Rabu, 14 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 6)


 

a. Tarak Gadung


Selama menjalani pengobatan ini, pasien hanya diperbolehkan minum air rebusan gadung dan hanya boleh makan nasi putih kering dengan ikan badar (sejenis ikan kecil) yang dipanggang. Selain itu, selama periode tersebut, pasien wajib menahan diri dari hubungan seksual, menjaga ketenangan diri, dan terutama menjaga agar tidak berkeringat; sebab jika berkeringat, kekuatan penyembuh dari gadung diyakini akan hilang dari tubuh.


Gadung adalah sejenis tanaman merambat yang umbinya dalam keadaan kering dapat dibeli di setiap pasar dari Orang Kumango (pedagang barang kelontong) berdasarkan beratnya. Saat membelinya, terdapat sebuah pantangan (pantang) untuk tidak menawar harga yang telah ditentukan.


Umbi tersebut kemudian dipotong-potong oleh dukun (mancancang gadung) sambil merapalkan Bismillah. Potongan-potongan tersebut kemudian diasapi di atas kemenyan yang membara, sementara dukun mengucapkan tawar tarak gadung, sebuah mantra yang terdengar seperti bahasa Arab, namun maknanya tidak dapat dimengerti, baik oleh ahli medis maupun orang awam. Atas jasa keahliannya, sang dukun menerima sepiring nasi dan uang sebesar 25 sen. Proses merebus potongan gadung tersebut harus dilakukan di dalam periuk tanah liat yang masih baru (belum pernah digunakan).


b. Tarak Raso


Inti dari metode pengobatan ini adalah sang dukun menggunakan daun sirih atau daun selasih yang sebelumnya telah dibasahi dengan air wewangian tertentu, dukun menggosokkan sedikit air raksa (merkuri) pada bagian tubuh tertentu pasien (biasanya telapak tangan), sembari merapalkan mantra penawar yang terdengar seperti bahasa Arab yang sulit dipahami: tawar taraq raso. Air raksa yang diperlukan tersebut juga dapat diperoleh dari setiap pedagang kelontong (orang koemango).


Apabila si sakit merasakan manfaat dari pengobatan ini, maka prosedur tersebut diulangi setelah tiga hari, kemudian tiga hari berikutnya, dan seterusnya. Dalam metode ini, pasien juga harus menjalani diet ketat serta mematuhi aturan pantangan (pantang) sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian tarak gadung.


e. Tarak ke Gunung


Dalam metode ini, pasien mengasingkan diri selama beberapa waktu di suatu tempat keramat, yaitu tempat sunyi yang biasanya berupa makam suci milik seorang syekh atau dukun ternama. Tujuannya adalah untuk tidur di tempat tersebut dengan harapan mendapatkan petunjuk melalui mimpi mengenai sarana yang harus digunakan untuk mencapai kesembuhan. Ini merupakan sebuah metode pengobatan sugestif, yang tidak berbeda jauh dengan tradisi "tidur kuil" pada zaman Yunani kuno.


Pengasingan ini dilakukan sepenuhnya secara sukarela. Adapun praktik tarak sebagai bentuk pengasingan paksa (pembuangan), sebagaimana yang disebutkan oleh Tuan A. L. van Hasselt pada halaman 96 dalam buku Volksbeschrijving-nya yang terkenal, tidak dikenal di wilayah ini.


Upacara yang mendahului ritual tidur profetik (tidur untuk mendapatkan petunjuk) tersebut adalah sebagai berikut: 

pertama-tama, pasien harus menjalani semacam proses pembersihan, yakni menyiram tubuh dengan ramuan limau sintoq saat mandi di sungai, yang kemudian dilanjutkan dengan mengoleskan bedak (blanketsel) ke seluruh tubuh. Setelah menjalani ritual berlimau berkasai ini, diadakan jamuan makan persembahan di rumah pasien yang juga dihadiri oleh dukun.


Setelah rangkaian tersebut selesai, pasien mengenakan pakaian serba putih dan diantar oleh dukun menuju tempat keramat. Keberangkatan ini hanya boleh dilakukan pada hari Senin atau Kamis. Selain tikar tidur, pasien membawa sedikit nasi ketan sangrai sebagai bekal, yang hanya boleh dimakan sedikit pada pagi dan malam hari. Selama perjalanan, ia harus terus-menerus melantunkan "Assalamoe 'alaikoem" (mambaca salawat).


Selama masa pengasingan, setelah menyantap makanan yang sederhana, pasien harus selalu membakar dupa (kemenyan) dan merapalkan "seruan" (saroean) yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, ia wajib menjalankan ibadah salat lima waktu dengan tekun, dan setelah doa malam (Isya), ia harus melantunkan kalimat syahadat hingga jatuh tertidur.


Apabila dalam waktu tujuh hari orang yang taat tersebut tidak mendapatkan wahyu dalam mimpinya dari kekuatan surgawi, maka segala harapan untuk sembuh dianggap telah sirna. Hal itu diyakini sebagai kehendak Allah.


Berikut ini di sertakan teks Melayu dari mantra-mantra pengusir setan, yang terjemahan bebasnya telah diberikan pada halaman-halaman sebelumnya. Untuk penyederhanaan, kata-kata tersebut dieja sesuai dengan cara penulisannya dan bukan berdasarkan cara pengucapannya dalam dialek Minangkabau.


Doa Limau Buаh.


Bismillahir-Rachmanir-Rahimi.


Ja Allahoe, ja Rasoel Allah berkat Toeankoe Nabi Oelah, Nabi Mohamad. Kandalan akoe Djibrail, Mikail, Israil, Israpil, Aboe Bakar, Oemar, Oesman, Ali, Kiraman, Katibin.


Bërmoelo api, ajër, angin, tanah: 

zat daripado bapaq, sipat daripado iboe, ampat toeroen daripado bapaq, ampat toeroen daripado iboe.


Berdirilah angkau di kiri dikanannjo, dihadapan diblakangnjo 

Jahajan, Jadajan, Jahasin didalam Qoran; běrmaro Allah mangko bërmaro akoe, bërmaro Mohamad, mangko bërmaro Si Anoe daripado panjakitnjo.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel bërkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Salamo oemoer Madini, salamo oemoer Mohamad, berkat doa kiramat Allah dalam tirai koelamboe Allah dalam gadoeng Rasoel Allah.


Tida diapo kato soerat, soerat soedah tërdoeloenjo.


Kalau bergaraq di Batoe-Ampar-Poetih (1) mangko dirinjo bërgaraq, kalau tida bergaraq di poesat boemi, mangko bergaraq dirinjo.


Kalau mati hantarkan karahmat Allah, kalau hidoep kandaq berlakoe, Siraïl tagaq dikirinjo, Sirapil tagaq dikanannjo, Moekaïl tagaq dihadapannjo, Djibraïl tagaq diblakangnjo serta Allah djo Mohamad.


Kalau tersapo di boeboen-boeboennjo, dinding-berdindinglah angkau, mandindingkan obat dan panawar.


Masoeq tawar kaloear biso, tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah. Qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Ali jang bernamo Ali, oerat tonggang angkau Aboe Bakar.


Boewah daoen karoeboet mari akoe soeroeh, akoe sarajo, djangan angkau berdoeto-doeto, berolo-olo, kaätas angkau tida bolih angin, kaloerah angkau tida bolih ajër.


Limau akoe, si-limau-koerau diramas dipinggan bibir, soeroet përboewatan djihin dan setan, hantoe dan oebili.


Tinggal djadjaq anaq sidang-manoesia angkau tangisi.


Batoe aning, batoe lado mangko dilangkapkan, djangan kami tergamang-gamang.


Katokan jang saběnar kato, ilmoe doedoeq diatas Qoran, serta Allah djo Mohamad.


Bolih kasi tolong Djibraïl.


Kalam moelo asal angkau djadi, djadi angkau karano akoe, djadi akoe karano Allah.


Sakalian biso tawar, sakalian tadjam toempoe, sakalian karas lamboet kabasaran doa Njeq Radjo Soleiman.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel běrkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Haq basi tahan manahan sanggo-manjanggo berkoekoeq bërkatiq basi didalam batoe, haq tahan sariboe tahan, manahan Djoembalang-Ajër, manahan Djoembalang-Tabing, manahan përboewatan djihin, manahan perboewatan setan, manahan perboewatan hantoe dan oebili, manahan përboewatan boelo, dan pari, dewa dan mambang, manahan perboewatan Si-Hantoe-Moeno, Si-Kati-Moeno, kaätas Si-Madang-Kilat, dibawah Radjo-Sikoedarang, Radjo-Itam.


Doebalang angkau saratoes sambilan poeloeh, saparo angkau djalan laoet, saparo angkau djalan darat, saparo angkau djalan awang-awang, tida angkau dapat malawan akoe dari doenja laloe ka achirat, hoe" namonjo akoe, wahab namonjo angkau. Mati dipantjoeng padang Toeankoe Bagindo Ali.


Ali-ta-Ali maädokan 

Radjo-Soleiman-Poetih nan diam di awan poetih, Radjo-Soleiman-Koening nan diam di awan koening, Radjo-Soleiman-Idjau nan diam di goenoeng awan-awan, Radjo-Soleiman-Hitam nam diam di moenggoeh tanah.


Hai Radjo-Soleiman nan ampat poeloeh ampat, ampat pindjoeroe boemi, pindjoeroe langit, anaq daro Si-Bintaro, nan bertoedjoeh diam di salowatas, djangan angkau lantjong niajo kapado anaq tjoetjoe Nabi Adam. Akoe tahoe asal moelo angkau djadi.


Datang angkau dari sandjo-rajo, kombali angkau kapado sandjo-rajo, datang angkau dari oedjan-panas, kombali angkau kapado oedjan-panas, datang angkau dari kajoe gadang, kombali angkau kapado kajoe gadang, datang angkau daripado batoe gadang, kombali angkau kapado batoe gadang, datang angkau daripado napar koening, kombali angkau kapado napar koening, datang angkau daripado poesat-tasiq kombali angkau kapado poesat tasiq.


Akoe tahoe di moelo asal angkau djadi karano Djibrail asal moelo angkau djadi.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha allah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Akoe halarkan pajoeng akoe. Mohamad terdiri. Jahajan, Jadajan, Jasin didalam Qoran, bermaro Allah mangko (2) bermaro akoe, bërmaro Mohamad, mangko běrmaro Si Anoe daripado panjakitnjo.


Saroelah, Baroelah (3) kalau bertamoe dengan dirinjo manjiarlah angkau kakiri kakanannjo, kahadapan kablakangnjo.


Akoe mamakai doa pangalah dan pangalih, sadang ajër gadang lagi beralah lagi beralih, ta akoe përalah peralihkan Allah-taäla përalah peralihkan. Ko koenoen përboewatan djihin dan setan, hantoe dan oebili peralah peralihkan Allah-taäla përalah peralihkan. Ko koenoen përboewatan boelo dan pari lagi beralah, lagi beralih ta akoe pēralah peralihkan Allah-taäla pěralah peralihkan. Ko koenoen pěrboewatan dewa dan mambang diperalihkan Allah, dipěralihkan Mohamad, diperalihkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel běrkat la ilaha illah Allah.


Doa limau daun.


(Bersambung...)


............................................


Catatan


2) Batoe-ampar-poetih

Dalam kosmologi Melayu, istilah ini merujuk pada batu tempat berdirinya lembu dunia. Bumi dibayangkan sebagai sebuah cakram datar, yang di atasnya terdapat tujuh tingkatan langit (toedjoeh pindjoeroe langit) dan di bawahnya terdapat tujuh tingkatan bumi (toedjoeh pindjoeroe boemi).


Bumi ditopang di atas kedua tanduk seekor lembu (lamboe). Apabila hewan ini menggoyangkan tanduknya, maka terjadilah gempa bumi. Lembu dunia ini berdiri di atas sebuah batu yang disebut sebagai "batoe ampar poetih". Batu tersebut, pada gilirannya, ditopang oleh seekor ikan raksasa (Ikan-Rajo-Bésar) yang berenang di lautan dunia.


2) Bermaro Allah mangko bermaro akoe = jika musibah menimpa Allah, maka musibah itu juga akan menimpa saya. Namun, karena tidak mungkin ada musibah yang menimpa Allah, maka arti ungkapan ini adalah: sebagaimana tidak ada bahaya yang dapat menimpa Allah, demikian pula tidak ada bahaya yang dapat menimpa saya."


3) Saroe, nama roh laut; Baroe, nama roh darat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar