Ilmu pengobatan tradisional dipandang sebagai manifestasi dari naluri dasar manusia untuk bertahan hidup sekaligus cerminan dari alam pikiran suatu bangsa. Penderitaan fisik mendorong kreativitas manusia untuk menciptakan sarana penangkal demi menjaga kesejahteraannya. Sebagaimana dikemukakan oleh E. W. A. Ludeking, perkembangan ilmu pengobatan di sepanjang sejarah merupakan tolok ukur yang akurat bagi tingkat peradaban sebuah masyarakat.
Catatan mengenai pengobatan tradisional ini dihimpun di wilayah Ajer-Hadji, Padang Darat. Meskipun data yang dikumpulkan masih terbatas akibat perpindahan tugas penulis ke wilayah lain, naskah ini tetap dipublikasikan dengan harapan dapat dilengkapi oleh peneliti selanjutnya. Seluruh materi dalam catatan ini bersumber langsung dari keterangan para dukun desa setempat.
I. PENYEBAB-PENYEBAB PENYAKIT.
Menurut pengertian orang Melayu saat ini, berbagai penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, tergantung apakah penyebab penyakit tersebut terletak di luar atau di dalam diri manusia. Kelompok pertama mencakup penyakit-penyakit yang disebabkan oleh roh-roh yang memusuhi manusia, dan kelompok kedua adalah apa yang disebut sakit biring-biring dan sakit galang-galang, yang penyebabnya akan dibahas lebih lanjut sekarang.
a. Roh jahat sebagai penyebab penyakit.
Sebagaimana diketahui, orang Melayu merasa dirinya terus-menerus dikelilingi oleh banyak roh yang terlihat maupun tidak terlihat yang memusuhi mereka, dan hati mereka selalu dirundung ribuan ketakutan terhadap roh-roh tersebut. Jumlah mereka sangat banyak, karena untuk setiap bahaya yang melampaui akal dan indranya, imajinasi orang Melayu seolah-olah menciptakan sosok roh pengganggu yang menjadi penyebabnya.
Namun, roh-roh tersebut tidak selalu menjadi pengejar manusia. Awalnya, sebagaimana yang diceritakan, mereka hidup bersama dan di antara manusia serta berasal dari satu keturunan yang sama. Njèq Pitalo Goeroe adalah nenek moyang bersama mereka. Ketika Daulat ingin memperkenalkan Islam di antara mereka, tujuh di antara mereka menolak untuk menerima ajaran baru tersebut. Oleh karena itu, Pitalo Goeroe mengirim mereka yang membangkang ke hutan belantara. Mereka menjadi roh jahat dan sebagai pembalasan atas ketidakadilan yang dilakukan Pitalo Goeroe terhadap mereka, mereka dan keturunan mereka sejak saat itu menjadi musuh bebuyutan manusia hingga hari ini.
Sebelum mereka diusir, Pitalo Goeroe mengadakan perjanjian dengan mereka. Jika mereka membuat manusia sakit, maka jika manusia meminta kesembuhan serta memenuhi adat dan lembaga (limbago), mereka harus menyembuhkannya; jika tidak dilakukan, maka mereka akan ditimpa kutukan Allah dan Al-Quran yang terbagi dalam tiga puluh juz (engkau dimakan sakti kalam Allah, dimakan Quran tiga puluh juz).
Roh-roh jahat tersebut, yang saat ini konon berjumlah 124.000 (selaksa dua laksa empat ribu), memiliki tingkatan hierarki satu sama lain. Kedudukan tertinggi diduduki oleh empat Radja Soleiman, yang dibedakan satu sama lain melalui atribut warna tertentu yang berkaitan dengan bagian alam semesta yang mereka pimpin.
Radja Soleiman Poetih bersemayam di awan putih (di awan poetih), Radja Soleiman Koening di awan berwarna kuning (di awan koening), Radja Soleiman Idjau di pegunungan awan (di goenoeng awan-awan), dan Radja Soleiman Itam di perbukitan bumi (di moenggoeh tanah).
Pilihan warna-warna tersebut secara tidak langsung mengingatkan pada gambaran warna sugestif yang dihadirkan matahari dalam perjalanan hariannya, saat terbit ia menghalau awan putih, kemudian pada tengah hari mencapai titik tertingginya di kubah langit yang biru, selanjutnya saat terbenam mewarnai awan dengan warna kuning, dan akhirnya tenggelam di balik gunung, meninggalkan bumi dalam kegelapan malam.
Agar dapat menjalankan kepemimpinan atas roh-roh bawahannya dengan baik, masing-masing dari keempat Raja tersebut memiliki staf pembawa pesan (doebalang) di bawah mereka, yang namanya juga sering dikaitkan dengan warna.
Empat doebalang dari Radja Soleiman Poetih bernama:
1. Mambang Poetih,
2. Mambang Merah,
3. Mambang Koening, dan
4 Mambang Idjau;
Doebalang dari Radja Soleiman Koening berjumlah tiga:
1. Mambang Koening,
2. Mambang Idjau, dan
3. Mambang Boerahan.
Adapun Radja Soleiman Idjau memiliki Dewa, Pari, dan Boelo sebagai ajudannya, dan pembantu dari Radja Soleiman Itam bernama Si Hantoe Moeno, Si Oelo-Oelo, dan Si Gamboelo.
Di bawah mereka semua terdapat roh-roh tingkat rendah: Hantu, Jin, Setan, dan Iblis, di mana yang terakhir disebut adalah yang paling tidak berbahaya; mereka tidak menimbulkan kejahatan secara langsung, tetapi menyesatkan manusia dari jalan yang benar melalui tipu daya.
Lebih lanjut, orang Melayu juga percaya pada berbagai jenis mahluk kerdil yang suka mengganggu dan berubah-ubah, seperti "orang baliq" yang tinggal di hutan dan dinamakan demikian karena kaki mereka dengan jari-jari yang menghadap ke belakang; selanjutnya "orang tirau" yang juga menghuni hutan dan mengetahui segala hal; serta terakhir "orang miloekoete", sejenis roh kerdil yang tempat tinggalnya berada di dunia bawah.
Hantu adalah yang paling ditakuti di antara semua mahluk yang telah disebutkan; mereka adalah penggoda terbesar, dan pada perilaku ajaib merekalah imajinasi orang Melayu menghubungkan banyak legenda. Orang-orang mengetahui tempat tinggal, nama, dan penampilan mereka, bahkan ada yang berani bersumpah telah melihat beberapa di antaranya dengan mata kepala sendiri. Dalam kelanjutan tulisan ini, banyak dari mereka yang akan disebutkan kembali, namun untuk saat ini, cukup beberapa patah kata untuk menggambarkan karakter mereka.
Salah satu yang paling ditakuti dan populer di antaranya adalah Hantu Si-Marah-Boeroe. Menurut legenda, dahulu ia hidup sebagai manusia biasa di bumi dan termasuk dalam suku Jambak Katapang. Ketika istrinya sedang hamil dan sangat mengidamkan daging rusa yang juga sedang bunting, ia menyampaikan hal itu kepada suaminya. Sang suami kemudian berangkat bersama dua anjing pemburunya, Si-Alang-Djondjang dan Taboean Tanah, untuk melacak rusa tersebut. Namun, sejauh apa pun ia mencari, ia tidak menemukannya. Karena kecewa, ia tidak lagi makan dan minum, hingga akhirnya ia kembali ke rumah dalam keadaan sangat lelah, kurus kering, dan tubuh yang kotor tak terawat sehingga istrinya tidak lagi mengenalnya. "Engkau bukan suamiku," kata sang istri, "karena jika benar, engkau pasti sudah membawakan rusa itu pulang."
Dengan sedih ia menjawab, "Jika engkau berpikir demikian, maka aku akan kembali ke hutan belantara dan tidak akan pulang sebelum menemukan hewan itu; jika aku tidak kembali, yakinlah bahwa aku telah menjadi Hantu. Jika selama kepergianku lahir seorang putra, berikanlah cincin ini kepadanya."
Ia pun berangkat bersama anjing-anjingnya dan sejak saat itu tidak pernah kembali. Ia menjadi roh hutan yang ditakuti semua orang dan dijuluki Si-Marah-Boeroe. Sementara itu, sang istri melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika anak itu bertanya siapa ayahnya, sang ibu menceritakan tujuan keberangkatan ayahnya ke hutan luas sejak lama dan bahwa ayahnya pasti telah menjadi Hantu. Setelah memberikan cincin tersebut kepada putranya, pemuda itu memutuskan untuk mencari ayahnya.
Sebelum berangkat, ibunya berpesan bahwa ayahnya membawa dua ekor anjing, sehingga jika ia mendengar gonggongan di hutan belantara, ia harus menuju ke arah tersebut karena pasti akan segera menemukan jejak ayahnya. Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, ia benar-benar mendengar gonggongan anjing, dan saat bergegas menuju ke sana, ia melihat sesosok Hantu bertubuh panjang berbulu yang sedang berayun di akar gantung pohon Bangkudu.
Pemuda itu memberi salam kepada sang Hantu, menyangka bahwa itu adalah ayahnya, namun mahluk itu hanya mengeluarkan suara geraman rendah. Pemuda itu kemudian menunjukkan cincin yang dibawanya, setelah itu roh hutan tersebut memberitahunya bahwa ia telah menjadi pemakan manusia. Pemuda itu pun dicekam rasa takut, tetapi roh itu menenangkannya dengan berkata, "Jangan takut, ambillah gantoeng poetjoeq 1], itu adalah tanda (tanda) yang membuatku tidak berdaya terhadapmu."
Hantu-hantu lain yang sangat ditakuti antara lain:
Hantu Tinggi: memiliki tubuh manusia raksasa dengan kepala anjing. Jika ia menyentuh manusia, orang tersebut akan merasa seolah-olah menderita luka bakar. Jika ia mencengkeram tenggorokan manusia, orang tersebut akan mengalami muntah darah.
Hantu Kapan: menampakkan diri seperti kain kafan dan berkeliaran di pemakaman. Kegemaran utamanya adalah menakut-nakuti manusia hingga menyebabkan mereka jatuh sakit.
Hantu Ajer: sejenis roh air. Jika seseorang sedang mandi di sungai dan dicekam rasa takut, roh-roh ini akan menahan orang tersebut di bawah air. Orang itu akan merasa seolah-olah kakinya dipegang dengan kuat. Jika dalam keadaan tersebut seseorang mampu menjaga ketenangan pikirannya, ia masih bisa melarikan diri, tetapi jika ia menunjukkan ketakutan, maka ia akan celaka.
Hantu Djahad: penyebab kejang-kejang pada anak-anak dan juga mengincar wanita yang baru melahirkan. Ia berwarna hitam dan berbulu menyerupai beruang.
Hantu Papan: memiliki rupa manusia dan berjalan sesuka hati, terkadang dengan kepala di atas dan terkadang dengan kaki di atas.
Hantu Kajoe: memiliki rupa manusia tetapi hitam dan berbulu seperti siamang, serta melompat dari dahan ke dahan seperti kera. Jika seseorang menebang pohon keramat, ia akan murka dan membuat pelakunya sakit.
Dalam kasus terakhir, penyakit dianggap sebagai hukuman atas kesalahan yang sengaja dilakukan. Namun, terkadang roh-roh jahat tersebut menghukum manusia dengan penyakit tanpa orang tersebut menyadari kesalahannya, misalnya karena secara tidak sengaja melihat atau menyentuh roh yang tak terlihat, atau tanpa sengaja menghalangi jalan mereka.
Roh-roh ini dapat membuat manusia sakit dengan berbagai cara, misalnya dengan menyapa tanpa disadari oleh orang yang disapa (manjapo—mengatakan "siapa" kepada seseorang), atau dengan menangkapnya secara diam-diam (manangkap), atau dengan memberinya tanda (manandoi), atau dengan memukulnya menggunakan suatu benda (marimbat). Sebagai contoh, seseorang sedang berjalan di bawah pohon dan tertimpa dahan yang jatuh; hal itu dianggap bukan kebetulan melainkan ulah Hantu yang tak terlihat, dan penyakit sebagai akibatnya pasti akan muncul. Demon lainnya memanah dengan anak panah gaib dan membuat korbannya sakit dengan cara tersebut.
Semua perbuatan roh jahat ini, dengan perluasan makna aslinya, juga disebut manjapo, dan orang yang terkena dampaknya disebut tersapo.
Beberapa nama roh pengganggu Melayu ini, terutama yang memiliki tingkatan lebih tinggi, jelas berasal dari luar. Nama Radja Soleiman pastilah diambil dari Al-Quran. Setelah masuknya Islam, terdapat alasan kuat untuk menyebut pemimpin roh-roh jahat dengan nama tersebut, karena menurut tradisi Al-Quran, Nabi Sulaiman diutus kepada para jin yang ia kuasai sepenuhnya melalui cincin stempelnya (tjintjin-Radja-Soleiman). 2]
Sangat sulit untuk melacak nama asli dari keempat Radja Soleiman tersebut; namun, atribut warna yang menyertai nama mereka memberikan dasar bagi dugaan bahwa sebelumnya mereka menyandang nama-nama dewa Hindu. Mereka juga sering kali disebut bersamaan dengan Pitalo Goeroe yang telah disebutkan di atas, sebuah nama yang mengingatkan pada Batara Goeroe (Siwa) [3].
b. Racun tertentu dalam darah sebagai penyebab penyakit.
Diyakini bahwa setiap manusia sejak lahir telah membawa sejenis racun penyakit di dalam darahnya yang disebut biring-biring. Selama seseorang sehat, racun penyakit tersebut tetap tertidur (laten). Jika racun itu terbangun karena pengaruh luar (misalnya oleh panas atau dingin, atau karena kelelahan fisik, dsb.), maka orang tersebut akan jatuh sakit.
Penyakit yang muncul, yang jenisnya bisa sangat beragam, kemudian disebut sakit biring-biring. Beberapa penyakit yang termasuk dalam kelompok ini antara lain:
* Amar (juga: Ameng) – Memar atau lebam.
* Balah-sewa-sewatan – Pembentukan kapalan pada telapak tangan dan telapak kaki yang menimbulkan celah bernanah.
* Balah-nambi – Penyakit patek (frambusia) yang disertai pernanahan.
* Batoeq-isaq – Sesak napas atau asma.
* Běrboetir – Pertumbuhan daging berlebih (wild vleesch).
* Biring koeto – Kusta (lepra).
* Biring talor – Radang tenggorokan yang disertai pembengkakan amandel (talor).
* Bisoel – Bisul.
* Boeoq (juga: Bochoeq) – Penyakit gondok.
* Boetir-balit – Kutil.
* Damam kapialoe – Demam tifus.
* Damam panas – Demam tinggi yang terus-menerus.
* Damam koero – Jenis-jenis demam intermiten (seperti malaria).
* Damam sasajan – Jenis-jenis demam intermiten lainnya.
* Djatoeh pansan – Jatuh pingsan atau tidak sadarkan diri.
* Goeam – Difteri atau sariawan akut (spruw).
* Kadal – Ruam kulit bernanah berbentuk bulat yang membentuk luka-luka terpisah di tubuh.
* Katam – Kejang mulut (klem).
* Katoemboehan-ajër – Cacar air.
* Katoemboehan-benar (juga: panjakit poesako) – Cacar asli (variola).
* Koeroq-ajam – Kurap (ringworm).
* Koedis – Kudis (scabies).
* Panau-basi – Panu besi; bercak pada kulit yang lebih gelap dari warna kulit asli.
* Panau-boengo – Panu bunga; bercak putih pada kulit yang dianggap sebagai tanda kecantikan fisik.
* Panau-boeroeq – Bercak pada kulit yang lebih terang dari warna kulit asli dan bersisik seperti panau-basi (sedangkan panau-boengo halus dan tidak bersisik).
* Paning-paning – Pusing atau pening.
* Panjakit-gadang (juga: p. panah) – Infeksi pada ujung jari (fijt).
* Patah-toelang – Patah tulang.
* Pitpinau – Bisul besar dengan banyak mata (negenoog).
* Sakit-gigi – Sakit gigi.
* Sakit-loempoeh – Kelumpuhan.
* Sakit barah-hati (juga: s. padis-hati atau s. oeloe-hati) – Kram lambung atau sakit ulu hati.
* Sakit mato (boeto: buta; raboen-sisih: rabun dekat/miopia; sariawan: rabun jauh/presbiopia) – Penyakit mata.
* Sakit talingo (pakak: tuli; bisoe: bisu) – Sakit telinga.
* Saroq – Kejang-kejang (step).
* Sawan – Penyakit ayan (epilepsi).
* Sawan-kambing (juga: sawan bangkai) – Serangan stroke (apopleksia).
* Sèmbèh – Borok atau bisul yang meradang.
* Soembali – Sembelit atau konstipasi.
* Tapialang – Rematik sendi.
* Tapiaweh – Rematik otot.
* Tjampaq – Campak.
* Tjanggoe – Patek (frambusia) pada jari kaki.
* Terkili – Terkilir atau dislokasi.
c. Cacing sebagai penyebab penyakit.
Selain biring-biring, setiap manusia sejak lahir juga membawa berbagai jenis cacing di dalam tubuhnya, seperti bia (sejenis ulat), galang-galang-panjait (dinamakan demikian karena ukurannya tidak lebih tebal dari jarum), dan galang-galang-tambago yang kita kenal sebagai cacing gelang. Lebih lanjut, di dalam setiap tubuh manusia, tepatnya di dekat pusar, terdapat seekor cacing pita (galang-galang-rajo). Jika hewan ini mati, maka manusia yang menjadi inangnya pun harus ikut mati. Cacing-cacing tersebut tidak secara langsung mencelakai manusia, namun jika seseorang mengonsumsi makanan yang buruk atau kotor, atau meminum air yang tercemar, hewan-hewan tersebut merasa terganggu sehingga mencari jalan keluar dan dengan demikian membuat manusia jatuh sakit. Begitulah asal mula dari apa yang disebut sakit-galang-galang.
Jika menilik fakta bahwa pada berbagai suku bangsa lain, baik di dalam maupun di luar Nusantara, cacing usus dianggap sebagai personifikasi dari penyakit tertentu, maka tidak menutup kemungkinan bahwa galang-galang pada masyarakat Melayu awalnya dianggap sebagai roh penyakit yang merasuk ke dalam tubuh manusia dalam wujud tersebut, meskipun pandangan itu kini tidak lagi mereka anut. Perlu kita ingat pula secara sekilas bahwa pada Abad Pertengahan di belahan dunia kita (Eropa), banyak penyakit yang bersifat menggerogoti (seperti encok, infeksi jari, sakit gigi, dll.) juga dikaitkan dengan ulah cacing.
Beberapa penyakit yang termasuk dalam kelompok ini menurut orang Melayu antara lain:
* Krajer-krajer (perubahan dari ka-ajer), juga disebut botjor – Diare.
* Krajer darah – Disentri.
* Langkibang – Kram perut.
* Malojo – Mual atau enek.
* Madoe manasah (juga: tahoen) – Kolera.
* Mandjaloeh – Muntah-muntah.
II. METODE PENGOBATAN
(Bersambung ...)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar