Istilah oerang kapitoeroenan berasal dari kata toeroen yang berarti turun atau menurun (dalen, nederdalen), sehingga menunjuk pada seseorang yang menjadi tempat turunnya roh-roh. Dalam pengertian tersebut pula para doekoen dipercaya sebagai wadah atau media tempat turun roh-roh tersebut.
Namun, tidak selalu proses pengusiran penyakit berlangsung dengan cara seperti yang baru saja disebutkan. Dalam beberapa keadaan, seorang doekoen untuk tujuan tersebut berdiri di belakang sebuah koelamboe (tirai), setelah terlebih dahulu menekankan dengan sungguh-sungguh kepada pasien yang memohon pertolongannya, serta kepada semua orang yang mungkin hadir bersamanya, agar dalam apapun yang mereka lihat atau dengar nantinya harus tetap diam.
Setelah beberapa saat, di belakang tirai itu bagi doekoen muncul satu atau lebih roh yang bersahabat dengannya, dan terdengar bahwa ia berkonsultasi dengan mereka mengenai keadaan penyakit yang sedang dihadapi. Sesudah itu doekoen kembali muncul untuk memberitahukan kepada orang sakit di mana penyakit itu berasal, sekaligus memberikan obat-obatan yang diperlukan. Obat tersebut terlebih dahulu diludahi dan kemudian diucapkan suatu mantra magis atasnya.
Karena orang Minangkabau menyatakan bahwa selama pertemuan di balik tirai tersebut bukan suara roh yang terdengar, melainkan suara doekoen itu sendiri, maka tampaknya dalam hal ini tidak berhadapan dengan seseorang yang menjadi tempat turunnya roh, melainkan dengan seseorang yang memanggil roh-roh itu untuk dimintai nasihat.
Betapa kuatnya keyakinan bahwa soemangat dapat berkelana di luar tubuh untuk sementara waktu, tampak pula dalam kisah tentang hantoe haroe-haroe.
Diceritakan bahwa kadang-kadang seseorang yang sedang berjalan di dalam kegelapan bertemu dengan sosok misterius yang sangat menyerupai saudara laki-lakinya, pamannya, atau salah seorang kenalan dekatnya. Sosok itu kemudian mengajaknya mengikuti dirinya menuju rumah atau suatu perayaan.
Apabila ajakan tersebut diikuti, orang itu tiba-tiba mendapati dirinya berada di suatu negeri yang menakjubkan, penuh dengan jalan-jalan lebar dan hutan-hutan yang indah, tempat aroma bunga yang sangat harum menyambutnya. Ia dibawa jauh, sangat jauh oleh roh penyesat, hantoe haroe-haroe, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung yang indah dengan rumah-rumah megah serta tempat-tempat pemandian yang menyenangkan.Perempuan - perempuan cantik dan para pemuda yang penuh semangat menyambut kedatangannya. Para penunggang kuda, yang menunggangi kuda-kuda yang megah, berlari dengan gerakan yang anggun, dan kepada dirinya pun diberikan seekor kuda yang bersemangat untuk ditunggangi. Para gadis muda memainkan musik yang merdu dan mengajaknya untuk turut serta. Para penari lelaki dan perempuan bergerak mengikuti irama nada yang indah dengan gerakan yang ringan dan luwes.
Ia dijamu oleh tuan rumah yang ramah dengan berbagai makanan dan minuman yang aroma serta rasanya sama sekali belum pernah dikenalnya. Keinginan untuk tetap tinggal di negeri yang indah itu pun muncul.
Namun kenyataannya, keadaan tersebut tidak lain merupakan suatu mimpi dalam bentuk yang khas. Hal itu tampak dari kisah orang Minangkabau mengenai cara menemukan seseorang yang terkena pengaruh semacam itu. Orang yang demikian dicari dengan memukul berbagai alat musik seperti gandang, tjènang, dan sebagainya, sambil tanpa henti berteriak memanggil namanya. Oleh kegaduhan tersebut ia kemudian tersadar kembali. Biasanya orang itu ditemukan di bawah pohon besar atau di antara semak belukar.
Keyakinan bahwa soemangat dapat meninggalkan tubuh dan kemudian kembali lagi menjadi dasar dari praktik yang disebut "Manggasiang", suatu bentuk sihir yang kerap digunakan oleh kekasih yang diliputi rasa dendam. Mereka meyakini bahwa melalui sihir tersebut dapat diperoleh bantuan roh-roh jahat untuk membawa pergi soemangat dari perempuan yang menolak cinta mereka, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam keadaan kegilaan yang dikenal dengan nama "Si Djoendai", yang sering dijumpai di kalangan perempuan di daerah Padangsche Bovenlanden.
Untuk tujuan tersebut diusahakan memperoleh tulang dahi (tangkorak) dari seorang "oerang barani" atau "oerang barélémoe" yang telah meninggal, serta beberapa helai rambut dari korban yang dimaksud. Tulang tersebut kemudian dibentuk menyerupai sebuah cakram; rambut korban dililitkan di sekelilingnya, lalu dibuat beberapa lubang sehingga alat itu, apabila seutas tali yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut ditarik ke sana kemari, akan menghasilkan bunyi dengungan.
Dengan gasiang tersebut, setelah diucapkan mantra, pelaku biasanya pergi pada waktu malam ke suatu tempat keramat di dalam hutan. Di sana, sambil menarik tali pada alat tersebut, dipanggillah bantuan roh-roh untuk mencapai tujuannya.
Apabila maksud itu berhasil, perempuan yang menjadi sasaran mulai mengalami serangan kegilaan yang memuncak dalam perilaku yang sangat liar: ia berteriak-teriak, memanjat ke berbagai tempat, merobek atau menanggalkan pakaiannya sendiri, sambil terus-menerus memanggil nama kekasihnya.
Satu-satunya cara untuk menghentikan keadaan ini adalah apabila salah seorang kerabat darah dari orang yang terkena sihir tersebut, melalui praktik manggasiang pula, berhasil mengusir roh-roh jahat itu atau membujuk mereka agar juga mengganggu soemangat dari pihak yang menyerang.
Si Djoendai Paka' merupakan penyakit yang serupa, tetapi tidak disebabkan oleh manggasiang. Penyakit ini terjadi karena perempuan tersebut memakan berbagai kotoran yang secara tersembunyi telah dicampurkan ke dalam makanannya oleh kekasih yang ditolaknya.
Suatu kebiasaan lain yang berkaitan dengan keyakinan tersebut adalah praktik yang disebut "Maninggam". Apabila seseorang tidak mampu meredakan dendamnya atau cintanya terus-menerus tidak terbalas, ia meminta bantuan seorang oerang barélémoe untuk menimpakan "tinggam" kepada orang yang menjadi sasaran kebencian atau cintanya yang putus asa.
Setelah memberikan keterangan yang diperlukan kepada tukang sihir mengenai nama, perilaku, bentuk tubuh, tempat tinggal, dan keluarga dari orang yang dimaksud, dibuatlah sebuah boneka yang melambangkan korban. Boneka itu kemudian dibawa ke hutan dan digantung pada sebuah pohon yang berdiri sendiri.
Sambil mengucapkan mantra, sebuah benda ditusukkan melalui bagian pusar boneka itu hingga menembus batang pohon, sehingga getah pohon tersebut mengalir melalui lubang yang terbentuk.
Getah tersebut dianggap sebagai soemangat dari korban. Tidak lama kemudian korban mulai mengalami tinggam, yang semakin lama semakin parah dan hanya dapat disembuhkan apabila kerabat darahnya berhasil memperoleh sepotong kayu dari pohon tersebut. Apabila hal itu tidak berhasil dilakukan, maka orang yang sakit itu akan meninggal.
Sebagaimana terdapat cara untuk mengembalikan soemangat yang telah meninggalkan tubuh, dalam beberapa keadaan juga diyakini bahwa kepergiannya dapat dicegah. Karena itu, misalnya, kepada seorang perempuan yang baru melahirkan kadang-kadang diikatkan seutas benang atau tali pada pergelangan tangan atau pinggangnya. Dengan demikian, soemangat yang hendak melarikan diri dianggap tidak dapat keluar.
Selanjutnya timbul pertanyaan mengenai dalam bentuk apa roh kehidupan meninggalkan tubuh. Pandangan mengenai hal ini berbeda-beda. Pada masa kini banyak orang berpendapat bahwa roh, sebagai sesuatu yang tidak berwujud materi, tidak memiliki bentuk atau rupa.
Namun demikian, bahwa pada masa sebelumnya terdapat pandangan lain di kalangan orang Minangkabau dapat diketahui antara lain dari isi pantun yang telah disebutkan sebelumnya, serta dari ungkapan “soemangat berdiri di tangga”, yang digunakan untuk menandai kembalinya roh kehidupan ke dalam rumah seorang yang sakit.
Sebagian doekoen menyatakan bahwa soemangat pergi dan kembali dalam bentuk homunculus. Yang lain berpendapat bahwa hal itu terjadi dalam bentuk rangik, yaitu lalat. Dari sinilah muncul kebiasaan menyediakan makanan untuk memancing kembalinya roh tersebut; lalat pertama yang hinggap pada makanan itu dianggap sebagai roh kehidupan yang kembali.
Contoh lain yang mencerminkan pandangan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah nyanyian ratapan kematian yang disebut "Ratok Patimah", yang dinyanyikan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal (kapalengah-lengah hati nan kamatian). Nyanyian tersebut antara lain memuat bait-bait berikut:
Ditjantjang-tjantjang batang hinai
Ditjantjang tjantjang djõ radawan
Lah tarabang boeroeăng pingai
Tarabangno manjisi’ awan
Ditjantjang-tjantjang batang hinai
Dibari dimakan hajam
Ma’ tarabang boeroeăng pingai
Tinggalah sangkak tampat diam
Ditjantjang-tjantjang batang hinai
Ditjantjang laloe ka pangkanö
Ko’ pai si boeroeăng pingai
Lah tingga sangka' karosongno
Dengan cukup jelas dalam bait-bait di atas tampak gambaran yang dahulu dimiliki, dan pada sebagian orang masih terdapat hingga kini, bahwa jiwa meninggalkan wadahnya dalam wujud seekor burung.
Dr. Wilken menunjukkan bahwa kata koer atau koeroe pada beberapa masyarakat di Kepulauan Nusantara digunakan untuk memanggil soemangat, seakan-akan ia adalah seekor burung atau ayam, baik untuk mencegah agar ia tidak terbang pergi maupun untuk membuatnya kembali apabila ia telah terbang meninggalkan tubuh. Demikian pula seruan "koer soemangatnja" merupakan ungkapan yang sangat umum diucapkan ketika seseorang tiba-tiba jatuh sakit atau terkejut, keadaan yang dianggap menyebabkan soemangat meninggalkan tubuh.
Meskipun makna yang tepat dari koeroe atau koer kini tidak lagi dapat dijelaskan dengan pasti, dan secara umum kata tersebut sering dianggap sebagai bentuk yang berubah dari koeroes (kurus), suatu anggapan yang sebenarnya tidak sesuai dengan pengucapannya, yang dalam hal itu seharusnya berbunyi koeroeih, faktanya kata ini masih kadang-kadang terdengar dari mulut orang Minangkabau. Misalnya diucapkan oleh seorang ibu ketika anaknya terkejut, dengan maksud memanggil kembali roh kehidupan yang telah terlepas dari diri anak tersebut.
Orang Minangkabau juga kadang-kadang mengucapkan koer atau "koeroe soemange'" dalam arti yang merendahkan ketika berbicara tentang sesuatu yang berguna atau bermanfaat, karena adanya kekhawatiran bahwa roh kehidupannya, sebagai hukuman atas suatu kesalahan, akan meninggalkannya.
Walaupun penggunaan kata-kata tersebut kini tidak lagi umum dan makna sebenarnya tidak lagi dipahami dengan jelas, dari contoh-contoh yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa, sebagaimana di tempat lain di Kepulauan Nusantara, pada masa lampau di daerah ini pun soemangat pernah dianggap memiliki wujud seekor burung.
Adapun mengenai di bagian mana dalam tubuh manusia soemangat bersemayam, orang Minangkabau sendiri tidak dapat menyebutkannya dengan pasti. Banyak doekoen berpendapat bahwa tempatnya berada di dalam jantung, dan sebagai alasan atas pandangan tersebut mereka mengemukakan hal berikut:
"Apabila seseorang terkejut, ia pertama-tama meletakkan tangannya pada dada, karena jantungnya mulai berdebar akibat perginya soemangat, yang oleh orang Minangkabau disebut darah koemirő."
Selanjutnya dikemukakan bahwa sekalipun seseorang kehilangan tangan dan kakinya, atau mengalami luka berat pada kepala, ia masih dapat tetap hidup; tetapi apabila jantungnya ditusuk hanya dengan sebatang lidi halus dari pelepah kelapa, ia pasti akan mati.
Pandangan tersebut juga dianggap diperkuat oleh praktik yang disebut "Manggayuăng urang". Praktik ini merupakan suatu cara yang digunakan oleh seseorang yang membenci orang lain. Sambil memohon agar berbagai malapetaka, penyakit, bahkan kematian menimpa musuhnya, orang itu secara diam-diam menepuknya dengan tangan atau dengan dua jarinya, atau sekadar menyentuhnya dengan kaki, sambil membayangkan bahwa ia sedang mengenai jantungnya.
Bagian tubuh ini diyakini memiliki sebuah tali (semacam urat atau ikatan), yang dapat putus akibat sentuhan tersebut; apabila tali itu putus, kematian akan segera menyusul. Jika tali itu tidak putus, maka akibatnya tetap berupa penderitaan yang panjang, rasa sakit yang hebat, serta berbagai kemalangan lainnya.
Sebaliknya, terdapat pula doekoen lain yang berpendapat bahwa soemangat berada di seluruh tubuh. Pandangan ini dianggap tercermin dalam ungkapan "badiri kabatang toeboeah" yang terdapat dalam pantun yang telah disebutkan sebelumnya. Sementara itu, jika memperhatikan bait-bait lain dalam pantun yang sama, jari manis, ibu jari, ibu jari kaki, serta pupil mata merupakan bagian-bagian tubuh yang secara khusus dianggap sebagai tempat bersemayamnya soemangat.
(Bersambung..)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar