Kamis, 15 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 7)


 

* Doa limau daun.


Bismillahi-r-Rachman-r-Rahimi.


Oeroe-oeroe, Si Djampoeroe !

Si-Raoet-Pandjang-Oeloe (1)

Kanapo Si-Raoet-Pandjang-Oeloe?

Pandidis pinang-běrboeloe, (2)

Kanapo pinang-bërboeloe ?

Kaobat Si-Anoe kanai përboewatan Si-Hantoe-Si-Marah-Boeroe.


Si Oembang namonjo angkau, Si Batjiq namonjo angkau, Si-Alang-Djondjang namonjo andjing angkau, Taboean Tanah namonjo andjing angkau.


Djangan dimakan koelit, djangat, sandi salerang, djangan dimakan oetaq, banaq, mato, moetagi. Djangan dimakan hati, djantoeng, limpo, ampadoenjo. (3) 


Djikalau dimakan hati, djantoeng, limpo, ampadoenjo, minto dikombalikan, Djandji kito doewo hari dan katigo, (4) kalau tida angkau kombalikan dalam doewo hari dan katigo sirih berboeloe, pinang berboeloe, tjoeliq, gariq, gariau." (5)


Si-Madang-Giri pamantjong anaq Si-Hantoe-Si-Marah-Boeroe.


Tida dapat angkau malawan akoe dari doenia laloe ka achirat. Akoe tahoe moelo asal angkau djadi, Djambaq-Katapang moelo asal angkau djadi, gatah akar Si-Bangkoedoe moelo asal angkau djadi.


Njèq kito mangarangkan sati, Njèq-Si-Orè mangarangkan sati, sadalam laoet, satinggi langit. Njèq angkau matigarangkan sati. Siapo orang mamanggëm sati di ajër batoe, mamanggem sati di darat basi.


Djangan angkau obahi, kalau angkau obahi kaätas angkau tida bërpoetjoeq, kabawah angkau tida beroerat, tangah-tangah digariq koembang, hilir dimakan biso-kawi, moediq dimakan koetoeq Soetan, dikoetoeqi Radjo nan anam kadoedoeqan, dimakan biso kawi Daulat Toeankoe dinagari.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Titiq ka langit mandjadi boeroeng-langit, titiq ka laoet mandjadi djihin pitoenggoe laoet, titiq ka boemi mandjadi Palasieq panjinggahan dari boemi sampai kalangit.


Lèhèr angkau soedah akoe rantai, rantai lakat saratoes sambilan poeloeh. Tida dapat malawan akoe dari doenia laloe ka achirat.


Ajer liwis akoelah nan biso.


Tadoeng kalau njo biso toemboeh oepas sandırinjo, Si-Tawar dalam paraq, Si-Dingin dalam padi.


Akoe manawar dengan hati dingin laloe kabanaqnjo ajerbalang ajër djantan (9) ajer tompat (10) dimoearonjo.


Bertamoe oerat samo oerat, bertamoe daging samo daging.


Hai malaékat nan poetih, toeroenlah angkau, bawahkan lilin nan moedo. Kanapo lilin nan moedo? Palali (11) darah nan moedo.


Haq-Mampat kalau bergantoeng dikoelit djangat sandi salerangnjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di oetaq banaq mato moetaginjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di hati djantoeng limpo ampadoenjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng di kainnjo minto dilapaskan, kalau bergantoeng de ramboetnjo minto dilapaskan.


Diqaboelkan Allah, diqaboelkan Mohamad, diqaboelkan Toeankoe Bagindo Rasoel Allah, qaboel berkat la ilaha illah Allah.


Doa Limau Bungo.


Bismillahi-r-Rachmani-r-Rahimi.


Hong! tangko, tangki, hidoep nan tiada mati, lapas dari pintoe mati. Ali mati, Mangga mati. Boeloenjo sahalai djangan raras (13) ramboetnjo sahalai djangan binaso. Lapas dari përboewatan boelo-boelo, djihin dan pari, limau sati, limau dewa. Kalau datang perboewatan boelo-boelo, djihin dan pari kaätas nan sapoetjoeq boelat (14), raras si-lambaq (15) poetjoeq boelat baq tërlataq baban barat, baq tërongkai (16) badjoe sampit, lapas dari pěrboewatan boelo-boelo, djihin dan pari.


Kalau datang përboewatan dewa di goenoeng kombali ka dewa di goenoeng. Kalau datang përboewatan dewa de awan-awan bertoempoeq, bërtrawang kombalilah angkau kapado awan bertoempoeq, běrtrawang. Kalau datang perboewatan dewa di korong kampoeng, kombalilah angkau ka roemah nan beratap amas, nan bërtonggaq amas, nan berlantai amas, nan bërlakar amas, nan berparioeq amas, nan bersandoq amas.


Roedjoe-roedjoe, radja-radja, akoe malakatkan soenting-gandoen batang toeboeh Si-Anoe.


Si-Kinantan namo kandalan. Hoeri-bali moelo asal angkau djadi. Samboeni moelo asal angkau djadi. Tamboeni moelo asal angkau djadi. Darah bali moelo asal angkau djadi.


Masoeq tawar kaloear biso, tawar Allah, tawar Mohamad, tawar Toeankoe Bagindo Rasoel Allah. Qaboel berkat la-ilaha-illah Allah.


- Doa Limau Térsapo.


(Bersambung...) 

...........................................


Catatan


1) Si-Raoet-Pandjang-Oeloe. Pisau raut adalah pisau sederhana, yang bilah dan gagangnya yang melengkung terbuat dari satu potong besi. Dalam mantra, pisau ini sering disebutkan sebagai senjata yang ditakuti oleh roh jahat. "Pisau pengupas (pisau raut)"—menurut Skeat o. e., hlm. 456—disebutkan karena ditakuti oleh setan, yang konon melukai diri mereka sendiri dengan menginjak salah satu ujungnya, ketika, menghadap bilahnya yang melengkung, ujung lainnya terangkat dan melukai mereka. Roh-roh seperti Pemburu Liar secara khusus disebutkan takut akan pisau ini.


"Pemburu Liar" merujuk pada Hantoe-Si-Marah-Boeroe. 


Apabila legenda mengenai hantu ini, sebagaimana yang disajikan oleh Skeat (hal. 113 dst.), dibandingkan dengan apa yang kami sebutkan pada halaman 441, maka akan terlihat kemiripan yang sangat besar. Sebagai contoh, menurut legenda yang berkembang di kalangan masyarakat Melayu di Selangor, *Si Marah Boeroe* juga menginstruksikan putranya mengenai sarana untuk menyembuhkan penyakit yang ia timbulkan sendiri. Kemiripan ciri-ciri keluarga semacam ini senantiasa terlihat jelas ketika kita membandingkan legenda, mitos, formula mantra, dan sebagainya, yang dicatat dari masyarakat Melayu di Semenanjung Malaya dengan apa yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Melayu di Sumatra Tengah.


(2) Pinang-berboeloe, secara harfiah berarti: pinang berbulu. Menurut para informan saya, yang dimaksud di dalam doa ini adalah daun-daun yang digunakan untuk ritual limau, di mana beberapa di antaranya memang ditumbuhi bulu-bulu halus.


(3) Oetak, banaq, moetagi, hati, djantoeng, limpo (juga disebut: koero), dan ampado, masing-masing merujuk pada: otak, sumsum, bagian tengah dahi, hati, jantung, limpa, dan kantung empedu. Dalam daftar ini, masih dapat ditambahkan antara lain: lamboeng gadang (lambung besar), lamboeng kete (lambung kecil), boewah poenggoeng (ginjal), dan raboe (paru-paru).


(4) Doewo hari dan katigo = dua hari ditambah hari ketiga, yang berarti: tiga hari.


(5) Tjoelik, garik, gariau = masing-masing merujuk pada tindakan melubangi atau mengebor secara dangkal, dalam, dan sangat dalam.


(6) Mamanggem = memegang atau menahan (bandingkan dengan mamegang).


(7) Kaätas angkau tida bérpoetjoeg, kabawah angkau tida beroerat, tangah-tangah digariq koembang, hilir dimakan biso-kawi, moedik dimakan koetoek Soetan, dikoetoeki Radjo nan anam kodoedoekan, dimakan biso-kawi Daulat Toeankoe dinagari."


Sebagaimana diketahui, kutukan-kutukan semacam ini juga terdapat dalam sumpah adat Melayu (bandingkan dengan D. G. Stibbe: "De adateed bij de Menangkabausche Maleiers", Wet en Adat, jilid 3 hal. 222). Versi pertamanya jika diterjemahkan berbunyi: "ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, di tengah-tengah digirik kumbang," yang maknanya adalah: "engkau tidak akan memiliki leluhur maupun keturunan, dan engkau sendiri akan binasa," atau dengan kata lain, "engkau bersama seluruh garis keturunanmu akan musnah."


Bagian selanjutnya diterjemahkan sebagai: "keturunanmu akan dimakan oleh biso-kawi, leluhurmu akan dimakan oleh kutukan Setan, oleh kutukan Radjo nan anam kadoedoekan, serta binasa oleh biso-kawi dari Daulat Toeankoe di dalam kerajaan."


Mengenai arti dari "biso-kawi" ini, informan saya tidak dapat menjelaskannya, sehingga saya membiarkannya tidak diterjemahkan. Namun, dalam catatan Skeat (hal. 978), disebutkan bahwa ini kemungkinan merupakan bentuk Sumatra Barat untuk besi kawi, yaitu sepotong besi suci yang menjadi bagian dari regalia (tanda kebesaran) beberapa Sultan di Semenanjung Malaya. Besi tersebut diyakini memiliki kekuatan supranatural dan digunakan sebagai media untuk mengambil sumpah setia. Jika menurut konsep Melayu kuno, benda-benda kebesaran kerajaan memancarkan kekuatan yang hampir menyerupai ketuhanan, maka terlebih lagi dengan sosok penguasa itu sendiri. Siapa pun yang berani merongrong kekuasaan tersebut akan kena daulat, yang sebagaimana dinyatakan oleh Skeat (hal. 24) berarti: "mati terpanggang oleh semacam aliran listrik dari Kekuatan Ilahi, yang menurut kepercayaan orang Melayu bersemayam dalam diri Raja, yang disebut sebagai Daulat atau Kesaktian Raja."


Menurut tradisi lisan, Daulat pertama dari kerajaan Pagaruyung berasal dari Stambul, dan Bundo Kanduang adalah pemegang daulat terakhir karena ia tidak meninggalkan putra saat wafat; putra tunggalnya, Tuanku Mudo, telah lebih dulu wafat di Bukit Siguntang-Guntang (di perbatasan Palembang dan Jambi). Ia kemudian digantikan oleh Cindua Mato, putra dari Kambang, yang karena asal-usul kelahirannya tidak menyandang gelar Daulat melainkan Sutan. Tokoh inilah yang kemudian membagi kerajaan menjadi enam bagian dan menetapkan para penguasa yang disebut Radjo nan anam kadoedoekan sebagaimana dimaksud di atas (bandingkan juga dengan sketsa kami "De Maleier en zijn Karbouw", *Ind. Gids* 1907 I hal. 958).


(8) Ajer-liwis = air liur; ludah (bandingkan dengan lioer).


(9) Ajer-djantan; ajer-balang. Istilah pertama merujuk pada air murni yang digunakan untuk ritual limau. Sementara itu, "ajer-balang" berarti air yang mengalir dari mata air ke dalam rawa (air yang semula jernih namun kemudian tercemar), dalam hal ini merujuk pada air limau yang telah menjadi keruh karena campuran bahan-bahan jeruk tersebut.


(10) Ajer-tompat = air yang tidak memiliki saluran pembuangan, dalam hal ini merujuk pada air limau yang terkurung di dalam wadah atau mangkuk.


(11) Palali = bahan pendingin (berasal dari kata lali yang berarti dingin).


(12) Hong = Kata ini diucapkan dengan nada rendah dan panjang, serta sering muncul sebagai suku kata pembuka dalam berbagai formula mantra. 


Sebagaimana diketahui, kata "hong" ini tidak lain adalah kata Sanskerta "om". Menurut Prof. F. Max Müller, "Tidak ada kata yang lebih sering digunakan oleh kaum Brahmana selain kata 'om'." Kata tersebut dapat mewakili "avam" dan, sebagaimana kata "oui" dalam bahasa Prancis yang berasal dari "hoc illud", awalnya mungkin berarti "Ya"; namun kemudian maknanya berkembang menjadi lebih sakral, kurang lebih setara dengan kata "Amin" bagi kita. Kata ini harus digunakan pada awal dan akhir setiap doa, dan hanya sedikit naskah kuno yang tidak dimulai dengan kata tersebut.


Bahkan, penggunaan kata ini diwajibkan untuk sapaan tertentu. Dapat dipastikan bahwa baik di India kuno maupun di masa sesudahnya, sangat sedikit kata yang lebih sering terdengar berulang-ulang selain "om".


"Seorang Brahmana harus selalu mengucapkan om pada awal dan akhir pembacaan Weda; tanpa om di awal, pengetahuan itu akan luput; dan tanpa om di akhir, ia akan sirna." (Burnell and Hopkins: The Ordinances of Manu, Lect: II 74).


(13) Raras = Laras; berguguran.


(14) Sapoetjoeq boelat = Sepenuhnya; seluruhnya (sahabis-habisnjo). Demikian pula orang mengenal istilah "adat nan berpoetjoeg boelat", yaitu adat sebagaimana adanya yang sebenarnya, sebagai lawan dari 'saraq nan bärkitab boelat" atau hukum suci sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab.


(15) Lambak = Panjang; irisan tipis. Dalam konteks ini merujuk pada irisan-irisan jeruk nipis (limau).


(16) Ongkai = Membuka; membongkar; mengeluarkan.


(17) Mengenai asal-usul sifat (sipat) dan esensi (sat) tubuh manusia, para dukun Melayu memiliki teori mistik yang sangat mereka rahasiakan. [Gambaran serupa juga ditemukan di tempat lain di Sumatra serta di Jawa dan Madura, di mana mereka sama sekali tidak merahasiakannya]. Menurut teori tersebut, esensi manusia lahir dari empat jenis substansi yang berasal dari pihak ayah (yaitu: wadi, madi, mani, manikam), sementara sifat-sifat manusia berasal dari empat substansi serupa dari pihak ibu (yaitu: hoeri, bali, katoeban, darah).


Mengenai apa yang dimaksud dengan seluruh substansi tersebut—yang begitu sering disebut dalam mantra-mantra Melayu—belum sepenuhnya jelas bagi penulis. Barangkali pandangan suku-suku Muslim di Sulawesi Selatan, bahwa setiap manusia lahir ke dunia bersama tujuh "saudara" (yaitu: air ketuban, tali pusat, plasenta, darah, sejenis cairan yang sebagian merah dan sebagian putih yang keluar saat pembersihan setelah melahirkan, dsb.) berakar pada jenis mistisisme yang serupa. Hal ini kemungkinan juga berkaitan dengan berbagai fase penciptaan manusia yang dimaksud dalam Al-Qur'an 39:6.


Istilah "hoeri" kemungkinan besar merujuk pada "plasenta" atau "uri". [Dalam Kamus Melayu-Belanda karya Dr. J. Pijnappel, istilah ini dijelaskan sebagai gumpalan darah yang mengikuti keluarnya plasenta (temboeni)]. "Bali" dapat diterjemahkan sebagai "tali pusat", dan 'darahbali" sebagai "darah yang keluar saat pemotongan tali pusat". Dalam penggunaan sehari-hari, istilah "darah bali" juga dapat berarti "memiliki hati pengecut" (nyali kecil).


Dalam mantra-mantra yang disebutkan, masih terdapat jenis darah lain yang disebut, seperti "darahnani, darahsamboeni, darahtamboeni', dan dari formula sihir yang diproduksi oleh Skeat, masih banyak jenis lainnya yang dapat ditambahkan.


"Katoeban" dalam pengertian umum berarti "tempat penyimpanan" (bandingkan dengan "tompat"), namun di sini secara lebih khusus berarti "air ketuban" dan juga selaput yang membungkus air tersebut. Terjemahan kata ini sebagai "placenta" dalam kamus J. L. van der Toorn menurut saya kurang tepat. Kita tidak akan mendalami mistisisme ini lebih jauh, namun perlu dicatat bahwa plasenta (tembuni), setelah dibersihkan, biasanya dikubur di dekat rumah; di atas kuburan tersebut diletakkan sebuah batu sungai besar dan digambari tanda silang dengan kapur sirih. Jika sang anak—yang dianggap sebagai "kakak" dari plasenta tersebut kemudian jatuh sakit, bukanlah hal yang aneh bagi masyarakat untuk mengharapkan kesembuhan dengan mengadakan "mangadji" (pembacaan Al-Qur'an) di makam tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar