jantan itu.


Keesokan harinya, limau dan ayam tersebut diambil kembali oleh pasien. Ke mana pun pasien pergi, ayam itu harus selalu menyertainya, termasuk ketika ia pergi ke sungai untuk melakukan penyiraman ritual dengan air limau.


Setelah tiga bulan ketiga ini berlalu, tiga hari setelah limau terakhir digunakan, ayam jantan putih yang sama dibawa kembali kepada dukun, bersama dengan seekor ayam betina, serta beberapa jenis makanan, seperti nasi lamak (ketan yang dimasak dengan santan), nasi putih, gulai ayam, dan ayam panggang. Kemudian diadakan jamuan persembahan kecil di rumah dukun.


Setelah jamuan itu selesai, dukun mengambil sedikit nasi, mencampurnya dengan darah yang sekali lagi diambil dari jengger ayam jantan, lalu memberikan nasi tersebut kepada ayam betina untuk dimakan.


Setelah itu, pengobatan dihentikan hingga tanggal dua belas pada bulan puasa terdekat. Pada hari itu, bahan-bahan limau yang diwajibkan kembali dibawa ke rumah dukun dan digunakan selama tiga hari berturut-turut. Hal yang sama dilakukan kembali pada bulan puasa berikutnya dan sekali lagi pada bulan puasa setelahnya, sehingga seluruh rangkaian pengobatan baru benar-benar selesai setelah tiga tahun penuh.


Penutupan pengobatan ini (mamatikan limau) dirayakan dengan sebuah jamuan di rumah dukun, sementara bahan makanan yang diperlukan harus disediakan oleh pasien.


Pada saat ini pula harus dibayarkan upah yang menjadi hak sang penyembuh, yang terdiri atas sejumlah uang (biasanya ƒ 0,50 atau ƒ 1) serta sehelai kain putih (kaboeng).


Apakah peran ayam jantan dan ayam betina dalam metode pengobatan ini? Para informan memberikan jawaban sebagai berikut. Melalui pengobatan limau itu sendiri, roh jahat yang telah menancapkan pengaruhnya pada pasien memang berhasil diusir, tetapi perhatiannya tetap tertuju pada tanda pengenal korbannya, sehingga penyembuhan yang bersifat menetap tidak dapat dicapai dengan cara itu saja.


Oleh karena itu, diciptakan suatu pengalihan. Ayam jantan putih berfungsi sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian roh pengganggu ke hewan tersebut. Dengan demikian, disediakan pengganti agar pasien dapat dibiarkan dalam keadaan tenteram dan pulih kembali. Oleh sebab itu, harus diusahakan sedapat mungkin agar ayam jantan tersebut tidak mati sebelum mamatikan limau selesai dilaksanakan.


Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, dilakukan pemindahan sejumlah darah ayam jantan ke dalam tubuh ayam betina dengan cara yang telah dijelaskan. Apabila ayam jantan mati sebelum waktunya, maka roh jahat tersebut akan menemukan tempat tinggal lamanya kembali pada tubuh ayam betina.


Suatu tindakan khas yang hanya dilakukan dalam pengobatan limau bungo adalah yang disebut radja-radja. Tindakan ini dilakukan dengan mencetak empat titik hitam pada delapan bagian tubuh pasien menggunakan semacam cap yang disebut soenting, yang sebelumnya dicelupkan ke dalam zat pewarna tertentu. Cap tersebut terbuat dari sepotong ranting semak sikakau (Paratropia micrantha Miq.), di mana empat cabang kecil bertemu, sehingga alat tersebut menyerupai garpu kayu dengan empat gigi yang tersusun membentuk persegi.


Untuk membuat pewarna cap, digunakan bulu dari seekor elang hitam (alang), sehelai bulu merak, sehelai bulu gagak, dan sarang burung oenggai palano. Semua bahan ini dibakar dan kemudian dicampur dengan air hingga menjadi bubur hitam. Upacara pemberian cap ini diawali dengan pembakaran damar benzoin, yang asap harumya harus dibiarkan menyapu sekeliling tubuh pasien.


Pelaksanaan radja-radja tidak semata-mata menjadi tugas dukun; siapa pun dapat melakukannya. Jika pasien adalah seorang anak, maka biasanya ibunya sendiri yang melakukannya.


Makna upacara ini, sebagaimana dijelaskan, adalah agar jiwa pasien tidak meninggalkan tubuhnya. Kata-kata soenting-gandoen yang muncul dalam doa yang akan disebutkan berikutnya dipahami sebagai “cap untuk menahan (jiwa)”.


Kini tinggal menyebutkan doa yang menyertai metode pengobatan ini.


Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:


Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Apa yang hidup dan tidak dapat mati—yakni jiwa—

hendaklah dibebaskan dari pintu kematian!


Semoga boelo Ali dan boelo Mangga binasa!

Engkau tidak boleh membuat sehelai rambut pun dari pasien ini rontok,

tidak boleh memusnahkan sehelai rambut pun darinya!


Semoga pasien dibebaskan dari gangguan boelo, djihin, dan pari

melalui limau sati dan limau dewa.


Apabila gangguan boelo, djihin, dan pari datang,

maka limau dituangkan seluruhnya ke atas kepala pasien;

dan ketika irisan-irisan limau itu jatuh menimpanya,

ia akan merasakan seolah-olah beban berat telah diangkat darinya,

seolah-olah ikatan yang menghimpit dilepaskan,

dan ia dibebaskan dari tipu daya dan jerat roh-roh jahat.


Jika penyakit ini disebabkan oleh kalian, wahai para dewa dari gunung-gunung,

kembalilah ke gunung-gunung itu;

jika ia adalah perbuatan kalian, wahai para dewa yang berasal dari awan-awan yang berkumpul atau yang tercerai-berai,

kembalilah ke awan-awan itu;

jika ia berasal dari kalian, wahai para dewa yang tinggal berkelompok di desa-desa,

kembalilah ke rumah-rumah kalian yang beratap emas,

bertiang emas,

berlantai emas,

berperiuk emas,

dan bersendok emas!


Aku menekan cap penahan jiwa pada tubuh pasien ini!


Si-Kinantan adalah nama sahabatmu.

Dari hoeri-bali engkau berasal,

dari darah samboeni engkau berasal,

dari darah tamboeni engkau berasal,

dari darah bali engkau berasal.


Kesembuhan masuk ke dalam, penyakit keluar ke luar!

Kesembuhan oleh Tuhan, oleh Muhammad, Utusan Tuhan,

dengan berkat kalimat: tiada Tuhan selain Allah.



d. Pengobatan Limau Tërsapo


(Bersambung ...)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar