Menurut mythe dari orang Gayo, asalnya Raja Gayo seperti tersebut dibawah ini.
Isterinya seorang dari Raja Rum (Turki) melahirkan seorang putra, tatkala lahir ia bersarung (terbungkus dengan satu lapis kulit yang tipis). Karena ia merasa malu memperoleh seorang putra yang bersarung itu, maka bayi itu dimasukkan dalam satu peti serta ditaruh bersama2 bayi itu kain dan barang emas, permata dan sebentuk cincin untuk kalau2 nanti ada gunanya bila anak itu telah besar sampai disatu tempat dan peti itu lalu dibuang ke laut. Maka peti yang dibuang kelaut itu dibawa ombak sampai ke Pulau Andalas/Sumatera. Kemudian peti yang hanyut terapung2 itu dapat diambil oleh seorang nelayan disalah satu pantai di Aceh. Setelah dibuka dilihatnya seorang bayi serta dengan alat2 dari barang2 permata yang indah dan berharga itu.
Bayi itu disuruh pelihara pada isterinya yang sehari-kesehari ia menjadi anak pungut nelayan itu. Setelah anak itu besar makร ia telah dapat membantu bapak angkatnya nelayan itu sehingga menjadi seorang tukang pancing yang tegap dan cerdik, selalu bertemu dan menjual ikan kepada kapal2 yang datang atau singgah ke pantai/kuala ditempatnya.
๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐.
Kata sahibul hikayat, Raja Sidon/Kedjruรซn Pulau Nas sehubungan dengan ceritera diatas tadi, dinegeri Aceh ada seorang Nelayan pekerjaannya mengail ikan, maka kailnya itu tepat (lurus).
Pada suatu hari terpikirlah olehnya akan mengirim satu bingkisan kepada Raja Rum (Raja Turki), karena ia selalu bertemu dilaut dengan kapal2 yang berlayar kenegeri Rum. Dicarinya satu peti, kedalam peti itu diisikannya mata ikan kecil2 yang didapat dari hasil pencahariannya.
Pada suatu masa bertemulah ia dengan sebuah kapal yang hendak berlayar kenegeri Rum, si-Nelayan meminta kepada Nachoda kapal itu supaya suka membawa bingkisannya untuk dikirim kepada Raja Rum. Nachoda itu sukalah menerima kiriman itu, lalu disuruh anak kapalnya mengangkat peti bingkisan itu kekapal.
Beberapa Iamanya ia dalam pelayaran, sampailah kapal itu kenegeri Rum. Bingkisan itu segera diantar dan dipersembahkan kepada Raja Rum. oleh Raja Rum disuruhnya buka peti bingkisan itu. Baginda menjadi tercengang melihat didalam peti itu penuh berisi ikan dan diantara itu dengan sebentuk cincin permata intan. Baginda menyelidiki siapa dan dimana tempatnya orang yang mengirim bingkisan itu. Maka oleh Nachoda diberikan keterangan, bahwa yang mengirim bingkisan itu ialah seorang Nelayan ditanah dibawah angin.
Baginda memberi tahu kepada Nachoda itu, bila ia berlayar lagi kenegeri dibawah angin hendaklah ia memberi tahu lebih dahulu kepada Baginda. Maka Nachoda itu mendatangkan sembah, baik !
Beberapa lamanya Nachoda itu tinggal dinegeri Rum, bermaksud pula ia akan berlayar kembali kenegeri dibawah angin dan segera dipersembahkan maksudnya kepada Raja.
Pada hari kapal Nachoda itu beralayar, Raja suruh mengantarkan satu peti kekapal dan berserta peti itu dikirimkan 7 orang, yang mana orang2 ini pandai membuat rumah. Didalam peti itu dimasukkan bihil tanaman dan permata2 serta seorang putri dan seorang anak perempuan pengasuh, keduanya cantik rupanya. Diamanatkan kepada putri itu bila ia sampai kenegeri dibawah angin, hendaklah ia ambil air yang ada dalam botol yang ada berserta dalam peti itu, ditimbang dengan air dinegeri itu. Bila dapat tempat yang sama berat dengan air yang dalam botol, hendaklah disitu ia berhenti mendirikan rumah dan sesudah siap rumah hendakIah tukang2 itu dibunuh. Setelah sudah Raja berpesan, maka kapal itu berlayarlah.
Beberapa lamanya dalam pelayaran, sampailah ia kenegeri si-Nelayan yang mengirim peti dahulu, yang mana oleh Nachoda lalu carinya orang Nelayan yang dahulu dengan segera bertemu. Maka dikabarkan Nachoda itu pesanan dari Raja Rum dan dengan segera pula diberikan peti kiriman dari Raja Rum. Oleh orang Nelayan diterimalah peti itu dengan besar hatinya dan peti itu dibawa kerumahnya berserta lukang yang 7 orang itupun turut bersama2.
Sesampai kerumahnya dibukalah peti itu dan tercenganglah ia, sebab dalam peti itu keluar dua orang puteri yang cantik. Tinggalah puteri itu dalam rumahnya beserta orang2 tukang yang turut ber-sama2 dia. Setiap hari Si Nelayan itu pergilah berkerja memancing ikan seperti biasa dan dibawalah pulang kerumahnya apa2 yang didapatnya dihari itu.
Beberapa lamanya Puteri itu tinggal ditempat orang Nelayan tadi disuruhlah oleh Puteri itu ambil air dari dalam botol dan segera disuruh timbang dengan air ditempat itu, yang mana beratnya air itu sama. Maka bermufakatlah dengan tukang yang 7 orang tadi. akan membuat rumah disitu. Tukang2 itupun lalu memotong kayu dan mendirikan rumah ditempat itu. Adapun akan orang Nelayan tukang pengail itu sangat bersuka hati. karena setiap hari bila ia pulang sudah tersedia nasi.
Sesudah beberapa lamanya, rumah yang dibuatpun siaplah dan Puteri itu kawin dengan orang Nelayan itu. Akan 7 orang tukang yang membuat rumah disuruh bunuh oleh Puteri, tetapi maksudnya tak berhasil dan mereka itupun lari semua.
Beberapa lamanya Puteri tinggal ber-sama2 suaminya itu. maka orang Nelayan itu meninggal dan tinggallah Puteri itu menjadi janda.
Alkissah tersebut riwayat seorang Raja di Lingga (tanah Gayo) yang bernama Raja Zainul Abidin, dalam gering diwasiatkan kepada puteranya, apabila Baginda meninggal, waktu jenazahnya diantar kequbur janganlah ditutup. Orang2 yang mengerjakan sesuatu pekerjaan dalam urusan penguburan, hendaklah orang itu dibalaskan jasanya dengan diberikan gelar masing2 dalam urusan memerintah negeri. Setelah Baginda berwasiat, lalu meninggal dunia.
Setelah orang mendengar Raja telah berpulang kerahmatullah, datanglah orang isi negeri itu berkumpul kedalam istana, baik pihak orang patut2 atau rakyatnya. Orang2 yang hadir disitu lalu menyelenggarakan segala pekerjaan untuk menyempurnakan segala urusan penguburan Raja itu. Setelah selesai, maka jenazah Raja pun diantar kequbur secara kebesaran menurut adat dalam negeri itu serta tidak melupakan segala amanat atau pesanan Raja tatkala dalam gering.
Ditengah perjalanan dengan tiba2 keranda Raja diterbangkan angin,nhilanglah jenazah Raja itu. Orang2 yang mengantar dan segala keluarga Raja menjadi heran serta makin bertambah dukacitanya. Baginda ada meninggalkan 6 orang anak laki2. Maka bermufakatlah sekalian anak Raja itu untuk menyampaikan segala pesan ajahnya yang telah meninggal dan hilang itu.
Dengan semufakat sekalian anak Raja itu dan sekalian orang patut2nja pada hari senujuh diberikan gelar kebesaran kepada orang2 yang telah berusaha mengerjakan pekerjaan penguburan jenazah Raja itu yaitu :
I. Orang yang sandarkan jenazah waktu dimandikan, digelarkan ,,Raja Sandaran , (Penghulu Sondorรซn).
II. Yang membedakkan jenazah. diberikan gelar „Penghulu Bedak".
III. Yang remas limau, diberi bergelar ..Penghulu Mukur .
IV. Yang membuat keranda, diberi bergelar ..Raja Penasan (Penghulu Pรฉnรฉsan).
V. Yang memegang pajung waktu mengantar djenazah, diberikan gelar „Penghulu Payung' .
VI. Yang lempar berteh, diberikan gelar ..Penghulu Berteh' .
VII. Yang menggali qubur. diberikan gelar „Raja Tjek Peuparat".
Setelah selesai upacara kebesaran itu, masing2 orang pulanglah dan keluarga Raja tinggallah dalam kedukaan.
Alkissah tersebut riwayat jenazah Raja yang diterbangkan angin, dengan kehendak Tuhan yang amat berkuasa, keranda Raja itu jatuhlah kepantai laut Aceh Besar ditempat Puteri anak Raja Rum tinggal, yang Puteri itu telah menjadi Raja dalam negeri itu.
Dikabarkan oranglah kepada Raja Puteri itu, yang bahasa mayat didalam keranda yang tak tahu datang dari mana, mayat itu adalah seorang Iaki2. Akan tetapi pada mayat itu adalah terlihat satu kebesaran Allah Ta'ala, yaitu syahwat dari mayat itu keras saja tiada berhentinya. Oleh karena Raja Puteri itu telah mendapat mimpinya lebih dahulu dan menurut segala tanda2 bahwa mayat itu adalah mayat seorang Raja, lalu disuruh angkat keranda itu kerumahnya maka diangkatlah oleh semua orang.
Setelah sampai jenazah itu kerumah, disuruh panggil Ulama oleh Raja Puteri; disuruh nikahkan dirinya Raja Puteri itu dengan jenazah yang dalam keranda itu, yang menjadi jenamu ialah sebentuk cincin mas yang ada terdapat dalam keranda itu. Ulama itupun mengikut titah Raja Puteri itu. Sesudah selesai pekerjaan itu, maka jenazah itu disuruh kuburkan.
Berapa lama kemudian dari itu, Raja Puteripun hamillah dan sehingga datang pula waktu bersalin melahirkan seorang anak Iaki2.
Dari sehari kesehari anak Puteri itupun besarlah, sehingga sudah dapat ber-main2 ber-sama2 anak yang lain.
Setelah anak Puteri ini besar, bertanyalah ia kepada bundanya siapa dan dimana berada ayahnya diwaktu itu. Bagaimanapun Puteri menyembunyikan rahsia itu, telah dapat juga ia ketahui dari pihak anak kecil kawannya bermain, sebab itu Puteri merasa malu.
Pada suatu hari anak Puteri itu mengabarkan kepada bundanya, yang ia bermaksud akan pergi merantau atau pergi bertualang. Maka Raja Puteri pun kabulkan permintaan anaknya itu dan lalu mengambil sebentuk cincin yang dipungutnya dari dalam keranda, yang diniatkan sebagai jenamunya diberikan kepada anaknya dan berpesan siapa yang mengatakan cincin itu kepunyaan ayahnya itulah yang saudaranya yang benar. Maka Raja Puteri membuka segala peristiwa rahsia, yang telah terjadi perkawinan dengan ayahnya anak itu. Ditunjukkan pula dimana tempat ajahnya anak itu dan setelah anak Raja itu mendengar pesanan bundanya dan setelah menerima cincin. lalu iapun mencium kaki bundanya dan terus berangkat mengembara melalui dusun dan rimba.
Hatta setelah beberapa lama anak Raja itu mengembara, sampailah ia kenegeri Lingga dan pada tangannya dipakailah cincin pusaka yang diberikan oleh bundanya.
Tersebutlah suatu riwayat. bahwa bekas permaisuri Radja Zainul Abidin bermimpi yang suaminya pulang dan berpesan kepadanya, bila datang seorang budak mengembara kenegeri itu, hendaklah ia diterima dengan baik dan kulah kama yang ada disimpan hendaklah diacuhkan kepada kepala anak itu dan bila sesuai benar, itulah tanda budak itu anaknya dan hendaklah budak itu diangkat menjadi Raja dalam negeri Lingga, karena anak itu keturunan dari Raja Rum.
Pada suatu hari anak Raja Lingga, bertemulah dengan seorang budak yang tak tentu datangnya dari mana dan budak itu ada memakai sebentuk cincin. Cincin itu sebenarnyalah cincin yang dibubuh dalam keranda ayahnya, maka oleh anak Raja Lingga dibawalah budak itu kerumah dan dipertemukan kepada bundanya. Permaisuri itupun lalu mengamat2i akan cincin yang dipakai oleh budak itu dan tak salah lagi cincin itu adalah kepunyaan suaminya. Terkenang oleh Permaisuri itu akan mimpinya yang belum berapa lama dimimpikannya. Maka oleh Permaisuri itu lalu diambil kulah kama diacuhkan kepada kepala budak itu dan sesungguhnya sesuai. Permaisuri pun memeluk anak itu dengan segala sukacitanya dan lalu memanggil anaknya memberi tahu takbir mimpinya, maka budak kelana itupun diasuhnya dengan baik seperti mengasuh putera2nya yang lain.
Beberapa lama budak kelana itu tinggal disitu yang sangat disayanginya oleh ibu tirinya. maka bermufakatlah Permaisuri dan sekalian orang2 besar dalam negeri itu untuk menabalkan anak Raja yang datang dari Aceh menjadi Raja di Lingga. Demikian juga anak Raja yang sulungpun suka sekali hatinya mengangkat adiknya yang bungsu itu menjadi Raja dalam negeri Lingga. Bagaimana juga anak Raja yang bungsu itu menolak, tetap pihak Permaisuri dan anak yang sulung serta orang2 besar mengangkat ia menjadi Rada dalam negeri Lingga. Maka lalu diadakan peralatan penabalan serta perkawinan Raja baru itu menurut sebagaimana adat penabalan dan selesailah upacara itu dilakukan.
Beberapa lama terjadilah perselisihan Raja itu dengan saudara2-nya yang lain, karena sebahagian besar tiada menyukai akan penabalan itu.
Oleh sebab itu, anak2 Raja itu lalu meninggalkan negeri itu mengembara kenegeri lain.
Anak Raja yang sulung yang tiada terkatan karena tak termakan oleh pisau, lalu mengambil sekepal tanah pergi mengembara kenegeri Karo/Batak, sesampainya kenegeri Batak, tanah yang sekepal itu diletakkannya disitu dan lalu menjadi buntul (bukit), itulah yang bernama Buntul Lingga. (Buntul artinya gunung, sedangkan Lingga menurut nama dari pada tanah asal diambil di Lingga). Beberapa lama ia dinegeri itu, iapun diangkat orang menjadi Kepala dari negeri itu dan dari situlah berasalnya keturunan Keudjeue'n Lingga yang kemudian bernama Sibayak Lingga.
Anak Raja yang kedua, mengembara kenegeri Pagar Ruyung.
Anak Raja yang ketiga, mengembara kenegeri Bedagai, disitu ia membuat negeri dan dari sinilah asalnya keturunan Keudjreuen Bedagai.
Anak Raja yang keempat, mengembara kenegeri Seurula dekat negeri Batak/Karo Lingga dan dari sinilah datangnya keturunan Keudjreue'n Seurula.
Anak Raja yang kelima, mengembara kenegeri Alas dan dari sinilah datangnya keturunan Wi Papuk, yang sekarang berada di Kuta Cane.
Anak Raja yang keenam, mengembara pula ke Biang Keudjreue'n dan dari sinilah datangnya keturunan Keudjreuรซn Patiambang.
Dan anak Raja yang ketujuh, tinggal dinegeri Gayo Lingga Laut Tawar, membantu saudaranya yang menjadi Raja dalam negeri itu. Dari keturunan anak Raja yang ketujuh inilah keturunan Keudjreurn Lingga Laut Tawar sekarang.
Setelah beberapa lama anak Raja ini memerintah negeri Lingga, pada suatu hari pergilah ia ber-main2 kesebidang tanah lapang, disitu ia melihat sekawan besar kerbau beranak pinak. Terlihatlah ia (Raja) itu seekor induk kerbau yang sedang memakan rumput, lalu dihampirinya kesitu melihat seekor anak kerbau hendak menyusu tetapi selalu induk kerbau itu menolak anak kerbau yang datang menuusu padanya. Begitu juga datang beberapa ekor anak kerbau yang lain tetap ditolaknya. Kemudian datang pula kesitu seekor anak kerbau yang lain dan terus diberikan susunya, karena anak kerbau yang datang itu ialah anaknya sendiri.
Berhubung dengan pemandangan Raja ini pada kerbau ini, maka Raja itu terkenanglah ia akan bundanya yang ditinggalkan dipantai Aceh dan seketika itu juga duduk menangis dengan amat sedihnya. Setelah itu pulanglah ia keistananya, lalu mengkabarkan kepada bunda dan saudara tirinya yang ia akan balik pulang kenegerinya dipantai Aceh, sebab sudah lama ia tiada melihat bundanya. Bagaimana juga bunda, saudaranya serta orang patut2 mempertahankan akan maksudnya itu, tak berhasil. Oleh sebab itu. kata bundanya :
"Jikalau anakanda hendak balik juga ke Aceh, hendaklah lebih dahulu ditetapkan siapa yang akan pengganti Raja dinegeri Lingga dan hendaklah ditentukan pula batas2 negeri Lingga. Maka oleh Raja itu diangkatlah abangnya menjadi Keudjreuรซn disitu dan ditentukan pula batas2 negeri Lingga itu, yaitu : yang mana orang atau isi negeri menjebut "blue" itulah batas negeri Lingga dan orang yang menyebut ranub, itulah yang masuk rakyat negeri Aceh. (catt. blue dan ranub artinya sirih)
Setelah selesai menentukan batas-batas negeri itu, dengan segeralah Raja itu berangkat dari negeri Lingga dan kulah kama diberikan oleh ibu tirinya dibawa ke Aceh untuk menjadi pusaka dari ajahnya.
๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐.
Seorang pemuda yang telah kawin dipanggil gelarnya Aman Minyak tetapi apabila ia telah beroleh anak tidak dipanggilkan lagi Aman Minyak, tetapi menurut nama anaknya yang pertama, umpamanya nama anaknya si Raman maka ajahnya dipanggil Aman Raman d.I.I.
Adapun suku orang Gayo itu terdapat dibeberapa tempat yaitu :
1. Gayo Kalul letaknya dihulu sungai Tamiang.
2. Gayo Seumamah (Serbojadi) letaknya dihulu sungai Peureulak, ibu negerinya Lokob.
5. Gayo Luas (Lues) letaknya di Biang Keudjroeen.
4. Gayo Lingga dihulu sungai Jambo Aer, ibu negerinya Ishak.
5. Gayo laut tawar letaknya dihulu sungai Peusangan ibu negerinya Takengon.
6. Gayo Alas, ibu negerinya Kutacane.
Demikianlah diriwayatkan oleh sahibul hikajat. Wallahu alam bissawwab ...
*Foto hanya sebagai ilustrasi
*sumber : Tarich Atjeh Dan Nusantara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar