Rabu, 14 Januari 2026

Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu di Padang Darat (Bagian 5)


 

d. Pengobatan Limau Tersapo


Metode ini diterapkan apabila pasien diyakini telah "disapa" oleh entitas penyakit.


Sebagaimana telah dijelaskan, dalam kondisi tersebut dahi pasien mula-mula ditandai dengan simbol salib menggunakan air ludah sirih, kemudian persendiannya diolesi dengan bahan yang sama. Jika upaya ini belum membuahkan kesembuhan (tida-tjégaq), barulah ditempuh ritual limau-tërsapo yang sesungguhnya. Pengobatan ini dilaksanakan dengan tata cara yang sama seperti metode limau-boewah. Selama tiga siklus sembilan hari—pagi pada hari pertama, siang pada hari kedua, dan malam pada hari ketiga—ramuan jeruk ini digunakan, dan seluruh rangkaian tersebut diulang sebanyak tiga kali.


Doa yang lazim dirapalkan dalam pengobatan ini berbunyi sebagai berikut:


"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang !


Jakoelo, Gamboelo, Djamboe-Erang, Si-Mata, Si-Mabau-Tonggaq, Si-Tjoetjoep-Darah, Si-Timbo Loeloeng, yang bergantung dan berayun di sana, yang berayun tertiup angin dan bersemayam di dalam angin !


Turunlah engkau, Boedjang-Hairoelah, dengan baju zirah besimu dan dengan helm besimu. Masuklah dengan paksa ke dalam rumah-rumah setan, hantu, dan oebilih.


Janganlah kalian menyakiti anak-cucu Adam! Jika kalian melakukannya, maka kalian akan ditimpa kutukan suci dari Allah dan dari Al-Qur’an yang terbagi dalam tiga puluh bagian; keturunan kalian akan punah karena kutukan, dan leluhur kalian akan terkutuk oleh Sultan dan oleh enam Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat. Dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!


Aku menggunakan sebuah doa yang suci, sebuah doa yang luar biasa, sebuah doa penolak pengaruh jahat. Sebagaimana badai, arus deras, dan gelombang besar berubah arah bukan karena perbuatan kami melainkan karena kehendak Allah, demikian pula bukanlah pekerjaan kami melainkan pekerjaan Yang Mahatinggi apabila gangguan para makhluk halus itu dijauhkan. Sebagaimana badai pun dapat ditenangkan oleh kekuatan doa Njèq-Radja-Soleiman, terlebih lagi kekuatan jahat, serta penyakit yang tersembunyi dan tak kasat mata!


Janganlah kalian menyakiti manusia! Jika kalian tetap melakukannya, ketahuilah bahwa aku mengetahui asal-usul kalian: dari pinang-loemoetan kalian berasal ! Hendaklah kesembuhan masuk dan penyakit keluar; kesembuhan itu dari Allah, melalui Muhammad Utusan Allah, dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah."


Apabila rangkaian pengobatan tersebut belum menunjukkan perbaikan, maka roh penyakit yang diduga menjadi penyebabnya akan didatangi secara langsung (disonsong).


Untuk tujuan itu, dilakukan kunjungan ke lokasi tempat pasien mengalami tërsapo. Lokasi tersebut tidaklah tersembunyi bagi dukun, karena pengamatan cermat terhadap air ludah sirih sebelumnya telah memberikan petunjuk yang lengkap.


Selagi pasien tetap berada di rumah, sang dukun berangkat bersama dua orang pendamping dengan membawa sanggar, yaitu sebatang bambu kuning (talang-koening) yang bagian atasnya dibelah untuk menopang rangka bambu berbentuk segi empat. Selain itu, dibawa pula nasi putih, nasi darah (nasi dengan darah ayam), nasi arang (nasi dengan jelaga), nasi kuning (nasi dengan kunyit), serta si tawar dan si dingin, yang seluruhnya dibungkus daun pisang yang dilipat membentuk kotak terbuka (limas). Kelengkapan lainnya meliputi bras randang (beras sangrai), bras batik (beras tidak disosoh yang disangrai), sirikh tigo kapoer, satu soekat (enam tjoepaq beras biasa), serta uang mahar sejumlah sakoepang sapiah (9 wang = f 10,75; sapiah = satu keping seperempat gulden).


Setibanya di lokasi yang dianggap penting, sanggar tersebut ditancapkan ke tanah dan berbagai hidangan diletakkan di atasnya sebagai persembahan untuk menenangkan roh penyakit. Setelah terlebih dahulu membakar sedikit kemenyan, dukun memanggil roh-roh tersebut dengan ucapan:


"Hé Njèq Radja Soleiman, engkau yang berempat, dan juga engkau Njèq Pitalo Goeroe, kami memanggil kalian! Kemenyan telah dibakar! Kami hendak mempertimbangkan kesalahan pasien, apakah ia dengan tangan atau kakinya telah menyentuh makhluk halus, menghalangi jalan, tanpa sadar memandang, atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Itulah kesalahan yang hendak kami timbang bersama para kerabat sedarah secara gaib yang berkumpul di sini.


Hé Si-Hantoe Moeno, Si-Kati-Moeno, Si-Oelo-Oelo, Si Gamboelo Sindjo-Sindjo, Si-Oenggoe-Oenggoe, Si-Angga-Angga, Djoembalang-Ajër dan Djoembalang-Tabing, serta engkau Njèq-Radjo-Si-Djoembalang, yang mengenal gunung dan lembah, sulur-sulur beruas, pohon kaloemboek yang berakar menyerupai daun, bamban berduri, air yang mengalir di bawah tanah lalu muncul kembali, serta air terjun yang menjadi tempat pemandian Manti Samoeonyo datanglah! Marilah kita bersama-sama mempertimbangkan kesalahan orang sakit ini. Kami memohon dengan kerendahan hati dan kelembutan, tanpa basa-basi.


Inilah adat dan limbago yang terdiri atas sedikit beras sangrai, satu kunyahan sirih, uang tujuh puluh lima sen, satu soekat beras, dan apa yang dapat dimasukkan ke dalam cekungan dasar soekat yang dibalik sebagai pelengkap. Semua itu kami persembahkan seiring permohonan kami kepada para kerabat sedarah yang berkumpul di sini, agar pasien berkenan disembuhkan. Apabila di antara kerabat yang hadir ada pula yang sedang sakit, maka kami sediakan bagi mereka si tawar dan si dingin. Apa pun penyakit yang diderita pasien, kami memohon kesembuhannya kepada kalian semua.


Jika kalian tidak mengabulkan permohonan kami, maka kalian akan ditimpa kutukan suci dari Allah dan Al-Qur’an 30 Juz; seluruh keturunan kalian akan binasa, punah oleh kutukan, dan leluhur kalian akan terkutuk oleh Sultan dan enam Raja; kalian semua akan dimusnahkan oleh kutukan Daulat. Dengan berkah kalimat: tiada Tuhan selain Allah."


Berdasarkan gambaran penyakit dalam doa tersebut, dipahami bahwa pasien dianggap telah menyinggung roh penyakit meskipun tanpa disadari sehingga ia memikul suatu kesalahan. Penyakit yang muncul sebagai akibatnya hanya dapat disembuhkan apabila kesalahan tersebut telah ditebus.


B. MANAWARI


Metode pengobatan ini bertujuan untuk melumpuhkan pengaruh penyakit. Meskipun malimaui memiliki tujuan serupa, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya.


Dalam malimaui, kesembuhan terutama diharapkan melalui pelaksanaan upacara pemanggilan dan penangkalan gaib yang rumit, yang ditujukan pada penyebab penyakit di luar diri pasien (makhluk jahat). Penggunaan obat-obatan hanya bersifat tambahan. Sebaliknya, dalam manawari, obat-obatan menjadi titik fokus utama yang diarahkan pada penyebab penyakit di dalam tubuh (seperti cacing atau infeksi darah), sementara unsur doa atau penangkal menempati posisi sekunder.


Pengetahuan empiris mengenai khasiat berbagai tumbuh-tumbuhan, yang disediakan alam secara berlimpah bagi masyarakat Melayu, dimanfaatkan secara efektif dalam metode ini. Dukun akan menginstruksikan pasien mengenai ramuan atau tanaman apa yang harus dicarikan. Terhadap tanaman yang masih mentah tersebut, dukun merapalkan doa yang lazim digunakan, biasanya disertai pembakaran kemenyan. Baru setelah proses manawari inilah, tumbuh-tumbuhan tersebut diolah dan digunakan sesuai petunjuk.


Tempat pelaksanaan ritual manawari tidak terikat lokasi tertentu. Penulis pernah menyaksikannya dilakukan di jalan umum: saat itu dukun memegang seikat tanaman pilihan dan, di hadapan pasien, merapalkan kata-kata yang sulit dipahami dengan suara perlahan.


Secara garis besar, dikenal dua macam doa tawar utama: tawar-biring-biring dan tawar-galang-galang. Adakalanya, selain infeksi darah atau cacing, terdapat pula faktor eksternal yang memicu penyakit. Dalam kondisi tersebut, selain formula utama, digunakan pula formula khusus tambahan.


Sebagai contoh, jika seseorang jatuh dari pohon hingga patah kaki dan kemudian membengkak, maka pembengkakan tersebut dianggap sebagai penyakit pada darah yang memerlukan tawar-biring. Namun, penyebab jatuh itu sendiri yakni faktor eksternal juga harus ditangkal, sehingga digunakan pula tawar patah. Dengan prinsip serupa, dibedakan pula jenis lainnya seperti tawar-loeko (luka), tawar-sipasan (gigitan lipan/hewan berbisa), tawar-terpanggang (luka bakar), dan sebagainya.


C. TARAK


Metode pengobatan lanjutan ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:


1. Tarak Gadung

2. Tarak Raso

3. Tarak ke Gunung


Metode ini khusus diterapkan pada kelompok penyakit yang sebelumnya disebut biring-biring (umumnya berupa pembengkakan / tumor yang sudah lama, luka yang terabaikan, dan sebagainya), terutama ketika obat-obatan biasa tidak lagi membuahkan hasil.


Prosedur pengobatan ini terdiri dari dua tahap utama:


- Pertama: Penggunaan obat khusus yang telah diberikan doa atau mantra (bertawar). Pada metode Gadung, obat diberikan untuk dikonsumsi (obat dalam), sedangkan pada pengobatan air raksa (kwikkur), obat digunakan secara luar (obat oles/tempel).

- Kedua: Menjalani masa pantang atau tirakat selama 7 hari (atau kelipatannya). Selama periode ini, pasien wajib mematuhi berbagai aturan pantangan (pantang) yang ditetapkan oleh dukun.


Khusus untuk Tarak ke Gunung, pasien tidak diberikan obat apa pun. Tujuan utama dari metode ini justru adalah untuk mencari atau mendapatkan petunjuk mengenai obat yang tepat. Oleh karena itu, masa pantang atau tirakat tersebut dilakukan dengan cara mengasingkan diri di tempat yang sunyi.


Jika setelah menjalani salah satu metode tarak selama  hari (28 hari) belum juga tampak tanda-tanda kesembuhan, maka pasien dapat beralih ke salah satu dari dua jenis tarak lainnya, atau sebagai upaya terakhir, mencari kesembuhan pada dukun lain.


Beberapa orang menjalani ketiga jenis tarak tersebut secara berturutan. Jika setelah itu kesembuhan tetap tidak kunjung tiba, mereka akan berserah diri dan menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Allah.


Sebagai catatan tambahan, jika sarana lain tidak membuahkan hasil, dalam kasus penyakit yang berkepanjangan, masyarakat terkadang berharap mendapatkan kesembuhan dengan cara mengganti nama. Hal ini dilakukan karena adanya keyakinan bahwa nama yang lama tidaklah cocok atau tidak selaras dengan jiwa penyandangnya (tidak sarasi namanya). Selain itu, sering pula ditemui pasangan suami-istri yang terus-menerus didera penyakit dalam rumah tangga mereka, menyalahkan ikatan pernikahan tersebut sebagai penyebabnya, sehingga mereka memutuskan untuk bercerai.


Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai ketiga jenis tarak tersebut:


a. Tarak Gadung


(Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar