Sabtu, 21 Maret 2026

Raden Mas Jodjana: Penari Jawa di Panggung Dunia dan Lahirnya Sintesis Timur–Barat


 Pada awal abad ke-20, ketika seni pertunjukan Timur mulai memasuki ruang apresiasi Eropa, muncul sosok Raden Mas Jodjana sebagai representasi penting dari tari Jawa di panggung internasional. Ia tidak hanya memperkenalkan bentuk estetika tradisional kepada publik Barat, tetapi juga mengembangkan pendekatan artistik yang memperlihatkan pertemuan antara warisan budaya Jawa dan dinamika modernitas Eropa. Dalam proses tersebut, Jodjana memperoleh pengakuan luas di berbagai kota besar Eropa, sekaligus menghadapi perdebatan mengenai kemurnian dan perubahan dalam seni tari Jawa.

Kedudukan inilah yang kemudian menjadi landasan dalam uraian berikut, yang menampilkan bagaimana Jodjana dipandang di Eropa, perjalanan artistiknya, serta perannya sebagai pembaru dalam perkembangan tari Jawa. Berikut tulisan selengkapnya:


Dari Tradisi Keraton ke Eropa: Jejak Artistik, Kontroversi, dan Pembaruan Tari Jawa


Jodjana telah menjadi seorang penari dengan arti penting di Eropa. Di antara tokoh-tokoh besar koreografi pada zamannya, ia menempati posisi yang sepenuhnya khas, baik dari segi kepribadian maupun makna artistiknya. Dalam hal ini tidak terdapat keraguan: apabila berbicara dengan seniman-seniman seperti La Argentina atau Jooss, dan menyebut nama Raden Mas Jodjana, segera tampak ketertarikan yang besar. Ia dikenal. Ia telah disaksikan. Atau setidaknya, namanya telah dikenal luas dalam kalangan seniman. Tur besar yang dilakukannya di Eropa membenarkan ketenaran tersebut. Prancis, khususnya Paris, menyambutnya dengan penuh antusiasme. André Levinson menulis artikel yang penuh pujian tentang dirinya dalam majalah Comoedia.


Di Warsawa, ia disebut sebagai salah satu peristiwa terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dan penulis ternama Eropa, Julius Kaden-Bandrowski, bahkan secara pribadi menyapanya di atas panggung. Di Italia, keberhasilannya tidak kalah besar: Milan, Turin, Firenze, dan kota-kota lainnya dikunjunginya dengan sukses. Di Jerman, rangkaian kota yang didatanginya meliputi Berlin, Hamburg, Leipzig, Stettin, Hannover, Essen, Königsberg, Frankfurt, dan lain-lain. Rangkaian panjang ini berlanjut di Austria, dimulai dari Wina. Setelah itu menyusul Inggris, khususnya London, serta wilayah Skandinavia, di mana ia meraih kesuksesan besar, antara lain di Oslo. Rangkaian keberhasilan ini disebutkan bukan tanpa maksud. Rata-rata orang Belanda cenderung enggan mengakui keberhasilan seniman di lingkungannya sendiri, dan pernah beredar anggapan keliru bahwa Jodjana “sebenarnya tidak lagi tampil” karena ia konon telah kehilangan kemampuan menari akibat terlalu lama meninggalkan Jawa. Bahkan pernah ada seorang “ahli” di Paris yang menyatakan bahwa Jodjana adalah seorang pemuda Amsterdam, seorang Belanda cerdik dan bukan orang Jawa. Ketika bukti menunjukkan kekeliruan tersebut, muncul klaim lain bahwa Jodjana bukan berasal dari Vorstenlanden, yang menurut “ahli” tersebut dapat dilihat dari gaya tariannya.


Jodjana tidak hanya memperkenalkan semangat Jawa kepada Eropa melalui tari Jawa—yang tanpa dirinya tidak akan dipahami oleh banyak orang—melainkan juga, dan ini merupakan jasanya yang terbesar, sebagai seniman kreatif yang penting. Dalam lingkup seni yang digelutinya dan berlandaskan tari Jawa, ia menciptakan karya-karya tari baru yang orisinal. Dengan demikian, di hadapan masyarakat Eropa ia menjadi semacam “misionaris” seni tari Jawa, sementara bagi bangsanya sendiri ia menjadi pembaru dan pengembang dari suatu tradisi lama. Ia mempertahankan gestur, sikap, dan prinsip lama, namun di atas fondasi tersebut tumbuh tarian-tarian baru.


Banyak yang beranggapan bahwa seni tari Jawa adalah seni yang telah mati, sebagaimana bahasa Yunani dan Latin disebut sebagai bahasa mati. Memang benar, tari Jawa sangat tua, namun salah satu bentuknya yang paling indah, yakni Wayang Wong (teater tari Jawa), jika dilihat dalam rentang sejarah panjang, justru relatif baru. Bentuk ini mencapai keindahan seperti sekarang pada masa Mangkunegara I pada paruh kedua abad ke-18, yang mengangkat Wayang Wong ke tingkat estetika tinggi dan menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan besar.


Apabila Jodjana dikritik karena dalam tari Jawanya ia melakukan penyesuaian terhadap selera penonton Barat, maka kritik tersebut sejatinya juga berlaku bagi semua seniman besar yang menyesuaikan karya mereka dengan tuntutan panggung Eropa. Tarian Spanyol La Argentina pun berbeda dari bentuknya di desa-desa Spanyol. Bahwa Jodjana berkarya secara kreatif merupakan hak sepenuhnya, dan hal itu sejalan dengan perkembangan di Jawa sendiri, di mana, misalnya di Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Soerjodiningrat dan tokoh lainnya, juga diciptakan tari-tarian baru.


Jodjana telah membawa banyak orang mengenal tari Jawa dan membuka bagi mereka dunia keindahan yang luhur serta keagungan religius. Ia juga menghadirkan pengalaman emosional melalui seninya, yang patut disyukuri.


Raden Mas Jodjana lahir pada 6 Februari 1893 di Yogyakarta. Ia memperoleh pendidikan tari secara khusus di keraton, di bawah bimbingan pejabat tinggi istana. Dalam pendidikan seorang bangsawan Jawa, tari, berkuda, dan sastra klasik memiliki kedudukan yang setara dengan olahraga, musik, dan sastra dalam pendidikan Barat. Menjelang Perang Dunia, ia berangkat ke Belanda. Perang tersebut sangat mengguncangnya, namun yang lebih menggugah lagi adalah banjir besar di Hindia pada tahun 1916. Peristiwa ini mendorongnya menyelenggarakan pertunjukan tari Jawa pertamanya secara spontan, sebagai bentuk bantuan bagi korban di tanah airnya.


Dalam masa pergolakan dunia tersebut, di Belanda muncul dua tokoh Jawa yang berkembang sebagai seniman: Raden Mas Noto Soeroto sebagai penyair, dan Raden Mas Jodjana sebagai penari. Jodjana kemudian masuk ke dalam lingkungan seniman Belanda dan menjadi sosok yang diterima dengan baik. Isaäc Israëls membantunya memahami impresionisme. Ia juga berinteraksi dengan Herman Robbers, Cris Lebeau, Bremmer, dan kemudian pematung Altorf.


Melalui pergaulan ini, Jodjana semakin menyadari potensi artistiknya. Ia mulai menggambar, melukis, dan membuat karya ukir kayu. Pada tahun 1921 ia pergi ke Paris dan bekerja sebagai perajin seni di studio Jean Dunan. Sejak tahun 1917 ia telah menjadi penari kreatif dan menciptakan karya “Vishnu”, yang menjadi salah satu tarian terpentingnya. Ia kemudian menikah; istrinya, seorang murid Inayat Khan, bekerja sama dengannya terutama dalam bidang musik. Dalam tahun-tahun berikutnya ia juga bekerja sama dengan murid berbakatnya, Roemahlasailan.


Perlu dicatat bahwa Jodjana menambahkan unsur tertentu dalam tari Jawa yang diakui bukan berasal dari tradisi Jawa, yakni ekspresi wajah yang mencerminkan emosi batin. Hal ini bukan berarti ia memasukkan unsur tari Barat, melainkan menambahkan unsur akting ke dalam seni pertunjukan Jawa. Bagi sebagian kalangan, hal ini mungkin dianggap penyimpangan, namun dapat pula dipandang sebagai pengayaan. Dalam hal ini tampak adanya unsur sintesis, yakni kemungkinan pertukaran dan percampuran unsur budaya yang menghasilkan bentuk baru.


Dalam karya-karya terbaiknya seperti “Vishnu”, “Shiva”, “Arjuna”, dan terutama tarian terakhirnya yang menggambarkan penciptaan dunia dan sistem tata surya yang berputar, muncul pertanyaan apakah karya tersebut sepenuhnya dapat disebut sebagai tari Jawa. Bahkan mungkin melampaui batasan tersebut.


Seperti halnya dalam seni di berbagai bangsa, suatu karya dapat melampaui identitas asalnya. Dalam tarian-tarian tersebut terdapat keindahan dan daya getar emosional yang mendalam, yang patut diapresiasi sebagai sumbangan penting dalam dunia seni.


sumber: De delver; het vrije kunstorgaan, jrg 8, 1934-1935, n

o. 8, 1934

edited by marjafri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar