Minggu, 08 Maret 2026

"Kisah Toeankoe Manggarang dalam Tambo Simeulue".



 Pendahuluan


Kisah Toeankoe Manggarang merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi tambo dari Pulau Simeulue, yang dalam sumber-sumber lama sering ditulis sebagai Simaloer atau Simoeloel. Cerita ini mengisahkan perjalanan seorang tokoh dari negeri seberang yang berlayar menuju pulau tersebut bersama para pengikutnya, hingga akhirnya berhubungan dengan para pemimpin dan tokoh agama setempat.


Dalam perjalanan kisah ini diceritakan pertemuan Toeankoe Manggarang dengan tokoh-tokoh penting negeri, termasuk Teungkoe di Oedjoeng, serta peristiwa-peristiwa yang kemudian menentukan kedudukan dan peran para pemimpin adat di Simaloer. Melalui rangkaian pertemuan, konflik, dan pengangkatan kedudukan, cerita ini memperlihatkan bagaimana hubungan antara pendatang, ulama, dan pemimpin adat membentuk tatanan masyarakat di pulau tersebut.


Kisah ini bukan sekadar cerita perjalanan seorang tokoh, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif masyarakat tentang asal-usul kedudukan para datoe, hubungan kekuasaan di negeri, serta terbentuknya adat yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi di Simaloer.


"Kedatangan di Teluk Simoeloel"


Tradisi lisan ini mengisahkan tentang kedatangan seorang tokoh dari negeri seberang dan terbentuknya hubungan kekuasaan adat di Pulau Simeulue. Dikisahkan tentang seorang toeankoe yang keras wataknya, berasal dari Pulau "Banyak". Ia berlayar menuju Teluk Simoeloel. Setelah tiba di teluk itu, ia memanggil para penguasa negeri dan berkata:


“Aku datang ke negeri kalian untuk melihat-lihat. Aku tidak membawa uang. Karena itu kalian harus memberi aku makan.”


Para penguasa menjawab: “Baik. Sebanyak yang dapat diperoleh akan kami berikan sebagai makanan untukmu.”


Sesudah itu mereka bersepakat di antara mereka sendiri bahwa setiap waktu makan mereka akan menyediakan makanan bagi toeankoe tersebut. Setiap penguasa harus menyediakan satu piring nasi yang telah dimasak. Setiap hari seorang penguasa mendapat giliran, dan semuanya secara bergiliran menyediakan makanan. Namun ketika mereka mengantarkan makanan itu, jika matahari telah tinggi ia memukul mereka. Jika makanan itu datang sangat pagi pada waktu pagi hari, ia juga memukul mereka. Demikianlah hal itu terus berlangsung.


"Pencarian Rahasia Ilmu Pedang"


Para pengikut toeankoe itu kemudian turun ke darat untuk berlatih bermain pedang. Anak dari Teungkoe di Oedjoeng melihat hal itu lalu mendekati mereka untuk menyaksikan latihan tersebut dan menirukan gerakan mereka. Akhirnya anak teungkoe itu menjadi mampu bermain pedang dan kemudian menanyakan rahasia terakhir dari ilmu pedang tersebut.


Para pengikut toeankoe berkata: “Kami tidak mengetahui rahasia terakhir dari ilmu pedang itu. Pergilah menanyakannya kepada Toeankoe Manggarang.”


Anak itu menjawab: “Baik, besok pagi aku akan menanyakan rahasia terakhir dari ilmu pedang itu.”


Keesokan paginya anak Teungkoe di Oedjoeng datang. Ketika ia tiba, Toeankoe Manggarang memukulnya. Anak itu berkata: “Jangan memukulku. Aku datang untuk menanyakan rahasia terakhir dari ilmu pedang kepada tuan, wahai toeankoe. Aku disuruh oleh para pengikut tuan. Mereka berkata: Pergilah menanyakan kepada toeankoe rahasia terakhir dari ilmu pedang. Karena itu sekarang aku datang. Katakanlah kepadaku rahasia terakhir dari ilmu pedang itu.”


Toeankoe Manggarang menjawab: “Aku tidak mengetahui rahasia terakhir dari ilmu pedang itu. Mengapa engkau begitu berani menanyakan rahasia terakhir dari ilmu pedang? Justru engkau yang harus mengatakannya kepadaku, sebab engkau yang mengetahuinya.”


Anak Teungkoe di Oedjoeng berkata: “Aku tidak mengetahuinya. Karena itulah aku menanyakannya kepada tuan, wahai toeankoe. Ajarkanlah kepadaku kapoetoesan silèk (Silat).”


Toeankoe Manggarang berkata: “Mari kita pergi ke darat. Aku akan memenggal kepalamu. Engkau terlalu berani menanyakan kapoetoesan silè itu. Lagi pula aku tidak takut kepadamu.”


Anak itu berkata: “Baik, wahai toeankoe. Namun berilah aku waktu dua malam. Setelah dua malam itu berlalu, penggallah aku.”


"Ujian Keberanian dan Kapoetoesan Silèk"


Ia pun pulang ke rumahnya, anak Teungkoe di Oedjoeng. Setelah sampai di rumah ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayah, tampaknya hari-hari hidupku sudah terhitung. Toeankoe Manggarang akan membunuhku karena aku menanyakan kepadanya kapoetoesan silè. Ia menjadi marah dan berkata bahwa ia akan memenggal kepalaku.”


Teungkoe di Oedjoeng berkata: “Bukankah sebelumnya sudah kukatakan kepadamu: jangan mendekati Toeankoe Manggarang itu. Wataknya keras. Nanti ia akan membunuhmu. Tetapi engkau tetap pergi. Sekarang lihatlah akibatnya. Jika sekarang ia membunuhmu, biarlah demikian. Aku merelakan jiwamu pergi.”


Anak Teungkoe di Oedjoeng menangis dan berkata: “Baiklah ayah. Biarlah Toeankoe Manggarang membunuhku.”


Setelah masa dua hari yang disepakati itu berakhir, anak Teungkoe di Oedjoeng pun berangkat. Ia memberi salam kepada ayah dan ibunya. Ketika ia sudah sampai di pintu, ibunya memanggilnya kembali dan berkata: “Datanglah sebentar ke sini, anakku, agar aku menyampaikan kepadamu rahasia terakhir dari ilmu pedang. Ayahmu pernah sedikit menceritakannya kepadaku.”


Ia kembali masuk ke rumah dan memberi salam kepada ibunya. Ibunya kemudian menyampaikan kepadanya kapoetoesan silè. Setelah itu anak Teungkoe di Oedjoeng berangkat kembali untuk memenuhi perjanjiannya dengan Toeankoe Manggarang.


Setelah tiba di hadapan Toeankoe Manggarang, ia berkata: “Aku telah datang, wahai Toeankoe Manggarang. Penggallah aku. Apa pun yang akan tuan lakukan terhadapku tidaklah menjadi soal. Lakukanlah saja. Suruhlah mereka menggali lubang untukku agar mudah memenggal kepalaku.”


Toeankoe Manggarang berkata: “Baik. Gali lubang di tanah itu dan tanamkan dia di sana sampai sebatas pinggang agar aku dapat memenggal kepalanya.”


Mereka menggali tanah, lalu memasukkan anak itu ke dalam lubang hingga sebatas pinggang. Setelah itu toeankoe mengambil pedangnya dan menyerahkannya kepada panglimanya sambil berkata: “Penggallah anak ini.”


Panglima itu berkata: “Baik, wahai toeankoe. Biarlah aku mencoba.” Ia menebas, tetapi tebasannya tidak mengenai sasaran. Setelah ia menebas berkali-kali hingga kelelahan, ia menyerahkan pedang itu kepada Toeankoe Manggarang. Toeankoe Manggarang kemudian menebas anak itu, tetapi ia pun tidak berhasil mengenainya.


"Pengangkatan Datoe Dagang"


Setelah merasa lelah menebas anak Teungkoe di Oedjoeng itu, Toeankoe Manggarang berkata: “Biarlah aku tidak membunuhmu. Mulai sekarang kita menyatakan diri sebagai saudara. Engkau menjadi adik kami, dari dunia ini hingga ke alam akhirat. Aku mengangkat engkau menjadi kepala bagi para pendatang di negeri ini; engkau menjadi kepala orang-orang asing.” Ia kemudian mengajukan hal itu kepada para pangoeloe dan pamoentja di negeri tersebut.


Pada hari Jumat berikutnya Toeankoe Manggarang pergi ke masjid untuk bertemu dengan para kepala negeri. Ia berkata kepada mereka: “Inilah seorang laki-laki, anak Teungkoe di Oedjoeng. Ia telah kuangkat menjadi adikku. Aku mengangkatnya menjadi kepala bagi para pedagang yang datang dari laut dengan gelar datoe dagang.”


Para kepala negeri menjawab: “Baik, wahai toeankoe. Jika demikian kehendak tuan, maka hal itu tidak menjadi keberatan. Namun hendaknya hal ini disampaikan kepada ayahnya, Teungkoe di Oedjoeng.”


Kemudian mereka mendatangi Teungkoe di Oedjoeng dan berkata bahwa Toeankoe Manggarang meminta agar anaknya diangkat menjadi datoe dagang. Teungkoe di Oedjoeng menjawab bahwa anaknya tidak boleh memegang jabatan adat di negeri itu, karena ia sendiri berada di negeri tersebut sebagai pengganti pelaksanaan kewajiban hajinya. Karena itu anaknya tidak boleh mencampuri urusan adat negeri.


Toeankoe Manggarang kemudian berkata bahwa anak itu tidak perlu menjatuhkan hukuman kepada orang-orang negeri. Ia hanya bertugas membawa para pendatang dari kapal untuk dihadapkan kepada para pembesar negeri. Teungkoe di Oedjoeng menjawab bahwa jika demikian tidak ada keberatan.


"Konflik Adat dan Kepergian ke Negeri Melayu"


Sekitar satu tahun setelah ia menjadi datoe dagang, terjadi suatu peristiwa ketika seorang penduduk negeri melakukan kesalahan dan dijatuhi hukuman. Hal itu membuat Teungkoe di Oedjoeng marah. Ia berkata kepada anaknya bahwa sejak dahulu telah diperingatkan agar tidak mencampuri urusan adat negeri, karena dengan demikian ia dapat berbuat salah terhadap penduduk negeri. Karena itu anaknya tidak boleh lagi menjadi datoe dagang.


Anaknya menjawab bahwa jika ia tidak boleh lagi menjadi datoe dagang, maka ia akan meninggalkan negeri itu dan pergi ke negeri Melayu.


Teungkoe di Oedjoeng berkata bahwa mereka tidak memiliki emas untuk bekal perjalanan. Hanya ada satu kati emas, yang kemudian dibagi tiga: satu bagian untuk ibunya, satu bagian untuk ayahnya, dan satu bagian untuk anaknya. Sebuah Al-Qur’an diberikan kepada ibunya, sebuah kitab diberikan kepada anaknya, dan sisanya tinggal pada ayahnya.


Anak itu kemudian meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk pergi meninggalkan negeri itu. Mereka pun memberikan izin sambil berkata: “Pergilah dengan selamat. Semoga engkau selamat, dan kami pun selamat, dari dunia ini hingga ke alam akhirat.”


catatan:


Naskah sesuai aslinya, perubahan hanya pada ejaan penulisan (marjafri) 

sumber: Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1916.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar