Setelah apa yang sebelumnya telah dicatat mengenai penampilan luar sang Penguasa, mungkin akan terasa berlebihan untuk menulis lebih banyak lagi mengenai hal itu. Terlebih karena kami memiliki hak istimewa khusus untuk membiarkan para pembaca menilai sendiri saat ini, bahkan jauh lebih baik daripada minggu lalu.
Bangsawan Bali tua ini memang tidak tampan, namun raut wajahnya menyiratkan kekuatan dan kebanggaan. Sepasang mata itu belum kehilangan binarnya, meskipun untuk ukuran seorang pribumi, sang Penguasa telah mencapai usia yang sangat senja. Dapat dibayangkan bahwa segelintir orang Eropa yang mengenalnya di tahun-tahun silam, hampir semuanya bersaksi bahwa ia memberikan kesan yang sangat positif, terutama jika dibandingkan dengan kebanyakan penguasa di Bali yang biasanya kecanduan madat (opium) atau terjebak dalam bentuk kesenangan berlebih lainnya.
Ketika naturalis Zollinger—sebagai ilmuwan Eropa pertama yang mengunjungi Lombok—berada di istana Mataram pada tahun 1843, ia sangat terkesan oleh putra mahkota kala itu, seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun. Ia menggambarkan saudara laki-laki Raja tersebut sebagai orang pribumi paling cerdas yang pernah ia temui. Jauh kemudian, pada tahun 1881, mendiang Dr. Julius Jacobs datang untuk beraudiensi dengan sang Raja, yang saat itu ia gambarkan sebagai pria berusia antara 60 hingga 70 tahun dengan penampilan yang terhormat. Pada masa itulah, sang Raja yang kini digulingkan ini telah menggantikan posisi saudara laki-lakinya.
Mungkin di sinilah tempat yang tepat untuk memberikan beberapa rincian mengenai keluarga penguasa Lombok, meskipun informasi ini pada akhirnya hanya akan bernilai secara historis karena masa kejayaan dinasti tua Karang Asem kini telah berakhir untuk selamanya. Kami menyadur beberapa data dari surat kabar Hindia dan merujuk pada artikel lain dalam nomor ini untuk penjelasan mengenai beberapa nama dan gelar, di mana terdapat informasi mengenai para Poenggawa.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang Bali dari Karang Asem menyeberang ke Lombok pada awal abad lalu atas permintaan para pemimpin suku Sasak yang saat itu sedang berperang dengan negara tetangga, Soembawa. Bagaimana orang-orang Bali ini, sembari memancing di air keruh, perlahan-lahan menancapkan pengaruhnya di pulau tersebut dan akhirnya menguasai seluruh Lombok. Karang Asem bagaimanapun selalu tetap menjadi tanah asal, dan penguasa Mataram berstatus leenroerig (daerah bawahan) dari kerajaan kecil di Bali tersebut. Namun, ketika penguasa Lombok pada ekspedisi Bali ketiga tahun 1849 membantu pihak kita dengan gigih dalam perjuangan melawan tuan feodalnya sendiri, saat itulah hubungan tersebut berbalik total: Karang Asem diturunkan derajatnya menjadi negara vasal dan bawahan Mataram.
"Sahabat kita", Djilantik, selalu dipuji karena kelicikannya. Namun, tentu akan menjadi kebijakan politik yang lebih baik baginya jika—sebagaimana sejarahnya sendiri mengajarkannya—ia lebih memercayai kekuatan senjata kita dan dengan demikian meninggalkan tuan feodalnya. Jika dilakukan, pada akhirnya pasti akan ada imbalan yang tersedia baginya.
Raja Lombok saat ini, sebagaimana para pendahulunya, berasal dari wangsa Karang Asem. Istri sah pertamanya adalah seorang wanita Bali dari keturunan bangsawan Perdewa.
I. Dari pernikahan pertama ini lahir:**
A. Anaq Agueng Wajan Karang†** (putra).
B. Anaq Agoeng Ajoo Made (putri).
C. Anaq Agoeng Ajoe Nengah (id.).
D. Anaq Agoeng Ajoe Karang (L.).
E. Anaq Agoeng K'toet Karang Asem (pengganti takhta K'toet yang terkenal, gugur pada 29 September di Mataram).
Demi kejelasan, kami ingin mengulangi sejenak bahwa Anaq Agoeng adalah gelar resmi untuk anak-anak penguasa, dan Ajoe menunjukkan gelar seorang putri (setara dengan Raden Ajoe di Jawa).
Sang Penguasa selain itu memiliki dua istri Sasak, yang keduanya masih hidup dan saat ini berbagi masa tawanannya. Nama-nama mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah Muslim, karena mereka dinamai menurut nama istri-istri Nabi dari Mekkah.
II. Dari pernikahan kedua, dengan wanita Sasak Dinda Amina, lahir seorang putri:
F. Anaq Agoeng Ajoe Praha.
III. Dari pernikahan ketiga, dengan wanita Sasak Dinda Patima (Bahasa Arab: Fatima), lahir dua putra:**
G. Anaq Agoeng Madé Djilantik, sekarang berusia sekitar 18 tahun.
H. Anaq Agoeng K'toet Oká, sekarang berusia sekitar 10 tahun.
NB. Kedua putra Penguasa ini ditampilkan dalam posisi berdiri pada gambar di nomor sebelumnya.*
IV. Dari pernikahan keempat, dengan seorang Wargi, wanita dari pangkat yang lebih rendah, lahir:
C. Anaq Agoeng Madě, Madé yang terkenal jahat, yang pada 11 Juli di Tjakra Negara telah menusuk diri dengan keris (gekrist).
A. Anaq Agoeng Wajan Karang, putra tertua sang Penguasa, menikah tiga kali:
1. pernikahan, dengan seorang putri dari pamannya, mantan raja, pendahulu ayahnya (tanpa anak);
2. pernikahan, dengan seorang putri dari punggawa Goesti Njoman Wonosareh yang gugur dalam ekspedisi (tanpa anak);
3. pernikahan dengan seorang Wargi (lihat di atas):
a. Anaq Agoeng G'dé Poetoe (kemungkinan meninggal saat muda);
b. Anaq Agoeng G'de Agoeng.
Yang terakhir ini telah diadopsi sebagai anak oleh Goesti Djilantik, pengelola kerajaan Karang Asem di Bali yang telah disebutkan sebelumnya.
E. Anaq Agoeng K'toet Karang Asem, yang disebut sebagai putra mahkota, memiliki berbagai istri. Salah satunya juga merupakan putri dari punggawa yang disebutkan di bawah poin A. Dari pernikahan ini lahir seorang putri:
c. Anaq Agoeng Ajoe Mas, sekarang berusia 7 tahun.
Dari istri-istrinya yang lebih rendah, ia selain itu memiliki tiga putra:
d. Datoe Pangeran, yang berusia 20 tahun dan menganut agama Islam. (Ia adalah cucu Raja, yang pada 6 Desember dibawa ke Ampenan oleh kepala suku Sasak dari Pruja, Goerse Bangkol. Mungkin masih ada peran yang menantinya dalam pengaturan pemerintahan baru mendatang).
e. Anaq Agoeng G'dé Rai, 18 tahun.
f. Anaq Agoeng G'dé Oká, 12 tahun.
NB. Kedua nama terakhir ini duduk berjongkok di kaki kakek mereka pada gambar di nomor sebelumnya.
K. Anaq Agoeng Madé, (yang bunuh diri) meninggalkan seorang putra:
g. Anaq Agoeng K'toet Djilantik, 19 tahun
Selain itu, Madé masih memiliki anak-anak kecil dari istri-istri dengan pangkat yang lebih rendah.
Sebagai penutup, demi kemudahan ringkasan dicatat kembali bahwa dalam daftar silsilah ini, putra dan putri ditandai dengan huruf kapital, sementara cucu-cucu sang Penguasa ditandai dengan huruf kecil.
---
**Sumber: volkstijdschrift, 01-01-1895**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar