II. METODE PENGOBATAN
Sama fantastisnya dengan penyebab penyakit itu sendiri, sarana untuk mengenali berbagai penyakit serta menetapkan metode pengobatan yang sesuai untuk setiap kasus spesifik juga demikian adanya. Sudah barang tentu hanya para dukun yang secara profesi memahami sarana-sarana tersebut.
Mengenai jabatan dukun, perlu disampaikan sepatah kata terlebih dahulu. Biasanya keahlian ini diwariskan dari ayah ke anak laki-laki, namun terkadang seseorang juga mempersiapkan diri dengan mengikuti pendidikan di bawah bimbingan dukun lain dalam waktu yang cukup lama. Sebagai aturan umum, para praktisi medis ini juga merupakan pelaksana kewajiban agama yang setia dan bersedia datang untuk mandoa (berdoa) serta mangadji (mengaji) apabila diminta. Meskipun dalam gaya hidup sehari-hari mereka tidak berbeda dengan penduduk desa lainnya, mereka sering kali mendapatkan kedudukan tinggi di masyarakat karena dianggap memiliki alémoe (ilmu) yang diperlukan—yaitu kekuatan supranatural untuk menangkal praktik-praktik roh jahat. Terdapat dukun laki-laki maupun perempuan, kecuali dukun balian (dukun beranak/bidan) yang selalu dijabat oleh perempuan.
Apabila seorang dukun dipanggil untuk mengobati orang sakit, sudah menjadi kebiasaan tetap bahwa baginya disiapkan sekapur sirih, yang diperlukan untuk mendiagnosis penyakit tersebut. Setelah ia mengunyah sirih itu beberapa saat, ia menyemburkan ampas kunyahannya tiga kali berturut-turut ke dalam sebuah mangkuk kecil dan memeriksa isinya dengan saksama.
Jika mangkuk berisi air liur tersebut terasa suam-suam kuku (niloe-niloe koekoe), maka hal itu menjadi petanda pasti bahwa pasien tersebut tersapo (terkena sapaan roh). Seketika itu juga, air liur tersebut digunakan untuk membuat tanda salib/silang di dahi pasien dan persendiannya juga diolesi dengan air liur tersebut. Setelah itu, pasien menjalani apa yang disebut sebagai pengobatan liman.
Apabila melalui teknik dukun tersebut terbukti bahwa penyakit bukan disebabkan oleh roh jahat melainkan oleh pengaruh internal, maka diterapkanlah pengobatan tawar.
Sebelum kita membahas lebih lanjut kedua metode pengobatan ini, tampaknya perlu untuk memberikan catatan umum mengenai hakikat sarana-sarana yang diyakini dapat melawan roh penyakit dengan berhasil demi memperoleh kesembuhan.
Meskipun secara umum ditakuti, roh-roh tersebut tidaklah mahakuasa. Terutama pada kata-kata yang diucapkan oleh dukunlah mereka harus patuh. Di sinilah terletak sebagian besar kekuatan dari mantra-mantra pengusir roh yang akan disebutkan nanti. Perlu dicatat sejak awal bahwa mantra-mantra tersebut, menurut keyakinan mereka, bukan berasal dari manusia, melainkan dari Radja Soleiman—pemimpin roh jahat itu sendiri. Jadi, manusia melawan mereka dengan senjata dari gudang senjata mereka sendiri. Ketidakkonsistenan yang tampak ini tidaklah berdiri sendiri. Di mana Radja Soleiman beserta kaki tangannya membuat manusia sakit, ia pulalah yang memberikan beberapa saran obat-obatan kepada manusia.
Legenda menceritakan bahwa Radja Soleiman suatu ketika membagikan racun penyakit (biso) kepada burung Fadoeng serta seluruh doebalang dan bawahannya untuk ditiupkan kepada manusia agar jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, ia juga memberi tahu manusia bagaimana cara melumpuhkan racun penyakit tersebut: "Di dekat batu tangga rumahku, tempat aku biasa membasuh kaki," katanya, "tumbuh dua tanaman; yang satu bernama si-tawar dan yang lainnya bernama si-dingin. Yang pertama berfungsi untuk menetralkan segala pengaruh penyakit (panawari sakalian biso), yang kedua untuk mendinginkan segala pengaruh penyakit (kapandingini sakalian biso)." Dengan istilah "mendinginkan" ini, yang dimaksud juga adalah menjaga dari pengaruh-pengaruh berbahaya. Karakter dualistik dari roh jahat ini telah kita perhatikan sebelumnya saat menyebutkan gantoeng poetjoeq, sebuah jimat yang ditunjukkan oleh Hantoe Si-Marah-Boeroe sendiri sebagai sarana untuk melawan praktik jahatnya. Dalam hubungan ini, perlu diingat kembali bagaimana di Eropa dahulu, ketika kepercayaan terhadap iblis sebagai makhluk yang berkeliaran di bumi masih kuat, iblis juga dianggap sebagai pembawa racun sekaligus penawarnya.
Keyakinan bahwa pendinginan (verkoeling) memiliki khasiat penyembuhan sangatlah kuat di kalangan masyarakat Melayu, sehingga jika suatu obat telah diberikan, pasien akan selalu ditanya apakah obat tersebut terasa dingin; jika jawabannya negatif, maka mereka akan segera beralih ke obat lain.
Sering kali makna dari mantra-mantra yang digunakan sulit dipahami oleh orang luar karena banyaknya deskripsi simbolis serta kata-kata kuno yang sudah jarang atau tidak lagi digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari. Namun, di dalam ketidakpahaman itulah justru terletak sebagian dari kekuatan magis kata-kata tersebut. Terkadang mantra itu berisi ancaman atau kutukan untuk mengusir setan penyakit, terkadang mereka mencoba mengelabui roh-roh tersebut dengan tipu daya, atau membujuk mereka secara halus melalui janji-janji dan sanjungan. Lebih lanjut, mantra-mantra tersebut memberikan banyak contoh bahwa manusia mencoba melumpuhkan roh-roh itu dengan menunjukkan bahwa manusia telah mengenali mereka; bahwa nama, hakikat, asal-usul, serta penampilan mereka tidak lagi tersembunyi bagi manusia.
Di mana-mana di muka bumi ini, tulis Prof. J. J. M. de Groot, studi tentang bangsa-bangsa prasejahtera telah mengajarkan bahwa mereka sulit membedakan secara tajam antara kenyataan dengan apa yang diwakilinya, dan karenanya selalu menyamakan nama dengan pribadi yang dimaksud. Siapa yang mengetahui nama seseorang, maka ia memiliki pengaruh atas individu tersebut dan dapat menimbulkan malapetaka sesuka hati melalui berbagai bentuk sihir.
Itulah sebabnya muncul fenomena, yang juga asli di Nusantara kita, bahwa orang cenderung tidak memberitahukan nama orang-orang yang mereka hormati kepada orang asing. Itulah pula asal mula aksioma yang berlaku umum di Tiongkok, bahwa tidak ada hantu, termasuk harimau jadian (menschtijger), yang dapat mencelakai mereka yang menunjukkan bahwa ia mengetahui nama hantu tersebut dan dengan demikian memiliki kekuasaan atasnya. Perlu dicatat bahwa di Eropa juga terdapat kepercayaan bahwa jika seseorang memanggil manusia serigala (weerwolf) dengan nama baptisnya, ia akan kembali ke wujud manusia dan kehilangan sifat bahayanya.
Keunikan lain dari mantra-mantra tersebut adalah bahwa manusia berkali-kali mengingatkan roh-roh jahat itu akan suatu sumpah. Dalam hal ini perlu diingat bahwa roh-roh tersebut tidak hanya dianggap memiliki kecenderungan murni manusia, tetapi juga bahwa pertanggungjawaban mereka atas perbuatan mereka diatur oleh hukum yang serupa dengan hukum manusia; sehingga mereka pun, sebagaimana manusia, pasti akan menanggung konsekuensi fatal apabila mereka tidak setia pada sumpah yang pernah mereka ucapkan.
A. MALIMAUI
Yang dimaksud dengan malimaui adalah suatu bentuk pengobatan limau, yang pokok pelaksanaannya terletak pada tindakan menyiramkan penderita secara berkala dengan air limau tertentu, yang komposisinya telah ditetapkan sebelumnya, dan atasnya telah dibacakan doa khusus oleh seorang dukun.
Cara pengobatan ini, sebagaimana telah dijelaskan, hanya diterapkan apabila penyebab penyakit diyakini berasal dari gangguan makhluk halus.
Sebagaimana diketahui, buah-buahan jenis limau atau jeruk, karena rasa asamnya, termasuk ke dalam benda-benda yang menimbulkan rasa takut dan penghormatan sakral bagi para hantu.[1]
Campuran limau yang digunakan dalam praktik malimaui terdiri atas empat macam, yang disesuaikan dengan gejala penyakit yang dialami, yaitu sebagai berikut:
1. Limau Boewah
Campuran ini terdiri atas tiga buah limau kapas (juga dikenal sebagai limau nipis) dan tiga buah limau loenggo.
- 2. Limau Daoen
Campuran ini dibuat dari berbagai jenis daun dan bagian tumbuhan, yaitu:
daun si tawar (tumbuh di daerah berawa, tinggi 2–3 meter, berdaun lonjong dengan bulu halus di bagian bawah; mahkota bunganya berwarna putih dan tumbuh pada tangkai bunga merah keunguan), si dingin (semak setinggi ±1 meter, dengan daun dan batang berdaging yang terasa sejuk; bunganya menyerupai lonceng kecil berwarna hijau dan ungu muda), tji karau, tji koempai (sejenis rumput rawa),
djariangau atau kalmoes (di Jawa dikenal sebagai dringo, tumbuhan beraroma tajam yang berkembang biak cepat melalui rimpang di tanah lembap), koenjit bolai (juga disebut koenjit boenglai; di Jawa dikenal sebagai banglé, sejenis tanaman tinggi dengan bunga merah keunguan; rimpangnya berwarna kuning pucat dan beraroma),
banto (sejenis rumput), talang (sejenis bambu), saroq sabalai, akar sirah, koendoer (tanaman merambat dengan buah menyerupai labu), akar kait-kait (tanaman memanjat dengan pengait), baliq angin (pohon berukuran sedang, daunnya berbeda warna di kedua sisi sehingga tampak berubah warna saat tertiup angin; bunganya kecil berwarna ungu dan tumbuh berkelompok).
Selain itu digunakan pula pucuk muda (oemboet) dari:
* taboe oedang (sejenis tebu merah),
* rasau (jenis pandan),
* toembarau (sejenis rumput rawa),
* pisang kombali dan
* pisang tambatoe.
- 3. Limau Boengo (juga disebut limau sati)
Campuran ini terdiri atas masing-masing satu buah dari lima jenis limau, yaitu: limau poeroet, limau kapas, limau koentji, limau saring, dan limau loenggo.
Selain itu ditambahkan beberapa kuntum dari masing-masing bunga berikut:
tjampago (kuning tua dan beraroma kuat), mara (tidak berbau, tetapi indah; berbentuk bunga kupu-kupu berwarna jingga kemerahan), tandjoeng (kuning dan harum), boengo tjino (kepala bunga kecil berwarna kuning), pandam kaki (putih dan sangat harum).
- 4. Limau Tersapo
Campuran ini terdiri atas tiga buah dari masing-masing tiga jenis limau, yaitu: limau kambing, limau kapas, dan limau loenggo.
Doa dalam Malimaui
Setiap dari keempat campuran limau tersebut disertai dengan satu bentuk doa atau mantra tertentu (doa), dan justru doa-doa inilah yang diyakini sebagai sumber kekuatan batin dari praktik malimaui.
Dengan demikian dikenal empat jenis doa, yaitu:
- doa limau boewah,
- doa limau daoen,
- doa limau boengo,
- doa limau tersapo.
Doa limau boewah terdiri atas lima bait (pasal).
Doa limau daoen dan limau tersapo masing-masing terdiri atas lima bait tersebut ditambah dua bait lainnya.
Adapun doa limau boengo terdiri atas lima bait dasar ditambah satu bait tambahan.
Setiap bait doa selalu diawali dengan ucapan Bismillah.
a. Pengobatan Limau Boewah
(Bersambung …)
[1] Rasa takut sakral terhadap limau tampak sangat jelas, misalnya, dalam kegiatan penambangan timah di Semenanjung Melayu. Mengenai hal ini, Skeat pada halaman 264 karyanya Malay Magic antara lain menyampaikan sebagai berikut:
“Buah limau tidak boleh dibawa ke dalam tambang. Kepercayaan pantang ini khas di kalangan para penambang Melayu, yang memiliki rasa takut khusus terhadap buah ini. Dalam bahasa pantang, mereka menyebutnya salah nama (secara harfiah: ‘nama yang keliru’), dan bukan limau nipis.”
Lebih lanjut, pada halaman 254 karya yang sama, Skeat menulis:
“Apabila buah limau dibawa ke area tambang, para hantoe (roh) diyakini akan tersinggung. Unsur dari buah tersebut yang dianggap tidak disukai tampaknya adalah sifatnya yang asam. Menarik bahwa kepercayaan ini juga terdapat di kalangan orang Tionghoa, tidak hanya di kalangan Melayu. Tidak lama berselang, seorang towkay Tionghoa pemilik tambang mengadukan bahwa para pekerja dari kongsi saingan telah membawa limau dan memeras airnya ke dalam saluran utama tambangnya. Selain itu, mereka juga menggosok tubuh mereka dengan air jeruk yang dicampur air dari saluran tersebut. Ia menyatakan bahwa tindakan itu merupakan pelanggaran yang sangat berat dan menuntut agar para pelakunya dijatuhi hukuman.”
Di kalangan orang Melayu, pantangan ini tampaknya termasuk yang paling penting, dan diterapkan dengan sangat ketat. Bahkan belachan (terasi udang) pun tidak diperkenankan dibawa ke tambang, karena dikhawatirkan dapat mendorong orang untuk membawa limau, mengingat air jeruk merupakan bahan pelengkap yang lazim digunakan saat belachan disiapkan untuk dikonsumsi.
Di wilayah dunia Barat pun, buah limau—khususnya lemon—menempati kedudukan penting dalam praktik pengobatan tradisional. Sebagai tambahan penjelasan, lemon telah lama dikenal sebagai salah satu bahan obat yang bernilai tinggi.
Penggunaan medis lemon di kalangan rakyat dilakukan, antara lain, dengan menambahkannya ke dalam air minum bagi orang sakit serta ke dalam bir putih, karena air perasannya dipercaya dapat memperkuat lambung dan menghambat kerja ragi. Pada masa ketika lemon masih jarang ditemukan, buah ini bahkan kerap dianggap memiliki khasiat yang hampir bersifat magis, dan sejak awal telah dipandang sebagai suatu zat antiseptik, serta memiliki berbagai kegunaan pengobatan lainnya.
(Sumber: Dr. M. Höfler, Volksmedicin und Aberglaube in Oberbayerns Gegenwart und Vergangenheit).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar