Kekekerabatan, Perkawinan Dan Hukum Waris
I. Perdebatan Mengenai Asal-Usul (Autochthone)
Pertanyaan apakah Pasēmah (Besemah) adalah penduduk asli (autochthone) wilayah tersebut, dan dari unsur-unsur mana mereka terbentuk, adalah pertanyaan yang dijawab secara berbeda oleh berbagai penulis yang meneliti masyarakat pegunungan ini.
A. Catatan Awal Inggris
Berita tertua tentang Pasēmah ditemukan pada tulisan MARSDEN yang hanya memberikan sketsa singkat tentang Pemerintahan di Passummah dan Kebiasaan Hukum mereka, tanpa membahas tentang asal-usul.
- RAFFLES, sebagai Lieutenant Governor of Bencoolen (Bengkulu), pada Mei 1818 melakukan perjalanan ke Pasemah Oeloe Mannaq. Dalam suratnya kepada Duchess of Somerset, ia hanya memberikan sedikit informasi penting tentang masyarakat ini.
- PRESGRAVE, yang saat itu adalah Resident of Manna (Manna), menyusun jurnal yang sedikit lebih rinci setelah menemani Raffles. Pada Oktober 1818, ia kembali melakukan perjalanan ke Pasēmah untuk mendaki Gunung Dempoe. Ia mencatat legenda yang menjelaskan pemikiran masyarakat Pasēmah tentang asal-usul mereka.
B. Pengaruh Agama
Kedua pelapor Inggris menyimpulkan bahwa agama yang dianut di Pasēmah berada di bawah pengaruh Hindu.
- RAFFLES menceritakan bahwa ia diberitahu nama sekitar dua puluh dewa, Several of whom are Hindus. Namun, ia juga mencatat bahwa masyarakat Pasemah "seemed more attached to their ancient worship and superstitions" (tampak lebih terikat pada pemujaan dan takhayul kuno mereka) daripada yang ia harapkan. Pengaruh Hindu, dengan demikian, tampaknya tidak terlalu kuat.
- PRESGRAVE menganggap agama masyarakat Pasēmah "undoubtedly Hindu, with a slight admixture of Mahomedanism which seems, at some time or other, to have made some progress among them."
PRESGRAVE tidak menyebutkan dasar keyakinannya ini. Ia mencatat bahwa setiap desa yang ia kunjungi memiliki bangunan persegi kecil, yang ia kualifikasikan sebagai "temple" (kuil). Namun, bangunan ini jelas merupakan Rumah Puyang (rumah leluhur) yang kuno, dan keberadaannya lebih menunjukkan pandangan hidup animistik daripada agama Hindu.
Oleh karena itu, cukup menarik bahwa pada tahun 1839, BOERS, dalam artikel tentang Pasemah yang sebagian besar merupakan terjemahan literal dari deskripsi perjalanan PRESGRAVE menerjemahkan kata Hindu dalam kalimat di atas menjadi "Heidensch" (pagan). Meskipun demikian, terjemahan Boers lebih sesuai dengan kenyataan. BOERS juga tidak memberikan kejelasan tentang asal-usul orang Pasēmah; ia hanya membatasi diri pada terjemahan dari legenda yang dicatat oleh PRESGRAVE.
II. Teori Campuran Suku dan Bahasa
A. Teori Peranakan (GRAMBERG, 1865)
GRAMBERG (1865), yang telah banyak mempelajari masyarakat Pasēmah, mengajukan tesis bahwa:
"orang asing pada zaman dahulu kala telah pindah ke Palembangsche bovenlanden (pedalaman Palembang) dan bercampur dengan suku yang sudah ada di sana."
Populasi asli ini, yang ia gambarkan sebagai "ruwe onbeschaafde natuurmenschen" (orang alami yang kasar dan tidak beradab), dikatakan bukan termasuk ras Melayu (dalam arti sempit) tetapi merupakan bagian dari suku Lampoengschen (Lampung). Unsur rakyat asing (het vreemde volksbestanddeel) dianggap berasal dari Jawa.
Di sini, terjadi percampuran antara populasi asli (autochthone) dengan koloni Jawa. Namun, di tempat lain, Pasēmah digambarkan sebagai bukan penduduk asli pedalaman Palembang, melainkan sangat mungkin berasal dari Jawa. Kedua versi ini tampaknya saling bertentangan.
B. Argumen Bahasa (Bahasa Pasemah)
Sebagai bukti bahwa penanam dari Jawa telah bercampur dengan suku pegunungan Lampung, GRAMBERG mengajukan argumen linguistik. Ia mengklaim bahwa bahasa Pasemah mengandung banyak unsur dari bahasa Lampung, sejumlah besar kata Jawa, dan tidak banyak dialek Melayu.
Namun, penilaian ini dianggap tidak kokoh, karena pada masa GRAMBERG, dialek ini hanya dikenal secara samar-samar. Sejak saat itu:
- Dr. BRANDES mengklasifikasikan orang Pasemah sebagai Melayu Tengah (Midden Maleisch).
- HELFRICH adalah orang pertama yang membuat studi mendalam tentang hal ini, menyajikan daftar kata yang luas. Dalam sketsa tata bahasanya, HELFRICH mencatat bahwa bahasa Pasēmah mengandung sejumlah besar kata asli, bercampur dengan banyak kata Melayu dan beberapa unsur bahasa Redjangsche (Rejang) dan Javaansche (Jawa). Tidak disebutkan adanya kemiripan dengan bahasa Lampung, sehingga hipotesis bahwa populasi asli di Pasēmah berasal dari Lampung dianggap kurang meyakinkan.
C. Argumen Pengaruh Jawa
Dalam pembuktiannya, GRAMBERG secara eksklusif berfokus pada penetapan pengaruh Jawa:
1. Legenda Mådjapahit: Ia bersandar pada legenda Modjopait (Majapahit) yang dipercayai oleh penduduk itu sendiri, di mana mereka biasa menunjukkan tombak kuno dan keris yang konon dibawa dari Jawa, sebagai penguat asal-usul mereka.
2. Hubungan Historis: Ia juga menyebutkan bahwa pemimpin-pemimpin Pasemah dari waktu ke waktu pergi ke Modjopait untuk menjalin hubungan lama. Namun, informasi ini disayangkan tidak didukung oleh data historis dan memiliki nilai yang kecil.
3. Teknik Pertanian: GRAMBERG menyimpulkan pengaruh Jawa dari fakta bahwa masyarakat Pasēmah mengenal sawahbouw (sistem sawah), pembangunan irigasi, dan penggunaan ternak untuk membajak, berbeda dengan orang Melayu di sekitarnya yang hanya mengenal ladangbouw (sistem ladang). Namun, keadaan ini lebih mungkin dijelaskan oleh pengaruh Hindu awal yang tidak diragukan lagi telah meluas ke pedalaman Palembang.
4. Fisik dan Agama: GRAMBERG juga menggunakan struktur tubuh, fitur wajah, dan yang paling penting, agama pagan Pasēmah, sebagai bukti, bahwa mereka termasuk ras Jawa.
GRAMBERG menyimpulkan bahwa agama pagan Pasēmah menunjukkan kesamaan dengan "vroeger Javaansch ras" (ras Jawa masa lalu). Sayangnya, kesimpulan akhir GRAMBERG bertentangan dengan hipotesis awalnya: unsur asing (Jawa) pada akhir argumennya secara sederhana diidentikkan dengan seluruh populasi.
III. Teori Tiga Elemen dan Pandangan Antropologi
VAN REES (1866) berpendapat bahwa percampuran dua suku saja tidak cukup. Ia beranggapan bahwa penghuni Besëmah saat ini kemungkinan berasal dari percampuran tiga suku berbeda:
1. Suku asli Sumatraanschen (Sumatra).
2. Suku dari Voor-Indië (India/Asia Selatan) yang pindah ke sana.
3. Suku Javaanschen (Jawa).
Argumen Van Rees:
- Kehadiran penduduk asli diasumsikan dari fakta bahwa daerah yang kaya raya secara alami pasti sudah dihuni sejak zaman paling awal.
- Kata-kata Kawi pada sejumlah patung di pedalaman Palembang, dan terutama pakaian gadis muda pada acara-acara perayaan, menunjukkan asal-usul Hindoesche (Hindu).
- Cara pengolahan tanah, perkakas, alat musik, banyak kata Jawa dan Sunda, serta legenda rakyat yang menyebutkan perjalanan ke Mataram dan Modjopait menunjukkan bahwa Jawa juga memberikan kontribusi.
IV. Klasifikasi Rasial (Antropologi)
Pendapat para antropolog berbeda:
- JUNGHUHN (1847): Berdasarkan pengetahuan yang ia peroleh dari BOERS, ia mengklasifikasikan Pasēmah sebagai "dritte Sippschaft" (kekerabatan ketiga) dari "Urstamm der Battaer" (rumpun asli Batak).
Tiga Tipe Ras JUNGHUHN:
1. Ras Negrito,
2. Ras Batak (termasuk Batak, Pasēmah, dan Kubu), dan
3. Ras Melayu (termasuk Minangkabau, Aceh, dan Jawa).
Anehnya, JUNGHUHN mengklasifikasikan orang Pasēmah ke dalam ras Batak, sementara Javanen di Palembang yang sebelumnya ia sebut sebagai "Javaansche Kolonisten uit Modjopait" (Kolonis Jawa dari Majapahit) bersama Pasēmah diklasifikasikan ke dalam ras Melayu.
- RÉCLUS (1887): Hanya menyebutkan kemiripan besar Batak dengan masyarakat pegunungan Sumatera Selatan, tetapi menganggap tidak adanya kanibalisme sebagai perbedaan besar.
- MOHNIKE: Berpendapat bahwa masyarakat Pasēmah "in ihrer Mundart en Schrift" (dalam dialek dan aksara mereka) lebih mirip dengan Batak daripada Lampung dan penduduk daerah aliran sungai Ogan dan Komering. Pendapat ini kemungkinan besar diambil dari JUNGHUHN.
- KEANE (1887): Mengklasifikasikan Pasēmah sebagai "Indonesiërs" atau "Prae-Maleiers" (Pra-Melayu), yaitu elemen persilangan antara ras Kaukasoid dan Mongoloid, di mana ras Kaukasoid lebih dominan.
V. Teori Lapisan Ras (OBERST)
OBERST berpendapat bahwa populasi Sumatera, dengan pengecualian daerah pesisir dan beberapa sisa-sisa populasi lama (Überresten alter Bevölkerung), yang termasuk di dalamnya adalah Kubu, diyakini berasal dari setidaknya empat Lapisan Melayu (malaiïsche Schichten).
Menurutnya, di atas "Lapisan Melayu purba" (urmalaiïsche Schicht) telah datang Lapisan Jawa bagian Tengah" (middeljavanische Schicht), yang merupakan unsur utama Bataks, dan yang juga terlihat pada Masyarakat Lampung dan Pasēmah. Inilah yang menjadi alasan kekerabatan antara suku-suku tersebut.
VI. Legenda Asal-Usul Modjopait dan Keling
Penyelidikan pada populasi itu sendiri mengenai asal-usul mereka tidak menghasilkan apa-apa selain legenda yang menurut penulis (Hoven), kurang kredibel terkait mengenai keturunan mereka dari Modjopait.
Legenda ini menyebutkan bahwa selama masa kejayaan Kerajaan Modjopait, dua orang, sepasang saudara laki-laki dan perempuan, bersama sejumlah pengikut meninggalkan tanah mereka dan mendarat di pantai timur pulau Sumatra.
1. Sang wanita menetap di Palembang dan menjadi seorang putri yang kuat.
2. Saudara laki-lakinya melanjutkan perjalanan ke pedalaman melalui sungai-sungai besar dan akhirnya tiba di tempat di mana sungai Pasēmah bermuara ke sungai Lematang.
Tertarik oleh banyaknya ikan di sungai ini, "Atong Boengsoe" nama pengembara ini memutuskan untuk menetap di dekatnya dan mendirikan dusun Běnoea Kěling yang masih ada hingga kini. Legenda ini, meskipun dengan sedikit penyimpangan, juga digunakan di daerah aliran sungai Moesi dan Ogan untuk menunjukkan bahwa populasi di sana juga berasal dari kerajaan Modjopait yang pernah begitu kuat.
VAN REES yang juga mencatat legenda ini menceritakan bahwa "Atong Boengsoe" dan saudara perempuannya "Poeteri Sandang Bidoeh" berasal dari lanskap Kling, yang juga menjelaskan nama permukiman yang didirikan oleh Atong Boengsoe. Versi ini (oleh penulis) tampaknya lebih masuk akal, karena dalam lebih dari satu legenda, nama (Běnoea) Keling disinggung, sehingga kekerabatan dengan negeri itu tidak dikesampingkan. Selain itu, ada juga yang menyebutkan keturunan dari "Pagar Roejoeng, yang berarti dari Minangkabau.
VII. Legenda Seroenting Sakti (Pahit Lidah)
Setidaknya peran yang sama pentingnya dengan Atong Boengsoe dimainkan oleh "Seroenting Sakti" dalam legenda Pasemah. Ia dihormati sebagai leluhur dari "Soembaj Semidang", dan kepadanya dikaitkan kekuatan mengutuk manusia dan hewan menjadi patung batu.
Kisah ini menceritakan bagaimana Seroenting terlibat dalam pertarungan dengan saudara iparnya, "Ria Tabing". Ketika Ria Tabing mengetahui rahasia kekebalan Seroenting, Seroenting merasa sangat terpuruk oleh pengkhianatan istrinya sehingga ia memutuskan untuk hanyut ke laut. Namun, pada saat yang tepat, ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang memberikan kekuatan gaib, dengan cara meludah ke mulutnya.
Sekembalinya ke tanahnya, Séroenting menemukan bahwa kekuatan supranaturalnya adalah bahwa siapa pun yang terkena kutukannya akan berubah menjadi batu. Kepada Pahit Lidah atau Bittertong (Lidah Pahit), nama panggilannya sejak saat itu, dikaitkan semua patung batu yang ditemukan di dataran tinggi Pasemah dan di tempat lain di Sumatra Selatan.
VIII. Analisis Arkeologi Patung Megalitik (Prof. KROM)
Penduduk menempatkan pahlawan mereka (Seroenting) hidup di zaman yang sama (dengan Modjopait), tetapi penulis (Hoven) cenderung setuju dengan WESTENENK bahwa tempat Pahit Lidah terletak jauh di belakang kabut, di mana konsep Modjopait menyelimuti segala sesuatu yang mengingatkan pada kebesaran dan kekuasaan.
Pahit Lidah disimpulkan tidak lain adalah representasi mistis dari populasi pemahat batu yang pernah hidup di dataran tinggi Pasemah, yang hingga kini masih disaksikan pada patung patung batu yang luar biasa di Pasēmah Lebar dan di tempat lain di Sumatra Selatan. Patung-patung tersebut dianggap terlalu minim diteliti oleh para ahli untuk dapat ditarik data yang pasti darinya.
Prof. KROM berpendapat bahwa kita masih menghadapi misteri di sini, meskipun ketidakpastian itu dapat dibatasi:
"Bagi kami (KROM), tampaknya mustahil bahwa seni ini, bahkan secara tidak langsung, berada di bawah pengaruh Hindu dan (seperti yang telah diusulkan) mungkin berasal dari India Belakang (Achter-Indië) yang terhindunisasi. Sebaliknya, beberapa ciri tampaknya tidak berbeda dengan apa yang dapat diamati dalam fase seni Jawa yang lebih kemudian dan sangat dipengaruhi oleh pengaruh Indonesia. Hal ini akan mengarah pada asumsi tentang populasi di sebagian Sumatra yang tidak terhindunisasi, yang berhubungan dengan pembangun megalit, dan mungkin juga membuat monumen semacam itu sendiri, sementara seni dan cara representasi mereka paralel dengan apa yang kemudian muncul di Jawa sebagai elemen Indonesia. Meskipun sangat mungkin bahwa orang-orang yang menghasilkan seni ini berasal dari tempat lain, menurut kami, seni itu harus dilihat dalam hubungan tertentu dengan seni Indonesia.
Sejauh inilah temuan terakhir mengenai masalah ini (Asal usul Pasemah)
IX. Kesimpulan Klasifikasi Suku
Oleh karena itu, sia-sia upaya untuk membentuk penilaian positif mengenai asal-usul Pasēmah dari data yang tidak jelas ini. Mungkin, ilmu pengetahuan seperti arkeologi dan antropologi akan membawa pengungkapan lebih lanjut.
Namun, sampai saat itu, tampaknya dibenarkan untuk mengklasifikasikan Pasēmah ke dalam "Midden-Maleiers" (Melayu Tengah), sementara sudah pasti bahwa pengaruh asing telah memengaruhi mereka, yang pertama-tama harus kita pikirkan adalah pengaruh dari Hindoe Javanen (Hindu Jawa).
X. Migrasi (Uitzwermingen)
Dari Pasēmah Lebar, masyarakat Pasēmah dari waktu ke waktu bermigrasi (uitgezwermd) ke daerah-daerah di sekitarnya, terutama karena kekurangan lahan pertanian yang baik.
Migrasi tertua, yang diperkirakan, mengarah ke Sěměndo (Semende) sebuah dataran tinggi yang terletak di tenggara Pasēmah dan terjadi dari dusun Përdipě, yang terletak di tepi kanan Sungai Lematang.
XI. Kekhasan Masyarakat Sěměnde
Perlu dicatat bahwa penduduk dusun ini relatif lebih awal menganut Islam, hal ini berlawanan dengan rekan senegara mereka (Pasemah lainnya).
PRESGRAVE, dalam jurnalnya yang dikutip sebelumnya pada tahun 1818, telah mencatat bahwa di Pasēmah terdapat sebuah "suku" (tribe) yang disebut "Anak Semendo," yang secara mencolok menganut agama Muhammad (Islam)
* Mereka membaca Al-Qur'an (Qoer'ān).
* Melakukan salat (baden) pada waktu-waktu yang ditetapkan.
* Mengamalkan sedekah (liefdadigheid).
* Melaksanakan puasa (poeasa), dll.
Baik pernikahan Djoedjoer (Jujur) maupun Ambil-anak sangat jarang terjadi di antara mereka. Mereka memiliki pemimpin mereka sendiri, yang menyandang gelar "Panghulu."
Du Bois juga berbicara tentang mereka sebagai suku yang terpisah, yang:
"secara tegas dibedakan dari empat suku lain yang mendiami tanah ini dengan nama Semendo.
X. Persebaran (Uitzwermingen)
Dari Pasěmah Lebar, masyarakat Pasemah dari waktu ke waktu bermigrasi (uitgezwermd) ke daerah-daerah di sekitarnya, terutama disebabkan oleh kekurangan lahan pertanian.
Migrasi tertua, yang diperkirakan, mengarah ke Semendo (Semende) sebuah dataran tinggi yang terletak di tenggara Pasemah dan terjadi dari dusun Perdipe, yang terletak di tepi kanan Sungai Lematang.
XI. Kekhasan Masyarakat Semrndo (Semende)
Perlu dicatat bahwa penduduk dusun ini relatif lebih awal menganut Islam, hal ini berlawanan dengan rekan senegara mereka.
PRESGRAVE, dalam jurnalnya yang dikutip sebelumnya pada tahun 1818, telah mencatat bahwa di Pasemah terdapat sebuah suku (tribe) yang disebut "Anak Semendo," yang menganut agama Muhammad (Islam)
* Mereka membaca Al-Qur'an (Qoer'an).
* Melakukan salat (baden) pada waktu-waktu yang ditetapkan.
* Melaksanakan sedekah (liefdadigheid).
* Melaksanakan puasa (poeasa), dll.
Baik pernikahan djoedjoer (jujur) maupun "Ambil Anak" sangat jarang terjadi di antara mereka. Mereka memiliki kepala mereka sendiri, yang menyandang gelar "Nabi Panghulu."
Du Bois juga berbicara tentang mereka sebagai suku yang terpisah, yang:
"secara tegas dibedakan dari empat suku lain yang mendiami tanah ini dengan nama Semendo."
Mengenai suku ini, tradisi menceritakan bahwa ia berasal dari Jawa, setidaknya sejauh adat yang mereka miliki. Seorang santri (pelajar agama) Jawa, yang datang dari Mataram, dikatakan menjadi guru adat tersebut di kalangan nenek moyang mereka, yang pada saat itu masih berkeliaran sebagai di hutan antara Bukit Besar dan Bukit Rangai, tanpa organisasi sosial apa pun.
Menurut GRAMBERG, penduduk dusun Perdipe disebut "Jagat Sembayang" atau, "suku yang berdoa untuk seluruh Pasemah." Karena kebiasaan unik dan prinsip mereka yang lebih ketat, mereka membentuk kasta yang mandiri.
"Saat ini (yaitu pada tahun 1864) masih ada lima rumah tangga yang tinggal di Perdipe, yang dengan setia mematuhi lembaga-lembaga kuno leluhur mereka di tengah-tengah masyarakat Pagan Pesemah."
Awalnya, eksodus dari Perdipe disebabkan oleh perselisihan terus-menerus antara penduduk desa ini dengan penduduk dusun di sekitarnya; kemudian, faktor ekonomi menjadi lebih menonjol. PAUW TEN KATE (1869) menempatkan pemukiman ini di Semendo pada awal abad ke-18. Migrasi ke sana terjadi di bawah pimpinan Puyang Priksa Alam dan Raja Oelio, yang masing-masing merupakan kepala tertinggi duniawi dan spiritual.
Izin untuk menetap di daerah tersebut diminta dari salah satu Puyang Enim, Depati Panjang. Para pemukim pertama memberikan nama "Sěměndo" (Semende) pada tempat itu.
"..mungkin berasal dari kebiasaan Puyang pertama dan paling dihormati, Raja Nyawa (dihormati sebagai pendiri pertama dusun Perdipě) untuk mengadopsi orang asing sebagai anak-anaknya (ambil anak). Tampaknya tidak ada yang lebih alami selain bahwa tanah baru itu, di mana kebiasaan leluhur dipatuhi secara ketat—bahwa anak perempuan tidak diizinkan untuk menetap di luar, atau bahkan di luar dusun kelahirannya setelah menikah, sehingga sebaliknya suaminya harus tinggal bersamanya dan orang tuanya (kawin Semindo) juga mengambil nama dari kebiasaan tersebut."
XII. Penyebaran Lebih Lanjut
Dari Semendo, mereka kemudian bergerak lebih jauh ke lembah sempit Sungai Mekakau, yang menjadi asal nama daerah tersebut, dan terletak di Onderafdeeling Muara Dua.
"Sangat penting adalah keberangkatan seorang "Anggot" dari Tanjung Raya, yang, diikuti oleh teman dan kerabat, pergi ke suatu daerah yang saat itu milik marga "Adji" (Kommering). Dia menetap di daerah Mekakau saat ini dan mengambil nama 'Pangeran Adji."
Berbicara tentang Ranau, Du Bois menceritakan bagaimana rendahnya kesejahteraan penduduk di sana sebagian besar harus dikaitkan dengan:
"kurangnya keamanan masyarakat sejak pendirian kampung Pasemah di sekitar mereka, yang mana masyarakat Lampung tidak dapat melawannya...
Menurut cerita, sekitar tahun 1802, orang2 Pasemah, tertarik oleh tanah yang lebih subur daripada yang mereka tinggalkan, menetap di Sungai Mekakau, yang tepinya saat itu masih liar, di bawah pemandu "Pangeran Hadji" yang masih hidup di antara mereka (yang sebenarnya adalah pangeran Adji, dinamakan demikian karena ia memperoleh izin dari Kepala Adji saat itu untuk menetap di daerah Mekakau)."
Menurut GRAMBERG, masyarakat Mekakau belum lama ada sebagai suku yang mandiri,
"karena baru sekitar 8 tahun" (artikel ini ditulis pada tahun 1864) Mekakau menganggap diri mereka sepenuhnya terpisah dari Semendo. Sebelumnya, mereka disebut sebagai "Semendoers", yang hanya memiliki ladang di Mekakau (noempang berladang), karena bukan perselisihan melainkan hanya kekurangan lahan pertanian yang memaksa mereka untuk meninggalkan dusun Tanjung Raya dan mendirikan pemukiman baru di Mekakau, bernama "Pulau Beringin."
Di bawah pemerintahan Belanda, pemukiman ini dibagi menjadi dua marga, yaitu 'Mekakau Ilir dan Mekakau Ulu.
XIII. Migrasi ke Bengkulu dan Sekitarnya
Pemukiman di Ulu Luas, yang terletak di afdeeling Kaur (Benkoelen/Bengkulu), juga berasal dari Semendo. Puyang Binti Laut disebut sebagai pendiri pertama pemukiman ini, yang pertama kali melintasi Pegunungan Barisan bersama para pengikutnya. Seiring waktu, pemukiman ini berkembang menjadi enam marga, yang secara kolektif membentuk lanskap Semendo Ulu Luas. Marga Ulu Nasal, yang terletak di lanskap Kaur, kemudian muncul dari marga-marga Ulu Luas.
Roos, yang pada tahun delapan puluhan (1880) adalah Controleur Kaur, mencatat bahwa populasi Semendo Uloe Luas dikatakan berasal dari Pasemah Lebar. Hal ini benar sejauh Pasemah adalah tanah asal asli orang Semende, tetapi pemukiman di Ulu Luas tidak terjadi langsung dari sana, melainkan langsung dari Semendo, seperti yang ditunjukkan oleh rangkaian nama Semendo Oeloe Loeas. Roos sendiri menyatakan bahwa daerah ini secara singkat disebut Semendo, singkatan yang juga ia gunakan dalam artikelnya. Namun, untuk menghindari kebingungan, (penulis) berpendapat lebih baik berbicara tentang Oeloe Loeas, karena Semendo dimaksudkan sebagai lanskap Palembang.
Selain koloni Pasemah tidak langsung ini di Afdeeling Kaur, di Oeloe Kinal juga merupakan distrik pegunungan di afdeeling ini ditemukan pemukiman Pasemah asli, yang sangat ketat memelihara adat dan kebiasaan mereka.
XIV. Migrasi ke Kisam dan Kedoerang
Migrasi besar lainnya dari Pasēmah mengarah ke Kisam, sebuah lanskap di Muara Dua, yang mencakup daerah aliran sungai Saka. Karena kekurangan mata pencaharian, sekelompok Pasemahers, di bawah pimpinan 'Puyang Bale Seriboe, bermigrasi ke sana, dan mendirikan dusun "Padang Bindu". Tanah itu diserahkan kepada mereka oleh kepala marga "Boeai Roendjoeng" saat itu, Pangeran Raksa, di mana seekor kerbau disembelih untuk menghormatinya. Du Bois menempatkan pemukiman ini di Kisam sekitar tahun 1755.
Pemukiman Pasemah penting lainnya ditemukan di apa yang disebut Pasemah Oeloe Mannaq dan di daerah aliran sungai Kedoerang dan Padang Guci" yang secara bertahap dihuni dari Pasemah Lebar.
XV. Persebaran ke Lintang, Kikim, dan Seraway
Di arah lain, daerah perbatasan secara bertahap diduduki oleh orang2 Pasemah, seperti daerah Lintangstreek, yang terletak di sebelah barat dataran tinggi Pasemah. Penduduk marga-marga yang sekarang termasuk onderafdeeling Tebing Tinggi, Lintang Kiri Soekoe Moeara Pinang dan Lintang Kanan Soekoe Moeara Danau pada awalnya berasal dari "Soembay Semidang", salah satu suku tempat populasi Pasemah terbagi.
Selanjutnya, Kikim, sebuah daerah di seberang Pegunungan Goemai dan di daerah aliran Sungai Lematang. Dalam sebuah laporan tentang Palembang oleh J. C. REYNST dari tahun 1823, dicatat mengenai hal ini:
"Mereka (yaitu, penduduk Pasemah Lebar) sebagian tinggal tidak lebih dari dua hari jarak dari Kikim dan bolak-balik pindah ke sana dan kembali, tergantung pada apakah perlakuan dari para kepala dan dari pangeran Palembang menyenangkan mereka atau tidak. Sebagian besar Lematang sebelumnya adalah milik mereka.
Pada catatan controleur EMAN, penulis menemukan konfirmasi dari komunikasi ini. Dalam sebuah nota mengenai hukum kekerabatan di kalangan penduduk Lematang Oeloe (tidak dipublikasikan, 1895), ia mengatakan, ketika berbicara tentang pembagian suku di sana, bahwa pembagian ini ditemukan lebih murni di tanah Pasemah tetangga, dari mana sebagian penduduk Lematang Oeloe dikatakan berasal.
Beberapa nama marga di onderafdeeling Lematang Oeloe masih menunjukkan kekerabatan suku dengan Pasěmahers. Namun, di daerah-daerah yang terakhir ini, mereka kurang lebih telah bercampur dengan populasi lain, sehingga lembaga-lembaga mereka tidak sepenuhnya utuh.
Selain itu, di Residentie Palembang, masyarakat Pasěmah ditemukan di marga Boelan Tengah (di daerah Bliti), di marga Pasemah Air Keroh (onderafdeeling Tebing Tinggi), dan Bayur (onderafdeeling Muara Dua); pemukiman yang terakhir berasal dari Semendo.
Di Benkoelensche (Bengkulu), Pasěmahers juga ditemukan di Pasemah Oeloe Alas, distrik pegunungan di afdeeling Seloema. Populasi lain dari afdeeling ini menyebut diri mereka "Anak Seraway," yang juga merupakan cabang yang sangat penting dari Pasemah. Menurut legenda lama, seorang bernama Pendjoerit, putra dari Seroenting, adalah penanam rakyat pertama dari Seraway di daerah tersebut. Dia dikatakan berasal dari dusun Babatan di Pasemah Lebar. Seraway ini tampaknya telah bermigrasi sangat awal dari Pasemah dan sejak itu kurang lebih telah bercampur dengan populasi pantai Bengkulu. Namun demikian, mereka tetap mempertahankan adat dan bahasa mereka dengan cukup murni. Karena mereka menurunkan asal-usul mereka dari Seroenting, mereka termasuk dalam suku Semidang.
---
Sumber
Judul: De Pasemah en haar verwantschaps-, huwelijks- en erfrecht
Penulis: Hoven, Willem
Tahun Terbit: (1927)
penyunting: Marjafri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar