Di Pulau Simaloer—yang kini dikenal sebagai Simeulue—tersimpan sebuah naskah lama yang diwariskan turun-temurun: tambo tentang asal-usul para datoe dan lahirnya adat negeri. Naskah ini tidak sekadar bercerita, tetapi merekam bagaimana kekuasaan, hukum, dan struktur masyarakat pertama kali dibentuk di pulau tersebut.
Di dalamnya muncul tokoh-tokoh yang namanya masih bergema dalam ingatan kolektif masyarakat: Datoe Pamoentja, Lafoeng Lasali, hingga para utusan yang berlayar menuju istana raja Atjeh. Kisah tentang kambing berhiaskan emas, peperangan yang panjang, hingga ujian aneh di hadapan raja menjadi bagian dari narasi yang menjelaskan bagaimana pemerintahan dan susunan suku di Simaloer terbentuk.
Tambo ini bukan sekadar cerita lama. Ia adalah jejak ingatan masyarakat tentang asal-usul kekuasaan, adat, dan hukum yang membentuk kehidupan di Pulau Simaloer sejak masa silam. Dari sinilah pembaca dapat menelusuri bagaimana sebuah pulau di tepi Samudra Hindia menyimpan kisah yang jarang diketahui, namun sarat makna bagi sejarah lokalnya.
.............................
Inilah keterangan mengenai asal-usul pada masa dahulu yang kemudian menjadi adat dan hukum di negeri Simaloer, berupa surat sarakata, agar diketahui oleh semua orang maupun oleh orang Kompeni, sehingga jelas asal-usul orang yang menjadi datoe pamoentja di negeri Pulau Simaloer.
Pada mulanya dahulu datang seorang ke negeri ini bernama Toeankoe Siano Kare Mati. Ia tinggal di Oedjoeng Toeba. Kemudian datang pula seorang bernama Soemareh Bintol. Orang tersebut tinggal di Along. Kedua orang itu kemudian bertemu. Mereka bermufakat hendak memerangi negeri ini, karena terdapat seorang bernama Lafoeng Lasali yang menjalankan hukum dengan keras. Oleh sebab itu mereka bermaksud memerangi orang tersebut.
Kedua orang itu berjalan dari Oedjoeng Toeba menuju Simaloer dengan membawa dua ekor kambing. Setelah sampai di Simaloer, mereka mencari Lafoeng Lasali yang tinggal di Doloe. Ketika sampai di Doloe, Lafoeng Lasali sedang tidur di dalam ayunan. Lalu ditanyakan:
“Siapa ini?” Orang di tempat itu menjawab: “Anak Lafoeng Lasali.”
Kedua orang itu kemudian kembali dan bermufakat. Mereka mengambil seekor kambing dan menghiasinya dengan pakaian emas seluruhnya, sehingga seluruh tubuh kambing itu tertutup emas yang berat. Setelah itu kambing tersebut dilepaskan berjalan.
Ketika sampai di Taloe Simaloer, Lafoeng Lasali menangkap kambing itu, membunuhnya, dan mengambil seluruh emas yang ada padanya. Kemudian nenek moyang Datoe Pamoentja mencari kambing tersebut, tetapi kambing itu tidak ditemukan lagi. Maka diberitahukan kepada Lafoeng Lasali: kambing milik mereka telah hilang di negeri itu. Harta tersebut tidak boleh hilang dan harus dikembalikan. Lafoeng Lasali diminta untuk memeriksanya; apabila tidak, negeri itu akan diperangi.
Nenek moyang Datoe Pamoentja kemudian memerangi negeri tersebut. Peperangan berlangsung lama dan banyak orang yang mati. Lafoeng Lasali kemudian meminta pertolongan kepada nenek moyang Datoe Landasan, yang turut membantu dalam peperangan. Dari pihak Datoe Landasan tujuh orang mati. Setelah itu diadakan perdamaian dalam peperangan tersebut.
Sesudah perdamaian tercapai, setengah negeri diberikan kepada nenek moyang Datoe Pamoentja. Dari Koeala Simaloer menjadi wilayah perintah nenek moyang Datoe Pamoentja Ratoes, sedangkan wilayah Bahoeng menjadi bagian Datoe Landasan yang memerintah di sana.
Kemudian datang nenek moyang Datoe Nja Noeh, yang menangkap orang-orang dan menjual mereka semua. Selanjutnya datang Teungkoe Kramat di Oedjoeng. Ia menyatakan bahwa adat dan hukum harus ditetapkan di negeri ini, dan orang-orang tidak boleh lagi diperjualbelikan. Ia kemudian mengislamkan semua orang di negeri tersebut. Sejak itu ditetapkan adat dan hukum di negeri ini.
Sesudah itu Teungkoe Kramat kembali ke Atjeh. Ia bertemu dengan raja Atjeh dan menyatakan bahwa seluruh negeri tersebut telah diislamkan. Raja Atjeh kemudian berkata: apabila demikian, bawalah ke sini dua puluh orang dari negeri itu agar dapat dilihat siapa yang patut menjadi raja, sehingga pemerintahan dapat tetap berjalan di negeri tersebut.
Teungkoe Kramat kembali ke negeri pulau itu. Ia membawa nenek moyang Datoe Nja Noeh seorang, nenek moyang Datoe Pamoentja Ratoes seorang, serta empat puluh orang lainnya; semuanya pergi ke Atjeh untuk bertemu dengan raja. Dari mereka semua kemudian banyak yang meninggal, sehingga yang tinggal hanya dua orang: nenek moyang Datoe Nja Noeh dan nenek moyang Datoe Ratoes.
Raja Atjeh kemudian menguji kedua orang itu. Nenek moyang Datoe Nja Noeh dimasukkan ke dalam meriam selama tujuh hari, tetapi tidak mati; kemudian ia dikeluarkan. Nenek moyang Datoe Ratoes dilubangi di batang kayu besar selama tujuh hari, namun juga tidak mati; setelah itu ia dilepaskan.
Raja Atjeh berkata bahwa kedua orang itu layak dijadikan raja, karena telah mampu bertahan dalam ujian. Namun nenek moyang Datoe Ratoes menyatakan kepada Tuankoe Ampon agar tidak dijadikan raja, karena terdapat orang lain yang lebih pantas dan ia hanya bertindak sebagai pengganti. Raja Atjeh kemudian berkata agar orang tersebut dibawa ke hadapannya sehingga dapat dilihat.
Kedua orang itu kembali ke negeri pulau tersebut. Setelah sampai di pulau, mereka bermufakat untuk pergi lagi ke Atjeh membawa persembahan. Nenek moyang Datoe Langkadeh diminta pergi, tetapi ia tidak bersedia. Nenek moyang Datoe Ratoes berkata bahwa jika mereka pergi maka mereka akan dijadikan raja. Namun ia tetap tidak mau pergi. Ia berkata kepada nenek moyang Datoe Ratoes agar pergi saja dan ia sendiri tidak menjadi raja, karena jika mengingkari janji di kemudian hari akan menimbulkan akibat buruk.
Nenek moyang Datoe Langkadeh kemudian bersumpah bahwa jika ia mengingkari janji yang telah dibuat, ia tidak akan selamat di dunia dan akhirat; ia bersedia menjadi buta dan tidak akan menjadi raja di negeri itu.
Setelah itu nenek moyang Datoe Nja Noeh bersama nenek moyang Datoe Ratoes pergi membawa persembahan ke Atjeh. Setelah sampai di Atjeh mereka bertemu dengan raja dan menyerahkan persembahan tersebut. Raja kemudian menetapkan bahwa nenek moyang Datoe Nja Noeh menjadi raja negeri Simaloer, sedangkan nenek moyang Datoe Ratoes menjadi pamoentja di negeri Simaloer.
Sesudah mereka kembali ke pulau, dibuatlah aturan dalam negeri mengenai lima suku:
- satu suku Dagang dipimpin oleh Datoe Nja Noeh;
- satu suku Toefa dipimpin oleh Pamoentja Ratoes;
- satu suku Lasali;
- satu suku Bolawah dipimpin oleh Pamoentja Bandjar;
- dan satu suku Kaboe, yang imamnya adalah Datoe Langkadeh.
Demikianlah agar jelas adanya. Surat ini merupakan catatan kisah yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan kepada anak cucunya dan disalin oleh keturunannya, agar diketahui oleh semua orang sebagaimana keterangan yang tertulis di bawah ini.
Tamatlah penulisan surat ini. Amin.
Datoe Nja Ta dari suku Kaboe, keponakan dari Datoe Langkadéh sebagaimana disebut dalam tambo, dan seperti halnya tokoh tersebut merupakan keturunan dari Datoe Mantawaj yang akan disebutkan kemudian, tidak sependapat dengan kedua teks di atas. Ia kemudian menyampaikan suatu versi ketiga yang, bagi garis keturunannya, lebih menguntungkan.
Datoe Mantawaj dari suku Kaboe berangkat untuk mencari adiknya yang lebih muda, Béhoea. Dalam pengembaraannya ia tiba di Pangaroesan, tempat sebuah batang pohon menghalangi jalur pelayaran. Datoe Mantawaj menebang batang pohon tersebut. Ketika masih sibuk melakukan pekerjaan itu, datanglah Si Toefa, yang kemudian menjalin persaudaraan dengannya dan menyatakan akan senantiasa mengikutinya.
Keduanya melanjutkan perjalanan dan tiba di Simoeloel. Di sana mereka memasang pelana pada seekor kambing jantan dengan perlengkapan emas, lalu melepaskannya. Penguasa negeri, Laföng Lasali, yang melihat hewan tersebut, membunuh kambing itu dan mengambil emasnya.
Dengan demikian Datoe Mantawaj dan Si Toefa telah mencapai tujuan mereka: memperoleh suatu alasan untuk memerangi Laföng Lasali. Laföng Lasali mengalami kekalahan dalam pertempuran dan kemudian memohon bantuan kepada Datoe Aloeajan, yang selanjutnya memulihkan perdamaian. Datoe Mantawaj memperoleh setengah bagian dari kerajaan tersebut, sedangkan Laföng Lasali menyerahkan setengah bagian yang masih tersisa kepada Datoe Aloeajan.
Datoe Mantawaj memiliki seorang putri yang kemudian dinikahkan dengan sahabatnya, Si Toefa. Selain itu ia juga mempunyai seorang putra bernama Datoe Kaha.
Kemudian datang perintah dari Sultan Atjeh agar dikirimkan hadiah serta suatu utusan. Si Toefa berangkat ke Atjeh dan memperoleh ganjaran berupa janji bahwa ia diperkenankan menggantikan mertuanya dalam memerintah wilayah tersebut. Namun setelah kematiannya, pemerintahan itu seharusnya kembali kepada keturunan Datoe Mantawaj.
Sejak saat itu, bagaimanapun, pemerintahan tetap berada dalam garis keturunan Si Toefa, yang kemudian menimbulkan peperangan yang terus-menerus antara suku Kaboe dan Toefa.
Keturunan dari Si Toefa, Datoe Mantawaj, Laföng Lasali, dan Datoe Aloeajan masing-masing adalah: Si Lépé dari suku Toefa, Datoe Nja’ Ta dari suku Kaboe, Panglima Nja Gah dari suku Lasali, dan Datoe Lamba’ét dari suku Bolawa.
catatan:
Naskah sesuai aslinya , perubahan hanya pada ejaan penulisan (marjafri)
sumber: Bij
dragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1916.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar