Sabtu, 03 Januari 2026

Bandit Uang Palsu dan “Orang Rantai” di Sawahlunto


 

Catatan tentang koloni tambang, kerja paksa, dan kehidupan di Ombilin pada awal abad ke-20


Sawahlunto, Pantai Barat Sumatra

Selasa, 11 Juni 1901


Pengantar


Nama Sawahlunto jarang muncul di halaman surat kabar pada awal abad ke-20. Bila pun disebut, hampir selalu dalam satu konteks: tempat pembuangan. Sebuah lembah terpencil di jantung Sumatra Barat yang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dijadikan koloni tambang sekaligus koloni hukuman.


Di sanalah para pembunuh, pembakar, pencuri, dan penjahat kelas berat—baik pribumi maupun Tionghoa—dikirim untuk menjalani hukuman kerja paksa sebagai orang rantai. Termasuk di antara mereka tiga nama yang sempat menggemparkan Surabaya: Poei Tjin Tik, Han Siau Gwan, dan Han Tjong Ling, komplotan pemalsu uang kertas terkenal, yang akhirnya dideportasi ke Sawahlunto untuk bekerja di tambang batu bara Ombilin.


Tulisan ini menyajikan gambaran langsung tentang Sawahlunto sebagaimana adanya pada tahun 1901: kondisi alam, sistem kerja tambang, kehidupan para buruh dan narapidana, serta ironi hukuman kolonial yang tidak selalu terasa sebagai penderitaan bagi semua orang.


- Sawahlunto: Lembah Tambang dalam Cekungan Bukit


Sawahlunto terletak di sebuah cekungan alam yang menyerupai mangkuk, dikelilingi perbukitan. Iklimnya tergolong sehat, dengan musim hujan dan kemarau yang teratur, meskipun sesekali terjadi wabah demam.


Daerah ini dikenal kaya akan batu bara. Menurut perkiraan sezaman, cadangan batu bara Ombilin diyakini tidak akan habis bahkan dalam satu abad penuh. Soal kualitas batu baranya memang terdapat perbedaan pendapat, namun secara umum dinilai sangat baik.


Pada masa itu, kegiatan penambangan berlangsung di delapan lokasi berbeda, mencakup pengeboran dan penggalian. Sistem kerja dibagi dalam dua sif:

- sif pertama dari pukul 06.00 hingga 15.00

- sif kedua dari pukul 16.00 hingga 02.00


Para pekerja makan sebelum berangkat ke tambang, atau membawa bekal ke tempat kerja. Batu bara yang ditambang diangkut ke rumah saringan (zeefhuis), lalu dimuat ke gerbong menuju stasiun kereta api untuk dikirim ke Padang.


- Tenaga Kerja: Buruh Bebas, Kuli Kontrak, dan Orang Rantai


Jumlah pekerja di lokasi tambang kerap mencapai 2.000 orang, terdiri atas berbagai kelompok:


1. Narapidana kerja paksa (Orang Rantai)

Setibanya di Sawahlunto, rantai besi yang melilit leher dan kaki mereka dilepaskan karena menghambat pekerjaan dan berisiko bagi kesehatan. Mereka menerima upah harian 7 sen.


2. Buruh kontrak Tionghoa

Jumlahnya kadang mencapai 500 orang, mayoritas singkeh dari Singapura dan wilayah lain. Mereka menerima upah kontrak 75 gulden per tahun, dan jika memperpanjang kontrak, memperoleh upah harian 60–70 sen.


3. Buruh bebas Melayu dan Nias

Sekitar 400 orang, dengan penghasilan rata-rata setengah gulden per hari.


Hari Minggu dan hari besar tidak ada pekerjaan, kecuali bagi mandor dan pengawas yang memilih bekerja dan memperoleh bayaran tambahan.


- Barak Orang Rantai dan Sistem Pengawasan


Para narapidana ditempatkan di barak bambu beratap seng yang dikenal sebagai “barak kaki rantai”. Barak ini luas dan dijaga ketat oleh sekitar 60 prajurit polisi bersenjata, di bawah komando seorang sheriff dan pengawas polisi.


Penyakit yang paling umum adalah demam. Perawatan dilakukan di dua rumah sakit—satu di Sawahlunto dan satu di Durian—diawasi oleh seorang petugas kesehatan dan dibantu tiga dokter Jawa.


Soal makanan, justru Sawahlunto dikenal memberikan jatah relatif melimpah bagi para narapidana. Bahkan, menurut laporan sezaman, hampir tidak ada tempat lain di mana tahanan mendapat makanan sebanyak di Sawahlunto. Jika kurang, mereka dapat membeli tambahan di pasar atau toko-toko setempat.


- Pasar, Harga Bahan Pokok, dan Kehidupan Sehari-hari


Harga bahan makanan tergolong murah:

- ayam gemuk: ± f 0,25

- daging sapi berkualitas: f 0,60 per kg

- beras: f 8 per pikul

- kambing: f 4–5

- minyak: f 4,50 per kaleng


Buah-buahan melimpah kecuali mangga. Sayuran harus didatangkan dari Padang Panjang karena tanah Sawahlunto kurang subur. Air minum dialirkan melalui pipa besi dari Sungai Sumpahan dan terkenal jernih serta segar.


Terdapat pasar, toko Eropa, serta toko-toko Tionghoa yang tersebar di mana-mana.


- Tiga Pemalsu Uang: Hukuman yang Tak Selalu Menyiksa


Di sinilah ironi kolonial tampak jelas.


Han Tjong Ling, mantan kapten Cina di Surabaya, dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa berantai. Namun di Sawahlunto ia bekerja sebagai juru tulis gudang, berpakaian rapi, menerima kiriman uang bulanan dari keluarga, dan bahkan memperoleh remisi enam bulan. Hidupnya relatif nyaman.


Han Siau Gwan, rekan satu komplotan, bernasib serupa. Ia juga bekerja di gudang, menerima kiriman uang rutin, bahkan meminjamkan uang kepada buruh lain dengan bunga tinggi. Keduanya nyaris tidak merasakan kerasnya hukuman.


Berbeda dengan mereka, Poei Tjin Tik, sang pengukir uang palsu, tidak bertahan lama. Ia meninggal beberapa bulan sebelumnya, dan jenazahnya dipulangkan ke Surabaya untuk dimakamkan di kuburan keluarga.


- Staf Eropa dan Kehidupan Kolonial


Staf Eropa berjumlah sekitar 60 orang, termasuk insinyur, pengawas, dan pejabat tambang. Seluruh operasi berada di bawah pimpinan Kepala Insinyur Tambang Ombilin, Delprat, yang bermukim di Padang.


Gaji dan premi pegawai negeri tergolong tinggi. Seorang pengawas dapat memperoleh premi pengiriman batu bara hingga f 250 per kuartal. Pendidikan anak-anak Eropa diselenggarakan dengan baik, lengkap dengan sekolah, guru, dan pelayanan keagamaan.


Untuk hiburan, tersedia biliar, bacaan, musik, pacuan kuda, bersepeda, hingga berburu. Di malam hari, terdapat Comedy Stamboel, kelompok teater Melayu—meskipun orang rantai tidak diizinkan hadir.


- Pelarian, Koloni Liar, dan Ironi Sejarah


Beberapa narapidana berhasil melarikan diri ke hutan sekitar Sawahlunto, terutama ke daerah seperti Lubuk Tarab. Menariknya, mereka kemudian membuka lahan pertanian dan tanpa disadari menjadi pelopor pengolahan tanah di wilayah Sumatra Tengah.


Alih-alih sekadar penjahat buronan, mereka justru meletakkan dasar aktivitas ekonomi baru—sebuah ironi dalam sejarah kolonial yang jarang disorot.


- Penutup


Sawahlunto pada 1901 bukan sekadar tambang batu bara. Ia adalah potret kompleks dari kekuasaan kolonial, kerja paksa, stratifikasi sosial, dan kontradiksi hukuman.


Bagi sebagian orang, Sawahlunto adalah neraka rantai besi. Bagi sebagian lain—terutama mereka yang memiliki modal sosial dan ekonomi—hukuman berubah menjadi sekadar pengasingan yang relatif nyaman.


Di sanalah sejarah berbicara dengan jujur: tidak semua penderitaan kolonial dibagi rata.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar