Sabtu, 03 Januari 2026

Marga Semindo (Semende) Darat: Kisah Eksodus, Konflik, dan Pembentukan Komunitas di Palembang


 

Oleh: H. Pauw ten Kate.


** Asal Usul dan Eksodus dari Pasemah Lebar


Wilayah Semindo dihuni oleh suatu suku bangsa yang berasal dari Pasemah Lebar, yang baru menetap di sana belum lama, mungkin sekitar satu atau satu setengah abad yang lalu (dari 1896). 


Sejarah awal bangsa ini hanya diketahui sedikit dan tidak sempurna. Hanya beberapa kepala dusun tua yang mengingat beberapa hal yang mereka dengar dari mulut pendahulu mereka dan membagikan informasi berikut kepada penulis.


Karena pertikaian yang terus-menerus dengan penduduk dusun-dusun di sekitarnya, beberapa penduduk Perdipo terpaksa meninggalkan wilayah Pasemah Lebar. Mereka memutuskan untuk bergerak ke arah timur, terlebih lagi karena dusun mereka sudah terlalu kecil dan mulai kekurangan lahan yang cocok untuk menanam kebutuhan pokok demi mata pencaharian mereka.


Mereka pertama kali menetap di Kotta Panjang, kemudian di Tebat Benkuan, dan Tanjung Bulan. Namun, tempat-tempat ini juga segera ditinggalkan. Di bawah pimpinan seseorang bernama Raja Ulio, mereka bergerak menuju Pematang Kayu Aro, yang sejak zaman dahulu merupakan batas antara wilayah Enim dan Mulak, dan dari sana menuju daerah yang dialiri oleh sungai Prapou dan Miu.


** Pendirian Padang Bindu dan Pemotongan Kerbau


Tertarik oleh wilayah yang indah dan sungai-sungai yang melimpah, Raja Ulio dan pengikutnya memutuskan untuk pergi ke Padang Bindu dan meminta izin kepada Depati Panjang (salah satu Puyang dari Enim) untuk diizinkan menetap di daerah tersebut.


Depati Panjang mengabulkan permintaan mereka, dan menghadiahkan seluruh wilayah yang dialiri oleh sumber-sumber air Enim, antara Pegunungan Ringgit dan rantai pegunungan utara, kepada mereka. Ia menunjuk Peraduan Kulus sebagai garis pemisah dan menetapkan bahwa para pendatang baru hanya akan diminta membayar sewa tanah jika mereka ingin menetap di luar wilayah yang ditunjuk, khususnya di timur laut dari wilayah tersebut.


Untuk menguatkan perjanjian ini, seekor kerbau disembelih. Dusun Prapou adalah yang pertama kali didirikan, sehingga dusun ini dapat dianggap sebagai pemukiman asli orang-orang Semindo.


** Perkembangan Komunitas Baru


Beberapa waktu kemudian, sebagian penduduk Prapou pindah lagi ke Nanjongan, dekat dengan Pematang Kayu Aro, di bawah pimpinan Dipati Raja Wani. Sementara itu, yang lainnya, di bawah pimpinan Argan Bumi, Guru-Sakti, dan Nukang-Nadin, menjadi pendiri Tanjung Raya.


Lama kelamaan, populasi bertambah pesat, terutama karena kedatangan penduduk lain dari Perdipo, sehingga secara berturut-turut tidak hanya sejumlah dusun baru didirikan, tetapi juga seluruh wilayah baru mulai dihuni.


Maka, dari ladang dan talang di sekitar Prapou, muncul dusun-dusun Pulau Panggong, Muara Dua, Muara Danou, Muara Nibong, Blambangan, dan Tanabang. Setelah beberapa waktu, penduduk dusun yang terakhir ini pindah ke Ulu Luas dan mendirikan Muara Saung di sana, di bawah pimpinan Pangeran mereka, Priksa Alam.


Ketika Nanjongan hancur karena kebakaran, penduduknya menempati rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penduduk Tanabang, atau mereka pindah ke Prapou, sementara dusun yang terbakar itu tidak pernah dibangun kembali. Penduduk Blambangan yang kecil, satu-satunya dusun yang terletak dekat Nanjongan, merasa begitu ditinggalkan sehingga mereka pun memutuskan untuk pindah ke Ulu Luas.


Di dekat Tanjung Raya, secara bertahap muncul sebuah talang baru, yaitu dusun baru, yang untuk membedakannya dinamai Tanjung Raya Baru. Namun, dusun ini juga segera mengalami kemunduran karena sebagian besar penduduknya menetap di lokasi yang tidak jauh dari sana dan dengan demikian menjadi pendiri Pajer Bulan.


Dusun Pajer Bulan dan Tanjung Raya kemudian menjadi pusat dari mana migrasi-migrasi kecil terjadi. Migrasi ini menghasilkan pendirian Tanjung Agung, Muara Tenang, Kota Agung, Babattan, dan tiga dusun lainnya di Ulu Ogan Semindo.


Sebagai contoh, Ratu-Dewa dan Ulak Laut dari Tanjung Raya pergi ke Tanjung Tiga. Mereka membuka ladang di sana, tetapi segera diketahui iklimnya terlalu dingin dan kurang cocok untuk budidaya padi. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk pindah lebih jauh hingga menemukan lahan yang lebih baik dan kemudian mendirikan Muara Sindang di Ulu Luas. Dikabarkan kepada penukis bahwa Raden Anom, cicit dari Ratu Dewa yang disebutkan di atas, kini akan diangkat menjadi Pangeran Muara Sindang sebagai imbalan atas jasa-jasa yang telah ia berikan dalam pelacakan Tuan Perdipo.


** Ekspansi ke Marga Aji dan Krisis Pangan


Sangat penting untuk dicatat, adalah kepindahan seorang bernama Anggot dari Tanjung Raya, yang diikuti oleh teman-teman dan kerabatnya, menuju ke sebuah wilayah yang saat itu milik marga Aji (Komering). Ia menetap di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Makakou dan mengambil nama Pangeran Adji. Cucu perempuannya kini menikah dengan Pangeran Muda, yang saat ini menjabat sebagai Pasirah Makakou.


Saat ini, masalah kekurangan lahan yang cocok kembali muncul. Dusun Muara Danau, Lembah dan Tinggi hanya memiliki dua belas bidang sawah, sementara penduduk lainnya menanam padi mereka di ladang. Panen dari kedua belas bidang ini masih sangat bergantung pada kondisi tak terduga, terutama karena air tidak dapat dikontrol dengan baik. Hampir setiap tahun, terjadi kekurangan besar beras, makanan pokok yang penting ini, sehingga penduduk terpaksa memenuhi kebutuhan mereka dengan cara membeli.


Untuk mendapatkan dana yang diperlukan, kini dibuka ladang yang luas di dekat Sungai Pelung (perbatasan antara marga Pandan dan Tanjung Agung Enim). Padi yang diperoleh di sana dijual, dan hasilnya digunakan untuk membeli beras di Semindo. Para kepala dari dua dusun yang disebutkan di atas membahas dengan penulis mengenai keinginan mereka untuk pindah seluruhnya ke Sungai Pelung.


** Islam, Adat, dan Hukum Kuno


Penduduk Semindo telah sejak lama menjadi penganut Islam yang taat, meskipun tanpa fanatisme, sama halnya dengan orang Makakou dan Ulu Luas yang termasuk dalam suku yang sama.


Mereka menjunjung tinggi apa yang mereka sebut Puyang atau leluhur, yang memperkenalkan Islam kepada mereka dan meninggalkan berbagai ajaran dan aturan terkait banyak hal, yang sebagian besar masih mereka patuhi dengan setia. 


Sebagai contoh, adat menetapkan bahwa pembunuh atau mereka yang bersalah atas perzinaan inses (bloedschande), harus dikubur hidup-hidup. Karena kejahatan-kejahatan ini selalu memicu perselisihan berdarah (bloedige veeten), tidak hanya antara individu, tetapi bahkan antara seluruh dusun, ketentuan ini kemungkinan besar dibuat untuk mencegah, sebisa mungkin, pembalasan darah yang pasti akan dilakukan oleh kerabat korban melalui hukuman mati kepada yang bersalah.


Namun, sekarang Semindo telah berada di bawah pemerintahan yang teratur, kejahatan-kejahatan semacam itu diadili di hadapan rapat para kepala suku.


** Silsilah Puyang Pendiri Perdipo


Pendiri pertama dusun Perdipo di Pasemah-Lebar, Raja Nyawa, meninggal tanpa meninggalkan anak kandung. Namun, ia memiliki kebiasaan mengangkat beberapa orang sebagai anaknya (disebut "ambil anak"), yaitu mereka yang unggul dalam kualitas, baik atau yang patuh secara ketat pada ajaran Islam.


Sebagai anak angkatnya, yang kemudian menjadi Puyang, disebutkan: Puyang Jemenneng Agung dari Perdipo, Maas-Panghulu dari Mataram, Priksa Alam dari Lematang (yang memimpin perpindahan dari Perdipo dan merupakan kepala duniawi, sebagaimana Raja Ulio adalah kepala spiritual), dan terakhir, Puyang Lurus.


** Garis Keturunan Pemimpin Duniawi (Puyang Maas Panghulu)


Wakil Pasirah Marga Semindo saat ini adalah keturunan langsung dari Maas Panghulu Mataram, melalui urutan sebagai berikut:


1. Maas-Panghulu.

2. Dipati Raja Wani, Pasirah di Nanjongan. Putranya,

3. Pangeran Guntur di Langit, pindah ke PulauPanggung dan merupakan Pasirah pertama di sana.

4. Pangeran Kebilat Mata.

5. Pangeran Panghulu Titi Igama.

6. Pangeran Anom.

Lima belas tahun lalu, Pangeran Singa Laga dari Tangarasa diangkat menjadi Pasirah Ulu Ogan Semindo dan wilayah yang terletak antara Pegunungan Barisan dan Enim Kidou. Namun, tak lama kemudian ia dicopot dari jabatannya, karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya, Anak Dalam, seorang perampok dan pembuat onar terkenal di daerah tersebut. Akibatnya, pemerintahan seluruh Semindo kembali diserahkan kepada Pangeran Anom.

7. Pangeran Anom Kadian.

8. Ambang (wakil), saudara dari pendahulunya (Pangeran Anom Kadian).


** Garis Keturunan Pemimpin Spiritual (Puyang Jemenneng-Agung)


Puyang Jemenneng Agung dan keturunannya tampaknya selalu menjadi kepala spiritual, terutama di Semindo.


Panghulu Pajer Bulan saat ini adalah keturunan langsung dari Puyang ini dengan urutan sebagai berikut:


1. Puyang Jemenneng Agung.

2. Puyang Sudahan, putra kedua.

3. Puyang Makijang (semuanya di Perdipo).

4. Puyang Ketip, yang pertama kali pindah ke Pajer Bulan.

5. Nenek Kimaas.

6. Sudahan.

7. Sang Panghulu (pemimpin saat ini).


Seorang kakak laki-laki dari Puyang Sudahan, bernama Lebeh Panghulu, dan keturunannya tetap menjadi kepala spiritual dusun Perdipo dan menetap di sana. Keturunannya, yaitu cicitnya, Pidaran, yang juga disebut Tuan-Perdipo atau Lebeh Panghulu, kemudian menetap di Pajer Bulan (Semindo). Ini terjadi setelah ia memutuskan pernikahan pertamanya dengan saudara perempuan Pangeran Tumenggung dari Pajer Bulan (Pasemah). Setelah menikah lagi dengan putri mantan Depati Tanjung Agung, ia kemudian berangkat ke Batang Hari Ulu Luas.


** Etimologi Nama "Semindo"


Nama Semindo, yang diberikan oleh penduduk awal daerah tersebut pada tanah tempat tinggal mereka, kemungkinan berasal dari kebiasaan Puyang pertama dan yang paling dihormati, Raja-Nyawa, untuk mengangkat orang asing sebagai anaknya (ambil anak0p).


Tidak ada yang tampak lebih wajar daripada fakta bahwa tanah baru ini, di mana adat istiadat leluhur dijunjung tinggi yaitu perempuan tidak boleh menetap di luar, bahkan biasanya tidak boleh di luar dusun kelahirannya setelah menikah, sehingga sebaliknya suaminya harus tinggal bersama istri atau orang tua istri (kawin semendo) juga mengambil nama dari kebiasaan tersebut.


Penyebab lain mungkin dapat dicari dalam keadaan bahwa para wanita tidak diperbolehkan menikah kecuali mereka sudah sepenuhnya dewasa. Tidak jarang terjadi bahwa gadis-gadis cantik dan berada sudah mencapai usia 22 atau 25 tahun sebelum mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan.


Usia yang disyaratkan untuk menikah adalah 16 tahun. Berbeda dengan suku-suku Melayu lainnya, orang tua menghitung dan mencatat tahun yang telah dicapai oleh anak-anak perempuan mereka, dan terkadang juga anak laki-laki mereka, dengan cermat.


Adapun populasi marga ini, pada sensus terakhir di bulan Oktober 1866, tersebar di 14 dusun dengan jumlah total 6.554 jiwa, termasuk 1.351 pria dan pemuda yang mampu berperang (weerbare mannen en jongelingen).


...............


Catt. Foto hanya sebagai ilustrasi 

** Sumber: Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde* (1869), oleh H. Pauw ten Kate.

** Penulis/Penyunting: Marjafri - Jurnalis, Pendiri Dan Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto



Tidak ada komentar:

Posting Komentar