Di pedalaman Sumatra, jauh sebelum istilah “mitos” dan “folklor” dipakai untuk menata cerita-cerita lama, masyarakat Melayu hidup berdampingan dengan keyakinan tentang dunia yang tidak sepenuhnya kasatmata. Dunia itu diyakini bersinggungan dengan kehidupan manusia—kadang halus, kadang kejam.
Di sanalah lahir kisah-kisah tentang jiwa yang dapat berpindah, manusia yang tidak selalu terikat pada satu rupa, dan batas tipis antara yang nyata dan yang ghaib. Dari sekian banyak kisah, cerita tentang cindaku menempati tempat paling ganjil, paling liar, dan paling menakutkan. Catatan ini bersumber dari penelitian kolonial pada tahun 1882 dan 1898 yang menulis dengan cermat berdasarkan pengamatan dan keterangan penduduk setempat.
- Negeri Banye-Balingka dan Orang Cindaku
Ke arah Kerinci, tersembunyi sebuah negeri terpencil bernama Banye-Balingka, dinamai demikian karena adanya semacam dinding alami dari baniye—akar-akar pohon pipih yang membentang di atas tanah, menyerupai tembok raksasa yang menahan sekaligus melindungi. Negeri ini terdiri atas dua kampung, masing-masing dihuni oleh orang-orang Cindaku.
Penduduk salah satu kampung mampu menjelma menjadi manusia atau harimau. Penduduk kampung lainnya dapat berubah menjadi manusia atau babi. Mereka hidup terpisah namun terikat dalam tatanan yang misterius. Raja mereka tidak berada di istana; ia terbelenggu pada sebuah batu besar, dirantai tepat di pusarnya—seolah sengaja dikurung agar kekuasaannya tidak pernah benar-benar menyentuh dunia manusia.
- Perburuan Malam
Pada waktu tertentu dalam setahun, ketika hutan lebih sunyi dan malam terasa panjang, orang-orang Cindaku meninggalkan negerinya. Mereka menyelinap keluar dalam wujud harimau, bergerak rendah di antara pepohonan, mengendap tanpa suara, menuju daerah-daerah yang dihuni manusia. Mereka datang bukan untuk berdagang atau singgah—melainkan untuk memangsa.
Jika mereka menjumpai sungai besar yang tak dapat diseberangi, mereka tidak memaksakan diri. Di tepi air, wujud harimau lenyap. Mereka berubah menjadi manusia. Dengan beban di kepala, mereka tampak seperti pedagang keliling yang lelah. Dengan suara tenang dan wajah tanpa curiga, mereka meminta seorang pengemudi perahu menyeberangkan mereka.
Begitu mencapai seberang, wujud manusia itu hilang. Harimau kembali muncul, perjalanan berlanjut.
Saat mendekati kampung, mereka sekali lagi berubah menjadi manusia. Mereka mengetuk pintu, meminta bermalam, berbicara seperti orang biasa. Satu tanda membedakan mereka: bibir atas mereka rata, tanpa lekukan. Ketika malam semakin dalam dan seluruh rumah terlelap, penyamaran tersingkap. Mereka kembali menjadi harimau, menerkam orang-orang yang tidur tak berdaya, merobek tubuh, dan memakan jantungnya. Ternak di kandang pun diseret dan dibantai.
- Raja Terbelenggu dan Jantung Pisang
Setelah perburuan selesai, mereka kembali ke negerinya. Kepada raja yang terikat pada batu, mereka tidak membawa jantung manusia, melainkan bunga pisang yang masih tertutup—sebagai pengganti.
Sang raja berkata:
"Jika jantung manusia sepahit ini, aku tidak ingin pergi ke negeri-negeri yang jauh."
Orang-orang Melayu menafsirkan itu sebagai keselamatan bagi manusia. Sebab jika raja benar-benar diberi jantung manusia dan merasakan kenikmatannya, ia akan melepaskan diri dari rantainya, keluar dari negeri terkutuk itu, dan membantai siapa pun yang ditemuinya.
Cindaku yang mampu berubah menjadi babi dianggap tidak terlalu berbahaya. Mereka tidak memangsa manusia—hanya merusak ladang dan tanaman. Namun jejak mereka tetap menjadi tanda: sesuatu telah lewat, sesuatu yang bukan sepenuhnya manusia, dan tidak pernah benar-benar pergi.
- Sièq Koekoeï: Pemimpin Spiritual
Pemimpin spiritual orang-orang Cindaku dikenal dengan nama Sièq Koekoeï. Doa yang dipanjatkan kepada Sièq diyakini satu-satunya cara untuk terbebas dari serangan mereka.
Diceritakan pula, seorang lelaki yang menjaga kediaman raja melihat seekor harimau menyerang sapi di kandang bawah rumah. Ia meraih tombak pusaka raja, toembaq baramboeï, dan menusukkannya ke tubuh harimau. Binatang itu lari dengan luka parah bersama tombak yang menancap di tubuhnya.
Takut melaporkan hilangnya tombak, lelaki itu mengejar harimau yang terluka. Tanpa disadari, pengejaran membawanya ke negeri orang Cindaku. Di sana ia diminta menyembuhkan seseorang yang terluka di rantau. Ia bersedia, dengan syarat hanya berdua dengan orang tersebut.
Ia mencabut besi tombak dari luka sang pasien dan berhasil menyembuhkannya. Sebagai balasan, orang-orang Cindaku menyatakannya sati—kebal dan tak tersentuh—dan memberinya alémoe, ilmu penangkal agar dirinya, keluarganya, dan ternaknya tidak diserang. Setelah itu, ia kembali ke negerinya sendiri.
---
Sumber:
- Volksbeschrijving van Midden Sumatra,
Arend Ludolf van Hasselt (1882)
- De weertijger in onze koloniën en op het oostaziatische vasteland, J.J.M. de Groot (1898)
Penyunting: Marjafri - Jurnalis, pendiri dan ketua komunitas anak nagari Sawahlunto "art, social culture & tourism.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar