Senin, 13 April 2026

“Ujung Tanah Pagaruyung, Serambi Alam Minangkabau: Deskripsi Kerinci dalam Sumber Kolonial Tahun 1876”


Uraian berikut bersumber dari publikasi Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, edisi 1 Januari 1876, yang juga dikenal dengan judul alternatif “Verslagen en Mededeelingen”. Naskah ini memuat keterangan mengenai wilayah Kerinci yang dihimpun oleh Perhimpunan Ilmu Bumi berdasarkan laporan lapangan serta informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.


Data utama dalam uraian ini berasal dari Charles Adriaan van Ophuijsen, yang pada periode 1842–1845 bertugas sebagai kontrolir di Moko-Moko. Keterangan tersebut diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas perdagangan masyarakat Kerinci, serta interaksi yang berlangsung secara rutin antara penduduk pedalaman dan kawasan pesisir.


Selain itu, naskah ini dilengkapi dengan informasi tambahan dari sumber pribumi, yang mencakup unsur tradisi lisan serta penjelasan mengenai jalur komunikasi antara Kerinci dengan pantai timur dan barat Sumatra. Pembahasan juga mencakup aspek bahasa dan tulisan, yang dibandingkan dengan catatan terdahulu oleh William Marsden dan John Crawfurd.


Dengan demikian, bagian berikut menyajikan landasan deskriptif mengenai kondisi Kerinci pada masa tersebut, yang menjadi pengantar bagi pemaparan isi bab selanjutnya.


a. Negri Korintji.


I Poeloe Sangkar; II Temenggoengan Loeboe Kakoe; III Lempahoeng; IV Moewakh; V Prindoeng; VI Kaloeroe; VII Kotta Rawang; VIII Kramanten; IX Kotta Měnjidin; X Sěmoeroet; XI Soengei Panoeh; XII Soelak; XIII Sahoelak; XIV Lampoer; XV Kota Padang; XVI Pandoeng; XVII Lolo; XVIII Serampei; XIX Tandjoeng Katilam; XX Renah Aoel; XXI Prabo; XXII Renah Alei (Serampei-vallei); XXIII Tandjoeng Sari; XXIV Kota Tegoeh (Soengei Tenang); XXV Soengei Tenang; XXVI Kota Benkirai.


b. Batang ayer nan gedang namanja Merangin toeroenja ka Djambi.


c. Adat djoeraian negri itoe samoeanja berbagi doea; hingga Rawang Kayoe aro běrtoean kamoedik bersoetan ka Djambi-hingga Rawang Kayoe aro ka-ilir berradja ka Menangkarbaoe.


d. Di dalam bantjangan orang toea, Negri Korintji bērnama Oedjoeng tanah Pagar roeyoeng, Soerambi alam Menangkarbaoe; tatkala masa ninik toean Sech Sanggéno Koerao, berdoea děngën ninik Përpatih Sebatang dan Katěměnggoengan, mendapat ka Poeloe Sangkar; tiba di Poeloe Sangkar ninik toean Sech Sanggéno Koerao, bergalar Toeankoe Sorban Koening, beranak laki-laki, di djadikan daoelat di Kampoeng Dalam, mamréntah alam Korintji; běranak poela laki-laki, bērnama Toeankoe nan Begondjong; di bawah itoe tiada lagi bērtoeankoe, malainkan Soetan Soetan sadja; iang pertama iyalah bernama Soetan Iskandar Dzoel Karnin Chalipatoella, saorang Bagindo Soetan Amas.


e. Adapoen orang gedang di bawah Radja, pangkatnja; 1. Děpati; 2. Rio; 3. Patih; 4. Pamangkoe.


f. Pada masa membantei kěrbaoe tengah doea di Boekit Penindjaoe Laoet, képing seboeah di pětiga, iyalah akan pěmběli asam, garam, lada; darah nan sama di tjatjah, daging nan sama di lapah; di karang soempah sati di soeratkan di tandoek karbaoe; itoe Goenoeng nan běpoetjook laloe kapësisir Balikh Boekit, daoelat iang di Pertoean nan poenja; djikalaoe toeroen anak kemanakan dari Korintji kapësisir laoet, iyalah iang di Pertoean nan akan mengatahoei; itoelah perboeatan dëngën Sulthan Indrapoera.


g. Djalan ka Negri Korintji.


1. Dari Indrapoera ka Tapan, djalan satoe hari; dari Tapan měněmpoeh rimba 2 malam, sampei di Korintji ka negri Rawang; adapoen djalan itoe banjak naik toeroen.


2. Dari Mocco-Mocco ka Soengy Batoeng satoe hari; dari Soengy Batoeng 2 malam měnémpoeh rimba ka negri Rawang; adapoen djalan itoe koerang naik toeroen.


3. Dari Darat, iyalah dari Soengy Pagoe 6 malam menempoeh rimba sadja, tida banjak naik toeroen, tetapi banjak loempoer.


4. Djikalaoe moedik dari Djambi sama praoe, sampei di Pangkalan; dari Pangkalan djalan kaki sadja měmoedikkan Batang Ayer Merangin, kira-kira selapan hari lebeh koerang.


4. Toelisan dan bahasanja.


1. Orang Korintji loghatnja sedikit lain, dan bahasanja sama djoega Mělayoe di sini.


2. Toelissanja hoeroef Arab, sëpërti Melayoe di sini djoega.


Isi naskah ini, yang karena kekhasan lokal serta kemungkinan kesalahan dalam penyalinan menjadi sulit dipahami, disajikan kembali sedapat mungkin dalam upaya terjemahan berikut. Meskipun demikian, sekalipun telah memperoleh bantuan yang sangat berharga dari Johan Pijnappel, pada beberapa bagian maknanya tetap tidak pasti, sehingga ketiadaan terjemahan yang disusun langsung di lokasi oleh Charles Adriaan van Ophuijsen masih dirasakan.


a. Daftar nama-nama tempat utama di wilayah Kerinci.


b. Sungai besar yang disebut Merangin mengalir turun menuju Jambi.


c. Menurut pembagian adat, seluruh wilayah tersebut terbagi dua: dari Rawang Kayu ke arah hulu berada di bawah kekuasaan Sultan dan membayar upeti kepada Jambi; dari Rawang Kayu ke arah hilir berada di bawah kekuasaan Raja dan membayar upeti kepada Minangkabau.


d. Menurut keterangan para tetua, Kerinci disebut sebagai “ujung tanah Pageruyung” dan “serambi depan Kerajaan Minangkabau.” Pada masa ketika leluhur yang disebut Syekh Sanggéno Kurao bersama para leluhur Perpatih Sabatang dan Katemenggungan berkumpul di Pulau Sangkar, setelah tiba di tempat tersebut, Syekh Sanggéno Kurao—yang memiliki julukan Tuanku Sorban Kuning—memperoleh seorang anak laki-laki yang kemudian diangkat menjadi penguasa di Kampung Dalam untuk menjalankan pemerintahan di Kerajaan Kerinci. Penguasa ini kemudian memiliki seorang anak bernama Tuanku nan Begondjong. Setelah masa itu, wilayah tersebut tidak lagi memiliki Tuanku, melainkan hanya Sultan. Yang pertama di antaranya bernama Sultan Iskandar Zulkarnain Khalifatulah, dan yang lain bernama Baginda Sultan Amas.


e. Para pembesar di bawah penguasa memiliki tingkatan sebagai berikut:


1. Depati

2. Rio

3. Patih

4. Pamangku


f. Ketika masyarakat Kerinci mengadakan perjanjian, mereka menyembelih seekor kerbau di Bukit Peninjau Laut. Seekor kerbau tersebut dibagi menjadi tiga bagian untuk memperoleh asam, garam, dan lada. Darah kerbau dibagikan secara merata, demikian pula dagingnya dipotong dan dibagikan secara sama. Gunung tersebut memiliki cabang menuju Pesisir Balik Bukit, yang berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan (Minangkabau). Apabila penduduk Kerinci menuju pesisir laut, hal itu harus diberitahukan kepada Yang Dipertuan; ketentuan ini merupakan bagian dari perjanjian dengan Sultan Indrapura.


g. Jalan-jalan menuju wilayah Kerinci:


1. Dari Indrapura ke Tapan, satu hari perjalanan; dari Tapan dua hari dua malam melalui hutan hingga ke Negeri Rawang di Kerinci. Jalur ini memiliki banyak tanjakan dan turunan.


2. Dari Moko-Moko ke Sungai Batang, satu hari perjalanan; dari Sungai Batang dua hari dua malam melalui hutan hingga ke Negeri Rawang. Jalur ini tidak banyak memiliki tanjakan dan turunan.


3. Dari Sungai Pagu di pedalaman, enam hari perjalanan terus-menerus melalui hutan. Jalur ini tidak banyak memiliki tanjakan dan turunan, namun kondisi jalan sangat berlumpur.


4. Apabila dari Jambi menyusuri sungai dengan perahu hingga mencapai Pangkalan, maka dari Pangkalan terdapat jalan setapak di sepanjang Sungai Merangin yang dapat ditempuh dalam kira-kira delapan hari perjalanan.


5. Tulisan dan bahasa.


- Pengucapan masyarakat Kerinci agak berbeda, namun bahasa mereka sama seperti bahasa Melayu di sini.

-. Tulisan mereka menggunakan huruf Arab, sebagaimana yang digunakan oleh orang Melayu di sini.


.....


Catatan:

Gambar yang ditampilkan merupakan ilustrasi visual yang dibuat untuk mendukung pemahaman konteks naskah. Ilustrasi ini bukan bagian dari dokumen asli dan tidak merepresentasikan rekaman visual historis yang menyertai sumber Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap (1876). Seluruh isi gambar bersifat interpretatif berdasarkan deskripsi dalam teks.


sumber naskah: Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1876, 01-01-1876

penyunting: marjafri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar